Dirga segera berlari keluar, netranya mendapati Cahaya yang tengah kesulitan saat menaiki anak tangga, Dirga berdecak kesal.
"Kenapa ngga lewat lift aja, Ay!?" desis Dirga tanpa sadar memanggil nama panggilan kesayangannya hanya untuk Cahaya, desisan yang terdengar antara geram bercampur kesal yang bisa di dengar Cahaya, wanita itu menggaruk keningnya sambil meringis.
Di rumah Dirga walau hanya memiliki 3 lantai, lelaki itu memang sengaja memasang lift, agar mempermudah Cahaya naik dan turun saat dari bepergian menuju ke kamar saat kelelahan atau saat keberatan membawa barang yang berat. Dan semenjak mamanya duduk di kursi roda, lift itu sangat membantu.
Cahaya kembali turun dan menekan tombol lift itu agar terbuka, setelah terbuka, Cahaya segera masuk. Pintu lift terbuka dan Cahaya segera keluar dan berjalan menuju kamar mantan mertuanya, di sana sudah ada Tiara dan Dirga yang tengah menolong mamanya Dirga.
"Kau itu, lambat sekali?!" ketus Tiara, menekuk kedua tangannya di pinggang dan menatap nyalang Cahaya yang seakan tak terpengaruh akan perkataannya.
"Nyonya tidak apa-apa, Tuan?" tanya Cahaya begitu posisinya sudah berada di dekat Dirga.
"Mama mertuaku jatuh karena ingin mengambil minum, seharusnya kau sebagai pembantu melayani dia!" sentak Tiara yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dirga.
Cahaya tersenyum miring.
"Setahu saya, mengurus mertua adalah tugas menantu. Sedang tugas asisten rumah tangga hanya membantu dan membersihkan rumah.
Tapi di sini saya menggantikan mbak Siti yang tugas nya hanya memasak dan melayani pemilik rumah ini," panjang lebar Cahaya berkata, Dirga cukup terkejut mendengar Cahaya yang berani melawan dan membalik ucapan Tiara.
"Sudah, Ay, tidak usah dengarkan dia. Sekarang ambil sapu dan bersihkan pecahan gelas itu," titah Dirga dengan nada dingin dan jarinya menunjuk gelas yang sudah pecah di samping tempat tidur dan berserakan di lantai.
Cahaya mengangguk dan melakukan apa yang Dirga perintahkan.
"Dan, kamu Tiara, ambilkan minuman yang baru untuk Mamaku," kini Dirga ganti memerintah Tiara. Walau sebenarnya Tiara malas, demi mengambil hati Dirga, akhirnya Tiara mengangguk dan turun untuk mengambil air minum untuk ibunya Dirga. Di anak tangga, mereka kembali bertemu. Cahaya memilih melanjutkan tugas yang sudah Dirga berikan. Beberapa saat kemudian.
"Kenapa?" Cahaya berbisik di telinga Tiara, "kaget aku tadi berani melawanmu di depan Mas Dirga?" Cahaya yang sudah selesai membersihkan serpihan gelas itu berdiri dan mendekati Tiara.
"Sudah bertanya juga?" Cahaya kembali berbisik, Dirga yang sedang sibuk memberi minum sang ibu tidak mendengar dan memperhatikan apa tengah terjadi di belakangnya. Tangan Tiara mengepal. Gadis itu mencoba menahan amarah yang mencuat di dalam d**a karena ucapan demi ucapan yang Cahaya lontarkan.
***
Malam harinya, Dirga memanggil Cahaya untuk ke kamar ibu mertuanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Cahaya, netranya menatap bergantian ibu dan anak itu.
"Tolong jaga Mamaku," kata Dirga, "nanti bonusnya aku tambah," Dirga menambahkan. Cahaya menggaruk dagunya.
"Baiklah," jawab Cahaya, Dirga tersenyum sinis.
"Dasar matre," Dirga bergumam lirih, tapi bagi Cahaya yang mendengarnya itu seperti umpatan atau makian.
Malam pun merangkak, Dirga sudah berada di dalam kamarnya. Sedang Cahaya di kamar lain bersama mantan mertuanya. Ibunya Dirga menatap wanita yang duduk sedikit jauh dari tempat tidurnya.
Merasa diperhatikan, Cahaya menoleh. "Anda membutuhkan sesuatu? Oh, tidak. Kalau begitu cepatlah tidur, aku harus menghubungi putriku," gerutu Cahaya. Wanita itu lalu berdiri dan berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu dan melihat keadaan luar. Setelah yakin aman, dalam arti Dirga tidak akan keluar lagi. Cahaya pun masuk dan menutup pintu kamar itu, "nanti kalau aku kunci, dia pasti marah marah. Kalau tidak aku kunci... ah, biarkan saja tidak terkunci. Paling paling dia sudah tidur." gumam Cahaya .
Wanita itu lalu mengeluarkan ponsel yang ia simpan di dalam saku daster, kemudian melirik sebentar kearah mantan ibu mertuanya. Cahaya lalu membuka aplikasi bergambar gagang telepon, kemudian mengklik nomer kontak yang memiliki background gambar seorang anak kecil. Cahaya menunggu beberapa detik hingga akhirnya terdengar suara tangis di seberang sana.
"Mama, pulang, Ma. Tasya rindu," hati Cahaya mencelos mendengar suara putrinya, "sabar ya, Sayang. Tasya ingin sama Papa bukan?" tanyanya. Anastasya mengangguk sambil menyeka air yang keluar dari hidungnya.
"Sekarang Tasya bobo sama Mbak dulu ya, besok Mama akan cari cara untuk keluar dan bertemu Tasya lagi." Anastasya pun mengangguk patuh.
"Mama sayang Tasya," katanya dengan mata berkaca-kaca, "Tasya juga sayang Mama. Tasya juga sayang Papa Dirga." Cahaya mencoba tersenyum walau dalam hatinya merasa perih.
Panggilan video pun akhirnya terputus. Namun, sesak di dalam d**a Cahaya masih terasa. Cahaya kemudian menatap penuh kebencian pada wanita paruh baya yang kini juga tengah menatapnya. Wanita yang dulu begitu arogan dan angkuh, kini terlihat tidak berdaya.
"Gara gara anda, putri saya tidak bisa merasakan kasih sayang ayahnya. Dan gara gara anda, kami harus berpisah seperti ini." ucap Cahaya dengan nada penekanan. Cahaya tersenyum sinis saat melihat bibir mantan mertuanya bergerak gerak, mungkin hendak berbicara.
"Saya tidak tahu apa yang akan Mas Dirga lakukan jika dia tahu, saat dia menceraikan saya, saat itu saya sedang mengandung anaknya. Dan bagaimana reaksi Mas Dirga saat dia tahu, ternyata Mama tersayangnya yang membuat rumah tangganya hancur berantakan," ibunya Dirga hanya menatap dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak. Sedangkan di luar kamar, di balik pintu kamar itu. Dirga mendengar semua ucapan Cahaya.
"Aku, memiliki putri?" gumamnya, ada rasa bahagia saat dia mengatakan memiliki putri.
"Apa, Tasya yang Cahaya maksud adalah anak perempuan yang aku temui tadi?" Dirga mulai menerka-nerka. Dirga kemudian kembali terbayang wajah anak kecil yang tadi dia temui. Dan seulas senyum tercetak di bibirnya.
"Tidak, aku harus memastikan ini semua. Dan jika benar ada campur tangan Mama dalam hancurnya rumah tanggaku, dan berpisahnya aku juga Cahaya. Maka, aku tidak bisa mentolerir tindakan nya itu," gumam Dirga seraya mengepalkan tangannya.