Bersama senyum liciknya, Andrew menjawab, "Hari ini aku sudah menyiapkan dokumen." Membuat anak buahnya yang duduk di sisi kirinya mengerutkan dahi. "Map di bangku depan itu, bukalah!"
Tommy mengambil map yang dimaksud dari kursi samping pengemudi. Buru-buru, dibukanya map kertas itu dengan raut kebingungan. Begitu dibuka dan dibaca baik-baik, tampaklah raut wajah yang terkejut.
"Tu-an ... apakah ini tidak terlalu berlebihan? Bagaimana jika nyonya Anna curiga?"
Andrew yang merasa diremehkan oleh asisten mudanya sendiri, lantas terkekeh. "Kau tidak percaya pada kemampuanku?"
"Bukan begitu, Tuan ... menurut saya, Tuan terlalu gegabah. Bagaimana jika nyonya ingin menemani Tuan ke rumah sakit, sementara sebenarnya Tuan tidak ada di sana? Kali ini terlalu berbahaya, Tuan. Waktu satu bulan bukanlah waktu yang singkat bagi nyonya Anna."
"Kau pikir aku betah berlama-lama mendengarkan wanita yang setiap hari hanya mengkhawatirkan putranya saja?" balas Andrew dan membuat Tommy tutup mulut karena tak bisa berkata-kata jika sang bos sudah terlihat emosi. "Aku menikah dengannya bukan hanya untuk mendengarkan dia mengoceh setiap hari."
"Tapi, Tuan ... berkat nyonya Anna, Tuan bisa mengembangkan kelab malam Tuan yang hampir jatuh karena musuh Tuan."
Andrew yang marah karena Tommy masih membela istrinya itu mengangkat satu tangannya. "Kau masih ingin menjadi asisten kepercayaanku atau terjun sampai ke dasar palung?" tanyanya dengan tinju yang masih melayang di udara. Akan tetapi, sedetik kemudian kepalan tangan Andrew meluncur ke arah muka Tommy.
Dengan sigap Tommy menahan tinju Andrew yang dilayangkan untuknya. "Ampun, Tuan! Saya masih ingin menjadi asisten kepercayaan Tuan." Ia berusaha duduk tenang setelah Andrew memilih untuk melipat tangan.
"Sebagai asistenku, seharusnya kau tahu apa yang boleh dan tidak boleh kau ucapkan."
"Ya, Tuan. Saya mengerti."
"Satu lagi, perhatikan kinerja anak buahmu. Hanya menangkap perempuan polos saja mereka tidak mampu, bagaimana jika seluruh wanita pekerja kita yang lari?"
"Baik, Tuan. Saya mengerti dan Tuan pasti tahu apa yang saya lakukan."
Di rumah minimalis berbahan kayu, Lenora tengah berdiri di depan lemari pendingin. Begitu selesai mandi dan kembali mengenakan baju milik Harold, gadis itu memeriksa lagi isi lemari penyimpan bahan makanan untuk dimasak. Menemukan beberapa macam sayuran dan telur, Lenora memutuskan untuk membuat sup jagung.
Siang itu, Lenora yang menunggu kedatangan Harold menikmati sup jagungnya dengan semangkuk nasi panas. Gadis itu tidak berani keluar dari rumah, dan memilih duduk di dapur sembari menatap sup buatannya. Ada rasa takut dan cemas yang singgah di hatinya, terlebih lagi Lenora sadar, ia masih berada di tengah hutan meskipun berada di dalam rumah Harold.
Keamanan rumah ini juga tidak diragukan walaupun berukuran kecil. Di segala sisi rumah tidak ada lubang kecil, setelah Lenora mengecek tiap sudut. Akibat tak ada aktivitas apa pun, Lenora sibuk mengamati rumah itu sampai detail terkecil.
Di rumah itu bahkan tersedia alat pemadam api di dapur yang menyatu dengan ruang makan. Pintu depan yang terbuat dari kayu itu juga terdapat kunci di bagian atas, samping, dan bawah. "Mungkinkah ini rumah pribadi yang sebenarnya khusus untuk Harold sendiri?" tanya Lenora lalu kembali memeriksa dapur yang barang-barangnya cukup lengkap dan lagi-lagi terlihat tak berpasangan.
Lenora juga ingat saat di kamar mandi, sikat gigi di alat penyimpanan pun tidak ada sepasang. Karena butuh, Lenora mengambil yang baru setelah membuka meja kecil di dekat pintu kamar mandi. Ia pun kembali ke kamar Harold, karena kamar tidur pria itu terasa sangat nyaman baginya.
"Tidak mau menikah, padahal kalau dilihat-lihat umurnya sudah cukup, hidupnya juga sangat mandiri. Ada apa dengannya?" gumam Lenora kala teringat akan percakapan Harold dengan seorang wanita yang diketahuinya sebagai ibu Harold. "Atau jangan-jangan, dia tidak menyukai wanita?!"
*
Kala matahari mulai terbenam, dan di saat Lenora baru selesai membersihkan rumah Harold, ia dikejutkan dengan suara motor. Lenora yang meyakini bahwa suara knalpot itu milik Harold, lantas keluar dari kamar mandi dan berlari ke pintu rumah. Mengintip dari jendela yang kain gordennya menutupi kaca.
"Ternyata benar dia! Tapi, kenapa jam segini dia sudah kembali? Bukannya nanti malam?" batin Lenora yang melihat di luar sana Harold memasukkan motornya ke garasi dan dirinya buru-buru membukakan pintu.
Tak lama, Harold yang sudah melepas helm dan jaket, menyodorkan sebuah paper bag ke arah Lenora yang berdiri di depan pintu. "Mandi dan carilah pakaian yang nyaman untuk pergi." Setelah itu masuk ke rumah, disusul Lenora yang bingung sambil menatap tas di tangannya.
"Kau menyuruhku pergi dari sini?"
"Mandi dan ganti bajumu."
"Aku tidak mau pergi dari sini!"
Harold memutar badannya, dan segera menarik Lenora. Ia membenturkan tubuh Lenora ke dinding luar kamar mandi. "Kita akan pergi!" ucapnya sedikit berteriak, tepat di depan muka Lenora. "Kita, kau dan aku. Bukan kau saja yang pergi! Mengerti?!" Lenora yang kaget setengah mati itu mengangguk kaku. "Mandilah, setelah itu aku."
Waktu yang dihabiskan Lenora di dalam kamar mandi tak sampai tiga puluh menit. Harold sudah memperingatkannya bahwa waktu mereka tidak banyak, dan Harold sendiri juga mandi cepat-cepat. Keduanya sudah siap keluar dari rumah mungil dalam hutan itu diantar oleh motor trail milik Harold, membuat Lenora memeluk lelaki itu cukup kencang selama di perjalanan karena takut gelap dan pepohonan yang menjulang di sekitarnya.
Meski risih dan tidak menyukai perbuatan Lenora, Harold berusaha mengesampingkan kekesalannya. Dia sedikit memaklumi ketakutan gadis yang memeluknya tanpa izin. Hingga membuang waktu mereka sebanyak empat puluh lima menit, akhirnya Lenora bisa bernapas lega.
Mereka sudah keluar dari hutan dan bergabung dengan pengguna jalanan lainnya. Lenora tahu bahwa mereka sudah berada di perkotaan. Bahkan pusat perbelanjaan yang sebulan sekali ia kunjungi juga terlewati.
"Harold, sebenarnya kita mau ke mana?"
"Resto."
"Apa kita akan makan malam di sana?" tanya Lenora lagi yang dibalas 'iya' oleh Harold dengan singkat. "Kau tidak akan memulangkan aku, 'kan? Kau tidak akan meninggalkan aku di sana, 'kan? Harold, em ... Tuan Harold, jawab aku."
Harold tetap membungkam bibirnya. Bahkan saat motornya sudah berada di parkiran sebuah restoran, lelaki itu justru menyuruh Lenora untuk turun. "Cepat turun! Perutku sudah lapar!" Melepas helm dan jaket hitamnya, Harold menoleh ke belakang di mana sang penumpang tampak ingin menangis. Berdecak kesal, Harold pun berujar, "Kita hanya makan, tidak lebih."
"Kau tidak akan meninggalkanku, 'kan?" Harold menggeleng kepalanya singkat dan itu memancing senyum senang di wajah Lenora. Gadis itu lekas turun dari motor dengan berpegang pada pundak Harold. Kemudian melepas jaket hitamnya dan melipatnya sebelum digabungkan oleh Harold dengan milik lelaki itu.
"Mulai malam ini kita adalah sepasang kekasih."
Tanpa aba-aba, Harold merangkul pinggang Lenora. Keduanya berjalan bersamaan ke dalam resto, dengan Lenora yang masih kaget.
"Di meja ujung bagian kanan nomor delapan, ada ibuku dan calon istri yang dipilih ibuku. Malam ini bantu aku mengaku bahwa kau adalah kekasihku, dan itu adalah syarat agar kau tetap tinggal di rumahku."
"Kau bercanda?"
"Kau ingin mengaku sebagai kekasihku atau tunanganku?" tanya Harold tepat saat tatapannya dan sang ibu bertemu.
"Hah?"