"Apakah sudah bereaksi?" Tepat setelah beliau mengatakannya, tubuhku terasa panas. Aku tidak tau perasaan apa ini, tapi rasanya tubuhku sangat aneh. Aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Saat Pak Rian menyentuhku, ada gejolak yang muncul dalam diriku yang membuatku serasa sangat b*******h. Aku menahannya. Aku harus memainkan peran memelasku.
Lagi-lagi Pak Rian menyentuh pundakku dan mengusap-usapnya seolah menenangkanku dari tangisanku. Aku kembali memohon dengan suara tertahan. "Pak... Uh... Tolong jangan undang Ayah... Ahn... Ayah Vivi kemari." Aku tidak bisa menahan desahanku. Kupandang lekat wajah Pak rian yang tangannya semakin berani menyenggol payudaraku. "Bapak sih mau saja, asal Vivi mau menuruti perintahku."
Akhirnya angin segar yang sedari tapi kutunggu sudah kudapatkan. Meski kepalaku terasa berkabut, aku berusaha berterima kasih disela eranganku. Pak Rian menyuruhku menutup mata sambil berdiri. Ia menaruh sesuatu yang kecil di dalam celana dalamku. "Jangan sekali-kali kamu melepasnya. Besok kita bertemu lagi di sini saat istirahat pertama." Pak Rian memberikanku beberapa perintah tidak masuk akal yang mau tidak mau harus kuturuti demi menghindari hal yang kutakutkan.
Aku kembali ke kelas dengan perasaaan yang aneh. Badanku masih terasa panas, dan rasanya payudaraku sangat kencang sekali. Saat tidak sengaja tersentuh oleh Pak Rian, entah bagaimana, rasanya tak terbayangkan. Aku mencoba menggeseknya dengan lengan atas tanganku. Nikmat sekali. Rasanya aku tidak ingin menghentikannya.
Pelajaran-pelajaran yang kulalui semakin buruk. Vaginaku rasanya sangat gatal, berdenyut dan panas sekali. Aku merasa di sana sudah banyak cairan yang keluar tapi aku tak tau harus bagaimana. Aku hanya bisa menggerak-gerakkan pahaku berusaha untuk menjepitnya.
Saat pelajaran tengah berlangsung, tiba-tiba benda kecil tadi bergetar perlahan. Aku hampir saja melenguh saking leganya karena rasa gatal yang sedari tadi kurasakan sudah hilang. Tapi, rasa legaku berganti dengan kecemasanku karena benda itu terus bergetar dan semakin lama semakin kencang. Aku kembali menggesek-gesekkan pahaku. Aneh sekali. Rasanya aku ingin kencing dan kukira gara-gara kebanyakan minum tadi. Tapi anehnya, rasa kencing kali ini tidak bisa kutahan. Rasanya aku ingin kencing saat itu juga tapi berusaha kutahan karena sedang berada di tengah kegiatan pembelajaran.
Ketika aku tidak mampu menahannya, ketika kencingku ingin keluar, tiba-tiba getaran itu terhenti begitu saja. Kukira aku akan lega setelahnya. Tapi ternyata aku semakin gelisah karena tidak dapat mengeluarkan kencingku. Getaran-getaran benda itu terjadi beberapa waktu dengan pola yang sama. Aku kewalahan untuk menghadapinya sampai-sampai tidak terasa aku melenguh keenakan.
Setelah hari berganti, aku melakukan semua yang diperintahkan pak Rian. Ketika bertemu kembali dengan Pak Rian, beliau langsung menanyakan bagimana kemarin hariku berlangsung. Aku menceritakan semuanya, bahkan detail ketika aku secara reflek menggerakkan pinggulku ketika getaran benda itu semakin kencang hingga membuatku kencing di atas tempat tidurku. Malu sekali rasanya menceritakan hal itu. Tapi, aku merasa harus melakukannya karena aku mempertaruhkan hal yang besar.
Berikutnya, Pak Rian menanyakan baju yang kukenakan. Sesuai kesepakatan, Pak Rian menyuruhku untuk tetap menggunakan celana dalam yang sama dengan yang kugunakan kemari, serta tidak menggunakan BH. Aku mengatakan bahwa aku sudah melakukan semua yang Pak Rian perintahkan. Tapi, ternyata pak Rian tetap tidak percaya. Ia menyuruhku membuka baju dan rokku untuk meyakinkannya.
Kubuka perlahan bajuku memperlihatkan kedua sisi payudaraku yang termasuk dalam ukuran kurang dari rata-rara seorang perempuan. Celana dalamku terlihat kotor penuh dengan cairan putih yang sudah mengerinh dan masih basah serta bau pesing karena semalam aku terkencing. Bukannya menyudahinya, Pak Rian tetap tidak percaya. Ia menyuruhku untuk melepas celana dan memakainya di kepalaku. Meski tidak masuk akal, aku tetap menurutinya.
Kupakai celana dalamku di kepala dan dia membetulkan posisi celana dalamku sehingga bagian v****a tepat berada di hidungku. "Nah. Begini kan pas. Kamu makin cantik, loh Vi, kalau kayak gini. Gimana baunya?" Pak Rian memujiku seolah aku adalah wanita rendah yang pantas diperlakukan sepeti itu. Harga diriku terluka tapi aku menahannya. "Bau pesing, Pak." Aku menjawab dengan singkat.
Sekarang, coba kamu ikuti ini. Pak Rian memperluhatkan video kepadaku. Kulakukan apa yang ia mau dengan terpaksa. Kubuka kedua kakiku dengan lebar. Jariku memainkan vaginaku perlahan. Enah bagaimana, rasanya aku dapat menikmati hal ini. Aku tenggelam dalam perasaan nikmat yang kualami saat ini sampai melupakan celana dalam pesingku dan pak Rian yang sedang memperhatikanku. Seperti kemarin, lagi-lagi aku ingin kencing sekali. "Kalau mau kencing, kencing saja." Pak rian mengatakannya dan aku langsung kencing dengan lega. "Emh... Emh...." Aku menahan desahanku.
"Baiklah. Aku tidak akan memberikan suratnya." Aku lega sekali. Aku memakai kembali pakaianku dan beranjak menuju kelas. Saat ingin membuka pintu bilik ruangan Pak Rian, ia berkata, "Kamu tidak ingin melihat ini, Vi? p*****r yang berasal dari sekolahan kita."