“Tuan muda.” Seorang pria berusia 30 tahunan menyapa majikannya yang tampak termenung menatap keluar jendela apartemennya. Majikan yang sudah dia layani sedari kecil. Orang tuanya adalah pelayan di keluarga itu. Dan saat tuan mudanya lahir, dia diserahi tugas untuk melayani dan menemani tuan mudanya setiap hari. Sekarang tuan mudanya sudah berumur 17 tahun. Berarti sudah 17 tahun dia mengasuh tuannya itu.
“Ada apa?” Tuan muda itu tampak tak acuh. Masih tetap menatap keluar jendela.
“Sudah waktunya kita kembali ke Indonesia.” Pria itu berbicara dengan hati-hati. Karena dia tahu, kembali ke Indonesia bukanlah hal yang disukai tuan mudanya.
“Sekarang?” Tuan muda itu tampak enggan.
“Iya tuan muda. Saya sudah menyelesaikan registrasi ke SMA Red Orchid. Seharusnya hari ini tuan muda sudah mulai berangkat. Tapi karena tuan muda terus menundanya, sekarang tuan muda sudah terlambat masuk. Dan pihak sekolah memberi peringatan agar tuan muda harus masuk maksimal hari ke-3 lagi. Kalau tidak tuan muda di anggap mengundurkan diri dari sekolah.” Pelayan itu menjelaskan dengan teliti. Berharap tuan mudanya mau segera masuk sekolah.
Tuan muda itu tak merespon. Pikirannya kembali mengembara. Kejadian setahun yang lalu benar-benat mengubah kepribadiannya. Dia berubah menjadi lebih pendiam. Namun... dia juga menjadi semakin kejam. Semakin mengerikan.
“Vincent.” Pelayan itu terhenyak mendengar namanya dipanggil. Tuan mudanya jarang memanggilnya dengan nama. Dia lebih sering memanggilnya kakak atau hei. Dia hanya akan memanggil dengan nama jika pelayan itu melakukan kesalahan atau memang suasana hatinya sedang sangat buruk. “Ada hal yang mengganggu pikiranku selama ini.”
“Katakanlah tuan muda.” Jawab Pelayan bernama Vincent itu.
“Sebenarnya apa yang istimewa dari asrama itu? Kenapa kakek mengharuskanku masuk kesana?” Tuan muda itu memandang pelayannya dengan dingin. Vincent mulai terbiasa dengan tatapan itu. Tuan mudanya memang bukanlah orang baik. Dia sering membuat masalah dan semena-mena. Tapi dulu, dia tidak pernah memperlakukan orang-orangnya dengan buruk. Namun sekarang... Dia menjadi orang yang tidak dikenalinya lagi.
“Saya juga tidak mengerti tuan muda. Yang saya tahu, kakek ingin tuan muda mendapat pendidikan terbaik. Dan di Asrama Red Orchid, siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademis, namun juga life skill, karakter, seni dan banyak lagi. Jadi yang tinggal di asrama itu benar-benar belajar selama 24 jam. Semuanya dinilai, dari bangun tidur hingga tidur lagi, akan dinilai semua perilaku penghuni asrama.”
Tuan muda itu kembali diam. Memandang pelayannya dengan tatapan yang lebih dingin lagi. “Jadi aku harus bersandiwara selama 24 jam huh?” Menyebalkan!”
“Iya tuan muda. Bersabarlah. 2 tahun saja sudah cukup. Setelah itu, tuan muda akan menjadi pewaris sah perusahaan keluarga.”
“Dua tahun saja?” Tuan muda itu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Vincent. “Aku harus menjadi ‘anak baik’ selama 2 tahun katamu?! Yang benar saja! Kau gila hah!!” Tuan muda itu menendang pelayannya dengan sangat keras. Matanya menatap dingin. Tanpa rasa kasihan. Padahal pelayan itu adalah orang yang selalu menutupi semua kenakalannya. Bahkan perbuatan jahat seperti apapun selalu di bereskan oleh pelayan itu tanpa bekas sedikitpun. Pelayan itu melakukannya dengan ikhlas. Karena dia benar-benar menyayangi tuan mudanya.
“Maafkan saya tuan muda. Saya tak bisa melakukan apapun untuk hal ini. Karena tuan besar pasti akan menempatkan orang-orangnya untuk mengawasi tuan muda secara langsung. Jadi saya tidak bisa melakukan apapun.” Pelayan itu merasa bersalah, dia merasa tidak berguna untuk tuannya.
Tuan muda itu menendangnya sekali lagi. Kali ini lebih keras dari yang tadi. “Semakin lama kamu semakin tidak berguna hah?!”
Pelayan itu meringis kesakitan. Dia diam saja menerima perlakuan tuannya. Lagipula ini salahnya. Karena dia tidak bisa membantu apapun untuk tuan mudanya.
“Siapkan semua keperluanku. Kita berangkat nanti sore.”
“Baik tuan muda.”
********
Pagi tiba dalam diam. Matahari merangkak naik dengan hati-hati. Panasnya tak begitu menyengat bumi. Tenang, namun juga suram. Sesuram wajah Zachery yang tak cukup tidur tadi malam. Kedua kantung matanya terlihat hitam. Bibirnyapun sangat sulit untuk tersenyum. Ketampanannya jadi menurun 10%.
“Ada apa dengan wajahmu?” Rachel yang sebenarnya tak ingin menyapa, mau tak mau jadi bertanya karena Zach duduk di mejanya dengan muka ditekuk.
“Aku stress.” Jawab Zachery tanpa menoleh. Dia sedang mengamati lalu lalang anak-anak yang mulai masuk ke kelas. Sebentar lagi bel tanda masuk akan segera berbunyi.
“Ada yang terjadi?” Tanya Rachel datar. Dia tidak benar-benar berminat dengan apa yang terjadi dengan Zachery.
“Aku kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan belajar pelajaran SMA. Aku jadi kelelahan.” Zachery berkata lirih. Memastikan tidak ada orang lain yang mendengar kata-katanya.
“Itu sudah resiko kan? Kenapa merengek?” Tanya Rachel dingin. Dia lebih nyaman menjadi pribadi yang dingin seperti ini. Karena Rachel jadi bisa lebih fokus pada tujuannya.
Zachery memandang Rachel tak percaya. “Hah! Kukira kita sudah berteman. Dingin sekali ucapanmu.” Zachery sengaja merengek. Dia ingin membuat rachel tertawa.
Rachel memandang Zachery datar. “Bukannya kamu yang menyarankanku untuk menjadi diriku yang seperti ini? Dingin dan tidak bersahabat? Aku sedang mengikuti saranmu Zach.”
Zachery menepuk jidanya keras. Dia memandang Rachel dengan tatapan ‘kau bercanda?’ Dia tak habis pikir, bagaimana sebenarnya cara otak anak ini berjalan?
“Oh Rachel. MAKSUDKU tidak kepadaku. Aku sudah tahu bagaimana kamu. Jadi tak perlu berakting di depanku. Hei, kita ini partner kan? Bagaimana kita akan bekerja sama kalau kamu bersikap begini padaku?”
Rachel mengendikkan bahu. “Ini namanya totalitas. Aku tidak memandang siapa saja, aku akan tetap bersikap seperti ini.”
“No! Aku tidak suka. Jangan bersikap dingin padaku. Aku lebih suka Rachel yang hangat seperti kemarin.” Zachery tanpa sadar bicara dengan suara keras. Dan hasilnya, anak-anak yang sudah berada di kelas menoleh ke arah mereka. Penasaran dengan apa yang sedang mereka ributkan.
Zachery nyengir lebar. “Tak usah pedulikan kami. Hanya sedang bercanda. Maaf.”
Rachel meninju pundak Zachery pelan. “Hei, bagaimana kalau ada orang yang curiga pada kita. Berhati-hatilah.”
Zachery menyeringai lebar. “Tidak akan. Paling mereka hanya berpikir kalau kita pasangan yang sedang bertengkar.”
Mata Rachel melebar terkejut. “Kau gila.”
“Tidak, memang seperti itulah kelihatannya. Dan lagi, dari kemarin kita sudah terlihat terus bersama. Pasti banyak yang mengira kita pasangan.” Zachery tersenyum lebar. Dia sengaja menggoda Rachel.
Rachel tak bisa berkata-kata. Dia tahu Zachery hanya menggodanya. Tapi karena Rachel tak pernah benar-benar dekat dengan laki-laki, hal itu membuatnya salah tingkah.
“Berhenti menggodaku Zach.” Wajah Rachel memerah karena malu.
“Baiklah-baiklah adik manis. Belajar yang rajin ya, sebentar lagi pelajaran dimulai.” Zachery mengedipkan sebelah matanya dan melenggang pergi menuju tempat duduknya. Meninggalkan Rachel yang wajahnya kini memerah sempurna karena ulah Zachery.
Lagi, Rachel menangkap kalau Dylan terus mengamati mereka. Rachel selalu merasa ada yang janggal dengan anak itu, tapi dia tidak tahu apa. Dan apa tujuannya dia mengamati dirinya dan Zach? Apa dia juga keluarga salah satu korban hilang? Atau dia... Pelakunya?
Rachel memberanikan diri memandang Dylan. Dan belum ada satu detik Dylan langsung menyadari kalau dia sedang ditatap. Dia berbalik memandang Rachel. Dingin, tak berkedip sedikitpun. Rachel tergagap. Ada perasaan takut menelusup ke dalam hatinya. Rachel berusaha tersenyum dan melambaikan tangan. Berpura-pura kalau tatapan mereka tak sengaja bertemu. Agar tak kelihatan kalau Rachel sedang mengamatinya.
Beruntung guru segera datang ke kelas dan pelajaran segera dimulai. Kalau tidak, Rachel pasti akan kebingungan setengah mati karena Dylan tak merespon senyum atau lambaian tangannya, dan terus menatapnya dengan dingin.
“Ah... Apa sih anak itu. Menakutkan.” Rachel menggerutu pelan. Rachel yakin orang di depannya saja tidak mendengarnya, tapi Dylan menoleh kembali padanya. Memandangnya dengan tatapan sedingin es.
Bagaimana bisa dia mendengarnya. Rachel duduk di pinggir tembok sebelah kanan, di bangku paling belakang. Sedangkan Dylan duduk di dekat jendela sebelah kiri di bangku nomor dua dari depan. Mereka terpaut cukup jauh. Tidak mungkin kan Dylan mendengarnya? Atau dia hanya kebetulan menoleh saja?
Rachel menggelengkan kepalanya. Tidak mau berfokus pada sesosok Dylan yang misterius itu. Dia memandang lurus ke depan. Berkonsentrasi pada penjelasan guru. Namun, Rachel bisa merasakan kalau Dylan masih memandangnya. Benar-benar mengganggu.
*********
Waktu jam makan siang tiba. Zachery kembali menghampiri Rachel dan mengajaknya ke kantin. Rachel mulai terbiasa dengan Zachery dan tak mempermasalahkan tingkah sok akrabnya lagi.
“Mau pesan apa? Kamu duduk saja biar aku yang beli. Rame begini.” Tanya Zachery. Kantin sekolah itu memang menyediakan makan siang gratis. Namun juga ada kedai yang berjualan berbagai macam makanan dan minuman. Karena menu dari sekolah tidak selalu sesuai dengan selera semua orang kan?
“Salad buah dan es lemon aja. Aku nggak begitu lapar.” Jawab Rachel penuh senyum. Dia tidak tahu kalau Zach bisa pengertian juga.
“Ha, pantas saja kamu kurus kering begini. Baiklah, tunggu sebentar.” Zachery menerobos kerumunan anak-anak yang sedang mengantri makanan. Dan dengan segera dia sudah sampai di kedai yang dia tuju. Rachel memandangnya masih dengan senyum yang menghias bibirnya. Memang benar kalau Rachel ikut kesana pasti belum akan sampai setengah jalannya.
“Hei, kamu Rachel kan?” Sapa 2 anak perempuan yang Rachel ingat mereka ada dikelas yang sama dengannya.
“Benar.” Jawab Rachel seramah mungkin. Dia memang memutuskan untuk berakting dingin. Namun jika anak perempuan dengan ramah mendekatinya dahulu, dia tidak bisa menolak dan acuh pada mereka.
“Ah, boleh kami duduk disini? Tempat lain sudah penuh.”
“Tentu.”
Kedua gadis itu terssenyum senang dan duduk di depan Rachel. Mereka anak yang cukup aktif di kelas. Yang satu berpotongan pendek sama seperti rachel. Satu lagi rambutnya panjang bergelombang, dan wajahnya luar biasa cantik.
“Ah, kamu belum kenal kami ya? Kenalkan aku Senja. Dan tuan putri yang cantik ini namanya Nina. Kami dulu satu sekolah saat SMP.”
“Ah, begitu. Aku Rachel. Aku dulu sekolah di SMP khusus putri Reddish. Ku pikir tidak ada teman satu sekolahku yang kesini.”
“Wah.. kamu sekolah di SMP Reddish? Itu kan sekolah keren banget. Tapi bukannya disana lebih menonjolkan seni ya? Kok bisa nerusin ke Red Orchid?” Nina terlihat antusias mendengar Rachel berasal dari Reddish, Sekolah khusus putri yang terbukti berhasil mencetak calon-calon seniman handal. Biasanya lulusan dari sana akan langsung masuk Reddish Artschool. Dan masa depannya sebagai seniman tidak diragukan lagi.
Rachel tersenyum getir. Mengingat mimpinya menjadi pianis yang dia buang begitu saja. “Ah, O.. Orang tuaku ingin aku sekolah disini. Bagi mereka nilai akademis lebih berarti daripada seni.” Rachel sedikit tergagap menjawab pertanyaan tiba-tiba itu. Dia terpaksa berbohong, tidak mungkin dia mengatakan alasannya memasuki sekolah ini.
Nina dan Senja memasang wajah simpati. Mereka berpikir Rachel dipaksa sekolah disini. “Sabar Rachel. Orang tua memang kadang seperti itu. Tidak menanyakan apa yang benar-benar diinginkan anaknya.”
“Ah, tidak apa-apa. Aku juga tidak keberatan. Tidak masalah bagiku belajar dimana saja.” Rachel tersenyum samar. Dia merasa tidak enak telah membuat seolah-olah orang tuanya memaksakan kehendak padanya.
“Hai.” Zachery datang membawa senampan pesanan Rachel dan dirinya. Dia tidak menyangka Rachel sudah mendapat teman baru. Dengan cekatan Zachery menata pesanan Rachel di depan pemiliknya. Dan dia sendiri langsung menyantap hidangan miliknya. Kelihatan sekali kalau dia sangat lapar.
“Ayo makan dulu.” Rachel mulai memakan saladnya. Begitupun 2 anak perempuan teman baru rachel tersebut. Mereka makan sambil sesekali mengobrol ringan. Rachel terlihat senang mendapat teman perempuan. Dia memang paling nyaman mengobrol dengan sesama cewek. Karena dulu di SMP bahkan tidak ada anak laki-laki di sekolahnya.
“Hei, aku dari tadi penasaran akan sesuatu.” Senja menatap penuh selidik pada Rachel dan Zach. “Kalian pacaran ya?”
Satu kalimat itu berhasil membuat Rachel tersedak es lemon yang sedang di teguknya. “Hati-hati.” Zacheri menepuk punggung Rachel pelan.
“Lihat kalian sekarang bahkan bermesraan di depan umum.” Senja tak henti-hentinya menggoda mereka.
“Tidak.” Rachel terlihat panik. “Aku bahkan baru mengenalnya kemarin. Pacaran apanya.”
“Benarkah? Tapi kalian terlihat cukup dekat.” Nina ikut menggoda Rachel dan Zachery.
“Benar!” Rachel mati-matian menyangkal pernyataan mereka. Zachery sendiri hanya tersenyum melihat obrolan khas anak SMA itu. Ah, indahnya masa muda...
“Lihat, Zachery terus tersenyum dari tadi, tak menyangkal apapun. Benar kan kalian pacaran?” Senja tampak tak akan menyerah sampai sasarannya mengalah.
“Kami tidak pacaran.” Akhirnya Zacheri angkat bicara. Rachel lega mendengarnya. Setidaknya kalau mereka berdua menyangkal. Senja tidak akan lagi mempertanyakan hubungan mereka. “Tapi... Aku memang tertarik pada Rachel.”
“Wuihhhh, pernyataan cinta nih.” Senja dan Nina terlihat antusias.
Rachel menatap Zach dengan tatapan horor. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa yang dia inginkan dengan mengatakan hal seperti itu?
“Tidak, ini bukan pernyataan. Aku ingin pelan-pelan saja. Rachel pasti terkejut mendengarnya kan? Lagipula kita baru kenal kemarin. Jalanku masih panjang.” Zachery menjelaskan pada kedua gadis yang terlalu antusias pada hubungan orang itu. Zach memberi isyarat pada Rachel agar mengikuti sandiwaranya. Mereka memang terlalu dekat untuk ukuran orang yang baru kenal kemarin.
“Wahh ketua kelas. Aku nggak tahu kalau kamu orangnya seromantis ini.” Senja menatap Zacheri dengan tatapan memuja. “Baiklah, mulai sekarang aku akan menjadi pendukung nomor 1 hubungan ketua kelas dan Rachel. Kalau butuh bantuan, langsung datang padaku, oke?!”
“Tentu.” Zach tersenyum tipis. Namun sneyum itu mampu meruntuhkan pertahanan gadis manapun. Wajah indo nya membuat dia memiliki daya tarik tersendiri. “Ayo kembali ke kelas, sebentar lagi jam makan siang habis.”
Mereka berempat beranjak menuju kelas 1A. Zacheri menarik tangan Rachel agar berjalan di belakang anak-anak itu.
“Sudah terlanjur begini, lanjutkan saja.” Bisik Zachery.
“Lanjukan apanya?” Tanya Rachel.
“Lanjutkan cerita tentang aku yang sedang mengejar cintamu.” Zach menyeringai. Sangat memikat.
“Kau gila huh? Aku tak punya waktu untuk hal seperti itu.”
“Hanya di depan orang lain. Kita akan sering bersama. Dan percintaan adalah alasan yang paling mudah dipercaya orang lain.”
Rachel diam namun mengerti maksud Zachery. Dia hanya mengendikkan bahu.
“Bagus. Jadi kalau sesekali aku menggodamu tak masalah kan?” Zachery mengedipkan sebelah matanya.
Rachel melotot marah. “Jangan macam-macam.”
“ahahahaha...” Zachery tertawa keras dan berjalan mendahului Rachel. “Sampai jumpa di kelas ya.”
*********
-to be continue-