Bab 7 Berpisah atau Bersatu

1107 Words
Tidak ada yang bersuara setelah menu makan malam mereka diantar. Baik Anna maupun Harold tampak tenang kala memasukkan makanan mereka ke dalam mulut, seolah-olah menikmati rasa dari menu yang keduanya makan. Meski terlihat tenang, Lenora yakin seratus persen bahwa ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Anna juga Harold. Bagaimana tidak? Anna begitu tak percaya dengan kehadiran Lenora yang ternyata sudah menjadi tunangan putra kesayangannya. Tidak hanya itu, Anna juga baru mengetahui bahwa Harold berani tinggal bersama perempuan yang belum dinikahi. Lenora bisa menebak kalau malam ini, Anna terkejut bukan main dan sangat kepikiran akan Harold juga dirinya karena tinggal satu atap. “Kalian bertemu dan kenal di mana?” Pertanyaan dadakan dari Anna, membuat pasangan pura-pura itu saling pandang. Lenora yang tak tahu harus menjawab apa cuma bisa mendelik tajam pada Harold. Sedangkan lelaki itu segera menggenggam tangan kiri Lenora dan menyahut, “Lenora karyawan di salah satu resto Aro, Ma. Kami kenal di sana saat peresmian.” Lenora dapat melihat jelas raut wajah Anna yang berubah. Ia menebak, Anna tak menyangka kalau kekasih anaknya bukan dari kalangan atas. Terlebih lagi, Lenora tahu kalau Anna wanita sosialita. Sudah pasti wanita itu sangat terkejut dengan latar belakangnya hasil karangan Harold. “Resto yang mana?” “Resto kedua, Ma.” “Oh, jadi kalian sudah kenal kurang lebih dua tahun?” “Ya.” Harold tersenyum tipis dan menambahkan, “Tapi aku melamarnya baru-baru ini. Tepatnya setelah Mama terus memaksaku untuk mengenalkan perempuan pada Mama.” Anna mengangguk paham dan sedikit menyunggingkan senyum. “Apakah Mama keberatan dengan Lenora yang hanya karyawan biasa?” “Oh, tentu saja tidak. Mama tidak mempersalahkan itu, hanya saja ... Mama ingin kalian cepat menikah. Mengingat kalian sudah tinggal bersama, Mama tidak ingin ada yang menganggap Lenora wanita tidak benar, Aro.” “Apa karena dia gadis sederhana? Mama takut orang lain akan mengira Lenora yang menggodaku?” Anna mengangguk. “Mama tidak perlu memikirkan orang lain, karena ini hidup kami. Kami berdua yang tahu, dan kami yang menjalani. Biarkan kami yang menanggung apa pun kalau nantinya terjadi sesuatu.” “Kamu tidak boleh egois, Aro. Bagaimanapun juga Lenora seorang perempuan, dia yang akan menanggung malu kalau sampai hamil di luar nikah.” Lenora yang sedang meminum jus apel itu sampai tersedak diikuti dengan batuk-batuk. Anna yang sigap, memberikan tisu kepadanya, dan segera diterima. Lenora mengucapkan maaf dan berusaha mendongak ke arah Anna. “Aku tidak akan menyentuhnya, Mama.” Harold menjawab dengan tegas. “Maksudku, aku akan menjaga kesuciannya sampai kami menikah suatu saat nanti.” “Kamu bilang suatu saat nanti?!” Harold dengan suara pelan mengiyakan dan menggerakkan kepala ke atas bawah. “Kamu ingin menunggu uban Mama memenuhi kepala?! Mama sudah tidak muda, Aro! Mama ingin menggendong cucu darimu, seperti teman-teman Mama yang punya cucu!” “Iri adalah sifat yang sangat tidak baik, Mama tidak seharusnya punya sifat iri.” “Kamu ini!” Lenora dalam hati tertawa mendengar ucapan Harold yang tidak salah. “Kamu tidak takut kalau anakmu nanti memanggilmu opa, bukan papa?! Usiamu sudah bukan belasan tahun! Sekarang kamu juga sudah mengenalkan perempuan yang katamu sangat susah dicari, tapi ternyata kalian sudah tunangan. Mengapa harus menyembunyikan Lenora dari Mama?!” “Karena kami tidak ingin buru-buru menikah, Ma.” Harold membuang napas panjang. Ia terlalu jengah mendengarkan topik pembicaraan sang mama yang selalu berputar pada pernikahan. Baginya, dia belum saatnya menikah walaupun usianya sudah tiga puluh dua tahun. “Lenora juga masih muda, dia ingin bekerja.” “Memangnya kalau kalian menikah, Lenora tidak bisa bekerja?” “Tidak. Aku yang akan mencari nafkah, dia yang akan mengurus anak kami di rumah.” Bukan hanya Anna yang tersenyum, Lenora yang mendengar jawaban Harold merasakan hatinya menghangat dan tanpa sadar senyumnya mengembang. Membuat seseorang yang menatap ke arahnya menatap tajam. Lenora yang tahu sudah terpukau akan jawaban Harold pun berusaha mengendalikan perasaannya dan pikiran. “Aku tahu kita sedang berakting, tapi jawabanmu itu ... mimpiku kalau sudah punya suami,” batin Lenora yang kini melirik Anna. “Lalu, Lenora ... kamu tidak keberatan tinggal bersama Aro? Tidak takut akan pandangan orang-orang padamu?” “Sa-saya—“ “Ma, Mama sudah tahu kalau anakmu ini sudah punya tunangan. Jadi, biarkan sisanya aku sendiri yang menentukan. Kami baik-baik saja dengan hubungan ini.” Acara makan malam itu pun ditutup dengan keputusan Harold yang sudah bulat, tidak ingin menikah secepatnya bersama Lenora. Tak ada kegiatan apa pun lagi, bahkan perbincangan ibu dan putranya juga telah usai. Harold mengatakan bahwa malam ini dirinya dan Lenora harus istirahat karena besok akan mengadakan rapat pagi sebelum resto dibuka. Setelah Harold izin pergi ke kamar kecil, Anna memegang erat kedua tangan Lenora dan meminta, “Tante ingin kalian segera menikah. Mengingat umur Aro yang sudah matang.” “Tapi, Tante ... saya tidak bisa memaksa Harold.” “Kalian putuskan, memilih untuk berpisah saja atau bersatu dalam pernikahan. Tante ingin Harold segera menikah dan tinggal kembali dengan Tante di rumah besar, karena Tante sangat kesepian, Lenora.” “Maaf sebelumnya, Tante ... tapi, ini pilihan Harold.” “Kalau kamu tidak bisa membuat Aro menikahimu dalam waktu satu bulan ini ... Tante yang akan memaksa Aro untuk menikahi Alexa.” Sesudah mengatakan itu Anna bangkit dari tempat duduknya. Tak lama, Harold datang dan melihat sang ibu memeluk Lenora. “Pertimbangkan baik-baik ucapan Tante,” lirih Anna berbisik sebelum melepaskan pelukannya. “Aro, Mama pulang. Kalian berdua hati-hati di jalan. Sampai jumpa!” * Kendaraan roda dua yang dikendarai Harold sudah berhenti di parkiran mal beberapa menit lalu. Kini pasangan dadakan itu berada di toko perhiasan. Harold yang mengajak Lenora ke sana dan alasannya sudah pasti membeli cincin untuk gadis itu. Keduanya sudah berdiri di depan etalase berisikan cincin aneka warna, ukuran, dan model. “Pilih cincin yang bagus menurutmu.” Lenora menelan ludahnya dan menempel pada Harold agar bisa berbisik ke telinga pria itu setelah berjinjit. “Kau yakin kalau aku harus memakai cincin?” tanyanya yang membuat Harold bergumam. “Tapi, sepertinya kita harus menyudahi drama ini. Ibumu ingin kita menikah, kalau tidak ... kau akan dinikahkan dengan Alexa.” “Tidak akan.” Harold tetap pada rencananya yang semula, ia tak akan menikah dalam waktu dekat. “Pilih cincin yang kau suka sekarang, waktuku tidak banyak.” Lenora mencengkeram lengan kiri lelaki yang mengenakan kemeja hitam itu sangat kencang dan berkata, “Selain dinikahkan oleh Alexa, aku takut ... aku takut jatuh cinta padamu.” Harold yang semula mengamati barisan cincin, menoleh ke samping di mana Lenora berdiri sambil menatapnya, pernyataan Lenora membuat lelaki itu cukup tercengang. “Bagaimana kalau aku benar-benar mencintaimu dan berharap bisa menikah bersamamu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD