bc

Ketika Kehidupan Berputar 180 derajat : Kisah Vivi Si boneka

book_age18+
70
FOLLOW
1K
READ
BDSM
rape
sex
kidnap
teacherxstudent
forced
drama
abuse
betrayal
humiliated
like
intro-logo
Blurb

Kehidupan yang kurasa sempurna, kini berubah menjadi petaka. Setiap hari aku diperlakukan tidak lebih dari sekadar boneka yang menjadi pemuas nafsu orang-orang itu. Aku muak dengan kehidupanku saat ini.

Peringatan! Cerita ini mengandung unsur kekerasan serta konten dewasa yang tidak cocok untuk pembaca di bawah umur. Konten cerita mungkin dapat memicu traoma tertentu bagi beberapa pembaca. Mohon kebijakan pembaca dalam menikmati cerita ini.

chap-preview
Free preview
Chapter 1
Puas sekali melihat Widya menangis. Setiap hari, aku selalu mengerjai dan bahkan membuatnya dalam masalah setiap kali ada kesempatan. Pernah waktu itu aku meneriakkan namanya untuk menjawab pertanyaan dari guru dan dia berakhir dengan dihukum karena tak mampu menjawabnya. Pernah pula ketika sedang memesan soto, aku menendangnya dengan keras hingga kuah panas soro membasahi bajunya. Seharian di kelas kami bau kuah soto dan satu kelas mencibirnya. Puas sekali rasanya jika mengingat hal itu. Tapi, itu juga yang membuatku menyesalinya. Aku perempuan SMA kelas XI di salah satu sekolah yang sebagian besar siswanya adalah orang-orang kaya. Seperti layaknya kehidupan orang kaya, aku dan teman-temanku menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan bermain bersama atau sekadar makan bersama. Semua terasa sempurna dalam hidupku pun dengan rahasiaku yang tersimpan rapi tak diketahui siapapun. Tapi, kesempurnaan itu harus dirusak dengan kehadiran salah satu guru di sini selalu memandangku dengan rasa lapar. Aku tidak tau bagaimana mendeskripsikannya, tetapi aku merasa ditelanjangi oleh mata Pak Rian yang seolah siap untuk menjadikanku sebagai menu makan siangnya. Beberapa kali dalam setiap pelajaran aku bertatapan dengan matanya dan itu sangat tidak nyaman. Setelah itu, aku selalu menunduk saat pembelajaran Matematika dengan beliau berlangsung. Pak Rian seperti tidak kehabisan cara untuk dapat bertatapan denganku. Dia menyuruhku maju mengerjakan soal. Meski dapat mengerjakan, tapi rasanya risih sekali jika harus berada di dekatnya. Hari yang tidak terlupakan bagikupun terjadi. Widya, yang biasanya kutindas, ia tiba-tiba berani melaporkanku pada pak Rian. Lalu entah bagaima, Pak Rian memanggilku untuk meminta kejelasan. Itu artinya aku harus bertemu secara pribadi dengannya, karena ruang guru di sekolah kami terdiri dari bilik-bilik yang berbeda, jadi tidak ada guru lain yang akan tahu ataupun melihat kita berdua. Aku berjalan menuju ke kantor setelah sebelumnya puas meneriaki, mencaci maki, dan mengutuk Widya. Kemarahanku sudah sampai pada puncaknya, hingga aku terus-terusan mengatainya sebagai p*****r, perempuan jalang, baj*ngan, dan umpatan kasar lainnya. Widya hanya menundukkan wajahnya tak berani nenatapku sementara yang lain hanya melihat kami berdua tak berbuat apapun. Teman-temanku yang sebelumnya ikut merundungnyapun kali ini hanya diam saja. Aku yakin mereka khawatir reputasi keluarganya hancur jika mereka sampai dilaporkan. Karena hal itu juga yang kurasakan saat ini. "Permisi, Pak Rian." Aku memainkan peranku sebagai perempuan anggun yang memiliki banyak kebaikan. Meskipun sebenarnya aku ketakutan kalau-kalau ayah harus ke sekolah untuk membereskan ulahku, aku berusaha menutupinya dengan bertingkah layaknya anak baik. Pak Rian menanyakan kejadian sebenarnya setelah menceritakan kisah dari sudut pandang Widya. Meski yang Pak Rian katakan sudah benar, tapi aku berusaha menepisnya. Aku memeras otakku lebih keras untuk dapat membalikkan cerita itu, sampai Pak Rian memutar video perundunganku terhadap Widya. "lalu kenapa hanya aku yang dipanggil, Pak? Bukankah dalam video tersebut sudah jelas jika pelakunya tidak hanya aku?" Karena sudah kepalang basah, aku berusaha menyeret teman-temanku yang juga terlibat. "Memang. Tapi apa kau bisa menunjukkan siapa pemimpinnya?" Saat mengatakannya, pandangan matanya begitu tajam menatapku. Senyumnya menggambarkan kemenangan. Aku hanya diam tidak bisa mengelaknya. "Aku akan segera menyerahkan surat panggilan untuk walimu. Kamu bisa kembali ke kelasmu." Aku mematung. Pikiranku sudah tidak karuan. Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi nanti. Tanpa sadar, aku meluapkan semuanya pada Pak Rian. "Memang apa salahnya merundung cewe itu? Aku setiap hari hidup dalam bayangan ayahku. Harus ini, harus itu. Bapak tidak tahu bagaimana rasanya berada diposisiku. Memangnya itu salahku melakukan hal serupa pada orang lain?" Air mataku bercucuran. Aku sudah sesunggukan tidak kuat memikirkan konsekuensi perbuatanku. Aku duduk bersimpuh di lantai sambil berkata, "Tolong, Pak. Apapun, asal jangan memanggil ayahku." Kubenamkan wajahku dalam-dalam berharap beliau memberikanku keringanan. Pak rian mengangkat tubuhku dan aku kembali terduduk di sofa. Ia menghapus air mata di pipiku yang tidak mampu kutepis karena khawatir akan memicu kemarahannya. Ia menyodorkan air putih padaku. "Minumlah terlebih dahulu agar Vivi lebih tenang." Kusambut gelasnya dan kuteguk habis isinya. Aku menunjukkan wajah memelas agar segera mendengarkan jawaban yang kuinginkan dari beliau. "Apakah sudah bereaksi?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

Revenge

read
35.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.9K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook