Sementara suasana di rumah Dorman mulai berubah perlahan…
Di kampung halaman, keadaan justru jauh dari kata tenang.
Di rumah keluarga Dorman, wajah-wajah tegang terlihat jelas. Beberapa anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, suara perbincangan terdengar dengan nada tinggi.
“Aku gak habis pikir!” ujar salah satu keluarga Dorman dengan nada kesal.
“Baru juga nikah, tapi anaknya udah lahir? Ini jelas gak masuk akal!”
Yang lain mengangguk, ikut terbawa emosi.
“Kita ini keluarga punya nama! Gimana kalau orang kampung mulai ngomong macam-macam?”
Di sisi lain…
Keluarga Nariah juga tidak kalah tertekan.
Mereka merasa tersudut dengan berbagai tuduhan yang mulai beredar. Bisik-bisik tetangga kampung sudah sampai ke telinga mereka, bahkan beberapa mulai berani menyinggung secara langsung.
“Anak kalian itu sebenarnya gimana sih?” tanya salah satu warga dengan nada menyelidik.
“Kok bisa secepat itu melahirkan setelah nikah?”
Wajah keluarga Nariah menegang.
Mereka tahu kebenarannya…
tapi tidak semua hal bisa dijelaskan begitu saja.
“Yang penting anak itu sah,” jawab salah satu dari mereka tegas, mencoba menutup pembicaraan.
Namun tekanan itu tidak berhenti.
Kedua keluarga mulai saling menyalahkan.
“Kalian gak jaga anak kalian dengan benar!”
“Jangan asal tuduh! Kami juga punya harga diri!”
Suara-suara itu semakin memanas, hingga hubungan yang awalnya hanya canggung… kini berubah menjadi konflik terbuka.
Tidak ada yang benar-benar tahu fakta sebenarnya.
Namun masing-masing merasa paling terluka… dan paling benar.
Di tengah semua itu
Nama Nariah dan Dorman menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.
Sebuah masalah yang awalnya hanya milik mereka berdua…
Kini mulai membesar… menyeret banyak hati… dan memperkeruh keadaan.
Dan tanpa mereka sadari,
Badai yang sebenarnya… baru saja dimulai.
Pagi itu berakhir tanpa banyak kata.
Dorman berdiri di dekat pintu, sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Biasanya, akan ada suara lembut Nariah yang mengingatkannya untuk hati-hati di jalan… atau sekadar senyum kecil sebagai tanda perhatian.
Namun hari ini…
Tidak ada.
Nariah tetap berada di dapur, menggendong bayinya yang mulai terbangun. Wajahnya tenang, tapi jelas menjaga jarak.
Dorman sempat menoleh.
Menunggu.
Berharap… mungkin Nariah akan memanggilnya.
Tapi tidak sunyi.
Akhirnya ia menghela napas pelan, lalu membuka pintu.
“Aku berangkat,” ucapnya singkat.
“Iya,” jawab Nariah pelan dari dalam, tanpa menoleh.
Satu kata.
Kembali hanya satu kata.
Pintu tertutup.
Dorman berjalan menuju motornya, namun langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ia mengenakan helm, menyalakan mesin… tapi tidak langsung pergi.
Pikirannya penuh.
“Nariah marah…” gumamnya pelan.
Ia tahu itu.
Bukan marah yang meledak-ledak…
Tapi marah yang diam.
Yang justru terasa lebih menyakitkan.
Ia mengingat kembali malam tadi.
Momen yang sempat hangat,
lalu tiba-tiba rusak karena kedatangan Selvi.
Dan pagi ini,
Ia merasakan akibatnya.
Dorman menghembuskan napas panjang, lalu akhirnya menarik gas motornya.
Namun sepanjang perjalanan, "Sial, gara-gara Selvi cewek klub itu, hubungan gua makin jauh sama Nariah."
Yang ada di pikirannya bukan pekerjaan.
Melainkan wajah Nariah yang dingin.
Dan untuk pertama kalinya,
Ia merasa takut kehilangan sesuatu, yang baru saja ia mulai inginkan.
Pagi menjelang siang itu, Nariah duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan bayinya dalam gendongan.
Tangannya mengayun pelan, menenangkan si kecil yang sesekali bergerak.
Di sekelilingnya, suasana cukup ramai.
Beberapa ibu dan ayah muda duduk berdampingan. Ada yang bercanda pelan, ada yang saling berbagi tugas—suami menggendong bayi, istri mengurus administrasi, atau sebaliknya.
Pemandangan itu… terasa hangat.
Namun juga… menyesakkan.
Nariah duduk sendiri.
Tanpa ditemani.
Matanya sempat melirik ke samping.
Seorang pria muda terlihat membantu istrinya menyelimuti bayi mereka. Sesekali mereka tersenyum satu sama lain, berbicara dengan lembut.
Tanpa sadar… d**a Nariah terasa sedikit perih.
Bukan karena iri.
Tapi karena ia sadar… seharusnya ia juga bisa merasakan itu.
Tangannya semakin erat memeluk bayinya.
“Gak apa-apa ya, Nak…” bisiknya pelan.
Ia mencoba tersenyum, meski hanya untuk dirinya sendiri.
Petugas memanggil nama pasien satu per satu.
Suara tangisan bayi sesekali terdengar, bercampur dengan suara lembut para orang tua yang menenangkan.
Nariah menunduk, mencium kening bayinya dengan penuh kasih.
Ia kuat.
Ia harus kuat."Nak, tidak apa-apa ya, ibu akan selalu menyayangi kamu, kasih sayang ibu akan selalu buat kamu."
Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk anaknya.
Tak lama nama anak Nariah dipanggil. "Delisa Khaira Wardani."Panggil salah satu perawat.
"Iya, saya."Nariah bergegas masuk .
Meski datang sendirian,
meski harus menghadapi semua tatapan dan perasaan sendiri…
Ia tetap duduk tegak.
Menunggu gilirannya.
Dengan hati yang pelan-pelan belajar menerima.
****
Sementara di tempat lain, Nariah berada di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup ramai, langkah Nariah terlihat pelan namun pasti.
Ia berdiri di depan rak pakaian bayi, jemarinya menyentuh lembut kain-kain kecil yang tergantung rapi. Bayinya berada dalam gendongan, terlelap nyaman tanpa tahu betapa banyak hal yang sedang dipikirkan ibunya.
“Yang ini lucu ya…” bisik Nariah pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ia mengambil satu baju kecil berwarna pastel, lalu menempelkannya perlahan ke tubuh bayinya, membayangkan bagaimana nanti jika dipakai.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
Namun di balik senyum itu… ada perhitungan.
Tangannya merogoh tas kecilnya, mengambil dompet, lalu membuka perlahan. Matanya menatap isi di dalamnya—uang tabungan yang selama ini ia simpan sedikit demi sedikit.
Bukan untuk dirinya.
Tapi untuk anaknya.
“Cukup… insyaAllah cukup,” gumamnya lirih.
Ia memilih beberapa potong pakaian—tidak banyak, hanya yang benar-benar dibutuhkan. Ukurannya sedikit lebih besar, karena ia tahu bayinya akan terus tumbuh.
Setiap pilihan terasa penuh pertimbangan.
Tidak ada yang berlebihan.
Tidak ada yang sia-sia.
Di sekelilingnya, beberapa ibu terlihat berbelanja dengan suami mereka. Ada yang berdiskusi, ada yang tertawa kecil saat memilih baju bayi.
Nariah sempat melirik…
Lalu kembali fokus.
Ia tidak ingin membandingkan.
Tidak ingin berharap lebih.
Karena yang ia lakukan sekarang… sudah cukup berarti.
Di kasir, ia menyerahkan pilihannya.
Tangannya sedikit gemetar saat memberikan uang.
Setelah selesai, ia menerima kantong belanja itu dengan hati-hati.
Kemudian menatap bayinya.
“Nanti kamu pakai yang bagus ya, Nak," bisiknya lembut."Anak cantiknya Ibu."
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya.
Nariah duduk di kursi belakang taksi online, bayinya terlelap dalam gendongan. Di sampingnya, kantong belanja berisi pakaian kecil untuk sang buah hati, juga beberapa pakaian untuk Dorman dan dirinya.
Meski pagi tadi hatinya terasa dingin, tetap saja. Ia masih memikirkan suaminya."Kayanya pas, buat abang,"gumam Nariah.
Tak lama, mobil yang dipesannya datang.
Mobil melaju perlahan, lalu terjebak macet panjang."Yah, macet. Mudah-mudahan enggak lama ya."
Lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Suasana di dalam mobil terasa hangat, terlalu hangat hingga tanpa sadar mata Nariah mulai terpejam.
Kepalanya bersandar ke jendela.
Bayinya tetap dalam pelukan.
Ia tertidur.
Namun, beberapa saat kemudian, mobil tidak lagi berhenti di kemacetan. Jalanan terasa berbeda.Nariah mengantuk sayup-sayup matanya mulai mengantuk.
"Mba, kita lewat jalan alternatif saja ya."
"Iya pak, kalau memang lebih cepat,"ujar Nariah.
Mobil pun menuju tempat yang lebih sepi, lebih gelap.
Sang sopir melirik ke kaca spion."Cantik, lumayanlah, bisa diajak bersenang-senang."
Melihat Nariah yang tertidur pulas.
Senyum tipis terlukis di bibirnya, "Kayaknya aku bisa ambil kesempatan saat dia tidur."Sang supir tersenyum yang penuh niat buruk.
Perlahan, mobil dibelokkan ke arah jalan kecil yang jauh dari keramaian.
Tidak ada kendaraan lain.
Hanya lampu jalan yang redup dan sunyi yang mencekam.
Mobil berhenti. Mesin masih menyala.
Sang sopir turun sedikit dari kursinya, lalu menoleh ke belakang.
Matanya menatap Nariah dengan niat yang jelas."Dia ...masih sangat muda."
Perlahan… ia mendekat.
Tangannya mulai terulur, mengelus pipi Nariah.
Namun, Nariah berteriak.
“Jangan sentuh saya!”
Suara tegas itu langsung membuatnya terkejut.
"Hei manis, galak banget sih."
Nariah sudah membuka mata.
Tatapannya tajam. Tanpa memberi kesempatan, Nariah dengan cepat merogoh tasnya. "Srot,"
Spray cabai langsung mengenai wajah sang supir.
“AARRGH!!” teriaknya kesakitan, memegangi mata yang perih.
Kesempatan itu tidak disia-siakan.
Nariah segera membuka pintu mobil, memeluk bayinya erat-erat, lalu keluar dengan langkah cepat.
Jantungnya berdegup kencang.
Namun pikirannya tetap fokus.
Ia menjauh dari mobil itu secepat mungkin, tidak menoleh ke belakang.
Napasnya terengah.
Tangannya gemetar.
Tapi pelukannya pada bayi itu tetap kuat.
“Tidak apa-apa… tidak apa-apa, Nak…” bisiknya lirih, mencoba menenangkan diri sendiri.
Di tengah jalan yang sepi itu, Nariah berdiri dengan tubuh sedikit bergetar. "Dimana ini, kenapa sepi sekali." Nariah terus berjalan. Sementara supir itu masih berusaha membersihkan matanya yang perih.
Akankah Nariah selamat ?