Lagi-lagi Zachery terkejut. Dia memandang Rachel dengan tatapan’seriously?’ saat mereka memasuki kamar Rachel. Zachery memandang berkeliling. Kamarnya cukup luas. Ada ranjang, satu set sofa, set home theater, dan hal-hal feminim khas perempuan lainnya. Ada satu ruangan terpisah yang Zach yakin itu adalah wardrobe room.
Tapi bukan itu yang membuat Zach terkejut, tapi... tempelan-tempelan kertas yang memenuhi seluruh dinding ruangan itu. Ada foto Raymond Nadean dalam ukuran besar yang tertempel di langit-langit kamar, Potongan-potongan surat kabar tentang kasus hilangnya penghuni arsama Red Orchid. Print out artikel-artikel online yang berhubungan dengan kasus tersebut. Dan banyak tulisan tangan Rachel. Semua tentang kasus hilangnya penghuni asrama Red Orchid.
Zachery menarik lengan Rachel. Menghadapkan gadis itu padanya. Tatapannya seakan tak mengerti dengan tindakan Rachel. “Apa semua ini Rachel?”
“Apalagi? Ini petuntuk yang ku kumpulkan.”
“I know. Tapi buat apa kamu tempelkan semua itu di dinding kamarmu?” Zachery meremas bahu gadis itu pelan. Dia mulai khawatir dengan keadaan mental Rachel.
Mata Rachel mulai memerah. Sebutir air mata meluncur membasahi pipinya. “Aku... Kalau tidak seperti ini.. Aku bisa gila. Setiap hari aku bermimpi buruk kalau kakakku sedang menderita. Bahkan berkali-kali aku bermimpi kakak ditemukan sudah tewas. Rasanya aku mau gila Zach. Aku jadi takut untuk tidur. Aku juga tidak bisa melakukan apapun untuk menolong kakak.” Rachel terengah-engah. Nafasnya memburu mengingat masa-masa awal kakaknya menghilang. Dia mengalami depresi berat dan mulai insomnia.
“Lalu aku mulai mengumpulkan bukti dan fakta yang berkaitan dengan kasus itu. Sedikit demi sedikit, sampai tak terasa jadi sebanyak ini. Aku sengaja menempelnya di dinding agar bisa k*****a setiap saat. Karena saat aku memikirkan rencana untuk menemukan kakak, hatiku jadi sedikit lebih lega. Setidaknya aku berusaha, tidak diam saja.”
Zachery memandang Rachel dengan iba. Dia tahu persis bagaimana perasaan itu. Rasa putus asa karena tak bisa melakukan apapun untuk orang yang sangat kita sayangi. Perasaan takut dan khawatir karena tak tahu kabar dan keadaan orang terkasih kita.
Rachel mengusap pipinya yang basah. Dia tidak ingin cengeng lagi. Sekarang saatnya menjadi kuat. Demi kakaknya. Rachel mengeluarkan kardus besar berisi salinan semua kertas yang dia tempel di dinding. Dia selalu membuat salinan untuk semua temuannya, karena yang menempel di dinding pasti akan lebih mudah rusak.
“Ini, bacalah baik-baik, barangkali ada hal yang belum kamu ketahui. Ini ku kumpulkan setahun ini. Aku juga menyewa detektif kenalan ayah. Jadi ada beberapa info yang tidak di release di media.”
Zachery membuka kardus besar berisi tumpukan map itu. Setiap map berisi berlembar-lembar dokumen. Semua tersusun rapi dan pisahkan sesuai kategori. Zach membuka map yang bertuliskan investigasi detektif. Karena map yang lain dia yakin dia sudah mengetahui isinya.
Dia membaca setiap lembar kertas dalam map itu dengan teliti. Catatan awal berisi kronologi penemuan fakta kalau penghuni asrama itu menghilang. Hari senin, seorang satpam yang merasa curiga karena dari pagi tidak ada anak yang keluar masuk asrama melapor kepada salah satu guru pada pukul 2 siang. Dan beberapa staf sekolah beserta satpam memeriksa asrama pada pukul 3. Saat itu, tidak di temukan satu orang pun di asrama.
Semua orang mencari ke segala penjuru dan ke beberapa gedung sekolah namun mereka tidak ditemukan dimanapun. Keadaan asrama terlihat baik-baik saja. Tidak ada bekas perkelahian atau tindak kekerasan.
Pada pukul 5, pihak sekolah memutuskan untuk menghubungi polisi dan menyerahkan pencarian sepenuhnya pada polisi. Dari sini, polisi mulai melakukan investigasi. Melakukan melakukan pencarian di area sekolah dan sekitarnya. Mereka juga menginterogasi semua orang yang berhubungan dengan kelima korban.
Dari investigasi itu di temukan fakta bahwa, sejak sabtu sore, tidak ada orang yang melihat 5 anak penghuni asrama itu. Orang terakhir yang melihat mereka adalah satpam sekolah yang melihat 2 anak laki-laki dan perempuan penghuni asrama itu yang kembali dari minimarket. Setelah itu, mereka tidak terlihat keluar dari gerbang sekolah. Mengingat sekoalh dan asrama berada dalam satu wilayah dan semuanya berpagar pembatas cukup tinggi. Satu-satunya akses keluar masuk adalah gerbang depan sekolah. Jadi dengan kata lain, SEHARUSNYA mereka masih berada di dalam wilayah sekolah.
Dan orang terakhir yang bicara dengan mereka adalah guru matematika yang berbicara dengan Raymond Nadeanpada sabtu sore. Pembicaraannya tentang olimpiade yang akan berlangsung sebulan lagi. Penjaga kantin yang membungkuskan makanan untuk Saga dan Mikayla pada sabtu sore. Dan Penjaga minimarket yang berbicara dengan fagan dan Diana pada sabtu sore. Setelah itu, tidak ada orang yang melihat mereka.
Catatan awal ini berisi persis sama dengan laporan dari polisi yang dia dapatkan. Tidak ada hal baru yang belum dia ketahui. Zachery membuka lembar berikutnya. Berisi riwayat penggunaan telepon seluler korban.
- Catatan penggunaan ponsel Raymond, terakhir terekam dalam telepon dengan Rachel hari sabtu pukul 8.
- Catatan penggunaan ponsel Mikayla, terakhir telepon dengan Saga hari sabtu pukul 6.
- Catatan penggunaan ponsel Saga, terakhir telepon dengan Mikayla hari sabtu pukul 6.
- Catatan penggunaan ponsel Diana, terakhir melakukan chat via w******p dengan amelia, teman satu kelasnya pada pukul 8.
- Catatan penggunaan ponsel Fagan, terakhir melakukan posting foto di sosial media dan berbalas komentar pada pukul 7.
Zachery memandang nama adiknya lama. Hatinya kembali terasa di remas-remas. Dia ingat, saat menerima laporan penggunaan ponsel adiknya dari polisi. Zach langsung mencari anak bernama amelia itu dan menanyainya dengan penuh emosi. Hasilnya, gadis bernama amelia itu menangis ketakutan dan Zachery harus di amankan polisi.
Zachery berhenti membaca. Kepalanya terasa pusing. “Sejauh ini tidak ada yang baru. Semua sama dengan laporan dari polisi yang aku terima.”
Rachel meminta map itu dan membuka beberapa lembar, lalu menyerahkannya kembali ke Zachery. “Baca bagian ini.”
Zachery memandang Rachel bertanya, namun kemudian dengan patuh membaca bagian yang disodorkan Rachel padanya. Isinya alasan penutupan kasus hilangnya penghuni asrama. Zachery tersentak membaca kalimat awal di kertas itu. Penutupan kasus? Bukankah laporan dari polisi kasus hanya berjalan lambat karena kurangnya petunjuk dan bukti dalam kasus ini?
“Apa ini Rachel?” Zachery menatap nanar pada lebaran yang ada di tangannya
“Baca saja dulu.”
Zachery kembali fokus pada kertas-kertas itu. Kasus hilangnya anak-anak penghuni asrama Red Orchid di tutup dengan alasan pihak sekolah yang memintanya. Pihak sekolah akan bertanggung jawab penuh pada pencarian ke empat korban yang belum ditemukan. Dan selama periode itu, polisi diminta tidak mencampuri proses pencarian, namun juga tidak membuka pada publik kalau kasus ditutup.
“Omong kosong apa ini?” Zachery terlihat emosi.
“Menyebalkan bukan? Laporan itu yang membuatku memutuskan masuk ke asrama Red Orchid. Seenaknya saja mereka menutup kasus begitu saja. Mereka pikir apa nyawa 4 orang yang masih belum ditemukan. Bahkan anak yang kembali pun keadaannya seperti itu.”
Rachel dan Zachery sama-sama terbakar emosi. Nyawa orang yang begitu penting bagi mereka. Hanya dipandang sebelah mata oleh pihak sekolah Red Orchid. Dengan mudahnya mereka menutup kasus dan meminta polisi tidak ikut campur. Sebenarnya apa yang sedang mereka rencana kan? Bahkan sudah satu tahun berlalu dan tidak ada perkembangan apapun. Sudah sangat jelas mereka tidak benar-benar mencari 4 anak yang belum ditemukan itu.
Zachery menutup map yang sudah selesai dibacanya. Amarah masih menguasai dirinya. Sekarang dia rasanya sangat benci dengan semua orang di SMA Red Orchid. Mereka yang menganggap enteng keselamatan siswanya yang belum ditemukan. Tidak bisa di maafkan.
“Sekarang tujuanku bertambah satu.” Zachery berbicara tanpa menatap Rachel. Berbicara lebih kepada dirinya sendiri. “Aku akan membuat orang-orang yang terlibat dengan kasus ini masuk penjara dan mendapat hukuman yang setimpal. Tega-teganya mereka menyepelekan keselamatan adikku. Adiku yang sangat manis itu....”
Rachel menepuk bahu Zachery. Menyadarkan pemuda itu dari amarahnya yang meledak ledak. “Kita lakukan bersama-sama.”
Zachery mengangguk. Dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut. “Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa mendapatkan informasi ini? Aku juga menyewa detektif, tapi mereka tidak mendapat info seperti ini. Semua yang didapatkan hanya informasi yang umum diketahui orang banyak saja.”
“Kamu tahu siapa ayahku kan? Dia memang bukan pejabat namun dia punya cukup pengaruh disini. Dan detektif kenalan ayah ini juga bukan orang sembarangan. Tentu saja dia bisa mendapatkan informasi yang tidak bisa didapatkan orang lain.” Jelas Rachel.
Zachery termenung. “Kekuatan kekuasaan memang luar biasa ya.”
“Benar. Tapi, bahkan ayahku yang seperti itu pun, masih tidak mampu menggali informasi lebih dalam lagi. Entah sebesar apa kekuasaan orang yang kita hadapi ini.” Rachel menerawang jauh. Teringat pada kata-kata ayahnya.
Mereka berdua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing masing, sibuk dengan kekhawatiran masing masing. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Baiklah. Kita kesampingkan ini dulu. Sekarang fokus pada ujian yang sudah di depan mata. Akan sia-sia semua usaha kita kalau kita tidak terpilih menjadi penghuni asrama.”
Rachel mengangguk mengerti. “Sekarang ajari aku matematika!” Rachel kembali menyeret Zachery. Kali ini untuk kembali ke ruang tamu. Buku-bukunya masih tertinggal disana.
“Baiklah-baiklah. Tak usah menarikku. Aku bisa berjalan sendiri.”
******
Malam itu terasa begitu lengang. Terutama di SMA Red Orchid yang sudah tutup sedari tadi. Hanya tinggal 4 orang satpam yang berjaga. Sejak kejadian setahun lalu. Jumlah satpam yang dulunya hanya ada 2 sekarang ditambah menjadi 4 orang. Dan mereka harus berkeliling bergilir setiap jam nya. Seluruh sekolah juga dibuat terang benderang dengan menghidupkan lampu dimalam hari. Biasanya lampu hanya di hidupkan bila ada kelas malam saja, begitu kelas selesai, lampu juga segera dimatikan.
Karena masih tahun ajaran baru, belum ada aktivitas diatas jam pelajaran normal. Jadi jam 4 sore sekolah sudah ditutup dan dipastikan tidak ada orang lagi yang tertinggal di dalam. Dan juga tidak mengijinkan orang luar untuk masuk ke area sekolah. Keamanan menjadi lebih ketat sekarang. Pihak sekolah tidak ingin kejadian tahun lalu terulang kembali.
“Hei slamet, giliranmu yang keliling sekolah. Jangan lupa bawa bohlam baru, tadi pas aku nyalain lampu kelas 1A, lampunya mati, nggak mau nyala.” Salah seorang satpam memberi istruksi kepada koleganya agar mulai berpatroli. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
“Iya.” Jawab Slamet singkat. Dia mengambil bohlam di tempat penyimpanan dan mulai berkeliling area sekolah dengan bermodalkan senter besar dan pentungan yang tergantung di pinggang. Untuk berjaga-jaga.
Slamet memakai senternya untuk menerangi jalan. Dan memeriksa setiap bagian di aera sekolahan itu. Bagian depan tampak lengang seperti biasa. Dia beranjak ke gedung depan. Area kantor guru. Dia tidak masuk karena semua pintu sudah dikunci dan hanya melihat-lihat melalui jendela. Memeriksa setiap bagian ruang dengan senternya.
Sebenarnya dia merasa patroli itu sia-sia. Karena semua pintu sudah dikunci dan semua ruangan sudah diperiksa tadi saat sekolah ditutup. Jadi, untuk berpatroli setiap jam seperti ini, agak berlebihan menurutnya. Tapi, jika mengingat ada anak yang hilang setahun lalu. Memang waspada lebih baik bagi mereka.
Sekarang dia beralih ke ruang-ruang kelas. Slamet ingat dia harus mengganti bohlam kelas 1A. Dia mempercepat langkahnya. Dia hanya menyenteri deretan kelas-kelas itu sambil lalu. “Toh nggak akan ada apa-apa.” Pikirnya.
Namun, langkahnya terhenti seketika saat cahaya senternya menangkap siluet sesosok manusia di dalam ruang kelas yang gelap. Ya, ruang kelas 1A. Ruang yang lampunya bermasalah dan harus diganti.
Slamet mengucek matanya dan kembali mengarahkan cahaya senternya ke kelas 1A. Dia tadi menangkap sesosok bayangan yang berdiri di dekat jendela. Namun sosok itu sudah tak ada disana saat Slamet kembali mencari. Slamet mengedarkan cahaya senternya ke seluruh penjuru ruangan. Dan dia kembali menangkap sesosok bayangan di pojok ruangan.
Tanpa menunggu lama, Slamet langsung berlari menuju pintu kelas 1A dan bergegas membukanya. Namun pintu itu dalam keadaan terkunci. Memang tadi semua pintu sudah dikunci dan seharusnya tidak ada siapapun lagi didalam sana.
Slamet merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan segepok kunci ruangan-ruangan di sekolah itu. Dengan mudah Slamet menemukan kunci untuk kelas 1A, dan segera membuka kelas itu.
Ceklek..
Bunyi kunci terbuka itu terdengar nyaring membahana di tengah ruangan yang sunyi senyap. Slamet menyiapkan pentungannya sebelum membuka pintu. Karena tidak akan ada orang dengan maksud baik yang berkeliaran di sekolah malam-malam begini dengan sangat mencurigakan seperti itu.
Slamet membuka pintu lebar-lebar dan mengarahkan senter ke segala penjuru. Tangan yang satunya lagi memegang pentungan dengan posisi siap memukul. Namun, tidak ada siapapun di ruangan itu. Kosong.
Slamet mengedarkan senternya sekali lagi. Kali ini lebih lambat dan lebih teliti. Namun ruangan itu benar-benar kosong. Tidak ada siapapun di dalam sana. Detak jantung satpam itu mulai memburu, karena jelas tadi dia menangkap ada siluet orang di kelas itu.
Slamet menekan rasa takutnya dan masuk ke dalam kelas itu perlahan. Dia kembali mengedarkan senternya ke seluruh bagian ruangan. Namun ruangan itu benar-benat kosong. Tidak ada siapapun.
Slamet bergegas ke tengah ruangan dan naik ke meja tepat di bawah lampu. Segera mengganti lampunya agar ruangan itu menjadi terang kembali. Tak perlu waktu lama, kelas menjadi terang benderang. Slamet kembali melihat sekeliling ruangan. Kosong. Tidak ada siapapun.
Slamet menghela nafas dan segera keluar ruang kelas 1A dan kembali mengunci pintunya. “Mungkin aku salah lihat tadi ya...” Pikir Slamet.
Pak satpam itu kembali melanjutkan patrolinya ke semua area sekolah. Tidak ada yang janggal. Semua aman terkendali. Lalu dia kembali menuju pos satpam yang terletak di area depan sekolah. Dia sekali lagi melongok ke dalam kelas 1A saat dia melewati kelas itu. Dan memang kosong tidak ada siapa-siapa. Benar, mungkin dia memang cuma salah lihat.
*******
-to be continue-