Chapter 5

1532 Words
            Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sudah hampir sebulan Rachel sekolah di SMA Red Orchid. SMA Swasta bergengsi di kotanya. Sekolah yang tak hanya menonjol di bidang akademik, namun juga terbukti mampu mengembangkan karakter siswanya dengan baik. Pelajaran Leadership juga diterapkan disana. Dan bagi penghuni asrama bahkan ada pelajaran khusus untuk mempersiapkan masa depan mereka lebih dini. Seperti ilmu bisnis, dasar-dasar kedokteran, ilmu hukum, seni dan masih banyak lagi yang bisa dipilih dengan bebas sesuai minat anak.             “Sudah siap untuk ujian 2 hari lagi?” Zachery lagi-lagi duduk di meja Rachel tanpa permisi. Mereka baru saja kembali dari kantin. Suasana kelas cukup sepi karena masih banyak anak-anak yang masih di luar kelas.             “Ya. Aku yakin dengan kemampuanku. Meski aku bukan jenius seperti kakak. Tapi kemampuanku tetaplah di atas rata-rata.” Jawab Rachel penuh percaya diri.             Zachery menyeringai. “Hah, tapi nilai tes masukku tetap yang paling tinggi kan?”             Rachel memutar bola matanya. Sebal dengan tingkah Zach. “Nggak malu sama umur ngomong gitu ke aku? Jelas lah nilaimu lebih tinggi, kamu sudah pernah mempelajari semua pelajaran ini dulu.”             “Hahahaha.. Baiklah baiklah. Tapi ingat, saingan kita juga dari tingkat 2 dan 3. Jadi nilainya tidak cukup hanya sekedar tinggi. Tapi harus sangaaaat tinggi.” Zachery mengingatkan Rachel.             “Ya. Aku tidak lupa. Tapi aku tetap percaya diri dengan kemampuanku.”             Zachery tersenyum dan menepuk kepala Rachel dengan lembut. “Ayo berjuang sama-sama. Kalau ada yang tidak kamu mengerti jangan sungkan untuk bertanya.”             Rachel membalasnya dengan senyum. Dia merasa bersyukur ada Zachery yang menemaninya. Zachery selalu menjaganya. Mereka memang belum mulai mencari petunjuk. Selama beberapa minggu ini, mereka mengamati setiap bagian gedung di sekolah itu. Setiap ada kesempatan, mereka selalu melihat-lihat ruangan-ruangan kelas di semua tingkat, ke perpustakaan, ruang olahraga, ruang seni, gudang, uks. Semua ruangan mereka jelajahi. Kebun dan taman sekolahpun tak luput dari daftar tempat yang harus di amati.             Sejauh ini, tak ada tempat yang mencurigakan. Kecuali bagian asrama yang tak bisa mereka masuki, semua tempat disana tampak normal. Tak ada tanda-tanda ada yang mencurigakan.             Bagi Rachel, yang mencurigakan justru teman sekelasnya. Dylan. Dia sangat misterius. Sudah berminggu minggu mereka menjadi teman satu kelas, namun sekalipun dia belum pernah melihat Dylan keluar kelas saat jam istirahat. Saat pulang pun, sampai kelas kosong, Dylan masih tetap duduk di tempatnya. Tidak beranjak untuk pulang. Entah apa yang di tunggu nya. Dia juga sangat diam. Hanya berbicara saat ditanya. Tidak pernah terlihat mengobrol dengan teman sekelas.             “Hei Zach.” Rachel menarik Zachery agar lebih mendekat kepadanya. “Apa menurutmu Dylan tidak aneh?”             Zachery mengangkat sebelah alisnya. Dia melirik Dylan sekilas. Seperti biasa, anak itu hanya duduk diam di bangkunya. Tak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Entah membaca buku, atau hanya sekedar melamun. Dia memang tak pernah terlihat meninggalkan kursinya.             “Ya.. setelah kamu menyebutnya. Memang sedikit aneh? Dia terlalu pendiam dan tidak suka berinteraksi. Mungkin dia introvert? Tapi, saat ditanya dia cukup nyambung kok. Dan beberapa kali aku meminta bantuannya dia langsung mengiyakan. Cuma memang sangat iriiiit bicaranya.”             “Hanya itu? Introvert? Tapi menurutku dia lebih aneh dari itu.” Kata Rachel. Dia berbicara sepelan mungkin. Dia tidak ingin Dylan mendengar kata-katanya.             “Apa maksudmu?” Zachery terlihat tak mengerti.             “Kau tahu. Dia sering.. memandangiku dengan tatapan yang... menakutkan.” Baru saja Rachel selesai bicara, Dylan langsung menoleh ke arahnya. Dylan memandang Rachel dengan tatapan yang sama. Dingin...tanpa berkedip.             “Lihat kan?” Rachel menunduk, tak suka dipandangi dengan cara seperti itu.             Zachery melihat Dylan. Dan Dylan segera tersenyum tipis pada Zach saat pandangan mereka bertemu. Dia kembali sibuk pada entah apa yang sedang dilakukannya di mejanya.             Zachery turun dari meja dan membungkuk di sebelah Rachel. Berbicara tepat di samping telinga gadis itu. “Rachel, sepertinya Dylan menyukaimu.”             Rachel terkejut mendengar kata-kata Zach dan melotot kepadanya. Zachery menyengir lebar mendapat pelototan seperti itu. “Apa lagi alasan cowok terus memandangi cewek kalau bukan karena naksir?”             Rachel tidak menggubris kata-kata Zachery dan mendorong pemuda itu agar menjauh darinya. “Sana kembali ke tempatmu. Menyebalkan!!”             Meski sebal, Rachel merenungkan kata-kata Zachery. Tidak.. Itu bukan tatapan karena suka. Terlalu dingin, aku lebih curiga kalau dia ada hubungannya dengan kasus hilangnya kakak. Entahlah.. instingku mengatakan seperti itu...                                                                                     *******                 “Hei Zach, ada beberapa hal yang ingin ku diskusikan. Mau ke rumahku? Sekalian belajar. Aku agak gugup.” Rachel menghentikan Zacheri yang hendak menuju parkiran. Mereka baru saja selesai pelajaran terakhir.             Zachery menatap Rachel. Mencari maksud sebenarnya dari ajakan yang tiba-tiba itu. “Apa ini ajakan kencan terselubung?”             Rachel memasang wajah cemberut. “Jangan terlalu mendalami aktingmu. Hubungan kita yang sebenarnya tidak seperti itu. Oke?! Gimana mau nggak?”             “Aku oke aja. Tapi aku bawa motor. Gimana? Mau bonceng? Atau aku berjalan dibelakang mobilmu?”             Rachel menimbang-nimbang. “Bonceng aja deh. Aku telfon rumah dulu biar nggak usah jemput.”             Zachery mengangguk. “Aku ambil motor dulu, kamu tunggu di depan ya.”               Setengah jam perjalanan dari sekolah dan mereka sampai di rumah Rachel. Zachery tampak takjub melihat rumah Rachel. Rumah Rachel lebih tepat disebut mansion. Karena besar dan megahnya bangunan ini. Dia tahu Rachel anak konglomerat. Tapi tidak tahu kalau rumahnya se-wah ini. Bahkan rumah keluarganya di Inggris pun tidak semewah ini.             “Ayo masuk.” Ajak Rachel yang melihat Zachery hanya diam menatap rumahnya. “Nggak usah norak kali.”             “Aku bukan norak tapi takjub.” Zachery mengelak. Dia jadi menyesal memperlihatkan wajah ‘bodohnya’ di depan Rachel.             Mereka berjalan beriringan dari tempat parkir menuju pintu utama. Dari pintu gerbang sampai pintu utama saja luasnya seperti lapangan sepak bola. Entah berapa luas tanah yang digunakan untuk membangun mansion ini.             “Kenapa sepi sekali?” Tanya Zachery begitu mereka sudah diruang tamu. Tidak terlihat satupun orang dirumah itu.             “Biasa seperti ini. Para pelayan tinggal di rumah terpisah. Mereka hanya kesini saat mengerjakan tugas atau kalau di panggil saja. Ada beberapa yang sedang di dapur untuk menyiapkan camilan untuk kita.”             Zachery memandang Rachel. “Kamu tidak kesepian? Sendirian di rumah sebesar ini?” Zachery juga sendirian dirumahnya. Jadi dia tahu benar bagaimana rasanya saat pulang ke rumah tak ada satu orang pun yang menyambut kedatangannya. Apalagi rumah sebesar ini... Sendirian...             Rachel menunduk, matanya tiba-tiba terasa panas mendengar pertanyaan Zachery. “Menurutmu bagaimana?”             Zachery merangkul rachel, mengusap lenganya dengan lembut. “Maaf, tak seharusnya aku menanyakan itu.”             “Tidak apa-apa. Aku sudah mulai terbiasa. Lagipula, sekarang aku minta beberapa pelayan untuk bergantian menemaniku disini.”             “Benar, itu lebih baik daripada sendirian. Setidaknya kamu ada teman bicara.” Zachery mengusap rambut Rachel dengan lembut. Zach sudah terbiasa memperlakukan Rachel seperti adiknya.             Tak berapa lama pelayan datang membawakan minuman segar dan camilan untuk mereka berdua. “Terima kasih.” Ucap Zachery penuh sopan.             “Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanya Zachery sambil mengunyah biskuit yang dihidangkan.             “Dylan. Aku yakin dia tahu sesuatu tentang kasus hilangnya penghuni asrama.” Rachel bicara langsung pada pokok permasalahan.             Zachery spontan berhenti mengunyah dan menatap Rachel dengan serius. “Apa yang membuatmu berpikir begitu.”             “Entahlah.. Insting? Aku hanya merasa dia menatapku dengan maksud tertentu. Dan dia... terlalu peka.” Tutur Rachel.             “Kita tidak bisa menuduh sembarang orang Rachel. Dan lagi, kita harus hati-hati, ingat? Kalau memang menurutmu dia ada hubungannya dengan kasus itu, kita awasi saja dulu gerak geriknya. Jangan melakukan apapun yang gegabah. Kita belum tahu siapa musuh kita. Jadi jangan sampai justru identitas kita yang terekspos ke penjahat itu.”             Rachel mendengarkan Zachery dengan patuh. Yah.. Cara berpikir orang dewasa memang berbeda. Mereka lebih berhati-hati dan lebih efisien.             “Baiklah.” Jawab Rachel akhirnya. Meski sebenarnya dia tidak puas dengan ini. Jujur saja, Rachel ingin segera mendapatkan petunjuk tentang keberadaan kakaknya. Mungkin benar kata Zachery. Aku terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan karena ingin segera menemukan kakak...             “Baiklah. Sekarang ayo mulai belajar. Apa saja yang kamu tidak paham? Tanyakan pada kakak yang jenius ini...” Zachery menyeringai lebar. Sengaja ingin merubah suasana yang terasa tegang sedari tadi.             “Matematika.” Jawab Rachel. “Aku lemah dalam matematika, aku padahal sudah memakai buku catatan kakak, tapi tetap saja ada beberapa hal yang tidak kumengerti.”             “Wah wah.. bagaimana bisa? Kakaknya seorang jenius matematika, tapi adiknya tidak bisa matematika?” Zachery berkata spontan.             Rachel memandang Zach penuh selidik. “Bagaimana kamu tahu kakakku jenius matematika?”             Zachery sedikit salah tingkah namun akhirnya dia mengatakannya. “Aku mengumpulkan informasi tentang semua anak yang hilang, termasuk yang sedang ada di rumah sakit. Bukan apa-apa, aku hanya mengumpulkan petunjuk sebanyak yang aku bisa. Aku hanya ingin menemukan Diana. Tidak ada maksud lain.”             Rachel mengangguk mengerti, karena sebenarnya dia pun melakukan hal yang sama. Rachel hanya tidak menyangka ada orang lain yang melakukan hal seperti dirinya.             Rachel bangkit dari duduknya dan menarik Zachery untuk mengikutinya. “Belajarnya nanti saja. Ayo ikut ke kamarku.”             Zachery tersentak. Tidak menyangka Rachel akan mengajaknya ke kamarnya. “Hei nona. Apa kamu tidak pernah diajari untuk tidak membawa laki-laki ke dalam kamar? Bahkan Zachery yang baik ini pun bisa berubah menjadi serigala jika sedang berdua saja dengan perempuan.”             Rachel meninju pundak Zachery dengan keras. “Dasar m***m. Aku hanya ingin kamu melihat bukti-bukti yang sudah ku kumpulkan. Aku sudah membacanya berulang-ulang namun tidak menemukan jalan apapun. Siapa tahu kamu bisa mendapat petunjuk yang tidak bisa kulihat kan?”             Zachery tersenyum, dia langsung bersemangat. “Aku jangan buang waktu lagi.” Dan mereka langsung ke kamar Rachel. Berharap ada sedikit kemajuan dari penyelidikan mereka.                                                                                             ******* - to be continue-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD