Chapter 17

1555 Words
            Rachel tampak kebingungan mendapat pertanyaan seperti itu dari orang yang bahkan baru ditemuinya hari ini. Rachel membenarkan letak kacamatanya. Ya, kacamata pemberian ayahnya yang juga merupakan kamera mini.             “Apa yang membuat kak Silla berpikir seperti itu?” Tanya Rachel. Dia berusaha menguasai dirinya. Dia harus tenang, kalau tidak, kata-katanya akan menjadi bumerang baginya.             Silla terlihat memperhatikan Rachel dengan penuh selidik. Dia jelas mengetahui sesuatu. “Kata-katamu di kantin tadi. Kamu sengaja mengangkat topik itu kan? Padahal tahu hal itu dilarang oleh pihak sekolah.” Jawab Silla.             Rachel menghela nafas dengan berat. “Aku tidak tahu maksud dari pertanyaan kak Silla. Yang jelas, aku membahas itu karena murni penasaran. Dan aku juga tidak tahu membahas tentang kasus itu dilarang oleh pihak sekolah. Aku masih anak baru kak. Banyak hal yang belum aku tahu.” Jawab Rachel dengan lancar.             Silla tampak tidak puas dengan jawaban Rachel. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya diketahui Rachel. “Kamu mau aku percaya itu? Larangan itu sudah menjadi rahasia umum di sekolah kita. Bahkan anak baru pun pasti sudah mengetahuinya. Apalagi kamu yang juga penghuni asrama.”             Rachel sedikit terkejut dengan perubahan nada bicara Silla. Dia jadi terlihat sedikit emosional. Rachel menjadi lebih waspada sekarang. “Aku benar-benar tidak tahu kak. Makanya aku ingin tahu. Aku hanya merasa terganggu dengan insiden tahun lalu karena sekarang aku tinggal di asrama itu. Aku takut jika nanti terjadi sesuatu lagi di asrama itu.” Ucap Rachel. Dia harus mengarang cerita untuk meyakinkan kakak kelas yang tidak mau menyerah ini. Rachel merasa kak Silla menyimpan suatu rahasia.             “Kamu benar-benar tidak tahu? Sayang sekali... Kupikir, akhirnya ada orang yang bisa membantuku...” Ucap kak Silla lirih. Wajahnya begitu nelangsa. Air mata menggenang di kedua matanya.             “Apa maksud kakak?” Tanya Rachel terkesiap. Dia memang mengira kalau kak Silla mengetahui sesuatu. Namun dia tidak menyangka kalau itu benar. Rachel menjadi begitu antusias. Akhirnya dia bisa lebih mendekat pada petunjuk.             “Teman-temanku mengalami semua hal mengerikan itu karena aku. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Aku harus bagaimana...” Kak Silla mulai meracau. Dia terlihat begitu tertekan. Jelas ada beban berat yang dia sembunyikan selama ini.             “Kak, kakak bisa cerita padaku. Siapa tahu aku bisa bantu.” Jawab Rachel sehalus mungkin. Dia tahu kak Silla sedang tidak sadar dengan keadaan. Dia terkungkung pada pikirannya sendiri.             “Kamu bisa membantu? Bagaimana kamu mau membantuku kalau kamu saja tidak tahu apa-apa?!” Kak Silla kembali meninggikan suaranya. Emosinya benar-benar tidak stabil. Namun Rachel tidak ingin berhenti menggali informasi. Mungkin saja ini satu-satunya kesempatan baginya untuk mengetahui kebenaran tentang kasus itu.             Rachel memutar otak. Bagaimana caranya meyakinkan kak Silla agar mau membuka mulutnya. Dia harus mengatakan hal yang bisa memancing kak Silla. “Kak, bercerita membuat kita lebih lega, setidaknya kakak membagi beban kakak dengannku. Kakak sampai susah susah menemuiku pasti dengan tujuan itu kan? Aku akan mendengarkan semuanya. Dan kalau memang ada hal yang bisa aku bantu, pasti dengan senang hati aku akan membantumu kak. Aku juga janji akan menjaga rahasia percakapan kita.” Ucap Rachel sehati-hati mungkin.             Silla terlihat goyah. Dia memang tidak kuat menahan semua itu sendirian. Batinnya tertekan menelan fakta bahwa dia ikut menjadi penyebab nasib naas teman-temannya. Dia butuh tempat mencurahkan isi hatinya. Namun selama ini dia tidak berani. Dia juga tidak menemukan seseorang yang bisa dia percaya. Namun, saat tadi siang dia mendengar Rachel mengungkit tentang kasus itu... Hatinya menjadi bergejolak. Keinginannya untuk curhat menjadi menggila. Dia sudah tidak sanggup memendam semuanya sendiri lagi.             “Rachel... dulu... semua insiden itu bermula karena aku yang tak bisa menjaga mulutku.” Kak Silla mulai bercerita. Dia menatap Rachel dengan mata yang sangat nelangsa.             “Dulu aku salah satu anggota osis, jadi aku bisa tahu informasi yang tidak semua siswa mengetahui. Dan dari sana, aku tidak sengaja mendengar kalau Mikayla akan di geser posisinya oleh anak baru yang akan masuk melalui jalur khusus. Mikayla harus berkompetisi dengan anak baru itu agar bisa bertahan di asrama.” Silla menarik nafas dalam. Tampak sekali dia sangat sengsara mengingat semua kenangan itu.             Rachel mengingat nama Mikayla. Dia satu-satunya anak yang kembali, namun keadaan mentalnya terganggu. Jadi dia adalah kunci dari kasus ini?             “Gara-gara kata-kataku itu mereka jadi mengalami hal buruk. Gara-gara aku yang tidak bisa menjaga mulut ini, mereka sekarang entah berada dimana. Semuanya karena aku. Semuanya karena aku....” Kak Silla mulai histeris. Rachel buru-buru menggenggam kedua tangan kak Silla untuk menenangkannya.             “Tenang kak. Itu bukan salah kak Silla. Kak Silla hanya memberi informasi yang memang berhak di ketahui Mikayla. Kak Silla nggak salah.” Kata Rachel menenangkan. Kakak kelas ini juga mengalami gangguan mental. Karena perasaan tertekan berkepanjangan membuat kesehatan pikirannya sedikit terganggu.             “Menurutmu begitu? Ini benar-benar bukan salahku?” Tanya Silla. Wajahnya antara mau menangis dan sedikit lega.             “Tentu. Kakak hanya memberi informasi, tidak melakukan hal jahat apapun.” Jawab Rachel. “Sekarang kakak tenanglah. Biar Rachel yang membantu kakak mencari informasi. Aku janji akan menjaga rahasia tentang percakapan kita ini. Sekarang kak Silla tidak usah memikirkan tentang hal ini lagi ya.” Rachel berusaha memberi sugesti. Dia merasa iba pada kak Silla yang mengalami tekanan batin seperti itu.             “Baiklah. Berjanjilah untuk mencari informasi ya.” Kata Silla.             “Iya.” Jawab Rachel. Mereka akhirnya keluar dari kafe itu setelah menghabiskan minuman mereka. Silla tampak lebih rileks dari sebelumnya.             “Rachel, berjanjilah untuk tidak mengatakan pada siapapun percakapan kita ya. Aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah.” Kata Silla.             “Iya kak. Tenang saja.” Jawab Rachel.             Mereka berpisah di depan kafe. Silla tampak berjalan menuju halte bis. Dan Rachel masuk kembali ke area sekolah. Langsung menuju ke asrama.             Dia duduk di teras merenungkan apa yang baru saja didengarnya. Kompetisi. Hal yang tak pernah tertulis di laporan manapun. Mungkin bahkan tidak ada yang tahu kecuali Silla tentang hal ini.             Rachel mengeluarkan handphone nya dan menelepon papanya. Tak perlu waktu lama sampai teleponnya diangkat.             “Hallo Rachel.” Kata papanya begitu dia mengangkat telepon.             “Papa menerima visual dari kameranya kan? Bagaimana menurut papa?” tanya Rachel langsung ke pokok permasalahan. Dia sedang tidak ingin berbasa-basi.             “Ya. Hal itu cukup mengejutkan. Papa sudah meneruskan rekaman tadi pada detektif, agar mereka menyelidiki hal itu lebih lanjut.” Kata papa Rachel.             “Baik pa. Langsung beritahu Rachel bila hasil penyelidikan keluar ya.” Kata Rachel.             “Tentu sayang.” Jawab papa Rachel. “Kalau begitu papa tutup dulu ya. Papa masih ada rapat penting.”             “Baik pa.” Jawab Rachel lalu dia langsung menutup telepon. Papanya memang selalu begitu. Hanya mengatakan hal yang perlu dikatakan saja. Setelah itu pasti langsung menyudahi percakapan.             Rachel beranjak dari duduknya hendak menuju kamar hingga langkahnya terhenti karena terkejut. Ternyata Zachery berdiri di sampingnya sedari tadi.             “Ah Zach kamu mengagekatku.” Ucap Rachel.             Zachery berjalan selangkah lebih mendekat ke arah Rachel. Lalu menundukkan kepalanya agar mereka sejajar. “Dasar ceroboh. Bagaimana kalau yang berdiri disini bukan aku? Bagaimana kalau tadi orang lain yang mendengar percakapan teleponmu?” Tanya Zachery dengan tatapan tajam. Rachel terperangah, menyadari kesalahannya.             “Ah, benar. Maaf, aku kurang hati-hati.” Kata Rachel menyesal. Dia menunduk, tidak berani menatap Zachery secara langsung.             “Hah!! Benar-benar. Selalu membuat orang khawatir. Kamu harus melihat sekelilingmu dulu sebelum melakukan sesuatu. Mengerti?” Kata Zachery. DIa begitu gemas dengan kelakuan Rachel.             “Iya, maaf.” Ucap Rachel yang semakin merasa bersalah. Dia sadar dia selalu membuat Zachery mengkawatirkan dirinya.             “Sudahlah cepat masuk. Sebentar lagi gelap.” Kata Zachery. Dia menarik tangan Rachel untuk mengikutinya masuk ke dalam. “Ikut ke kamarku sebentar, ada yang ingin kutanyakan.”             Rachel mengikuti dengan patuh. Mereka masuk ke kamar Zachery namun tidak menutup pintunya. Karena ada cctv yang selalu mengawasi gerak gerik mereka.             “Jadi apa yang kamu bicarakan dengan kakak kelas tadi?” Tanya Zachery setengah berbisik. Dia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka. Dia juga terus mengawasi arah pintu. Untuk memastikan tidak ada yang mendekat ke arah kamarnya.             “Dia teman Mikayla. Kamu tahu dia kan?” Tanya Rachel memastikan. Zachery mengangguk mengiyakan.             “Dia mengatakan tentang kompetisi. Aku juga belum begitu yakin, aku sedang meminta papa untuk mencari informasi lebih lanjut.” Kata Rachel masih dengan suara berbisik.             “Kompetisi? Kompetisi apa?” Tanya Zachery.             “Kak Silla bilang, ada anak baru yang akan menggeser posisi Mikayla. Mereka harus berkompetisi untuk memperebutkan siapa yang berhak menjadi penghuni asrama.” Jawab Rachel.             Zachery tampak berpikir keras. Menganalisa informasi yang baru diterimanya. “Apakah itu mungkin? Kamu yakin dia nggak membohongimu?” Tanya Zachery, sangsi dengan informasi yang baru saja didengarnya.             “Dia sendiri tertekan. Tidak mungkin dia berbohong. Nanti kumintakan rekaman percakapanku tadi pada papa. Biar kamu bisa menilai sendiri dia berbohong atau tidak.” Kata Rachel.             “Rekaman? Kamu merekam percakapan kalian? Hebat sekali pemikiranmu Rachel.” Kata Zachery.             “Well, aku hanya berjaga-jaga.” Jawab Rachel. Zachery masih belum tahu kalau kacamata yang dipakai Rachel adalah kamera. Dan statusnya akan selalu aktif jika dikenakan.             “Tapi.. Sedandainya yang dikatakan kakak kelas tadi memang benar, bagaimana bisa hal itu terjadi? Bukankah regulasi penghuni asrama sudah sangat jelas? Diadakan tes setahun sekali untuk menentukan siapa saja yang berhak menjadi penghuni asrama? Mana mungkin ada kompetisi terpisah seperti itu?” Zachery nampak tak paham. Begitu pun Rachel.             “Entahlah, aku juga tidak tahu Zach.” Rachel mengendikan bahu. Mereka terdiam cukup lama. Mencoba mencerna informasi baru yang berhasil di dapatkan. Setidaknya ada petunjuk baru. Semoga membawa harapan baru.             “Ya sudah, kembalilah ke kamarmu. Kita pikirkan nanti bagaimana langkah selanjutnya.” Kata Zachery. Rachel lagi-lagi mengangguk patuh dan meninggalkan pemuda itu sendirian. Dia sudah sangat mempercayai Zachery.                                                                                         ******* -to be continue-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD