Langkah Nariah terhenti sejenak di depan pintu rumahnya.
Tangannya meraih gagang pintu, namun ia tidak langsung masuk. Ia menarik napas panjang… lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menguatkan sesuatu di dalam dirinya.
Bisikan para tetangga tadi masih terngiang jelas.
Menusuk…
Menghakimi…
Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun kali ini…
Nariah tidak menangis.
Ia menatap bayinya yang terlelap di gendongan. Wajah kecil itu begitu tenang, seolah dunia luar tak ada artinya.
Senyum tipis terukir di bibir Nariah.
“Cukup ibu yang tahu semuanya…” bisiknya pelan.
Ia mengusap lembut kepala bayinya.
“Orang lain nggak perlu tahu… dan nggak harus mengerti.”
Perlahan, ia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Langkahnya ringan… jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Bukan karena masalahnya hilang.
Tapi karena hatinya mulai menerima.
Ia tahu…
menjelaskan diri pada semua orang hanya akan menguras tenaga dan luka.
Dan tidak semua orang pantas tahu kebenaran.
Di dalam rumah, ia membaringkan bayinya dengan hati-hati. Lalu duduk di sampingnya, menatap wajah kecil itu dengan penuh cinta.
Matanya berkaca-kaca… namun kali ini bukan karena lemah.
Melainkan karena tekad.
“Apa pun yang terjadi…” gumamnya pelan,
“Ibu akan tetap berdiri.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan.
Tidak lagi menunduk.
Tidak lagi bersembunyi.
Karena sekarang Nariah sadar
Kekuatan bukan tentang membungkam dunia…
tapi tentang tetap berjalan, meski dunia terus berbicara.
Langkah Nariah terhenti sejenak di depan pintu rumahnya.
Tangannya meraih gagang pintu, namun ia tidak langsung masuk. Ia menarik napas panjang… lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menguatkan sesuatu di dalam dirinya.
Bisikan para tetangga tadi masih terngiang jelas.
Menusuk…
Menghakimi…
Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun kali ini…
Nariah tidak menangis.
Ia menatap bayinya yang terlelap di gendongan. Wajah kecil itu begitu tenang, seolah dunia luar tak ada artinya.
Senyum tipis terukir di bibir Nariah.
“Cukup ibu yang tahu semuanya…” bisiknya pelan.
Ia mengusap lembut kepala bayinya.
“Orang lain nggak perlu tahu… dan nggak harus mengerti.”
Perlahan, ia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Langkahnya ringan… jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Bukan karena masalahnya hilang.
Tapi karena hatinya mulai menerima.
Ia tahu…
menjelaskan diri pada semua orang hanya akan menguras tenaga dan luka.
Dan tidak semua orang pantas tahu kebenaran.
Di dalam rumah, ia membaringkan bayinya dengan hati-hati. Lalu duduk di sampingnya, menatap wajah kecil itu dengan penuh cinta.
Matanya berkaca-kaca… namun kali ini bukan karena lemah.
Melainkan karena tekad.
“Apa pun yang terjadi…” gumamnya pelan,
“Ibu akan tetap berdiri.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan.
Tidak lagi menunduk.
Tidak lagi bersembunyi.
Karena sekarang Nariah sadar—
Kekuatan bukan tentang membungkam dunia…
tapi tentang tetap berjalan, meski dunia terus berbicara.
Dapur kecil itu dipenuhi aroma tumisan bawang. Nariah berdiri di depan kompor, mengaduk sayur dengan perlahan. Sesekali ia melirik ke arah kamar, memastikan bayinya masih tertidur pulas.
Suasana rumah terasa tenang.
Hingga…
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu terdengar.
Nariah mengernyit pelan. Tangannya berhenti mengaduk. Dengan sedikit heran, ia mematikan kompor, lalu berjalan menuju pintu.
“Siapa ya…” gumamnya lirih.
Saat pintu dibuka…
Langkahnya langsung terhenti.
Matanya membesar.
Di hadapannya berdiri seorang wanita yang sangat ia kenal.
Selvi.
Wanita yang pernah dibawa pulang oleh Dorman malam itu.
Jantung Nariah langsung berdegup kencang.
Untuk sesaat, suasana menjadi canggung.
Selvi berdiri santai, mengenakan pakaian yang lebih rapi dari sebelumnya, tapi aura genitnya tetap terasa. Ia tersenyum tipis saat melihat Nariah.
“Oh… Mbak Nariah ya,” ucapnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Nariah terdiam beberapa detik. Tangannya sedikit gemetar di balik pintu.
“Iya…” jawabnya pelan, berusaha tetap tenang.
Selvi melirik ke dalam rumah sebentar, lalu kembali menatap Nariah.
“Mas Dorman ada?” tanyanya langsung.
Pertanyaan itu seperti menusuk.
Namun Nariah menahan diri.
Ia menarik napas pelan, lalu menjawab dengan suara yang tetap lembut.
“Mas Dorman lagi kerja… biasanya pulang sekitar jam empat sore.”
Selvi mengangguk kecil.
“Oh… gitu ya…” katanya ringan.
Tidak ada rasa bersalah di wajahnya.
Seolah kehadirannya di rumah orang lain adalah hal yang biasa.
Nariah menggenggam ujung pintu sedikit lebih erat.
“Ada perlu apa ya?” tanyanya sopan, meski hatinya mulai tidak nyaman.
Selvi tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih dalam.
“Cuma mau ketemu aja sih… ada urusan,” jawabnya singkat.
Nariah mengangguk pelan.
“Kalau begitu… mungkin bisa datang lagi nanti sore.”
Nada bicaranya tetap halus.
Namun jelas… ada batas yang ia jaga.
Selvi menatap Nariah beberapa detik, seolah menilai sesuatu.
Lalu ia tersenyum tipis.
“Iya deh… nanti aku balik lagi,” ucapnya santai.
Tanpa pamit lebih jauh, Selvi berbalik dan pergi.
Nariah masih berdiri di ambang pintu, menatap punggung wanita itu menjauh.
Perlahan… pintu ditutup.
Dan saat itu juga, napas yang sejak tadi ia tahan akhirnya terlepas.
Dadanya naik turun.
Tangannya menyentuh d**a, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
Rasa tenang yang tadi sempat ia rasakan… kini kembali terusik."Jagalah rumah tanggaku, aku ingin menjalani rumah tangga yang sakinah dengan suamiku, hanya itu ya Allah."
Namun kali ini Nariah tidak menangis.
Ia hanya memejamkan mata sejenak… lalu menguatkan diri.
Karena ia tahu, Ini belum selesai.
Sore hari menjelang.
Suara motor Dorman terdengar memasuki halaman rumah. Mesin dimatikan, dan seperti biasa ia melangkah masuk tanpa banyak harapan akan suasana yang berbeda.
Namun begitu pintu terbuka
Langkahnya langsung terhenti.
Di ruang tengah, Nariah sudah berdiri menunggunya. Dengan balutan pakaian sederhana, hijab yang rapi, dan riasan tipis yang mempertegas kecantikannya… Nariah tampak begitu berbeda.Lebih hidup. Lebih tenang.
Dan entah kenapa… jauh lebih memikat.
Senyum lembut tersungging di bibirnya saat melihat Dorman.
“Bang, sudah pulang,” ucapnya pelan.
Dorman terpaku.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap… tanpa berkedip.
Jantungnya berdegup kencang.
Perasaan yang tadi siang sempat mengganggunya kini kembali muncul, bahkan lebih kuat. Wajah itu, Senyum itu
Aura itu begitu memancarkan kecantikan dan gair*h.
Semuanya terasa asing… sekaligus membuatnya sulit berpaling.
“Iya…” jawabnya singkat, suaranya sedikit tertahan.
Nariah melangkah mendekat.
“Aku sudah siapkan makan malam, ya Bang, pasti capek,” katanya lembut.
Aroma tubuhnya yang halus kembali menyentuh indra penciuman Dorman. Tanpa sadar, pria itu menelan ludah.
Matanya tak bisa lepas dari wajah istrinya."Cantik."Pujinya dengan suara pelan.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari.
Wanita ini… adalah miliknya."Kenapa aku canggung begini, bukannya dia istriku, Aku berhak menikmati kecantikannya."
Namun justru karena itu hatinya terasa semakin tidak tenang.Nariah menatap Dorman dengan tatapan hangat, seolah tak ada luka yang ia simpan.
Padahal… ia tahu, hatinya belum benar-benar pulih.
“Ayo, Bang…” ajaknya pelan.
Dorman masih diam.
Ada dorongan dalam dirinya untuk mengatakan sesuatu… melakukan sesuatu… bahkan mendekat lebih jauh.
Namun egonya… dan kebiasaannya selama ini… menahannya.
Ia berdeham pelan, mencoba menguasai diri.
“Iya…” katanya singkat lagi.
Namun saat ia hendak melewati Nariah
Langkahnya kembali terhenti.
Tanpa sadar, matanya menatap lebih dalam… pada wajah yang begitu dekat dengannya.
Jantungnya berdegup semakin cepat. Dan untuk sesaat.
Dunia seolah berhenti.
Karena di hadapannya sekarang
Bukan lagi Nariah yang ia abaikan…
Melainkan seorang wanita… yang perlahan mulai mengguncang seluruh perasaannya.
Malam perlahan turun, membawa suasana yang lebih tenang di dalam rumah itu.
Setelah menunaikan sholat isya, Nariah masuk ke kamar dengan langkah pelan. Bayinya sudah tertidur lelap, membuatnya memiliki sedikit waktu untuk dirinya sendiri.
Di depan cermin, ia berdiri diam sejenak.
Tangannya menyentuh ujung hijab, lalu perlahan melepasnya. Rambut hitam sebahunya terurai lembut, jatuh rapi membingkai wajahnya.
Ia mengambil dress satin sederhana untuk tidur, lembut membalut tubuhnya tanpa berlebihan, namun cukup memberi kesan anggun yang berbeda dari biasanya.
Kemudian, ia kembali menatap cermin.
Dengan gerakan hati-hati, ia merapikan rambutnya, lalu mengambil sedikit riasan. Tipis tidak mencolok, namun cukup membuat wajahnya terlihat semakin hidup.
Terakhir, ia mengoleskan lipstik merah.
Warna itu langsung mengubah keseluruhan auranya.
Bukan hanya cantik, tapi juga berani.
Nariah menatap bayangannya beberapa detik."Huffft, aku harus berubah, demi suamiku, aku tidak boleh menyerah."
Ada rasa gugup namun juga tekad yang kuat. Dia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.
Di ruang tengah, Dorman sedang duduk, terlihat lelah setelah seharian bekerja.
Namun saat ia menoleh. Dunia seolah berhenti sejenak. Nariah berdiri di sana. Dengan penampilan berbeda sangat berbeda.
Rambut terurai
wajah dengan riasan lembut, dan lipstik merah yang begitu mencuri perhatian. Jantung Dorman langsung berdegup kencang.
"Abang mau dibuatin teh?"Nariah dengan suara lembut.
Dorman menoleh cepat. Tatapannya terpaku.
Tanpa sadar, ia menelan ludahnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Nariah, cantik sekali,” gumamnya pelan.
Ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak perasaan yang selama ini ia tekan, kini muncul tanpa bisa ia kendalikan.
Nariah menatapnya dengan tenang.
Senyumnya lembut, namun penuh arti.
“Abang belum tidur?” tanyanya pelan.
Dorman tidak langsung menjawab.
Matanya masih menelusuri sosok di hadapannya."Bbelum." Dia gugup melihat wanita itu untuk kesekian kalinya. Jantungnya berdegup kencang, matanya tak berkedip.
Namun saat mereka saling menatap tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu."Tok tok tok."