Bab 6 Menikah Secepatnya

1158 Words
Lelaki itu melambaikan tangannya saat sang ibu tersenyum lebar padanya. Begitu kaki keduanya semakin dekat dengan meja berisi empat kursi, Harold kembali bersuara, "Perkenalkan, Ma ... sesuai janjiku siang tadi, aku membawa tunanganku, dia Lenora ...." Gadis di sampingnya yang masih tercengang, menatap ke arahnya dengan bola mata seperti ingin lari. Sementara Harold semakin mengencangkan tangan kanannya di mana masih melingkari pinggang Lenora, supaya gadis itu tersadar dari lamunannya. Lenora tersenyum kaku, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah wanita berumur di depannya yang langsung bangun dari kursi. "Hai, Tante. Saya ... saya Lenora Harana," sapa Lenora yang uluran tangannya langsung dibalas oleh ibunda Harold. "Hai, Lenora. Salam kenal, ya, Tante Rossanna. Panggil saja Tante Anna." "Iya, Tante Anna. Salam kenal juga, Tante." "Silakan duduk, Lenora," tunjuk Anna pada salah satu kursi yang masih kosong. Lenora mengucapkan terima kasih dan mengangguk. Harold membantu Lenora memundurkan kursi yang akan gadis itu pakai duduk, berhadap-hadapan dengan seorang wanita muda. Sedang Harold sendiri duduk di depan ibunya. "Sesuai janjiku, aku membawa tunanganku. Mama tidak perlu khawatir lagi tentang hidupku atau calon istriku di masa depan." "Aro ...." "Tante, bukankah malam ini kita akan membicarakan rencana pertunanganku dengan Harold? Mengapa tiba-tiba ada gadis ini?" "Maafkan Tante, Alexa." "Mengapa Tante tidak bilang padaku kalau malam ini Harold tidak sendirian?" Alexa tampak marah dan kini menatap tak suka pada Lenora yang diam menunduk. "Apakah dia benar-benar tunanganmu?" Sorot matanya seolah-olah meremehkan Lenora, bahkan Alexa melipat sepasang tangan di depan dadanya. "Penampilannya sungguh berbeda Tante Anna dan aku. Aku tahu, dia bukanlah gadis idamanmu. Umurnya juga sepertinya masih muda." Harold menoleh ke arah gadis di sebelah kiri sang mama. Kemudian membuka kembali mulutnya. "Bisakah dengarkan pembicaraan orang lain terlebih dulu?" tanya Harold sebelum tangannya terangkat, meminta menu. "Kau selalu menyela," gumam pria itu menambahkan. Seakan tuna rungu, Alexa mengesampingkan ucapan Harold. "Tante, aku tidak yakin jika mereka bertunangan. Melihat jari gadis itu yang tidak ada cincin, aku meragukan hubungan mereka." Harold tampak melirik jari Lenora, begitu juga sang empunya jari. Lenora turut memandang kesepuluh jarinya yang tak tersemat satu cincin pun. Membuat kedua tangan Lenora yang berada di atas meja, kini mengepal dan kepalanya semakin menunduk. Pembicaraan itu terpotong oleh seorang pelayan yang datang dan memberikan buku menu untuk Harold. Tanpa melihat, Harold menyebutkan menu makan malam untuknya dan Lenora sekalian. "Dua porsi nasi goreng spesial dan dua jus apel," pesannya yang segera ditulis. "Ada lagi, Tuan?" Mengingat mamanya yang belum pesan, Harold pun menambahkan, "Sup jamur satu porsi dan jus mangga satu." "Menuku samakan saja dengan punyamu, Harold," timpal Alexa yang membuat Harold menghela napas. Alexa menarik sudut bibirnya saat Harold memesan menu yang sama untuknya dan gadis di depannya. Begitu karyawati resto pergi, Alexa kembali menatap sengit ke arah Lenora. Ia memberikan tatapan meremehkan kala Lenora mendongakkan kepala dan menatapnya. "Kalian pura-pura bertunangan, bukan?" Tawanya mengudara lalu meminta, "Jujur saja, kau sengaja menipu kami agar tidak menikah bersamaku, bukan?" "Jawab Harold." Kali ini suara sang mama yang terdengar sangat serius. "Apa kau sudah menipu Mama?" Harold terdiam sejenak, terlebih lagi saat ia tahu Lenora meliriknya. Pria itu tampak diam sembari menatap lekat-lekat sang mama. "Kami berdua bahkan tinggal bersama. Perkara cincin ...." Menolehkan kepala ke gadis yang duduk di sisi kanannya, lalu menarik napas dalam-dalam. "Itu karena Lenora sering lupa memakainya, dia belum terbiasa. Benar begitu, Sayang?" "Be-benar, Tante. Saya tidak suka memakai perhiasan." "Oleh karena itu cincin dariku sering dia tinggalkan di rumah," lanjut Harold seraya mengusap kepala Lenora. "Aku tidak mungkin memaksanya memakai cincin kalau dia belum terbiasa. Aku memakluminya." Anna yang masih kaget mendengar pengakuan putranya, menutup mulutnya yang sudah terbuka lebar. "Kalian berdua sungguh tinggal bersama?" Anna bahkan memandang sang putra dengan sorot mata menyiratkan kekecewaan, selain terkesiap dan cemas. "Mengapa harus tinggal bersama lebih dulu?! Mama tidak pernah mengajarkan hal itu padamu, Aro! Kamu membawa seorang gadis ke rumahmu?!" "Ya. Itu sebabnya aku tidak pernah mengajak Mama ke rumahku. Selama ini aku tinggal bersamanya." "Kalau memang begitu, mengapa harus menyembunyikan Lenora dari Mama? Mama sudah mencemaskan umurmu, mengkhawatirkanmu yang tak kunjung menikah, Aro!" Harold tersenyum senang di dalam hati walaupun ia tahu sang mama kini merasa sedikit sakit hati. Ia yakin, ibunya pasti kecewa karena tahu dia membawa seorang gadis ke rumah pribadi tanpa mengikatnya lebih dulu ke dalam sucinya pernikahan. Bagaimana lagi, kebohongan ini harus berjalan agar dirinya tidak dinikahkan oleh Alexa yang bukan tipenya. "Kalian harus menikah secepatnya!" "A-APA?!" seru Lenora tanpa sadar. Ia segera melempar tatapan ke Harold yang sama tercengangnya. "Menikah?!" batin Lenora. Ia melotot pada Harold yang masih setia tutup mulut sambil menatapnya. Alexa yang marah dengan perintah Anna terhadap Harold dan Lenora, lantas mundur dan bangun dari kursi. Membuat Anna mendongak dan memegangi tangan Alexa. Wanita berumur lima puluh empat tahun itu tak ragu untuk meminta maaf pada Alexa yang usianya jauh lebih muda darinya. "Tante sungguh meminta maaf padamu Alexa, Tante tidak tahu jika Aro benar-benar memiliki tunangan. Tante juga baru tahu malam ini." "Sudahlah, Tante. Tante membuatku malu dan sangat kecewa." Alexa menyingkirkan tangan Anna yang memegang pergelangan tangan kanannya. "Mulai sekarang jauhi ibuku dan keluargaku. Dan mulai malam ini, aku dan keluargaku tidak akan lagi berhubungan dengan kalian." Tanpa mengucapkan permisi, Alexa angkat kaki dari meja bernomor delapan itu dengan wajah berselimut amarah. Selain merasa dipermalukan, Alexa juga merasa dipermainkan terutama oleh Anna yang selalu menjanjikan pernikahannya bersama Harold. Gadis itu sungguh kesal, dan sangat membenci Lenora yang menurutnya tak ada apa-apanya dibandingkan dengannya. "Bisa-bisanya memilih calon istri yang begitu kampungan. Dengan perhiasan saja alergi ...." Alexa geleng-geleng kepala seraya mengepalkan tangannya. "Benar-benar gadis kampungan, dan berani-beraninya kalian menyia-nyiakanku." Anna juga meminta maaf kepada Lenora karena keributan kecil yang diciptakannya bersama Alexa. Merasa sangat tak enak hati pada tunangan putranya, yang nantinya akan menjadi menantu. Anna pun mengulang kembali ucapannya. "Mama tidak suka jika kalian satu rumah tanpa ikatan pernikahan. Mama ingin kalian berdua segera menikah, Aro." "Mama tidak perlu cemas, aku tidak akan melakukan hal-hal buruk pada tunanganku sendiri. Mama bisa percaya pada ucapanku." "Kamu sudah tiga puluh dua tahun, Aro. Mama tidak bisa mengawasi duniamu selama kau pergi dari rumah. Jadi, dengarkan perintah Mama kali ini. Menikahlah secepatnya dengan Lenora." "Tapi Tante, saya ... saya belum siap kalau harus menikah muda. Umur saya masih dua puluh tahun, Tante." Walaupun agak terkejut, Anna tetap tersenyum. "Apa yang membuatmu ragu menikah muda? Kalian sudah bertunangan, itu tandanya kalian harus segera mengesahkan hubungan kalian lebih jauh lagi. Menjadi hubungan yang lebih sempurna." Belum sempat Harold memotong, waitress datang membawa nampan berisi minuman pesanan mereka. Meletakkan empat jus, tetapi Harold meminta pengantar minuman itu membawa kembali salah satu jus apel ke belakang. Ia pun permisi untuk mengambil makanan mereka. "Mama sudah tahu kalau aku tidak sendiri." Harold mengatakannya sembari menggenggam tangan sang mama, berusaha memberikan pengertian. "Cukup berhenti mencemaskanku, dan untuk hari pernikahan, biarkan kami yang menentukan. Aku juga tidak ingin memaksa Lenora menikah bersamaku dalam waktu dekat." Akting sebagai tunangan Harold, Lenora mengangguk cepat saat Anna melempar tatapan pada gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD