Malam Pertama

1363 Words
Di sisi lain kota… Berbanding terbalik dengan kegelisahan Dorman… Nariah justru terlelap. Di dalam unit apartemen kecil itu, lampu kamar dimatikan, hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur. Pendingin ruangan menyala pelan. Udara terasa sejuk. Tenang. Bayinya tertidur di sampingnya, napas kecilnya teratur dan damai. Nariah sendiri terbaring lemah. Wajahnya masih menyisakan bekas air mata. Namun akhirnya— Ia tertidur. Setelah lelah menangis. Setelah lelah memikirkan semuanya sendirian. Tangannya masih menggenggam ponsel. Layar sudah gelap. Namun di dalamnya… Masih tersimpan pesan dari Dorman yang belum sempat ia balas. Seolah menjadi bukti Bahwa di luar sana… Seseorang sedang mencarinya tanpa henti. Namun malam itu… Nariah memilih beristirahat. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena hatinya terlalu lelah… Untuk kembali menghadapi semuanya. Dan di tengah dinginnya ruangan yang nyaman itu… Untuk pertama kalinya sejak ia pergi Nariah bisa memejamkan mata… Meski hanya untuk sementara melupakan. luka. Malam yang semula tenang… Tiba-tiba berubah mencekam. Tok… tok… tok… Suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Nariah yang masih setengah tertidur langsung terbangun. Matanya membesar. Jantungnya berdebar. Ia menoleh ke arah pintu. Sunyi. Beberapa detik ia hanya diam. Mencoba memastikan. Mungkin hanya perasaannya. Namun— Tok! Tok! Tok! Kali ini lebih keras. Lebih jelas. Nariah refleks memeluk bayinya erat. “Nak…” bisiknya panik. Tangannya mulai dingin. Napasnya memburu. Siapa malam-malam begini? Ia tidak mengenal siapa pun di tempat ini. Ketukan itu kembali terdengar. Lebih cepat. Lebih keras. Seolah tidak sabar. BRAK! BRAK! BRAK! Nariah semakin gemetar. Ia perlahan turun dari ranjang. Langkahnya sangat hati-hati. Bayinya masih dalam pelukan. Tangannya mencoba menenangkan si kecil yang mulai bergerak gelisah. Dengan napas tertahan… Nariah mendekati pintu. Matanya mengarah ke lubang intip. Perlahan… Ia mengintip. Dan saat itu— Tubuhnya langsung membeku. Di luar… Seorang laki-laki berdiri. Memakai jaket hitam. Masker hitam menutupi wajahnya. Tatapannya tajam… mengarah ke pintu. Seolah tahu… Ada seseorang di dalam. Nariah mundur dengan cepat. Tangannya langsung menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. “Ya Allah…” bisiknya gemetar. Ketukan itu kembali terdengar. Kali ini lebih brutal. BRAK! BRAK! BRAK! “Buka pintunya!” suara laki-laki itu terdengar berat dari luar. Nariah semakin panik. Ia memeluk bayinya semakin erat. Tubuhnya gemetar hebat. Pikirannya kacau. Siapa dia? Bagaimana dia tahu tempat ini? Air mata mulai mengalir lagi. Namun kali ini bukan karena sakit hati. Melainkan ketakutan. Ia mundur perlahan. Menjauh dari pintu. Mencari tempat berlindung. Sementara di luar… Ketukan itu semakin menjadi. Dan malam yang seharusnya menjadi tempat beristirahat… Kini berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Ketukan itu semakin brutal. BRAK! BRAK! BRAK! “Buka!!” suara laki-laki itu terdengar kacau. Berat. Dan… tidak jelas. Nariah gemetar hebat. Namun di tengah ketakutan itu, ia kembali memberanikan diri mengintip. Perlahan… Matanya kembali melihat ke lubang kecil itu. Dan kali ini— Ia menyadari sesuatu. Gerakan laki-laki itu tidak stabil. Tubuhnya sempoyongan. Tangannya menghantam pintu… tapi tidak terarah. “Eh! Bukain…!” ucapnya dengan suara pelo. Nariah menahan napas. Mabuk. Dia mabuk. Beberapa detik kemudian, laki-laki itu berhenti mengetuk. Ia terlihat mengumpat. Lalu berjalan menjauh dengan langkah tidak seimbang. Bahkan sempat menabrak dinding lorong. Dan akhirnya… Suara itu menghilang. Sunyi kembali. Namun… Bukan berarti ketakutan Nariah ikut hilang. Tubuhnya langsung lemas. Ia terduduk di lantai. Masih memeluk bayinya erat. Air matanya jatuh tanpa henti. “Ya Allah… ya Allah…” bisiknya berulang. Tangannya gemetar hebat. Jantungnya masih berdetak kencang. Ia benar-benar ketakutan. Sendirian. Di tempat asing. Dengan bayi kecil. Dan tanpa sadar… Tangannya meraih ponsel. Tanpa berpikir panjang. Tanpa mempertimbangkan ego. Tanpa mengingat luka. Ia langsung menekan satu nama. Dorman. Panggilan tersambung. Nariah menempelkan ponsel ke telinganya dengan tangan gemetar. Air matanya terus jatuh. “Angkat… angkat…” bisiknya panik. Sementara di sisi lain— Ponsel Dorman berdering. Dan saat melihat nama itu… Jantungnya langsung berdegup kencang. “Nariah…” ucapnya pelan, hampir tidak percaya. Tanpa menunggu lama— Ia langsung mengangkat. “Halo?! Nariah?!” suaranya tegang. Namun yang terdengar… Hanya isak tangis. “Mas…” suara Nariah bergetar hebat. Tangisnya pecah. “Aku takut…” lanjutnya. Seketika itu juga— Dorman berdiri. Wajahnya berubah panik. “Kamu di mana?!” tanyanya cepat. Namun kali ini… Bukan dengan emosi. Melainkan dengan kekhawatiran yang nyata. Dan di titik itu semua ego.Semua amarah, luruh begitu saja, yang tersisa hanya satu Seorang suami, yang ingin melindungi istrinya. Nariah masih terisak di ujung telepon. Tangannya gemetar saat memegang ponsel. “Mas… aku di… di apartemen…” ucapnya terbata. “Di mana? Sebutkan!” suara Dorman tegas, tapi penuh panik. Nariah mencoba mengatur napasnya. Lalu menyebutkan nama apartemen itu dengan suara bergetar. “Ini… aku share lokasi ya, Mas…” lanjutnya. Tangannya bergerak cepat membuka aplikasi. Jarinya sempat salah tekan karena terlalu gemetar. Namun akhirnya— Lokasi itu terkirim. Di sisi lain… Dorman langsung melihat notifikasi masuk. Tanpa pikir panjang, ia langsung membuka titik lokasi itu. Matanya fokus. Rahangnya mengeras. “Jangan takut… aku ke sana sekarang,” ucapnya cepat. “Mas…” suara Nariah masih terdengar lemah. “Aku di sini… jangan tutup teleponnya,” lanjut Dorman. Kalimat sederhana itu… Namun cukup membuat Nariah sedikit merasa tidak sendiri. “Iya…” jawabnya pelan. Dorman langsung berlari keluar. Ia bahkan tidak memikirkan mobil lagi. Terlalu lama. Ia meraih kunci motor. Mesin dinyalakan dengan kasar. BRUMMMM! Tanpa menunggu— Ia langsung melaju. Membelah jalanan malam. Lampu-lampu kota terlewati begitu cepat. Angin menerpa wajahnya keras. Namun ia tidak peduli. Pikirannya hanya satu— Nariah. Dan bayinya. “Bertahan ya…” gumamnya. Tangannya mencengkeram setang motor kuat. Sesekali ia melirik ponsel yang masih tersambung melalui headset. Suara napas Nariah yang masih terisak terdengar jelas. Dan itu justru membuatnya semakin menambah kecepatan. Rasa takut. Rasa bersalah. Dan rasa ingin melindungi— Semua bercampur jadi satu, malam itu, tidak ada lagi ego. Tidak ada lagi gengsi. Yang ada hanya, seorang suami, yang sedang berjuang mengejar istrinya sebelum terlambat. Langkah kaki Dorman terdengar tergesa di lorong apartemen. Napasnya memburu. Jantungnya berdegup kencang. Ia berhenti tepat di depan satu pintu. Nomor unit yang sama seperti di lokasi. Tangannya langsung mengetuk. “Nariah!” Belum sempat ia mengetuk lagi— Pintu itu terbuka cepat. Dan di sana, Nariah dengan wajah pucat. Mata sembab, dan tanpa ragu, Ia langsung memeluk Dorman erat. “Mas…!” suaranya pecah. Tangisnya langsung tumpah. Dorman sempat terdiam sesaat. Namun refleks— Tangannya langsung membalas pelukan itu. Erat. Sangat erat. Seolah takut kehilangan lagi. “Iya… iya aku di sini…” ucapnya cepat, suaranya penuh penyesalan. Nariah semakin terisak. Wajahnya ia sembunyikan di d**a Dorman. “Aku takut…” ulangnya dengan suara gemetar. Dorman mengusap punggungnya pelan. “Udah… gak apa-apa… aku di sini,” bisiknya. Untuk pertama kalinya, Bukan nada keras, bukan amarah. Tapi ketulusan. Tangannya berpindah mengusap kepala bayi yang masih dalam gendongan Nariah. Matanya berkaca-kaca. “Maaf…” ucapnya pelan."Maafkan aku, seharusnya aku melindungi kalian, bukan malah menyudutkan dan mencurigai kamu." Kali ini benar-benar tulus, Nariah tidak menjawab, dia tak menolak saat Dorman memeluknyam Namun pelukannya semakin erat. Dia memeluk Seolah semua rasa takutnya perlahan luruh. Dorman menutup mata sejenak. Menghirup napas dalam. Merasakan kehangatan yang hampir ia kehilangan. Malam itu… Segala amarah, kecewa, dan ego yang sempat memisahkan mereka… Perlahan luruh. Dalam pelukan yang hangat. Dalam tangis yang akhirnya menemukan tempatnya. Dorman menggenggam tangan Nariah. Menatapnya dalam. Seolah memastikan Bahwa wanita itu benar-benar ada dihadapannya. Tanpa banyak kata… Ia mengangkat tubuh Nariah perlahan. Menggendongnya dengan hati-hati. Nariah tidak menolak. Justru ia merangkul leher Dorman erat. Menyandarkan kepalanya di d**a lelaki itu. Mencari ketenangan yang sempat hilang. Dorman membawa Nariah masuk ke kamar. Di sana… Bayi mereka tertidur lelap. Damai. Seolah tidak tahu badai yang baru saja terjadi. Dorman menurunkan Nariah perlahan di tepi ranjang. Tatapan mereka kembali bertemu. Dekat. "Nariah...apakah Aku ...boleh mendapatkan hak ku?Sebagai suamimu?"Dorman dengan suara berat dan pelan. Nariah hanya mengangguk pelan. Perlahan Dorman mencium bibir Nriah dengan lembut, lama kelamaan menjadi ganas. Nafas mereka berdua terdengar sangat nyaring, malam itu, suara decapan ciuman dan cumbuan menghiasi kamar apartemen Nariah. Kesedihan Nariah kini berganti, menjadi gelombang hasrat yang memuncak tak tertahankan. Kini malam yang tertunda itu terbayarkan. Dorman tak melewatkan setiap inchi pun, dia menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya. Menuntaskan hasratnya yang tertahan selama ini. Amarah dan curiga berubah menjadi penyatuan indah dua insan yang saling mencintai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD