Chapter 18

1570 Words
            Lampu di kelas 1A kembali mati sore itu. Para satpam yang selama ini sudah lupa dengan insiden hantu di kelas itu jadi teringat tentang hal itu lagi. Sebenarnya ada apa dengan kelas 1A? Kenapa lampu ruangan itu terus saja mati tanpa alasan? Padahal bohlam nya baik-baik saja. Karena jika bohlamnya di pasang di ruangan lain, tetap akan menyala dengan baik. Namun jika dikembalikan ke kelas 1A pasti akan mati lagi.             Belum lagi dengan bayangan bayangan aneh yang di lihat oleh para satpam di kelas itu. Apakah benar-benar ada hantu disana? Namun selama ini tidak ada keanehan apapun yang terjadi selain penampakan bayangan itu, jadi para satpam tidak melaporkan hal itu ke pihak sekolah.             Hari sudah hampir gelap saat Dylan keluar dari asrama. Dia bilang ada barang yang tertinggal di kelas, jadi dia harus mengambilnya. Juro menawarkan diri untuk menemaninya namun Dylan menolak. Hanya sebentar, begitu katanya. Dia segera menuju ke area kelas 1A.             Zachery yang sedang berada di lapangan basket sore itu melihat Dylan yang sedang menuju ke area kelas. Zach memandangnya dengan heran. Untuk apa dia kesana? Setahu Zachery semua kelas sudah ditutup dan dikunci. Dia sendiri tadi harus minta izin ke satpam sebelum ke ruang peralatan untuk mengambil bola basket. Dan sekarang dia sedang membawa kunci sekolahan, termasuk kunci ruang kelas karena dia tidak ingin bolak balik ke pos satpam.             Zachery kembali melanjutkan permainannya. Dia berpikir mungkin Dylan tidak ingin masuk ke kelas. Hanya ke suatu tempat yang tidak membutuhkan kunci?             Zachery sering menghabiskan sore dengan berolahraga. Sekalian melatih staminanya. Dia harus selalu sehat. Harus selalu bugar. Olahraga juga salah satu caranya menjaga kewarasan. Dengan melampiaskan emosinya dengan berolahraga, dia bisa mengalihkan pikirannya pada hal positif. Setidaknya pikirannya tidak selalu dipenuhi oleh hilangnya Diana.             Gelap mulai turun. Cahaya lampu mulai mendominasi pandangan. Zachery menghentikan permainannya. Dia sudah cukup lelah, lagipula sebentar lagi saatnya satpam berpatroli. Mereka akan membutuhkan kunci yang dipinjam Zachery.             Zachery membuka tas kecil yang dibawanya. Dia mencari-cari botol minum yang biasa dia bawa saat berolahraga. Dia sudah mencari ke setiap lekuk di tasnya, namun tidak menemukannya.             “Hahhh Capek banget!!” Dia benar-benar ingin minum. Sudah sangat lelah rasanya walau hanya untuk berjalan beberapa meter. Apalagi dia harus memutar, ke pos satpam dulu untuk mengembalikan kunci, baru dia bisa pulang ke asrama.             Zachery berbaring terlentang di lapangan basket. Membiarkan keringat yang mulai dingin mengalir membasahi tubuhnya. Lantai lapangan yang dingin terasa begitu nyaman di punggungnya. Rasanya tidak ingin bangun dari sana.             “Ah, aku punya ide.” Zachery tersenyum senang. Mengingat gadis itu memang selalu membuat hatinya menjadi lebih ringan. Zachery mengeluarkan handphone dari tasnya dan menelepon Rachel.             Tuuttt ttuttt... Terdengar bunyi nada sambung. Cukup lama Rachel belum mengangkat teleponnya.             “Hallo..” Jawab Rachel akhirnya.             “Hei, bisa tolong ke lapangan sebentar? Bawakan aku minum ya. Haus banget nih.” Pinta Zachery.             “Hah? Nggak mau ah. Udah gelap juga.” Jawab Rachel malas.             “Ayolah, aku kelelahan habis main basket. Tolong ya Rachel.” Pinta Zachery. Dia masih tetap berbaring di lapangan basket. Terlalu nyaman untuk beranjak dari posisinya.             Rachel menggerutu sebal namun akhirnya mengiyakan permintaan Zachery. “Baiklha, tunggu sebentar.” Lalu Rachel mematikan sambungan telepon.             Zachery tersenyum senang. Meski terlihat dingin, Rachel sebenarnya sangat penurut dan pengertian. Dia juga sering menolong teman-temannya di kelas.             Zachery memejamkan matanya. Angin dingin mulai berhembus menerpa tubuhnya. Pertanda malam sudah mulai datang. Dia menikmati kesunyian itu. Rasanya begitu tenang, begitu damai. Rasa lelah langsung menyerang tubuhnya. Mendatangkan rasa kantuk yang sangat sulit ditolak olehnya. Sudah sangat lama Zachery tidak bisa tidur nyenyak. Karena, setiap kali dia tidur, dia selalu memimpikan hal buruk tentang adiknya. Meski mungkin tidak separah Rachel. Namun tetap saja gangguan saat tidur membuat badan kita menjadi kurang sehat.             Zachery mulai terlelap dalam tidur. Perasaan damai yang sangat langka dia dapatkan ini seperti lagu nina bobo yang dinyanyikan khusus untuknya. Bahkan angin yang berhembus pun seakan membelai rambutnya dengan lembut. Membuatnya tertidur semakin dalam.             Tak berapa lama, Rachel tiba disana. Seluruh area sekolah terlihat begitu terang. Semua lampu memang sudah dinyalakan. Dengan mudah, Rachel menemukan Zachery yang berbaring di tengah lapangan. Bajunya masih basah oleh keringat.             “Zach?” Panggil Rachel pelan. Zachery terlihat tertidur pulas. Rachel tak tega membangunkannya. Tapi juga tak bisa meninggalkannya tertidur disana. Dia bisa masuk angin jika tidur dengan baju basah seperti itu. Apalagi diluar sini angin berembus cukup kencang. Angin malam yang mulai terasa dingin.             “Zach, jangan tidur disini. Bangun.” Rachel mencoba membangunkan Zachery. Namun pemuda itu tampak begitu pulas. Wajahnya juga terlihat begitu lelah. Rachel memandangi wajah Zachery. Wajah yang selama ini selalu menemaninya, membantunya. Rachel tak tahu bagaimana jadinya dia jika tidak ada Zachery.             “Ayo bangun Zach...” Rachel sedikit menggoyangkan lengan Zachery. Namun Zach belum juga nampak akan segera bangun. Rachel menggosok lengannya yang mulai terasa dingin. Dia keluar tanpa memakai jaket karena dia pikir hanya sebentar. Dia tidak tahu kalau Zachery akan tertidur pulas sembari menunggunya.             Rachel duduk di samping Zachery. Dia terus mengoyang-goyangkan lengan pemuda itu namun tak membuahkan hasil. Zachery tetap tertidur pulas. Rachel mulai melihat sekelilingnya. Sekolah terlihat ebgitu berbeda saat malam. Suasananya begitu tenang tanpa hingar bingar anak-anak sekolah. Bahkan suara gemerisik angin pun bisa didengar jelas oleh Rachel.             Lampu-lampu yang berjajar menerangi jalan terlihat begitu indah. Seperti kunang-kunang yang saling menerangi satu sama lain. Gedung yang biasanya penuh dengan anak-anak itu terlihat begitu lengang.             Rachel mengamati ruangan-ruangan yang kosong itu. Jendela-jendela di setiap ruangan sangatlah lebar, membuat kita mudah melihat ke dalamnya. Semuanya juga dalam keadaan terang benderang berkat lampu-lampu besar yang dinyalakan di semua kelas. Namun Rachel menangkap ada satu kelas yang dalam keadaan gelap. Kelasnya, kelas 1A.             Perasaan merinding tiba-tiba menyerang dirinya. Rachel teringat dengan cerita temannya tentang penampakan yang muncul di kelas 1A saat kelas dalam keadaaan gelap. Detak jantung Rachel mulai memburu. Diguncang-guncangkan nya tubuh Zachery semakin kencang. Matanya tak bisa lepas dari kelas yang gelap itu.             “Zach cepat bangun. Aku takut.” Rachel mulai meninggikan suaranya. Dia mencubit lengan Zachery agar segera.             “Aduh, sakit tahu.” Zachery yang dipaksa bangun itu menggerutu dengan cara Rachel membangunkannya. Rachel sendiri terus menoleh ke arah kelas 1A. Mengamati kelas itu. Dia takut jika benar-benar muncul sesuatu dari sana.             “Aku bangunin kamu dari tadi. Salah sendiri nggak bangun-bangun. Ayo cepat pulang. Aku takut.” Kata Rachel. Dia terus bergantian melihat Zachery dan melihat kelas 1A. Rachel benar-benar dikuasai perasaan ngeri.             “Takut apaan sih. Terang benderang gini juga.” Zachery masih setengah mengantuk. Dia menyambar botol minum yang di letakkan Rachel tak jauh darinya. Diteguknya habis isi botol itu. Rasanya begitu segar.             “Kelas 1A mati lampunya Zach. Kamu ingat kan cerita seram saat kelas 1A gelap.” Kata Rachel pelan. Sesekali dia masih menoleh ke arah kelas.             Zachery mengangkat satu alisnya. Lalu menyeringai senang. “Kamu takut cerita seperti itu? Dasar anak kecil.” Ucap Zachery meremehkan. Dia ikut memandang ruang kelas 1A. Tak ada apapun disana.             “Lihat kan? Nggak ada apa-apa. Cerita seperti itu hanya kerjaan anak-anak yang kurang perhatian aja.” Kata Zachery. Namun Rachel masih tetap merasa takut. Zachery mengalah dan beranjak berdiri.             “Baiklah-baiklah ayo pulang.” Zachery mengulurkan tangannya untuk membantu Rachel berdiri. Rachel menerimanya dan dengan cepat berdiri dari duduknya. Zachery mengambil tas dan handphone nya dan mulai berjalan. Sampai akhirnya Rachel mencekeram lengannya.             “Zach lihat itu..” Kata Rachel dengan suara bergetar. Zachery yang tak mengerti maksud perkataan Rachel memandang gadis itu dengan heran. Wajah rachel berubah menjadi pucat pasi.             “Ada apa Rachel?” Tanya Zachery cemas. Rachel masih memandang ke arah kelas 1A tanpa berkedip. Nafasnya memburu.             “Lihat itu.” Kata Rachel tanpa mengalihkan pandangannya.             Zachery mengikuti arah pandangan Rachel. Menatap kelas yang gelap itu dengan seksama. Dan dalam sekejap Zachery mengerti asal ketakutan Rachel. Ada bayangan gelap yang sedang berdiri di pinggir jendela kelas. Perawakannya terlihat seperti anak SMA. Meski tidak begitu jelas karena kelas dalam keadaan gelap gulita. Namun akal sehat Zachery langsung mendominasi pikirannya. Dia tahu semua kelas dalam keadaan terkunci, harusnya tidak ada yang bisa masuk ke dalam kelas. Dan Zachery masih memegang kuncinya. Jadi seharusnya tidak ada orang lain yang bisa masuk kesana.             Zachery menangkup wajah Rachel dengan kedua tangannya untuk mengalihkan pandangan gadis itu dari kelas 1A. Dia menghadapkan wajah Rachel untuk memandangnya.             “Dengar Rachel. Cepat pergi ke pos satpam dan lapor ada yang menyusup ke kelas 1A. Aku kebetulan membawa kuncinya jadi aku akan langsung ke kelas untuk  memeriksanya. Oke?” Zachery berkata penuh penekanan untuk menyadarkan Rachel dari ketakutannya.             Rachel mengangguk mengerti dan segera berlari ke arah pos satpam. Dia tak berani menoleh ke belakang. Dia sangat takut jika harus melihat bayangan gelap itu lagi.             Zachery sekali lagi melihat ke kelas 1A. Bayangan itu masih ada disana. Dia sudah memastikan matanya melihat dengan benar berkali-kali, dan bayangan itu tetap ada disana. Jadi Zachery tidak salah lihat. Memang ada seseorang di ruangan itu.             Tanpa membuang waktu lagi Zachery segera berlari menuju kelas 1A. kelelahan yang tadi dirasakannya menguap sudah berganti dengan ketegangan yang menyelimuti dirinya. Dia ingin menangkap basah siapapun yang ada di kelas itu. Zachery sama sekali tidak percaya dengan rumor hantu itu. Lebih mungkin jika yang disana adalah seseorang yang ada hubungannya dengan kasus tahun lalu. Dan dia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.             Zachery mempercepat larinya. Dia tak ingin membuang satu detikpun yang berharga. Dia ingin segera sampai di ruang kelas 1A. Dan membongkar siapa sebenarnya yang berkeliaran diruangan itu saat gelap...                                                                                         ******* -to be continue-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD