Dengan gerakan cepat, kakinya mundur. Lenora menjauh dari pria bertubuh atletis bak pemain sepak bola terbaik Spanyol, tapi berwajah datar tersebut. “Jangan macam-macam!” pekiknya dengan suara bergetar.
Bukannya membalas, Harold justru memilih masuk kamar mandi. Tak hanya itu, ia membanting pintu cukup keras. Membuat Lenora yang kaget dengan perlakuan Harold sebelumnya, semakin terkejut.
“Apa yang harus aku berikan? Uang? Aku belum punya, karena semua uang simpananku ada di tempat kos.”
“Nanti kau juga tahu,” sahut Harold dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat di hadapan Lenora.
“Baiklah ....”
Mengayunkan kaki dari sana dan masuk ke kamar tidur satu-satunya di rumah itu. Lenora setengah hati menerima syarat dari Harold, karena takut jika Harold bukan pria baik seperti dugaannya. Akan tetapi, menolak pun dirinya harus kembali ke tempat kos dan kemungkinan besar akan bertemu sang mantan.
Berdiri di belakang pintu kamar, Lenora meratapi hidupnya yang benar-benar terasa berubah drastis. Sungguh tak menyangka jika seseorang yang paling dicinta, dipercaya, dan dekat padanya adalah penghancur masa depan dan impiannya. Tak ada yang bisa dilakukan selain berharap pada Juru Takdir.
“Aku jadi tidak yakin kalau penolongku benar-benar tulus menolongku.”
Hatinya gelisah, takut, dan cemas akan nasibnya setelah ini. Meragukan Harold, karena tampang pria itu berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkan padanya beberapa saat lalu. Di kamar mandi tadi, Harold tampak seperti pria dewasa yang menyeramkan.
Gadis itu kembali melamun, berdiri samping kasur. Beberapa menit dipakainya untuk meyakinkan diri bahwa Harold bukanlah pria jahat. “Mungkin saja dia ingin menakutiku agar aku benar-benar pergi dari sini.”
Usai mengatakan itu, pintu kamar kembali dibuka. Harold masuk mengenakan pakaian yang rapi. Sama sekali tidak melirik ke arah Lenora yang berada di dekat tempat tidur, tapi menuju lemari pakaian. Mengambil jaket hitam dan segera memakainya.
“Kamu mau ke mana?”
“Kau duduk tenang saja di rumah ini,” balas Harold sebelum memutar badan. Langkah kakinya yang lebar, membuat Lenora cepat-cepat mengikuti dari belakang.
“Tunggu! Kau tidak akan pulang malam ini? Lalu, bagaimana dengan pakaianku?! Harold!”
“Malam ini aku kembali.”
“Lalu bagaimana pakaianku?!”
Harold yang lengannya dipegang Leonora dari belakang, memutar tubuhnya. Ia berbalik dan menatap Lenora dengan tampang datar. “Lepaskan.” Lenora dengan cepat menjauhkan jemarinya dari sana. “Kubilang duduk tenang saja. Aku akan kembali.”
“Tapi pakaian—“
“Kau ingin pergi dari sini atau menuruti perintahku?!”
Tanpa menjawab, Lenora menundukkan kepala. Harold yang melihat itu pun segera membalikkan badan. Ia langsing mengambil sebuah kunci dari gantungan kunci di dinding dekat pintu kayu rumahnya. Angkat kaki dari sana, Harold mendekati ruang lain di samping rumah minimalis kayu itu.
Di dalam garasi itu, Harold mengambil sebuah masker kain dari jaketnya. Tak hanya itu, helm yang sudah ada di kaca spion juga dikenakannya. Menaiki motor trail yang perpaduan warnanya hitam dan merah.
Lenora yang diam-diam mengikuti Harold, mengintip dari dinding luar. “Gagah sekali,” gumamnya saat mesin motor mulai dinyalakan. Begitu Harold keluar bersama motornya, Lenora yang terkesiap itu sampai menahan napas sambil menempelkan punggung pada dinding.
Harold tidak bodoh, dia mengetahui bahwa sejak tadi Lenora mengintipnya. Lelaki itu pun berhenti dan menoleh. “Masuklah dan kunci pintunya, aku akan pulang malam.” Lenora yang gugup itu mengangguk-angguk dan segera pergi dari sana, berlari ke pintu rumah.
Motor tinggi nan gagah seperti sang pemilik itu pun kembali berjalan. Membelah pepohonan rindang nan segar dipandang. Lenora menatap kepergian Harold dengan degup jantung yang tak bisa dikendalikan.
“Apa aku mulai kagum padanya?” tanya Lenora pada hati sendiri dan dengan dua tangan menempel di dadanya.
*
Di sebuah ruangan di dalam kelab malam, seorang pria tak berhenti membanting botol bir kosong ke lantai sekencang mungkin. Beberapa gelas kaca pun sudah menjadi pelampiasan emosinya. Membuat isi ruangan yang semula bersih dan rapi itu hancur berantakan.
“Mencari satu gadis saja kalian tidak bisa! Masih memikirkan perut?!” Tak ada jawaban dari ketiga anak buahnya yang sudah menerima luka di wajahnya. “Telusuri hutan itu lebih dalam lagi!”
“Maaf, Tuan ... tapi saya tidak melihat adanya jejak gadis itu di sana ...,” jawab salah satu anak buahnya yang berbadan tak terlalu kekar. Kepalanya mendongak dan kembali bersuara, “Saya rasa gadis itu tidak masuk ke dalam hutan, Tuan.”
“Kekasih bodohku itu takut dengan kegelapan, kesunyian, terlebih lagi hutan. Satu-satunya pelarian di tengah desakan pasti membuatnya nekat masuk ke sana. Dia pasti melawan ketakutan demi menyelamatkan diri,” sahut pria itu sebelum meraih satu botol alkohol lagi. “Cari dia lagi sampai dapat!” teriaknya bersama botol yang dilemparkan ke lantai dekat pintu ruangan.
Ketiganya tak berani mengeluarkan suara, dan memilih berbalik. Begitu salah satu dari mereka membuka pintu, sosok yang duduk di kursi roda menatap ketiganya dengan tatapan tajam. Pria itu bangun dari sana dan memukul wajah mereka satu-persatu.
“Selain berlian baru di sini, aku ingin mencicipinya lebih dulu!” pekiknya kesal, membuat dua orang tersungkur di lantai dan yang satunya berpegangan pada kursi roda. “Kalian begitu bodoh!”
“Maafkan kami, Tuan.”
“Bukannya menjaga pintu dan jendela, kalian justru sibuk bermain kartu dan bernyanyi.” Pria itu melempar tatapannya, beralih memandang ke dalam ruangan dan melihat asisten kepercayaannya yang berdiri sambil berkacak pinggang penuh amarah. “Mengapa kau memilih anak buah tak becus seperti mereka?!”
“Maaf Tuan, saya juga tidak tahu jika mereka lalai,” jawab sang asisten lalu berjalan pelan ke arah pria tua itu. “Saya akan pastikan, mereka segera menemukan Lenora, Tuan.”
“Seharusnya ditemukan sejak semalam,” geram pria berpenampilan layaknya seorang yang tengah kesakitan. “Jika hari ini belum juga berhasil menemukannya, kerahkan semua anak buahmu. Berlian seperti Lenora itu mahal harganya bila berada di tangan yang tepat,” imbuhnya lalu duduk kembali ke kursi rodanya.
Sementara tiga anak buah itu lekas pergi setelah menerima tatapan tajam dari Tommy. Pria itu memegang kursi roda yang dipakai bosnya usai tiga bawahannya pergi. “Tuan, mengapa mengenakan kursi roda?” tanya mantan kekasih Lenora pada sang bos itu setengah berbisik. “Apakah nyonya Anna mulai curiga, Tuan?”
“Tidak. Aku memakai kursi ini karena nyaman,” jawab pria lima puluh lima tahun itu apa adanya.
Keduanya pun keluar dari kelab malam yang belum buka itu. Masuk ke mobil, dengan Tommy yang membantu melipat kursi roda sang bos. Mobil itu pun membawa keduanya bersama sang sopir untuk menjauh dari sana.
“Tuan ingin aku membelikan vitamin seperti biasa atau bagaimana, Tuan?”