"Kapan kau kembali?" Arya bertanya sembari menatap wajah manis dihadapannya, tangan kirinya memegang rahang Cahaya, sedang tangan sebelah kiri memberi salep pereda perih. Arya tahu, walau luka itu tidak dalam dan lebar, pasti itu terasa sakit dan perih saat mandi nanti.
"Memang saya dari mana?" Cahaya bertanya sok polos, Arya tertawa melihat ekpresi wanita di hadapannya.
"Nggak nyadar udah ilang hampir bertahun-tahun?" tanya Arya sembari melirik kearah sahabatnya yang tengah menatap kearah mereka berdua, Cahaya terkekeh mendengar pertanyaan Arya.
"Anda kehilangan saya?" tanya Cahaya tanpa bermaksud menggoda, tapi di telinga Dirga itu seperti sebuah godaan dan rayuan yang wanita itu tujukan untuk sahabatnya.
"Oya, bukankah beberapa hari sebelum kau pergi, kau pergi ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Arya ingat benar, waktu itu beberapa tahun yang lalu dirinya pernah melihat Cahaya masuk kerumah sakit tempatnya magang, dan saat hendak mengejar ia kehilangan jejak Cahaya. Dan sekarang Arya sudah mendirikan rumah sakit sendiri.
Tubuh Cahaya menegang mendengar pertanyaan Arya, dan sayangnya Dirga melihat semua ekpresi wanita itu karena dari tadi netranya tak lepas dari mantan istrinya.
"Oya, saya harus memasak dulu. Sekiranya Pak Dokter ada waktu dan Tuan Dirga mengizinkan, silahkan anda ikut makan siang di sini," ujar Cahaya yang berusaha bangun dan sedikit meringis kala kakinya kembali merasakan ngilu.
"Bro, kok dia manggil loe, Tuan?" Arya bertanya setelah Cahaya pergi meninggalkan mereka berdua di kamar mbak Siti, "dan ini lagi, kenapa dia tinggal di sini?" Arya kembali mencecar Dirga dengan pertanyaan, Dirga yang sedari tadi fokus pada cara berjalan Cahaya mendesah lelah mendengar beribu pertanyaan yang di lontarkan sahabatnya.
"Dia hanya menggantikan mbak Siti selama satu bulan," hanya itu yang keluar dari mulut Dirga, kemudian menyeret langkahnya menuju dapur.
Belum sampai di dapur, Dirga sudah mendengar suara Cahaya sedang adu mulut dengan seseorang yang Dirga yakin itu adalah Tiara.
"Kenapa? Takut, aku membocorkan rahasia kalian pada Dirga?" Cahaya menyeringai setelah berkata demikian, Tiara terlihat gemetar, jemarinya mengepal.
"Katakan saja, dia pasti tidak akan percaya dengan ucapanmu," jawab Tiara terdengar pongah pada akhirnya. Lagi, Cahaya menyeringai.
"Yakin? Kau tahu, mereka sudah bertemu," bisik Cahaya yang membuat tubuh Tiara mundur seketika karena terkejut, "tidak mungkin!!" Tiara berteriak marah dan tidak percaya.
"Ck, terserah. Kalau kau tak percaya, coba kau tanya pada lelaki yang kau aku-akui sebagai calon suami itu. Tadi dia kemana saat bersama ku," ujar Cahaya santai, tangannya kembali memotong sayuran yang hendak ia olah.
"Jika kau masih mendekati Mas Dirga, aku tak segan-segan menghancurkanmu untuk kesekian kali," Tiara mulai mengancam Cahaya, berharap wanita itu mengalah lalu pergi dan tak lagi menampakkan batang hidungnya.
Sangat bahaya jika Cahaya masih berada di dekat Dirga, apalagi jika sampai lelaki itu tentang fitnah yang mereka rencanakan untuk memisahkan mereka, dan Tiara semakin yakin jika Dirga akan murka saat tahu putrinya ada tapi dirinya tidak tahu.
"Lakukan apa yang kau mau, ingat jika kau berani menyentuh putri ku, kau akan tahu akibatnya, karena aku... AKU BUKAN CAHAYA YANG DULU, AKU BUKAN CAHAYA YANG LEMAH DAN MUDAH DITINDAS, mengerti," tanpa sadar saat berbicara tangan Cahaya yang memegang pisau mengarah ke wajah Tiara, membuat wanita yang memakai pakaian ketat dan memperlihatkan lekuk tubuhnya menjadi takut dan menelan ludah perlahan.
Melihat lawannya ketakutan, Cahaya kembali menyibukkan diri dengan memasak dan mengabaikan keberadaan penghancur rumah tangganya.
Sore harinya, Cahaya memilih menyiram bunga bunga yang dulu sengaja ia tanam dan selalu merawatnya, dan semenjak ia bekerja, tanaman itu ia titipkan pada mbak Siti.
Cahaya tersenyum lega saat mendapati bunga-bunga kesayangannya tumbuh dan di rawat baik oleh Mbak Siti, tangannya memotong daun-daun yang sudah kuning dan mengumpulkannya lalu membuangnya ke tong sampah.
Di dalam rumah, Tiara yang sepertinya terhasut dan termakan omongan Cahaya akhirnya memutuskan menemui dan akan bertanya semua pada Dirga.
Tangan Tiara mengambang di udara, ragu untuk mengetuk pintu, takut jika lelaki itu marah karena merasa ia ikut campur urusan pribadinya, tapi dia adalah calon istrinya jadi dia harus tahu apapun yang terjadi pada calon suami nya.
Tok tok tok, akhirnya tangan itu terulur dan mengetuk pintu.
"Mas, ini aku, Tiara. Boleh aku masuk?" tanya Tiara, tapi sebelum di jawab Tiara sudah membuka pintu itu dan melonggokkan kepalanya.
Karena tak kunjung di jawab, Tiara memutuskan masuk. Kakinya yang panjang berjalan kearah di mana Dirga duduk, menyadari kedatangan seseorang Dirga yang dari tadi menekuni laptopnya seketika mendongak.
Ada raut wajah terkejut yang Dirga tampilkan, tapi dengan segera ia ubah menjadi raut wajah dingin dan datar, kemudian kembali menunduk dan menekuri laptop yang masih menyala.
"Ada apa, kenapa kau masuk kesini?" Dirga bertanya tanpa menatap gadis yang berdiri dan memakai pakaian kurang bahan.
Dulu jika Cahaya memakai pakaian seperti itu, Dirga akan memarahinya, Dirga mengatakan hanya dirinya yang boleh melihat dan menyentuh tubuh itu. Namun, kenyataannya sang kakak juga ikut menikmati apa yang dia jaga. Padahal jika ada orang atau keluar rumah, Cahaya selalu memakai pakaian tertutup.
Hanya saja Cahaya sedikit berubah saat ia mulai bekerja, mungkin karena tuntutan pekerjaannya, pikir Dirga.
"Mas tadi sama Cahaya kemana?" tanya Tiara hati-hati, mendapati pertanyaan aneh dan terdengar menintimidasi, Dirga mendongak dan menatap tajam gadis yang masih setia berdiri dengan tangan saling meremas, menyalurkan rasa takut dan grogi yang datang karena takut jika pertanyaan darinya menyinggung Dirga.
Dirga mendengus dingin, "bukannya tadi kau juga lihat, kami membawa barang belanjaan," suara dingin Dirga terdengar ketus di indera pendengaran Tiara.
"Hmm, apa tadi dia bertemu seseorang?" rasa penasaran akan ucapan Cahaya jika Dirga sudah bertemu dengan putri mereka berdua mengalahkan rasa takut jika lelaki itu marah.
"Kenapa?" kening Dirga mengkerut heran dengan pertanyaan gadis dihadapannya, jangan-jangan dia sudah tahu jika Cahaya mau bertemu dengan kakaknya, bukankah wanita ini juga dekat dengan kakak lelakinya, begitu pemikiran yang terlintas di tempurung kepala Dirga.
"Apa kau tahu sesuatu?" tanya Dirga menyelidik, lelaki tampan itu meletakkan laptop yang awalnya ia pangku menjadi di atas meja, lalu berdiri menghampiri keberadaan Tiara yang masih setia berdiri.
"Hmm, aku-" Tiara tidak melanjutkan ucapan nya, hawa dingin tiba-tiba melingkupi sekitarnya saat Dirga sudah berdiri di sampingnya.
"Kami tadi hanya berbelanja dan bertemu anak kecil," ucap Dirga, senyum terukir seketika lelaki itu mengingat hatinya terasa menghangat kala menyentuh anak perempuan itu.
"Anak kecil?" Tiara mengulang ucapan Dirga, lelaki itu mengangguk tanpa memandang wajah Tiara yang terlihat pias.
"Kau tahu, aku seperti pernah melihat wajah anak itu, tapi aku lupa di mana," lagi Tiara mematung mendengar jika Dirga pernah melihat wajah putrinya bersama Cahaya.
Pyar, bruugh, suara gelas jatuh di susul suara berat jatuh membuat Dirga mempertajam pendengarannya. Tidak mungkin Cahaya yang jatuh bukan, seketika Dirga ingat tadi sang mama baru datang dan dia tinggal sendiri di dalam kamar.