Pov Mirah
Sudah hampir 8 bulan kami bersama, dan semenjak itu banyak yang sudah aku lalui. Pagi ini seperti biasanya aku menyiapkan semua. Kakiku aku langkahkan menuju kamar Pey, membuka knop pintu dan menemukan Pey sudah bersiap rapi, tumben pikirku.
“Kenapa pakaian mu hari ini casual sekali Pey?”
“Hari ini aku tidak akan ke kantor, aku harus menjemput seseorang.” Jawabnya.
“Apa perlu aku siapkan sarapan”
“Tidak, jangan, aku akan sarapan di luar bersama dia”, pinta nya sembari sibuk merapikan pakaiannya, tanpa sekalipun melihat kearah ku.
“Baik.” Balas ku mengakhiri.
Waktu berjalan cepat hari ini, tidak terasa sudah pukul 5 sore. Aku baru selesai menyetrika pakaian Pey, dan bell pintu depan berbunyi, teh Siti yang saat itu sedang mengepel lantai bergegas untuk membukakan pintu.
“Aku saja teh, teteh lanjut ngepelnya” kataku sembari menghentikan langkahnya.
“Baik, neng. Terima kasih” balasnya membungkuk pelan.
Aku berlari dari belakang rumah, menuju pintu depan untuk membukakan pintu, “Pey, kamu sudah pulang”. Pey agak terkejut ketika aku membukakan pintu, “Ya”, Balas nya singkat.
Dibelakang Pey aku melihat seorang wanita cantik memakai kaos putih dan jeans ketat, membawa koper berukuran sedang.
“Maaf”, kata ku membuka jalan sembari mempersilahkan mereka masuk.
“Apa kamu bisa membantu Bella, menggangkat koper itu ke kamar ku?” tanya Pey
Bella……, sepertinya aku pernah mendengar nama ini, wanita itu memberikan koper nya dan berlalu memegang tangan Pey.
Sembari berpikir keras aku membawa koper itu menaiki tangga, menuju kamar Pey, untung nya koper tersebut tidak begitu berat. Bella, Bella, ulangku untuk terus mengingat-ingat.
Sesaat setelah aku kembali ke lantai utama, Pey mencoba mengumpulkan semua penghuni rumah, kami semua berkumpul di ruang tamu, Pak Iman, Bi Asih, Teh Sukma, Teh Siti, dan aku. Pey sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.
“Ok, semua sudah ngumpul ya………Pak Iman, Bi Asih, semuanya perkenalkan ini Bella. Bella adalah tunangan saya yang tinggal di Singapore”
Dadaku sesak, seketika kaki ku lemas, aku bisa merasakan bahwa bukan cuma aku satu-satu nya yang terkejut saat itu.
“Kami sudah bersama selama 4 tahun, dan sebenarnya di tahun kedua dari kebersamaan kami aku sudah pernah melamarnya, akan tetapi wanita cantik ini menolak dengan alasan tidak ingin menikah begitu cepat. Balla akan menginap selama seminggu disini, jadi tolong bantuannya untuk memperhatiakan segala kebutuhannya. Itu aja, terima kasih semua, sekarang kalian bisa kembali bekerja.”
Aku melangkahkan kaki masih membawa keterkejutanku, tiba-tiba Bella memegang pundak menahanku.
“Kamu bekerja disini juga” tanya nya.
“Dia keponakan jauh Bi Asih, Bel, sedang mencari kerja di jakarta, karena itu dia sementara disini membantu Bi Asih” Belum sempat aku membalas, Pey langsung memotong dan menjawab pertanyaan Bella.
“Perempuan secantik kamu masa susah cari kerja, emank Pendidikan terakhir apa?, tubuh dan wajah kamu sangat menjual, mau aku kenalkan dengan teman ku yang bekerja di stasiun tv swasta?” balas Bella menyelidik.
“Sudah sayang, kamu mandi gih, tidak ada yang nyaman kalau kamu mulai mengintrograsi seperti itu, sana gih” pinta Pey, mencoba mengalihkan semua pertanyaan Bella kepada ku.
Setelah memastikan Bella menuju tangga dan masuk ke kamar. Pey, menarik tangan ku, dan mendorong tubuhku ke pojok ruangan, tangannya mencengkram erat rahang ku.
“Listen, listen to me closely, this is important, dengar!, aku tidak mau ada berita apapun yang membuat Bella resah, jadi tolong tetap pada peran mu saat ini, kamu tidak mau mendengar seseorang menyakiti ayah mu dipenjara kan?” Bisik Pey dengan amat gusar, aku tidak membalas apapun, hanya saja aku tidak bisa menahan air mataku, ada sakit menyayat dalam, saat ini.
Pov Peyton
Aku sendiri tidak mengerti kegilaan seperti apa yang sudah aku lakukan saat ini dengan mempertemukan Mirah dan Bella. Keputusan aku membawa Bella menginap di rumah ketimbang di hotel benar-benar konyol. Terlalu banyak resiko yang aku pertaruhkan saat ini.
Awalnya aku berpikir ini akan menjadi episode menarik untuk menyakiti Mirah, another revenge award pikir ku. Aku sudah menunggu 1,5 bulan untuk melihat ekspresi Mirah, dan bukan ini yang aku harapkan. Aku tidak berharap kalau hati ku ikut teriris melihanya seperti sore ini.
Pov Mirah
Aku langkahkan kakiku menuju kamar, dadaku aku pukul keras berkali-kali, berpikir dengan memukulnya bisa menghilangkan rasa sesak yang ada, aku semakin sukar untuk bernafas. Tuhan tolong bebaskan aku dari kehidupanku ini. Aku sudah tidak bisa melangkah lagi.
Ketukan dipintu kamar membuatku teresentak,
“Siapa?” tanyaku,
“Teh Siti neng, Tuan minta eneng siapin makan malam, buat Tuan dan Non Bella, sudah waktu nya makan malam neng” waktu memang sudah menunjukkan pukul 6 sore, memang sudah waktunya makan malam, tapi kenapa harus aku, apakah melihat ku sesak seperti ini menjadi hiburan baru untuk Peyton. Harga diriku benar-benar diinjak-injak oleh nya, aku tidak paham lagi bagaimana Pak Iman, dan semua yang berada di rumah ini melihat ku. Rasa kasihankah, sedih, atau malah menjadi hiburan juga untuk mereka. Aku sudah tidak bisa mempercayai siapapun saat ini.
Aku hapus air mataku, aku harus kuat, aku tidak akan menghibur Pey dengan marah dan tangis ku, aku paham keduanya hiburan terbaik untuk Pey saat ini. Aku lihat wajah ku di cermin, menghapus semua air mata, dan mencoba tersenyum lalu bergegas ke meja makan.
Sesampainya di meja makan, Pey terlihat menarikkan kursi untuk Bella, dan membukakan serbet untuk diletakkan pada pangkuan Bella. Ternyata Pey bisa menjadi seorang laki-laki yang manis jika bukan bersama ku. Aku membawakan piring, dan kebetulan hari ini aku menyiapkan sayur lodeh kesukaan Pey, lengkap dengan sambal terasi, ikan asin dan ayam goreng. Siang ini aku cukup bersemangat memasak. Setelah semua nya lengkap tersaji, aku mempersilahkan keduanya untuk makan, “Silahkan Tuan dan Nona” tutur ku pelan.
“Hummm, enak bangett, ini sayur lodeh yang pernah kamu ceritain itu yank?” tanya Bella kepada Pey.
“Iya” balas Pey menunduk
“Mirah, nanti ajarin aku yaa, pokoknya sebelum aku balik ke Singapore, kita kudu masak bareng, ok!” ajak Bella.
“Baik Non” aku menunduk pelan. Pey menatap ku sebentar dan kembali melanjutkan makannya, tapi tidak terlihat menikmati seperti biasanya.
Aku tersentak, terbangun di tengah malam, melihat jam, pukul 2 pagi. Akhir-akhir ini aku sering terbangun dini hari, karena mimpi buruk, aku bergegas ke dapur di ruang tengah untuk mengambil minum. Ketika memasuki ruang tengah, aku mendengar suara desahan wanita, aku mengambil sebentar minumku dan mengikuti arah suara desahan itu. Di ruang tamu depan aku melihat Pey dan Bella b******u rayu, memanggutkan kedua bibir mereka. Aku membalikkkan badanku, tidak ingin melanjutkan pemandangan itu, akan tetapi ditengah gelapnya ruang kaki ku menghantam satu ornament patung, “Awwww..” teriak ku kesakitan, sial dalam hati ku.
Tiba-tiba seseorang menyalakan lampu. Pey menatapku dengan wajah kesal masih dengan tangannya menempel pada saklar.
“Kamu tidak papa?” Bella menghampiri aku.
“Maaf, saya tadi hanya mengambil minum” terang ku.
“Mengambil minum, kenapa bisa sampai kemari?” tanya Pey menyelidik.
“Saya kembali ke kamar, Tuan Nona, maaf menggangu” Aku mencoba berdiri, dan berlari menuju kamar dengan sedikit pincang.
_________________________________________________________________________________________________________
Sudah kurang lebih 4 hari Bella ada di rumah ini, dia sosok yang sangat Anggun dan berkelas. Segala sesuatu yang dikenakan oleh nya selalu tampak mewah, mungkin karena memang semua yang dikenakannya berharga jutaan rupiah. Tapi dia bukan seseorang yang buruk, terkadang dia angkuh sesekali, aku bisa mengerti sekarang kenapa Pey jatuh cinta pada nya.
Contohnya saja pagi ini sebelum berangkat ke kantor, Pey masih sempat memasangkan tali sepatu Bella. Banyak hal yang Pey lakukan untuk wanita itu yang berkebalikkan terhadap ku, apa aku cemburu? Entahlah, tetapi yang pasti rasa sakit hati ku tiap hari memudar melihat mereka bersama, mungkin karena aku sudah bisa menerima kehadiran Bella saat ini.
Aku berpikir kedatangan Bella saat ini sama sekali bukan hal yang buruk. Awalnya mungkin yang aku rasakan Bella akan merusak apa yang sudah aku miliki bersama Pey. Tapi aku harus jujur dengan diriku sediri, bahwa aku dan Pey sama sekali tidak memiliki apa-apa, justru Bella datang untuk menyelamatkan ku. iya dia penyelamatku, semakin cepat Bella mau menerima pernikahan, semakin cepat jalan bagi ku kepada kebebasan. Aku melihat Bella sebagai seseorang yang berbeda sekarang, she is not Peyton’s Mistress, in fact I am the one who are his mistress. Kalaupun ada seseorang yang cemburu disini, seharus nya dia adalah Bella. Aku mengenal Pey baru 9 bulan yang lalu, sedangkan Bella sudah bertahun-tahun yang lalu, mereka bahkan sudah bertunangan sejak 4 tahun yang lalu, dan Peyton bahkan pernah melamarnya. Seharus nya aku malah membantu mencari cara agar Peyton dan Bella dapat segera menuju pernikahan.
“Hey Mirah, apa kita bisa masak bersama siang ini?” sapa Bella mengagetkanku
“Tentu, saya siapkan dulu bahannya ya Non” jawabku.
Sembari memasak, Bella bercerita banyak mengenai dirinya, seseorang yang terlahir dari keluarga ningrat dan hampir seluruh keluarganya tidak lagi tinggal di Indonesia. Dia berprofesi sebagai model di Singapore, dan ingin memulai passionnya sebagai designer saat ini.
“kamu tidak ingin aku bantu carikan pekerjaan?” tanya nya. “Sayang wanita secantik kamu kalau harus menghabiskan waktu untuk hal seperti ini, Pey bisa mencari banyak pembantu tambahan dari Yayasan”
“Apa atuh cantik nya saya dibanding Non” balasku merendah
“Ehhh, dikamar kamu gak ada cermin apa? ketika masuk kerumah ini dan pertama kali aku melihat kamu, aku pikir kamu saudara sepupu Pey, gak ada pikiran klo kamu kerja disini, kamu itu cantik bangettttt Mir, sayang kamu gak tinggi, kalau tinggi udah aku ajak masuk ke agen aku di Singapore” Bella menjelaskan
“Terima kasih banyak Non, saya juga berterima kasih dengan Tuan, masih mau menerima saya disini, saya juga sambil cari-cari kerjaan kok, Non” mencoba menirukan logat Bi Asih.
“Mir, liat deh” Bella menunjukkan cincinnya.
“Berlian itu Non?”
“Iya Mir, kemarin Pey memberikannya disaat kami makan malam berdua, romantis ya” terang Bella.
Batu berlian yang luar biasa besar, membuat aku tertawa miris pada diri sendiri mengingat cincin pernikahan aku dan Pey amat sangat sederhana, aku juga tidak yakin ada batu yang terpaut pada cincin kami. Benar kata orang, jika kamu cinta, maka dia mahal untuk mu. Kau akan sanggup memberikan apapun untuk nya.
“Non Bella beruntung sekali ya” aku segera menimpali. Dari kejauhan aku bisa melihat Pey mengawasi kami, dia memutuskan untuk tidak pergi kantor hari ini. Sepertinya dia takut meninggalkan aku dan Bella hanya berdua saja.
_________________________________________________________________________________________________________
Hari berlalu, Bella telah kembali ke Singapore, dan Pey mengantarkan nya ke bandara pagi ini. Satu hal yang aku sadari semakin lama aku berada dalam hubungan ini, semakin mati rasa yang aku rasakan.
“Mirah” Pey memanggilku dari belakang.
“Ya” jawab ku, sembari dia menghampiri.
“Terima kasih, untuk kemarin. Terima kasih sudah mau bekerja sama, dan berpura-pura, aku mnghargai itu” jelas nya.
“Gak masalah, tolong bantu aku untuk memastikan ayah sehat hingga dia keluar dari penjara” Balas ku.
Pov Peyton.
Aku merasa Mirah berbeda siang ini, dia lebih dingin. Aku amat sangat bersemangat menyakitinya pada awalnya, tapi sekarang aku tidak bisa lagi mengenai ekspresi wajah nya, apa dia benci, marah atau sedih. Dia hanya diam, tersenyum kecil, dan menjawab semua pertanyaan ku seadanya. Entah kenapa seiring dengan perubahan sikap nya, ada yang meredup juga di sudut hatiku.