Lenora yang tidak bisa merespons penjelasan Harold, tak tahu juga bagaimana dirinya harus bersikap. Ia bahkan tak berani satu ruangan lagi dengan pria itu. Lenora memilih keluar dan berakhir duduk di kursi makan.
Beberapa menit terbuang hanya untuk memikirkan semua yang diberitahukan Harold padanya. Entah mengapa jantungnya berdegup sangat kencang kala mendengar pengakuan Harold. Bulu halusnya masih meremang sampai sekarang, dan membuat Lenora memeluk dirinya sendiri.
"Tidurlah." Suara berat seseorang yang mampu membuat jantung Lenora kembali berdebar-debar membuat kepalanya menoleh. "Aku tidak akan menyentuhmu, kau tidak perlu takut." Sesudah mengatakan itu Harold kembali masuk ke kamar.
Lenora mengambil napas panjang sebelum bangun dari kursi. Gadis itu memaksakan diri untuk berjalan walaupun tidak bisa cepat, dan terlihat seperti bocah yang baru bisa melangkah, langkahnya sangat pelan. Dengan kepala tertunduk, kaki Lenora menuju kamar dan keinginannya hanya satu, yaitu berbaring di tempat tidur meskipun kantuk belum hadir.
Diliriknya pria yang memakai piama hitam lengan pendek tengah memakai selimut dan membelakanginya. Lenora pelan-pelan ikut berbaring, namun menghadap punggung Harold. Ada perasaan sedih di hatinya saat mengetahui bahwa ternyata Harold tengah mencari wanita yang melahirkan darah dagingnya.
Kebenaran dari mulut Harold tadi sungguh berhasil membuat perasaan Lenora tak tenang. Selain gagal memupuk rasa cinta, terpaksa ia harus mundur dan menghilangkan rasa sukanya pada Harold. Padahal, ciuman di resto kedua Harold beberapa jam lalu yang tak disengaja itu sudah mampu menggetarkan hati Lenora.
Gadis itu menyentuh dadanya yang lama-kelamaan merasa sesak. Dengan menatap rambut gelap Harold, Lenora menghela napas berat. Sesudah itu ia bertanya, "Apa yang kau jelaskan tadi apakah benar adanya, Tuan Harold?"
"Untuk apa aku berbohong?"
"Bisa saja, agar aku menjauh darimu, bisa, 'kan?"
"Bukankah kau tahu diriku hanya baiknya saja? Aku juga ingin kau tahu keburukanku."
"Kau sengaja menceritakan rahasiamu agar aku mempertimbangkan perasaanku padamu?"
Harold yang semula membelakangi Lenora, kini membuat tubuhnya terlentang. Ia menatap langit kamar, dengan posisi tubuh Lenora yang masih menyamping ke arahnya. "Kuceritakan agar kau tahu bahwa, aku tidak bisa mencintaimu. Aku akan terus menanti ibu dari anakku."
Mendengar jawaban Harold yang sama sekali tidak ragu dan terdengar sangat serius, mengakibatkan sakit di d**a Lenora. Ia malu, malu pada dirinya sendiri yang memiliki perasaan suka pada Harold sejak dirinya ditolong dan bertambah menyukai pria itu begitu ciuman tak sengaja mereka. "Untuk pernikahan bagaimana? Kau akan menikah dengan Alexa atau menikah bersamaku? Alexa atau aku?"
"Tidak dengan salah satu dari kalian. Aku akan menikahi ibu dari anakku."
"Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Aku tidak akan berharap dicintai olehmu."
Sesudah mengatakannya, Lenora memutar tubuhnya. Kali ini dia yang membelakangi Harold. Memegangi dadanya yang sakit, karena baru ini dirinya ditolak. Selain merasa sakit karena menanggung malu, hatinya benar-benar merasa berduka.
"Selamat tidur, Lenora."
"Ya, selamat tidur, Tuan Harold. Semoga kau mimpi indah."
Harold tidak tahu kalau kalimat ucapan dari Lenora malam ini adalah kalimat terakhir yang ia dengar dari Lenora. Sebab, Lenora sudah merencanakan kepergiannya. Gadis itu tidak mungkin hidup bersama Harold setelah mendengarkan kebenaran dari pria itu yang jelas-jelas tidak bisa menerimanya.
"Maafkan aku karena menyukaimu dan membuatmu merasa tidak nyaman," batin Lenora berusaha tersenyum.
Selama di meja makan, Lenora sudah memikirkan untuk pergi dari Harold. Karena penolakan terang-terangan dari Harold, Lenora semakin mantap untuk menjauh dari pria itu. Sebelum angkat kaki dari sana, ia memastikan Harold terpejam dan benar-benar sudah terlelap.
*
"Lenora? Kau sudah siap berangkat?" tanya pria yang baru bangun dari tidurnya. Meskipun tidak mimpi indah, lelaki itu tetap merasa tidur dengan nyenyak. "Ini masih terlalu pagi," gumamnya seraya melirik ke sekitar. Tak ada sahutan, dan itu membuat Harold memanggil nama Lenora kembali dan keluar kamar.
Keesokan paginya di saat langit masih gelap, gadis berumur dua puluh tahun itu sudah tidak ada di samping Harold. Bahkan ketika pria itu mencari-cari ke kamar mandi pun Lenora sudah tidak ada. Tidak ada secarik kertas yang ditinggalkan oleh Lenora, juga cincin yang dibelinya semalam pun tak terlihat.
Masih mencoba untuk tenang, Harold mencarinya keluar dan menyebut nama Lenora berulang-ulang. Sayangnya, yang dipanggil tak menyahut juga tak terlihat. "Apa dia pergi?!" pekiknya dan kembali masuk ke rumah untuk mengambil kunci motornya.
Kepergian Lenora sanggup membuat Harold merasa cemas. Pria itu tahu kalau Lenora sedang ketakutan di luar sana, sebab ia masih ingat cerita gadis itu yang dijual oleh kekasihnya dan terpaksa kabur ke dalam hutan. Rasa iba membuat Harold cepat-cepat keluar rumah untuk mencari keberadaan Lenora dengan menaiki motornya.
Meski tidak yakin Lenora pergi pagi ini, Harold meyakini kalau gadis itu belum pergi jauh. Terlebih lagi Lenora jalan kaki, dan memiliki rasa takut akan hutan, selain itu juga tidak ada penerangan yang menemani Lenora karena ponsel pemberiannya belum disentuh.
"Tidak seharusnya aku membongkar rahasia padamu sekarang," sesalnya.
Tanpa sadar, ia menginginkan keberadaan Lenora di sampingnya. Bukan hanya butuh untuk menjadi tunangan pura-puranya, tapi Harold merasa bahwa dia perlu mengenal gadis muda itu lebih jauh. Harold sendiri tidak tahu mengapa dia harus mencemaskan Lenora.
Mengendarai kendaraan roda duanya dengan cukup pelan, Harold sesekali berhenti untuk menyapu pandangan ke sekeliling. Siapa tahu dia menemukan batang hidung Lenora. Namun sayangnya, sudah puluhan menit berlalu Harold tidak menemukan tanda-tanda akan sosok gadis cantik nan muda yang ia cari.
Sedang di perkampungan yang tak terlalu jauh dari rumah kayu milik Harold, seorang gadis ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri oleh seorang wanita tua. "Pak! Tolong panggilkan bapak-bapak, ada perempuan yang tidur di dekat rumah saya, Pak!" ucap salah seorang wanita tua pada seorang bapak yang usianya tidak jauh dengannya.
Masih mengenakan pakaian tidur lengkap, beberapa pria dimintai pertolongan untuk membawanya ke rumah wanita berumur tersebut. Sebanyak empat orang yang mengangkat tubuh Lenora. Gadis itu pun dibaringkan di dalam kamar sang wanita dan tubuhnya segera dibungkus dengan selimut.
"Terima kasih sudah membantu, bapak-bapak. Saya bisa mengurus dia, bapak-bapak semua tidak perlu cemas dan jangan sampai kampung kita gempar, Pak."
"Tapi, Bu ... sepertinya dia tidak sadarkan diri, bukan tidur, Bu Ita."
Seorang wanita paruh baya yang berdiri di luar kamar berkata, "Kalau tidak punya minyak angin, saya ambilkan punya saya di rumah, Bu Ita. Tunggu sebentar, Bu." Wanita yang semula datang untuk melihat kerumunan di rumah wanita tua itu lantas buru-buru kembali pulang.
Sedangkan para bapak di sana satu-persatu pamit pulang dan dipersilakan oleh tuan rumah. Selain takut merepotkan, Ita juga tidak enak hati jika yang berkerumun di rumahnya laki-laki. Wanita tua itu coba membangunkan Lenora dengan memijat pelan di sekitar jari tangan.
Beberapa menit kemudian, ibu tadi kembali sembari membawa minyak angin untuk Lenora. Hendak memberikannya pada sang pemilik rumah yang sedang duduk di pinggir kasur untuk segera mengoleskannya pada hidung Lenora serta pelipis kanan-kiri, namun batal. "Mau saya bantu oleskan, Bu Ita?" tanyanya saat tahu kalau Ita tengah memijat.
"Boleh, Bu."
Beberapa menit kemudian barulah terjadi pergerakan. Tubuh Lenora yang tadinya merasa kedinginan, berangsur menjadi hangat. Meski tubuhnya bergerak, matanya tak kunjung terbuka.
"Selamat pagi, Nona Cantik. Apakah sudah merasa baik?" tanya perempuan paruh baya itu seraya mengamati wajah cantik Lenora.
Betapa terkejutnya ibu itu saat ia menyentuh pipi Lenora, gadis itu justru menyingkirkan wajahnya dalam kondisi masih terpejam. "Aku sudah pergi darimu," lirih Lenora tiba-tiba yang didengar kedua wanita itu. Membuat keduanya saling pandang dan kembali memerhatikan Lenora.
"Bu Ita, sebaiknya kita tinggalkan dia istirahat. Nanti siang coba kita bangunkan lagi, Bu."