Bab 3 Keras Kepala atau Gila

1154 Words
Detik itu juga Lenora menangis kencang. Kakinya yang menendang-nendang angin persis seperti anak kecil di mata Harold. Membuat Harold yang memperhatikan, tak sengaja menangkap kain segitiga yang menjadi pelindung untuk bagian tubuh paling privasi gadis itu. Harold yang pria normal itu pun memalingkan muka. “Apa kau tidak tahu malu?! Dalamanmu terlihat jelas, bodoh!” Harold mengulurkan tangannya dan membantu Lenora berdiri dan menekankan, “Aku pria normal! Jadi, perhatikan gerak-gerikmu!” “Bukankah kau tidak tertarik pada tubuhku? Kau juga bilang tidak bernafsu padaku, mengapa sekarang berubah?” Harold diam, namun mendudukkan Lenora di kursi kayu. Keduanya kembali duduk bersama. Harold yang tak suka dengan situasi itu pun menghela napas panjang, membuang rasa kesal. “Untuk apa aku takut dan harus merasa khawatir padamu, jika sebenarnya kau memang bukan pria jahat?” tanya Lenora yang tiba-tiba tersenyum dan berhenti menangis. “Aku bisa membantumu juga kalau aku ikut denganmu.” “Apa maksudmu membantuku?” “Kau bisa memperkenalkanku pada ibumu sebagai kekasihmu. Bukankah aku tidak terlalu jelek jika bersanding denganmu?” Pria itu tampak kaget dengan balasan Lenora. Dengan wajah datarnya, Harold berkata, “Begitu mudahnya kau menawarkan diri menjadi kekasihku. Tidak tanggung-tanggung juga, bisa-bisanya kau bilang dirimu cantik?” “Memangnya aku jelek sekali? Tidak, ‘kan?” “Sudahlah, keputusanku tetap sama. Aku akan memulangkanmu. Rapikan pakaianmu dan kuantar kau pulang.” Mendengar keputusan yang tidak bisa diganggu gugat dari pria berkulit kuning langsat, gagah, dan tinggi serta tampan itu, Lenora menggeleng. “Aku tidak mau pulang, aku mohon jangan bawa aku kembali ke asalku ...,” pintanya sekali lagi. Akan tetapi, Harold tak mengabulkan. Pria itu tetap akan mengantarnya pulang, dan segera bangkit dari kursi kayu panjang tersebut. Tak kehabisan akal, Lenora lantas berlari masuk lebih dulu ke dalam rumah minimalis tersebut. Hanya ada satu kamar di rumah itu, dan Lenora kembali ke kamar yang menampung dirinya semalam. Lalu ia mengunci dirinya di dalam kamar itu. Kelakuannya itu mampu membuat Harold yang tercengang, berubah menjadi begitu marah dan kesal. “Keluar! Kau pikir ini rumahmu?!” teriak Harold dari luar kamar sambil menggedor-gedor pintu kayu rumahnya. “Hei! Keluar kau dari sana! Lancang sekali! Itu kamarku, sudah beruntung kau kuizinkan tidur di sana semalam!” “Aku tidak akan keluar dari sini kalau kau terus memintaku untuk pulang, Tuan Harold!” “Kau benar-benar gadis tak tahu terima kasih dan keras kepala!” geram Harold yang langsung berbalik. Dirinya jadi teringat akan keputusan sesaat sebelum kamar itu dibangun dulu. “Seharusnya aku tidak memasang kunci di balik pintu kamar,” lirihnya membuang napas panjang dan memutuskan untuk angkat kaki dari hadapan pintu kamarnya sendiri. Sementara gadis muda tak tahu malu yang berada di ruangan paling pribadi sang pemilik rumah, menjelajahi sekitar. Tempat tidur yang dipakainya untuk istirahat semalam itu tak terlalu besar, dan muat untuk dua orang. Seketika itu juga Lenora tersadar. “Jangan-jangan semalam aku tidar seranjang dengannya?!” Sepasang tangan membekap mulutnya sendiri. Ia syok bukan main, karena selain bajunya diganti oleh Harold, ternyata mereka satu ranjang dalam beberapa jam. “Di kamar ini tidak ada sofa,” lirihnya yang masih menatap ruangan itu. Ya, karena hanya ada meja untuk meletakkan lampu tidur, lemari, dan ranjang. Itu tandanya semalaman dia tidur di ranjang pria dewasa yang baru dikenal. Mendekati ranjang sambil memeluk dirinya sendiri, Lenora mengingat-ingat lagi kejadian semalam. Sayangnya, yang terakhir ia ingat hanya pada saat dirinya dibopong Harold di dalam hutan. Setelah itu Lenora tak lagi mengingat apa pun. Gadis yang masih mengenakan kemeja hitam kebesaran itu memikirkan nasibnya ke depan, sambil berbaring di atas ranjang milik Harold. Teringat akan tugasnya yang menjadi karyawan di salah satu pusat perbelanjaan, terpaksa dirinya harus membolos bekerja. “Atau mungkin aku tidak akan pernah kembali bekerja lagi ....” Kenyataannya, Lenora terlalu takut pada Tom, kekasihnya, yang tega menjualnya pada pria seusia ayah Lenora yang tahun lalu dipanggil Tuhan. Tiba-tiba saja air matanya turun tanpa diminta. Teringat akan kenangannya bersama Tommy selama berpacaran, ia tak menyangka jika kekasihnya yang sangat perhatian dan romantis ternyata memiliki niat terselubung. “Selama satu tahun ini aku tidak pernah memikirkan hal buruk tentangmu, Tom. Aku sangat mencintaimu, tapi ... kenapa kamu tega menjualku? Apa aku pernah punya kesalahan besar padamu?” tanya Lenora dengan kepala mendongak menatap langit kamar Harold. Lama menangis karena mengingat masa-masa indahnya bersama sang mantan, Lenora memejamkan matanya karena mengantuk. Akan tetapi, belum sepenuhnya tertidur telinganya mendapatkan suara dari luar kamar. Ia pun terduduk saat bunyi pintu digedor-gedor kembali mengganggunya. “Kau keras kepala atau gila?! Buka pintunya!” “Aku tidak mau! Maafkan aku Tuan Harold, aku tidak mau keluar dari kamarmu!” “Gadis gila! Aku harus berganti pakaian! Sebentar lagi aku harus pergi bekerja!” Lenora buru-buru berjalan dan mendekati pintu. “Pakaianmu sudah sopan, tidak perlu berganti lagi, Tuan Harold,” sahutnya yang membuat pria itu memukul pintu kamar dengan sangat kencang. Lenora yang sebenarnya menyadari bahwa dirinya berlebihan dan tidak tahu malu, lantas menggeser pengait dan menekan kenop pintu ke bawah. Tampak sosok Harold yang mengepalkan tangan hendak memukul pintu, namun terhenti tepat di depan hidung Lenora. Ia tak mengatakan apa pun, lalu melewati Lenora begitu saja. Lelaki berotot itu masuk ke kamar dan membuka lemari pakaian, mengambil asal sebuah atasan berwarna merah. Tak hanya itu, ada sebuah dasi hitam yang diambil dari laci dalam lemari. “Aku tidak akan ke mari selama tiga hari.” “Ha?” Lenora yang terkejut itu langsung menghadang jalan Harold dengan merentangkan kedua tangannya. “Kau akan ke mana? Bagaimana denganku?” “Apa aku perlu mengatakan padamu akan pergi ke mana?” balas Harold, lalu membentak, “Awas!” Lenora yang dibentak itu terpaksa menunduk dan menyingkir dari hadapan Harold. Ia menatap punggung Harold. “Terus aku bagaimana? Aku juga tidak punya pakaian luar dan dalam,” ucap Lenora pelan dan membuntuti Harold yang keluar kamar, berjalan menuju kamar mandi. “Apa aku boleh minta tolong? Tolong belikan aku pakaian ....” “Kau merepotkan sekali! Apa aku ini pembantumu?” “Apa aku harus memakai bajumu setiap hari?” “Apa kau akan tinggal di rumahku ini selamanya?!” Lenora menarik tangan Harold saat lelaki itu sudah masuk ke dalam kamar mandi. Sambil menatap Harold penuh harap dan netra yang kembali terlihat ingin menangis, Lenora berlutut. “Aku tidak punya siapa pun lagi selain kekasihku yang tega menjualku.” Menggeleng kuat, Lenora meneruskan, “Aku tidak bisa kembali, aku takut, Tuan Harold. Tolong izinkan aku untuk tinggal di rumahmu.” Harold yang sedikit tersentuh itu menghela napas panjang. Ia memegangi kedua lengan Lenora, dan membuatnya bangun. “Jika kau sudah mengatakan itu. Aku akan mengizinkanmu.” “Terima kasih, Tuan. Terima kasih ba—“ Lenora terpaksa menutup mulut saat Harold menyela. “Tidak gratis,” ujar lelaki itu dengan satu tangannya yang bebas mengangkat dagu Lenora. “Ada bayaran yang harus kau berikan padaku,” imbuhnya yang membuat Lenora menahan napas tanpa berkedip.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD