Chapter 5 : Tragedy oh Tragedy

2736 Words
Pov Mirah   Warning 21 +++ Aku masih kehilangan tenaga dan keinginan untuk melakukan apapun, aku ingin berdiam di kamar ini selamanya, tanpa harus melihat kembali wajah Pey, Theo atau bahkan semua orang. Kejadian dua malam yang lalu dan kemarin siang cukup menghancurkan diriku, aku merasa sudah benar-benar tidak berharga lagi. Bahkan seorang p*****r pun masih menerima imbalan uang dari menjual diri nya. Rasanya ingin mati saja, sepertinya semua akan lebih mudah jika aku menghilang dari dunia ini. Aku berada pada titik terendahku. Aku benar-benar malu, hancur, aku pikir keadaan tidak mungkin bisa lebih buruk dari sekarang. Jam 11 siang, aku masih di dalam selimutku, lampu aku padamkan, jendela tertutup rapat, benar-benar gelap tanpa cahaya, suram seperti keadaanku saat ini, aku benar-benar tidak peduli dengan semua sekarang, hingga Teh Sukma mengentuk kencang kamar ku. “Neng, neng penting neng, tolong buka, ini tentang ayah neng Mirah.” Dada ku kembali berdegub kencang, ayah, ada apa dengan ayah, aku menghubungi dia sekitar 5 hari yang lalu, dan tampaknya dia baik-baik saja. “Ini neng” sembari teh Sukma menyerahkan wireless phone.   *Di telp “Nak, ayah di kantor polisi sekarang” suara ayah terdengar serak diseberang sana. “Bagaimana mungkin?, ada apa Yah?, minggu kemarin aku telp sepertinya tidak ada masalah” tanyaku. “A..yah di..minta menjadi saksi untuk suatu kasus pen..curian di kantor.” Jelas nya dengan suara terbata-bata. Aku benar-benar geram, keadaan aku saat ini juga tidak akan pernah terjadi jika bukan karena kesalahan Ayah. “Ayah terlibat kasus apa lagi!” teriak aku histeris “Bukaaaan, ayah bahkan tidak tau apa-apa, tapi semua data dan bukti mengarah kepada ayah, ayah juga tidak paham, bukan salah ayah, ayah dijebak Mirah” balas ayahku gusar. “Ayah takut status ayah segera naik menjadi tersangka Nak”  jelas nya dengan suara gusar yang sengaja dikecilkan. “Tenang Yah, nanti…..” aku terdiam sejenak, “aku coba ngomong sama Pey ya Yah, semoga dia bisa membantu.” “Terima kasih sayang, seseorang menjebak ayah, tapi ayah benar-benar tidak tau siapa…tolong bantu ayah Nak…” balas suara ayah dengan sedikit lebih tenang. “Iya yah, ayah tenang, jangan panik, kita bisa selesaikan ini, tenang ya Yah…” terangku mencoba menenangkan. “Terima kasih Nak, ayah kembali mau bicara dengan pengacara ayah, terima kasih sayang nanti ayah hubungi lagi ya” dilanjutkan dengan diputusnya sambungan telpon. Di malam hari nya aku menunggu di sofa, Bibi Asih tersenyum dan menyapaku, “Sudah enakan neng?”, tanya nya, terdengar sedikit basa basi. Aku hanya membalas nya dengan senyum kecil.   Jam 8.24 malam, mobil Pey, menderu pelan, 6 menit kemudian dilanjutkan dengan bunyi pintu bell. Lalu aku bergegas membukakannya. Wajah Pey cukup terlihat terkejut melihat diriku membukakan pintu, tetapi dia langsung mengganti mimik wajah nya menjadi kembali sinis. “Sudah baikan tuan putri” tanya nya dengan nada mengejek. “aku butuh bicara” balasku singkat. “tentang apa?, aku tidak tertarik dengan urusan yang sepele” “tidak disini” kataku “dikamar ku, maksud mu?” tanya nya menyeringai menggoda, sembari mengedipkan mata, benar-benar menjijikkan batinku. “Ok, bawakan teh panas ke ruang kerja ku, kita bicara disana” balas nya seketika serius. Aku membawakan satu buah poci berisi teh panas dengan gula batu kesukaannya, disampingnya terletak cangkir berukir yang sangat indah, berwarna hitam dengan ukiran emas, sepertinya ini cangkir yang dulu sering ayah gunakan ingatku. Aku menaruh dan menuangkan teh pada cangkir tersebut untuk ditaruh di hadapannya. “Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya nya datar. “Aku yakin kamu tau dengan kasus ayahku, mengingat ini ada hubungannya dengan kantor” “ya, tentu saja aku tau” “kenapa, aku tidak tau apa-apa mengenai hal itu” tanyaku sedikit mendesak Pey tertawa mengejek “kenapa kamu harus tau, apa urusanmu untuk tau hal tersebut?” “Aku anak nya, dan aku menikah dengan mu” jawab ku geram “Lalu apa yang kamu inginkan dariku?, kasus itu tidak ada urusannya dengan ku, dan perusahaan yang aku urus tidak hanya Zander, aku tidak tertarik menambah beban pikiranku” “Tolong ayahku” balas ku pelan, mencoba menghilangkan nada yang terkesan memohon. “Sejak kapan seseorang meminta dengan cara dan nada bicara seperti itu, kau membuat aku semakin tidak tertarik membantu ayahmu” “Ok, apa yang bisa aku lakukan untuk ayahku, agar kamu bisa membantunya?” aku memberikan penawaran sebagai jalan terakhir. “well, tawaran yang menarik, semacam imbalan katamu? Biar aku pikirkan, apa yang tersisa darimu, yang masih menarik bagiku” lama dia terdiam, lalu tiba-tiba dia berdiri dari kursi kulitnya. “Ok, satu permintaan yang sederhana, aku mau kamu tidak pernah menolakku setiap kali aku meminta bercinta, dan kamu harus memenuhi kebutuhan jasmani ku, kapanpun, dimanapun, dan apapun cara yang aku inginkan, maka janji Peyton Cann akan menjadi milikmu” balasnya angkuh. Dadaku kembali sesak, rasa sakit dan trauma kemarin masih jelas nyata, sekarang aku harus membiasakan diriku dengan hal tersebut.   _________________________________________________________________________________________________________   Dua hari setelah pembicaraan aku dan Pey, di pagi tepat setelah Pey pergi kantor, Bibi Siti menghampiriku, membawakan sebuah kotak kado, “Dari Tuan Neng” beri nya singkat. Aku masuk kedalam kamar, dan membuka kotak kado tersebut, didalamnya ada pesan singkat, “Pakai aku malam ini”. Satu persatu aku melihat barang yang ada di dalam kotak tersebut, dua buah lingerie bewarna hitam yang amat sangat kontras dengan warna kulit ku. Dan seperti umumnya lingerie, semua di design untuk menonjolkan kedua p******a, salah satu lingerie bahkan walau berwarna hitam tetapi bahan nya sangat tipis sehingga tembus pandang. Selain itu ada sekotak kondom yang aku temui di kotak tersebut, baguslah setidaknya aku tidak perlu memiliki anak darimu, dalam hatiku. Aku sedikit cemas, mempersiapkan diriku malam ini, semenjak sore dadaku sudah kembali sesak, kecemasanku meningkat ketika malam menjelang. Tapi aku paksakan diriku memersiapkan diri, mandi dan sedikit menggunakan pelembab bibir. Mencoba meyakinkan diriku, bahwa tidak ada yang salah dengan ini, karena aku memang istri sahnya. Aku tutupi tubuhku dengan jubah mandi, dimana dalam nya sudah aku kenakan lingerie, dan tentu saja yang paling penting kondom sudah ada di kantongku. Jam 7 lewat dia sudah pulang, cepat sekali batin ku. Aku bergegas membukakan pintu, dan ketika dia melihat ku menggunakan jubah mandi, dia hanya tersenyum, kali ini senyum nya manis, bukan senyum ejekan, menyeringai atau senyum sinis seperti biasanya. Aku semakin kikuk, cemas dan takut. Aku mengikutinya dari belakang menuju kamar tidurnya. “Tunggu, aku mau mandi dulu” perintahnya. 15 menit kemudian, dia muncul ditutupi handuk hitam, dan memintaku melepas jubah mandiku. Aku semakin kikuk, tapi tetap mengikuti perintahnya. Lalu dia menuju lemari, dan mengeluarkan beberapa dasi yang dia miliki. “untuk apa dasi itu.” tanyaku. “kamu akan tau” jawabnya Lalu dia mendekat, melepaskan celana lingerie ku perlahan, sembari memberi beberapa kecupan dileherku. “aku suka parfum mu” bisiknya. Tangannya lalu meremas kedua tanganku bersamaan, membawa ku naik ke atas tempat tidur, dan mendorong ku perlahan sehingga tubuhnya tepat berada diatasku. Tangan yang tadi meremas tanganku satu persatu mulai mengikat kedua tanganku dengan dasi yang telah dia ambil. Kedua tanganku diikat kencang pada tiang kepala tempat tidur. Aku bukan wanita bodoh, aku paham maksudnya, dasar laki-laki dominan b******n. Dia mendekatkan bibir nya kepada bibirku, diawali kecupan pelan, lumatan dalam lalu mulai mengulum bibirku, sembari memainkan lidahnya bersamaan. Dilanjutkan dengan kecupan hangat dan sedikit gigitan ke hampir seluruh tubuhku. “Rileks sayang” pinta nya. Dia menarik kedua lengan ku kencang, untuk memastikan bahwa ikatan tangan ku cukup kuat, lalu diikuti dengan senyuman. Dia kembali mencumbuku, dimulai dari tengkuk, leher, hingga kedua payudaraku, mengulum kedua putingku dan meremasnya bermain-main sebentar disana. Ciumannya berlanjut kepada dua belah pahaku ditambah beberapa gigitan kecil disana. Jari-jarinya yang mulai bermain-main di daerah kewanitaanku, jari tengah nya perlahan-lahan dimasukkan ke dalam liang vaginaku dan mulai dikeluar masukkan dengan cepat, hal itu membuatku menjerit pelan, aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini, sembari menahan nafasku yang menderu. Dia terus bermain-main dengan jarinya, dan meremas payudaraku, membuat aku tidak bisa menahan desahanku sendiri, dia benar-benar tau caranya, hal itu hampir membuat aku kehabisan nafas. Lalu disaat itu juga lah dia langsung menancapkan barangnya yang berotot besar memenuhi sesak liang vitalku, hanya saja kali ini pelumasku sudah cukup membasahi. Di terus menerus, menancap  barang nya yang kokoh, dengan ritme cepat, tanpa henti dikuti eluhan panjang darinya. Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan rasa perih ini batinku. __________________________________________________________________________________   Keesokan paginya, pukul 6.15 pagi, waktu biasa untuk ku menyiapkan semua keperluan Pey, termasuk pakaiannya. Aku masuk kedalam kamar nya, dan tidak menemuinya diatas tempat tidur, jarang jam segini dia sudah bangun. “Mirah kesini” panggil nya membuat aku terkejut. “Sini, ulang nya” dia memanggilku dari arah kamar mandi. “lepas pakaianmu” perintahnya. “Tidak” jawabku tegas. “Lepas kataku” kali ini dengan nada yang lebih tegas, aku mulai melepaskan pakaian ku dan masuk kedalam shower tempat nya mandi. Pey langsung menarikku, melingkarkan lengannya membawa tubuhku bersentuhan langsung dengan tubuh nya tanpa jarak. Aku menengadah untuk bisa melihat wajahnya. Dia mulai mendekatkan bibir nya dan kembali melumat bibirku, kali ini dibawah pancuran air. Tangan nya meremas kedua pinggul ku, dilanjutkan dengan remasan kepada kedua b****g ku. Menyuruhku untuk membentangkan kedua kaki ku sambil berjinjit tinggi, lalu lagi-lagi kembali memasukkan kejantanannya kepada organ kewanitaan ku, kali ini terasa lebih besar dari sebelum-sebelumnya, tapi rasa perih semakin kuat. Dia mencabut miliknya dan meminta aku untuk berbalik badan dan membungkukkan tubuh, tangannya memegang kuat kedua sisi pinggulku, dan mulai kembali memasukkan barangnya yang kokoh dan besar dengan keras kali ini dari belakang. Gerakannya semakin cepat tak terkendali, aku pun masih menahan rasa perih yang sangat, dan sama seperti saat-saat lainnya, dia mengakhirinya dengan eluhan panjang diakhir. Setelah itu dia menutup percintaan kami dengan mengigit kedua bibirku pelan, sambil berbisik pelan “Kamu menyukainya?” Hari – hari berikutnya sudah seperti kewajibanku untuk melayani nafsu liar nya. Kadang kami melakukannya di sofa ruang tengah, ketika tengah malam dan ketika tidak ada orang. Di lain waktu kami melakukannya di dalam bathtub. Dan tempat favorit nya tentu saja diatas meja kerja nya dirumah, dengan posisi aku duduk diatas meja dan melingkarkan kaki ku pada kedua pinggang nya. Sejujur nya aku masih belum terbiasa dengan gaya itu. Tapi dia pun menepati janjinya, dia menyewa pengacara termahal yang ada di Jakarta untuk membantu ayahku, Pey bilang, kita mungkin tidak bisa membebaskan ayah dari masa tahanan, tapi menggunakan pengacara yang dia tunjuk, kita bisa memangkas banyak masa tahanan yang seharus nya ayahku terima. Awalnya aku tidak terima, dan masih meminta Pey untuk mengusahakan pembebasan ayah, Pey bersama pengacara tersebut mengatakan tidak mungkin karena kasus ayah cukup berat, sehingga aku pun sudah pasrah, dan akhirnya Ayah tetap dijatuhi hukuman 1,5 tahun dari yang seharus nya 7 tahun. Seminggu setelah ayah masuk penjara, perasaan ku masih galau tidak tenang. Aku meminta Pey untuk bisa membayar seseorang memastikan ayah menerima obat diabetes nya, dan memastikan tidak ada orang yang menggangu nya di penjara, dan Pey menyanggupi itu, entah siapa yang dia bayar atau apa yang ia lakukan, akan tetapi tiga minggu berjalan ketika ayah dipenjara, dan setiap kali aku menjenguk ayah, kondisi ayah cukup baik, dan itu membuat aku sedikit tenang.    _________________________________________________________________________________________________________ Pey, pagi ini mengajakku bicara, dia memintaku menemaninya untuk hadir di acara ball room terbesar tahun ini, untuk acara penggalangan dana amal. Akan banyak aristokrat, para konglomerat, pengusaha, bahkan artis yang akan hadir disana, dan acara ini sangat penting untuk nya agar dapat menjaga koneksi bisnis nya. Dia bilang sebenarnya sudah mengajak seseorang terlebih dahulu, hanya saja dikarenakan seseorang tersebut tidak bisa hadir, dia meminta bantuanku untuk menemaninya. Oleh karena itu untuk kepentingannya, siang ini aku akan dijemput Pak Iman, untuk diantarkan ke salon rekomendasi teman Pey, berikut membawa gaun yang sudah dicarikan tante Ana sebelumnya. Omong-omong mengenai tante Ana, saat ini dia sudah menjadi sekertaris Pey, setelah ayah dipenjara.   *Di Salon Aku memasuki salon rekomendasi teman Pey. Wow, ini pertama kalinya aku masuk ke salon yang semewah ini. Semua dipenuhi kaca dan marmer, ruang tunggu yang luas dengan sofa yang membuat kamu tenggelam jika duduk didalamnya. Aku tidak bisa membayangkan uang yang dikeluarkan Pey untuk ini. “Hayyyyy” laki-laki metropolis dengan bibir penuh berisi, dan sedikit kemayu menegurku. “Mirah, bukan?” tanyanya. “Iya” jawabku tersenyum “Kenalin, Lea, kamu temennya Bella juga yaa” “Bella?” “Iya, Bella gak kenal? , kamu sama Peyton kan?” “Iya, tapi enggak kenal Bella.., emang siapa Bella” “Ya udah klo gak kenal, yuks cantik, eikeh dandanin biar tambah centong, kesidang yuk”   * Satu setengah jam kemudian “Ini yang Namanya cantika paripurna, eikeh foto ya Cinnn, biar untuk i********: minggu ini, boleh ya” “Boleh” kataku sambil teresenyum ramah. “Sekalian dibantu pakai gaunnya kan?” Lea menawarkan, dan aku membalas dengan anggukan. 20 menit kemudian, Pey sudah dibawah menjemput, dan meminta Pak Satpam untuk memberitahuku. Dengan bergegas, aku menggunakan high heels pergi ke lobby, aku tidak mau dia marah karena menunggu ku terlalu lama. Pak Iman membantu membukakan pintu mobil belakang, dan Peyton sudah menunggu di dalam. Seketika Pey melihatku tanpa berkedip, “Mirah?” ucapnya tanpa sadar. “Apa sebegitunya aku berubah?” tanyaku sembari tersenyum. “Tidak juga, hanya saja, ternyata kamu bisa benar-benar secantik ini, tidak perlu besar kepala, tetap masih banyak yang lebih cantik dari mu kok” “Sebegitunya kamu sukar memuji, Pak Iman, yuk cap cus” balas ku   *Di ball room   Acara ini memang luar biasa mewah, aku mungkin tidak akan pernah tau ada acara yang bisa semegah ini, jika bukan Pey yang mengajak ku. Pey meminta ku duduk di suatu meja besar, bersama dengan tamu yang lain, sementara dia terus menerus berputar berusaha untuk menyapa semua orang yang dia kenal. Aku bisa melihat Peyton Cann seorang yang luar biasa ambisius. Orang-orang mulai berdansa, begitu pun Peyton, berdansa dan berganti-ganti pasangan, tetapi tidak dengan ku. Sudah dua setengah jam berlalu, tapi tidak sekalipun Pey menghampiriku menanyakan apakah aku nyaman atau tidak, aku semakin tidak nyaman dan kikuk diantara semua orang yang tidak aku kenal. Lalu tiba-tiba seorang laki-laki tampan mendekatiku, tidak setampan Peyton, karena wajah laki-laki ini lebih lembut ketimbang wajah Pey yang maskulin. Dia menyapaku hangat. “Aku perhatikan, dari tadi kamu sendiri, mau aku ambilkan minum” “Tidak perlu, aku baik-baik saja, mencoba mengalihkan padanganku dan mencari keberadaan Pey saat ini” “Kamu datang sama Pey kan?” “Kamu kenal Pey” tanya ku “Memang nya di kota ini ada yang tidak kenal Peyton Cann, Nona cantik?, seorang laki-laki muda yang mencapai puncak kesuksesan sebelum 30 tahun, tajir luar biasa, dan selalu bisa menggandeng wanita cantik seperti mu” “dansa yuk, lagian ngapain ke ball room kalau gak dansa, tidak usah dicari si Pey, nanti juga dateng sendiri, kalo kamu dansa dengan ku, yuk pinta nya memaksa” Aku pikir benar juga, dandan seperti ini, datang ke acara semegah ini, jika tidak dansa lalu buat apa? Toh aku tidak mungkin juga memberikan sumbangan untuk penggalangan dana kan, sepeserpun aku tidak punya sekarang. “Maaf, aku belum mengenalkan diriku, aku Jason, aku dan Pey cukup dekat” Jason menarik ku ke tengah ball room, kami berdansa disana, Jason ternyata seseorang yang jenaka, sembari berdansa aku tidak henti-henti nya tertawa di dekat nya. Aku bahkan sampai mengeluarkan air mata, senang rasanya bisa tertawa lepas. Aku tidak menyangka diantara hari-hari ku, aku masih bisa mengecap momen manis seperti ini. Tiba-tiba tangan hangat mengenggamku, menarik kasar, membuat Jason dan aku terkejut. “Pey, aku mengajak nya berdansa, karena kamu meninggalkannya berjam-jam dipojok sana” “Jason, tolong berhenti mengganggu wanita yang sedang bersamaku” nada Pey geram “Wanita itu satu Pey, kamu terlalu banyak punya wanita, dia hanya teman wanita mu kan?, not your lady” “Berhenti ikut campur kehidupanku Jason” Pey berbisik. Peyton menarik lengan ku keras dan menghubungi Pak Iman untuk menjemput kami di lobby, sembari perjalanan ke lobby, Pey satu-satu menyalami hampir semua orang yang berada di ball room untuk berpamintan, tanpa sekali pun memperkenalkan ku. Di dalam mobil aku menagis pelan, tidak berkata apa-apa, memalingkan wajah ku, ke sisi jalan, menatap kendaraan lain yang selintas dengan kami. Peyton pun diam tidak berkata apa-apa. Kami sampai di rumah hampir jam 11 malam, aku lelah sekali hari ini. Aku berjalan menuju kamar ku, tetapi Pey menahan tanganku, menarik ku ke lantai atas, kamar nya. Aku coba menolak, dengan berusaha menepis tangan nya. Tapi tangan nya mencengkram kuat, sembari mengatakan “Ingat janji mu untuk tidak pernah menolakku”. Memasuki kamar nya, dia mulai melucuti gaun ku. Menarik tangan ku kearah kancing kemejanya, memerintahkan tanpa kata, untuk membuka satu persatu kancing tersebut dan mengarahkan tangan ku pada resleting celana nya. Seperti boneka, aku melakukan semua keinginannya. Setelah kami berdua benar-benar tanpa pakaian melekat, dia menggendongku dan menghempaskan tubuhku keatas tempat tidur nya, mendorong kedua tungkai kaki ku untuk membuka saling berjauhan, dan menekuk nya. Perlahan dia menutupi tubuhku masuk melalui kedua kaki ku yang sudah terbuka lebar. Membawa tubuhnya yang besar penuh menyelimuti tubuhku yang kecil. Meletakkan kedua tangan nya disamping leher ku, menekuk kedua lengannya hingga wajah kami saling bersentuhan. Dia membawa barangnya menempel tepat pada area v****a ku, dan mulai menggesek-gesekkan p***s nya berusaha menjejalkan pada liang v****a ku. Bibirnya mececapi dan mengulum bibir hingga payudaraku, menggigit keras payudaraku yang bulat, dan “jleeepp…”, dia memasukkan p***s nya dalam dan kuat, bersamaan itu rasa sakit yang tidak bisa aku tahan. “Ahhh…” desahnya pelan sembari membuka sedikit mulut nya dan memejamkan matanya, aku bisa dengan jelas melihat nya menikmati semua ini. Mengangkat pinggul ku keatas dan menahannya dengan bantal, kali ini dia mencoba memasukkan lebih dalam lagi, mendekali klimaks nya, dia mengigit putting dan leherku, membanjiri liang v****a ku dengan cairan hangatnya. Tunggu, dia tidak memakai kondom!, jantung ku semakin berpacu kencang, beriringan dengan rasa takut.                                                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD