Hamil

1255 Words
"Sepertinya kita kedatangan tamu, eh kamu Dorman, dan...istrimu yang murahan itu."Diah kakak Dorman menunjuk ke arah Nariah. "Kak. Jaga ucapanmu, dia istriku, enggak pantas kamu ngomong begitu!"Dorman berteriak. Menggema ke seluruh rumah. "Ooh, kamu enggak terima, emang kenyataannya begitu kok, seluruh kampung tahu siapa istri kamu." "Cukup!Kamu udah keterlaluan ka, enggak punya hati, seandainya kamu tahu kebenarannya, kamu enggak akan bicara begitu."Dorman menggenggam tangan Nariah." Ketegangan di ruang tamu masih terasa menggantung. Udara seolah berat untuk dihirup. Tak ada yang berani berbicara. Hingga, Suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Seorang pria paruh baya keluar dengan wajah tenang namun berwibawa. Pak Husein. Ayah Dorman. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Melihat Khadijah yang masih duduk dengan wajah keras. Melihat Nariah yang menunduk sambil memeluk bayinya. Dan Dorman… Yang masih berdiri dengan emosi tertahan. “Ada apa ini?” suaranya rendah, tapi tegas. Tak ada yang langsung menjawab. Namun Pak Husein sudah cukup mengerti. Ia menghela napas pelan. “Sudah,” ucapnya. Satu kata. Namun cukup untuk meredakan sedikit ketegangan. Ia menatap Dorman. “Kamu ke kamar dulu.” Dorman terdiam. “Istirahat,” lanjutnya, kali ini lebih halus. Nada itu bukan perintah keras… Tapi lebih seperti upaya menenangkan keadaan. Dorman melirik ke arah Nariah. Ragu. Jelas terlihat ia tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian di situasi seperti ini. Namun Pak Husein kembali bersuara. “Bapak ada di sini.” Kalimat itu sederhana. Namun memberi jaminan. Dorman akhirnya mengangguk pelan. Ia mendekat ke Nariah. Tangannya menyentuh pundak wanita itu. Lembut. “Mas ke kamar dulu ya…” ucapnya pelan. Nariah mengangguk. Meski hatinya masih bergetar. Dorman menatap bayinya sejenak. Lalu beranjak pergi. Langkahnya terasa berat. Namun ia tetap naik ke lantai atas. Kini… Tinggal Nariah, Khadijah, dan Pak Husein di ruang tamu. Suasana kembali hening. Namun berbeda dari sebelumnya. Pak Husein melangkah mendekat. Tatapannya kini tertuju pada Nariah. Tidak tajam. Tidak menghakimi. Justru… penuh pengamatan. “Kamu capek?” tanyanya pelan. Pertanyaan itu membuat Nariah sedikit terkejut. Ia mengangkat wajahnya. Lalu mengangguk kecil. “Iya, Pak…” Pak Husein menghela napas. Lalu melirik ke arah Khadijah. “Ibu…” ucapnya singkat. Nada suaranya cukup untuk memberi isyarat. Khadijah mendengus pelan. Namun kali ini… tidak berkata apa-apa. Pak Husein kembali menatap Nariah. “Masuk kamar dulu. Istirahat.” Nada suaranya tenang. Tidak hangat berlebihan. Namun cukup manusiawi. Nariah mengangguk pelan. “Terima kasih, Pak…” Ia berdiri perlahan. Masih memeluk bayinya. Langkahnya pelan menuju arah kamar yang tadi ditunjukkan Dorman. Sementara di belakangnya, Pak Husein berdiri diam. Dan Khadijah masih duduk dengan wajah penuh gengsi. Namun untuk sementara, badai itu berhasil ditahan. Meski semua orang tahu ini belum selesai. Mereka menjalani hari-hari di rumah keluarga Dorman, meski tatapan tajam terlihat saat Dorman dan Nariah keluar dari kamar mereka. Namun Nariah berusaha bertahan karena suaminya yang selalu menguatkan. ***** Dua tahun telah berlalu sejak pernikahan mereka. Selama itu, Dorman dan Nariah telah melewati berbagai rintangan bersama. Meski awalnya penuh keraguan, Dorman kini benar-benar menerima Nariah dan putrinya, yang kini sudah berlari-lari kecil di rumah. Dorman tidak lagi merasa kesepian. Kehangatan keluarga kecilnya telah mengisi hidupnya yang dulu terasa hampa. Ia bangun setiap pagi dengan melihat Nariah menyiapkan sarapan, mendengar tawa kecil anak mereka yang ceria, dan pulang kerja dengan seseorang yang selalu menunggunya di rumah. Namun, pagi itu, sesuatu terasa berbeda. Nariah yang biasanya sigap dan penuh energi, tiba-tiba saja memegangi perutnya dengan wajah pucat. "Mas… aku mual…" katanya dengan suara lemah. Dorman yang sedang bersiap berangkat kerja langsung menoleh. "Kenapa, Nariah? Sakit perut?" Nariah menggeleng pelan, tangannya menutup mulutnya seolah ingin menahan rasa ingin muntah. "Aku nggak tahu… sejak tadi pagi perutku nggak enak, terus bau makanan jadi bikin aku pusing." Dorman menatap istrinya dengan cermat, lalu seolah sesuatu terlintas di pikirannya. "Nariah… kamu telat datang bulan nggak?" Nariah terdiam sejenak, lalu matanya membesar. Ia mulai menghitung dalam hati dan menyadari sesuatu. "Astaghfirullah… Mas, aku telat hampir dua minggu!" Dorman tersenyum kecil, lalu mendekati istrinya. "Mungkin… kamu hamil?" Mata Nariah berkaca-kaca. "Benarkah, Bang?" suaranya bergetar. Dorman mengangguk sambil tersenyum lembut. "Kayaknya kita harus beli test pack dulu buat memastikan." Nariah menggenggam tangan suaminya dengan erat. Hatinya penuh harap, sekaligus sedikit takut. Dua tahun lalu, ia datang ke kehidupan Dorman dengan membawa luka dan masa lalu. Namun kini, jika benar ia hamil, ini adalah anugerah baru, buah cinta mereka yang sebenarnya. Dorman mengelus punggung tangan Nariah dengan lembut. "Apa pun hasilnya nanti, kita jalani sama-sama, ya?" Nariah mengangguk, air mata kebahagiaan mulai menetes di pipinya. "Iya, Bang… sama-sama." Nariah keluar dari kamar mandi dengan tangan gemetar, matanya membesar menatap test pack di tangannya. Ia menutup mulutnya, menahan isak haru yang mulai menggelitik dadanya. "Mas… garis dua!" suaranya bergetar, penuh emosi. Dorman yang berdiri di depan pintu langsung mendekat. "Serius, Nariah?" tanyanya, setengah tidak percaya. Nariah mengangguk cepat, lalu menyerahkan test pack itu ke tangan suaminya. Dorman menatapnya lekat-lekat, dua garis merah yang begitu jelas. Tidak ada keraguan lagi. Sesaat, mereka hanya saling menatap. Lalu, seolah tersadar, Dorman tiba-tiba bersorak gembira. "Alhamdulillah! Aku bakal jadi ayah!" serunya penuh kegembiraan. Ia meraih Nariah dalam pelukannya, memeluknya erat seolah tidak ingin melepaskan. Nariah pun tidak bisa menahan tangisnya lagi, ia membenamkan wajah di d**a suaminya, merasakan betapa bahagianya Dorman. "Terima kasih, Nariah… ini hadiah terbesar dalam hidupku," bisik Dorman di telinga istrinya. Nariah tersenyum dalam tangisnya. "Aku juga bahagia, Bang… Anak ini adalah bukti cinta kita." Dorman melepaskan pelukannya dan menatap Nariah penuh kasih. Ia lalu berlutut, mendekatkan wajahnya ke perut istrinya dan mengusapnya dengan lembut. "Nak, kamu dengar nggak? Ayah dan Ibumu sayang banget sama kamu." Nariah tertawa kecil, mengusap kepala suaminya dengan penuh kasih sayang. Mereka tidak pernah menyangka akan sampai di titik ini, dari awal yang penuh luka, hingga akhirnya diberikan kebahagiaan yang sempurna. Kini, keluarga mereka akan bertambah. Dan bagi Dorman, ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya sebagai seorang ayah. Pagi masih gelap ketika Nariah sudah terbangun. Dengan perlahan, ia bangkit dari tempat tidurnya, menahan sedikit rasa pegal di punggungnya. Perutnya kini mulai membesar, usia kandungannya sudah memasuki 6 minggu. Ia melangkah pelan menuju dapur rumah mertuanya. Dengan hati-hati, ia mulai menyapu, lalu menyiapkan air untuk memasak. Meski tubuhnya mudah lelah, ia tetap berusaha menjalankan kewajibannya sebagai menantu. Tak lama kemudian, ibu mertua dan kakak iparnya keluar dari kamar. Namun, berbeda dengan yang Nariah harapkan, tidak ada sapaan hangat. Mereka hanya melirik sekilas, lalu berjalan begitu saja melewati Nariah seolah ia tak ada. Nariah menunduk, tangannya tetap sibuk mengaduk air di panci. Hatinya terasa perih, tapi ia memilih diam. "Pagi, Bu…" ucapnya pelan, mencoba memulai. Namun, ibunya Dorman hanya menjawab singkat tanpa menatapnya. "Hm." Sementara kakak iparnya bahkan tidak menanggapi sama sekali. Suasana menjadi canggung dan dingin. Nariah menggigit bibirnya, menahan perasaan yang mulai sesak di d**a. Ia sadar, dirinya masih belum benar-benar diterima di rumah ini. Padahal, ia sudah berusaha sebaik mungkin, menjadi istri yang baik, menantu yang patuh, dan kini seorang ibu yang sedang mengandung anak dari keluarga itu. Tanpa sadar, tangannya berhenti bergerak. Ia mengusap perutnya perlahan, seolah mencari kekuatan. "Nak… kita harus kuat ya," bisiknya dalam hati. Air matanya hampir jatuh, tapi buru-buru ia tahan. Di tengah sikap dingin yang ia terima, Nariah hanya punya satu pilihan, bertahan. Karena ia tahu, kebahagiaannya kini bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang anak yang sedang ia kandung… dan keluarga kecil yang telah ia perjuangkan dengan sepenuh hati. "Besok. kamu enggak usah sok baik, masakin sarapan buat kita ya, enggak enak, kita enggak mau kena jampi-jampi kayak Dorman. Yang udah dibohongi masih aja belain istri kayak kamu." "Deg."Nariah tercekat, dia mematung. Tak mengerti lagi dengan mertuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD