"Kau sudah gila?!"
"Sepertinya mulai gila ...."
Harold menyentil dahi Lenora sebagai bentuk keterkejutan juga untuk menyadarkan gadis itu. "Benar-benar gadis gila!" pekik Harold pada Lenora yang tertahan, lalu menunjuk asal cincin di depannya. Sementara Lenora melotot pada Harold, gadis itu meringis sambil mengelus-elus kening yang sakit.
"Carikan yang seukuran dengannya," kata Harold pada salah satu pramuniaga di sana, yang sejak dirinya dan Lenora datang, langsung disambut dengan ramah. Ia merogoh saku, mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu debit. Sembari menyerahkan kartu itu pada Lenora, dia mengatakan, "Pakai kartu ini untuk membayar."
"Kau mau ke mana?" Harold hanya melambaikan tangan setelah berbalik, dan membuat Lenora yang bingung meneriaki namanya tanpa rasa malu. "Ke mana, Harold?!"
Terpaksa, Harold menoleh dan menyahut, "Cari minum." Yang langsung diangguki Lenora.
Sesudah itu dua kakinya terayun cepat meninggalkan toko perhiasan, mencari stand minuman teh yang ia lihat sebelum memasuki toko perhiasan. Begitu tertangkap oleh mata, Harold turut mengantre, ia berdiri di belakang lelaki dan perempuan yang sedang bergandengan tangan. Beberapa menit berlalu, kini giliran Harold yang berdiri di hadapan sang penjual.
"Pesan apa?" Harold tak kunjung menjawab, dia meminta sang penjual untuk menunggunya memilih rasa. "Baik, tapi tolong cepat karena masih ada yang menunggu, Kak."
"Baiklah, jasmine tea jumbo satu."
"Ada lagi?"
"Tambahannya milk tea jumbo satu!" timpal seseorang yang langsung berdiri di samping kanan Harold. Tak hanya penjual dan Harold saja yang kaget dan menoleh ke Lenora, tapi pembeli yang mengantre pun ikut menyorot.
Harold yang sadar akan reaksi sang penjual pun mengangguk. "Ya, tambahannya milk tea jumbo satu saja." Membuat lawan bicaranya mengiyakan dan segera membuatkan pesanan. Menunggu teh mereka siap, Harold melirik Lenora yang menyimpan dua tangannya ke belakang tubuh. "Kau sudah membeli cincin?"
Dengan cepat Lenora mengangkat dompet yang dipegang tangan kirinya, dan mengarahkannya tepat ke depan muka Harold. "Sesuai perintahmu, Tuanku Harold," balasnya diiringi dengan senyuman.
"Bagus. Setelah ini kita langsung pergi."
"Ke mana?"
"Kau akan tahu sendiri nanti."
"Tunggu." Lenora ingat akan percakapan mereka saat di resto, dan ucapan Harold pada ibunya. "Bukankah kita akan pulang?" tanya Lenora bersamaan dengan penjual minuman yang sudah memberikan tutup pada pesanannya.
"Kau harus tahu dulu rencanaku ke depan, barulah pulang ke tempat yang nantinya akan kau tinggali."
*
Motor yang membawa dua manusia beda usia itu membelah jalanan. Baik kendaraan roda empat maupun dua cukup memadati jalan raya. Waktu yang ditempuh motor Harold itu melebihi perkiraan, yakni dua puluh menit.
Begitu sampai, Lenora mengamati bagian depan bangunan. "Bukankah ini resto yang sama dengan tempat kita makan malam bersama ibumu tadi?" tanya Lenora begitu motor Harold sudah berhenti.
"Ini resto keduaku."
"Lalu tempat kita makan tadi resto punyamu yang ke berapa?" tanya Lenora penasaran.
"Pertama."
Mendapat jawaban singkat dari Harold, membuat gadis itu memilih diam saja. Ia menutup resleting jaket dan memilih mendekap tubuhnya saat Harold jalan lebih dulu menjauhi parkiran. "Kursinya sudah dinaikkan, apakah sudah waktunya untuk tutup, Harold?" Harold hanya bergumam.
Begitu melewati pintu kaca, suara sapaan karyawan menyerbu telinga Harold juga Lenora karena melihat kedatangan bos mereka. Akan tetapi, hanya Harold saja yang tampak berekspresi datar, berbeda dengan Lenora. Gadis itu langsung berdiri di belakang Harold karena merasa banyak pasang mata yang terarah padanya.
"Sesuai pesanku di grup obrolan, saya ingin mengatakan hal penting yang wajib kalian ketahui." Semua karyawan mengiyakan dan Harold menatap mereka satu-persatu. "Sebelum itu, saya ingin tahu apakah ada yang belum bergabung di sini?"
"Ada, Tuan!" sahut salah seorang pegawai Harold usai mengangkat tangan. "Teman saya, dua koki masih berganti pakaian di ruang ganti!"
Harold pun meminta semua karyawan untuk sabar menunggu dua koki yang belum ikut bergabung bersama mereka. Tak berselang lama, dua laki-laki keluar dari sebuah ruangan yang semula terang benderang, menjadi gelap. Keduanya ikut berkumpul dengan karyawan lainnya yang berdiri menghadap Harold serta Lenora.
"Mohon dengarkan informasi dariku baik-baik."
"Baik, Tuan!" jawab sebagian besar dari sang pegawai resto.
"Saya akan memperkenalkan seorang gadis di belakang saya ini," ucap Harold sembari menoleh ke kiri. "Jangan bersembunyi dan perlihatkan wajahmu." Ia menggeret Lenora sedikit kencang, agar berdiri di sampingnya. "Perkenalkan dirimu."
"Selamat malam semuanya, perkenalkan nama saya Lenora Harana. Kalian bisa memanggil saya dengan nama depan saja, Lenora."
"Selain statusnya sebagai tunanganku, mulai besok dia akan menjabat sebagai manager di sini, menggantikan posisiku.
Banyak yang terkesiap akan penuturan Harold. Mereka semua tak mengira bahwa sang bos yang terkenal pendiam dan sekali bicara tak pernah lebih dari kalimat, sudah memiliki tambatan hati. Para karyawan masih meneliti wajah Lenora yang cantik, namun berpenampilan sederhana karena memakai kaos berbalut jaket dan bercelana jeans.
"Jika nyonya Anna mencari informasi tentang Lenora, katakan bahwa Lenora sudah menjadi pekerja di sini sejak resto dibuka. Apa kalian mengerti?!"
"YA, TUAN! MENGERTI!" balas mereka semua serempak.
Harold pun menutup rapat singkat itu dan mempersilakan para karyawannya untuk pulang lebih dulu. Begitu semuanya sudah pergi, menyisakan Harold dan Lenora yang sama-sama meminum teh milik mereka masing-masing. Saat sedang asyiknya minum, Harold tiba-tiba dikejutkan oleh dorongan dari tubuh Lenora yang membuatnya oleng.
Harold yang tak ada persiapan, terjatuh ke lantai. Punggungnya menabrak ubin, dan tehnya pun terlempar tak terlalu jauh. Tak hanya sakit di bagian punggung, tubuh bagian depannya tertimpa badan Lenora.
Kecelakaan kecil itu membuat bibir mereka tak sengaja bertubrukan. Keduanya bisa merasakan deru napas masing-masing dalam kedekatan yang tak berjarak. Tekanan otomatis yang tak sengaja dari bibir Lenora, membuat sang pemilik hilang kontrol akan otaknya.
Lenora melotot. Pikirannya seakan tak ada di sana. Tubuhnya mendadak kaku seperti muka Harold saat ini. Gadis itu justru tengah merasakan kelembapan serta kelembutan dari kenyalnya bibir Harold. Tak berkutik, Lenora masih kaget dengan jantungnya berdegup hebat. Namun, lagi-lagi ia disadarkan oleh sentilan di dahi.
"Bangun!"
"E-eh, maaf ...." Lenora lekas menarik diri dari badan kekar Harold. "A-aku ... aku jatuh karena gara-gara terkejut. Ada hewan yang menyenggol kakiku," sambung Lenora coba menjelaskan. Kini matanya menyapu sekitar, dengan jari meraba bibirnya yang sempat merasakan manisnya jejak teh melati pada benda lembap milik Harold.
"Lupakan. Sudah waktunya untuk pulang."
"Aku benar-benar tidak sengaja," sesalnya merasa tak enak hati kala melihat sorotan tajam dari sepasang mata Harold.
Harold yang telah bangun dari dinginnya ubin resto, berjalan menuju pintu kaca. Ia pun berusaha kuat menyingkirkan pikiran kotornya, akibat miliknya yang sempat ditindih oleh milik Lenora. Akan tetapi, saat tangannya baru menempel pada gagang pintu, kakinya seperti merasakan pergerakan. Disusul dengan suara hewan mengeong, membuat Harold menunduk.
"Masuklah ke kandangmu," kata pria itu seraya berjongkok.
Lenora yang melihat pemandangan itu, tak bisa menahan senyumnya. Di satu sisi dia merasakan kehangatan dari Harold karena pria itu sibuk mengelus kucing, di sisi lain dia teringat akan insiden pembuat jantungnya menggila. Adegan ciuman singkatnya bersama Harold yang tak sengaja, membuat hatinya merasakan sesuatu.
"Gara-gara kucing, bibirku tidak bisa melakukan ciuman pertama di hari pernikahan," batinnya saat Harold sudah kembali berdiri.
"Cepat keluar! Atau kau ingin menginap di restoku?"