"Sebelumnya kau bilang kalau ingin membawaku ke tempat yang nantinya akan aku tinggali."
"Ya, aku akan membawamu ke sana," jawab Harold dan berhenti melangkah. Namun tiba-tiba, dia menoleh ke belakang di mana Lenora berada.
"Tidak di restomu?" tanya Lenora yang kini memilih berhenti di samping Harold. "Aku kira kau memintaku untuk tinggal di restomu."
Pria itu hanya diam sambil menatap Lenora yang kini kebingungan dengan kebungkaman Harold. Beberapa detik tak membuka mulut, Harold pun memutuskan, "Sepertinya ide yang bagus. Kau bisa tinggal di restoku saja." Lenora yang tadinya tak masalah, justru merasa keputusan Harold tidak benar. "Kau tidak apa-apa tinggal di restoku?" tanya Harold kemudian.
"Bukan masalah itu ... tapi, bagaimana kalau besok pagi ibumu benar-benar datang ke mari? Bukankah kita sudah bilang kalau selama ini tinggal bersama di rumahmu?"
Harold kembali diam. Ia seakan-akan tengah menutupi sesuatu, dan ekspresi pria itu membuat Lenora menebak-nebak apa yang sedang disembunyikan lelaki itu. "Sebenarnya di hutan itu rumah siapa?" Lenora bertanya dengan suara cukup pelan dan Harold menatapnya seketika.
"Jelas itu rumahku."
"Lalu, sebenarnya kau ingin aku tinggal di mana?" tanya Lenora lagi yang kali ini menyelami tatapan lelaki itu makin dalam. "Kau tidak ingin aku tinggal di rumahmu, dan ingin membiarkanku tinggal di mana?"
"Sudahlah. Kita kembali ke rumah kayu."
"Sebenarnya kau punya berapa rumah?"
"Bukan urusanmu."
"Walaupun cuma pura-pura, aku tetap tunanganmu, Tuan Harold."
Harold mengabaikannya dan mempercepat langkah kaki, meninggalkan Lenora. "Berhenti mengatakan hal-hal semacam itu atau kau tidak akan pernah kuizinkan tinggal di rumah kayu." Harold semakin mendekati motornya yang terparkir, sementara Lenora masih berdiri di tempat semula.
"Oke! Kalau begitu menikahlah dengan Alexa!" seru Lenora yang merasa di atas awan sekarang. Ia jelas tahu kalau Harold tidak akan menikahi Alexa, dan tentu lebih memilih mengalah padanya. Bisa dilihat, pria yang sudah mengenakan helm itu akhirnya menengok pada Lenora.
"Cepat ke mari! Langit semakin gelap, besok kau mulai bekerja!"
Gadis itu berlari sambil tersenyum puas. "Kau sungguh-sungguh tidak menyukai Alexa, ya?" tanyanya setelah berada di dekat Harold.
Tak ingin menjawab, Harold memilih untuk memberikan helm milik Lenora. "Cepat pakai!" perintahnya lalu naik ke motor lebih dulu.
"Jawab pertanyaanku! Kenapa kau tidak menyukai Alexa, Tuan Haroldku?!" Masih tak dijawab, dan Harold menyalakan mesin motornya. "Kau lebih menyukaiku ketimbang Alexa? Apa karena aku lebih muda? Atau aku lebih cantik darinya?!"
"Karena aku tidak akan nafsu padamu."
Jawaban singkat dari mulut Harold itu membuat hati Lenora terasa perih mendadak. Namun, gadis itu tetap naik motor dengan berpegang pada pinggang sang pengendara. "Lalu, kenapa kau tidak ingin menikahi Alexa kalau nafsu padanya?"
Harold membisu dan memilih memacu kendaraannya. Membuat Lenora yang duduk di belakang itu memeluk erat pinggang Harold. "Jangan pernah gunakan perasaanmu ketika bersamaku. Aku ingatkan lagi, aku bukan pria baik seperti dugaanmu," ucap Harold kala kecepatan motornya melemah.
"Apa jangan-jangan kau ini mafia?"
"Berhenti menonton drama."
"Tidak, tapi aku suka baca novel." Harold lagi-lagi memilih diam dan memperhatikan jalanan yang tak terlalu ramai seperti beberapa menit lalu. "Jadi kalau bukan mafia, kau ini apa? Jangan merendah, aku tahu kau ini pria baik-baik. Buktinya, kau punya beberapa resto dan disayang oleh ibumu."
"Apa yang dilihat oleh mata belum tentu kebenarannya." Harold mempercepat laju kendaraannya sembari meminta, "Berhenti bertanya dan pegangan saja."
"Hem ... baiklah, Tuan Harold. Aku turuti perintahmu." Diam beberapa detik saja, Lenora kembali angkat bicara. "Tapi omong-omong, mengapa kau tidak nafsu padaku?"
"Sekali lagi kau bersuara, aku akan menyewa kamar hotel."
Detik itu juga, pelukan di pinggang Harold mengencang. Suara Lenora yang berisik pun tak terdengar lagi. Sebaliknya, Harold merasakan sesuatu menempel pada punggungnya, membuatnya menggeram kesal.
"Awas saja jika kau berani tidur. Aku baringkan kau di trotoar."
"Tidak, aku hanya merasa nyaman dengan punggung lebarmu."
*
Lenora dan Harold bergantian masuk kamar mandi untuk buang air kecil dan berganti pakaian. Setelah menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh menit di jalan, keduanya sampai rumah dengan selamat. Lenora yang masuk ke kamar kecil lebih dulu, kini sudah berbaring di ranjang sambil menatap ke arah pintu.
Gadis itu menantikan kehadiran Harold. Masih ada banyak pertanyaan lantaran penasaran dengan sosok pria dewasa itu. Kantuk juga belum menyapa, dan ia sendiri juga tak tenang karena akan satu ranjang dengan Harold.
Tak lama, sosok yang ditunggu-tunggu datang juga. Melihat Lenora yang belum tidur, Harold menghela napas. "Kau besok sudah bekerja di resto milikku, jadi sekarang tidurlah."
"Apa aku tidak boleh tahu apa pun tentang tunanganku?"
Harold yang hendak ikut bergabung di atas ranjang pun enggan. Ia menatap Lenora lamat-lamat. Meneliti piama tidur warna putih yang dikenakan gadis itu lalu kembali menatap wajah. "Kau ini wanita macam apa?"
"Apa maksudmu bilang begitu?!"
"Apa yang kita lakukan saat ini dan seterusnya hanya berakting, tidak lebih," jelas Harold tegas dan tidak main-main. "Berhenti mencampuri hidupku. Urus saja bagianmu."
"Tidak bisa! Aku takut kalau benar-benar jatuh cinta padamu! Karena itu, aku mau bilang dulu supaya kau mengerti."
"Kau baru mengenalku beberapa jam, tetapi kau sudah mengungkit tentang cinta. Apa kau bisa jatuh cinta secepat itu?!"
"Bisa! Cinta pandangan pertama namanya, apalagi kau penolongku. Selain itu ... ciuman pertamaku juga kau yang ambil!"
"Menyukaiku mungkin bisa saja. Tidak dengan kata sakral itu." Harold yang enggan naik ke ranjang memilih berdiri di dekat jendela dan menatap kumpulan pohon yang tinggi. "Pikirkan baik-baik apakah kau cuma suka atau lebih dari itu."
"Aku cuma takut kalau suatu saat nanti mencintaimu, dan kau tidak memiliki perasaan apa pun padaku. Terlebih lagi, kau sudah mengaku kalau kita sudah bertunangan."
"Aku tidak akan mencintaimu. Aku tidak bisa."
Lenora yang terkejut mendengar keseriusan Harold lantas turun dan menghampiri Harold yang berdiri di balik jendela. "Mengapa tidak bisa? Apa sebenarnya kau mencintai seseorang?" tanya Lenora saat dirinya berdiri di sisi kiri Harold.
"Aku memiliki rahasia."
"Rahasia? Apa maksudmu? Apa hubungannya dengan tidak bisa mencintai?" Lenora benar-benar bingung dengan balasan Harold yang menurutnya tidak sinkron dengan pertanyaannya. "Aku tidak mengerti, Harold."
"Aku sudah memiliki buah hati."
Lenora yang berdiri tepat di samping Harold, kini kakinya mengambil langkah mundur dengan sendirinya. "Ka-kau ... kau sudah beristri?!" tanya Lenora yang membuat Harold memutar tubuhnya dan menatap gadis di depannya yang tampak ketakutan.
"Aku pernah menghamili seorang gadis," tambahnya yang kali ini membuat Lenora menutup mulut dengan mata menyala terang.
Lenora yang sudah tidak bisa berkata-kata hanya mampu menelan ludah dan melotot. Jantungnya yang terkejut, membuat kakinya lemas dan lidah berat untuk terangkat. Alhasil, gadis itu berdiri di tempat dengan tubuh sedikit bergetar.
"Selama satu tahun aku mencari gadis yang pernah kuhamili." Melihat respons Lenora yang seperti ketakutan padanya, Harold tak berani maju ataupun melihat gadis itu lebih lama. Sambil menatap lantai, Harold meneruskan, "Hari di mana aku menyelamatkanmu adalah hari ulang tahun buah hati kami."