Nana memang bisa tertawa bersama dengan Alina, menikmati liburan dengan desiran ombak dan cahaya matahari yang begitu sangat memanjakan perasaannya. Namun setelah tawa itu berlalu, hatinya pasti teriris pilu karena mengingat satu nama yang entah bagaimana sekarang keadaannya. Hati Nana selalu tak tenang, siapa bilang ia bisa tenang? Jawabannya adalah tidak sama sekali, semenjak ia memutuskan untuk pergi ke Bali, sebenarnya masih banyak sekali keraguan yang ia rasakan di dalam hati. Surat yang ia tinggalkan untuk suaminya pun sebenarnya bukan dirinya yang menuliskan, tapi Alina, Nana sebenarnya tak ingin meninggalkan surat apapun, ia hanya ingin memberikan suaminya hadiah. Nana jadi rindu sendiri sekarang, niatnya ingin jauh, tapi diam-diam ia malah menahan rasa rindu yang teramat sangat

