Chapter 7

1902 Words
            Hari ini adalah hari ujian penentuan siapa saja yang terpilih menjadi penghuni asrama Red Orchid. Ujian akan terdiri dari ujian tertulis untuk semua mata pelajaran. Ujian praktik untuk tes kepribadian, seni, olahraga dan life skill.             Semua dilakukan dalam satu hari. Jadi hari ini, anak-anak akan berada di sekolah dari pagi sampai jam 8 malam. Full ujian. Tentu saja semua itu disengaja. Karena dengan cara seperti itu, pihak sekolah tidak hanya akan mengetahui ketahanan tubuh siswa, juga bisa mengetahui bagaimana kemampuan mereka untuk bisa berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Dan dalam berbagai keadaan.             Semua siswa duduk dengan tenang di kursi masing masing. Ada 4 penjaga ujian di masing-masing ruang kelas. Tingkat kesulitan soal ujian juga luar biasa. Tentu saja, semua di persulit mengingat benefit yang akan mereka dapatkan bila mereka berhasil lolos menjadi penghuni asrama.             Riinggggg             Terdengar suara bel berbunyi tanda ujian jam pertama sudah selesai. Anak-anak diminta mengumpulkan kertas ujian. Banyak sekali suara desahan tak puas dari anak-anak itu.             “Istirahat 15 menit sebelum kita mulai ujian selanjutnya.” Ucap salah seorang penjaga ujian di kelas 1A.             “Baik.” Jawab semua siswa serempak.             Banyak yang segera mengeluarkan buku untuk belajar. Ada juga yang memilih ke kantin untuk kembali mengisi energi yang terkuras habis untuk mengerjakan soal-soal ujian tadi.             “Bagaimana hasilnya?” Tanya Zachery pada Rachel yang sedang membuka kotak bekalnya. Rachel sengaja menyiapkan bekal agar dia tak perlu bolak-balik ke kantin saat dia lapar. Lebih efisien. Mengingat jadwal ujian yang gila-gilaan.             “Sejauh ini bisa ku kerjakan dengan mudah.” Rachel memakan potongan buah apel yang dibawanya. Dia memang lebih suka buah sebagai camilan daripada makanan berminyak. Tidak sehat.             Zachery mengangkat sebelah alisnya. “Kalau kamu bilang soal-soal tadi masuk dalam kategori mudah berarti aku memang harus mengakui kepintaranmu.” Zachery tersenyum tipis. “Lihat teman-teman sekelas yang wajahnya kusut masai setelah mengerjakan ujian tadi.”             Rachel melihat ke sekeliling kelas. Dan memang benar teman-temannya terlihat kusut. Dari tadi Rachel fokus pada soal-soal ujian dan tak melihat sekitarnya. Jadi dia tak begitu tahu. Padahal ini kelas A. Kelas unggulan. Yang notabene berisi siswa siswa terpintar di tingkat 1. Namun, mereka pun mengalami kesulitan.             “Kan sudah ku bilang aku tidak bodoh. Aku hanya bukan penggila matematika seperti kakak.” Rachel kembali menggigit potongan apel miliknya.             Zachery tergugu mendengar penuturan Rachel. “Tidak bodoh dengan sangat pintar itu berbeda Rachel. Melihat kemampuanmu mengerjakan soal-soal tadi, kamu sudah masuk kategori jenius.”             “Whatever. Aku hanya ingin lulus dan segera masuk ke asrama.” Ucap Rachel acuh.             Zachery mengangguk setuju dan ikut mengambil apel di kotak bekal Rachel. “Dari tadi aku menunggumu menawari apel padaku. Karena tawaran tak kunjung datang, aku ambil saja tanpa permisi.”             Rachel melirik Zach sekilas. Tak peduli dengan apa yang dikatakan pemuda itu. “Sudah sana kembali ke tempatmu. Sebentar lagi ujian kedua dimulai.”             Zachery beranjak dari duduknya. Dia tahu Rachel sebenarnya sedikit tegang. “Tenanglah, kamu pasti bisa.” Ucap Zachery penuh senyum. Sengaja menenangkan Rachel dari ketegangannya.             Rachel mengangguk berterima kasih pada Zachery yang selalu mendukungnya. DIa benar-benar merasa bersyukur memiliki Zach di sampingnya.             Ujian kedua dimulai. Semua siswa kembali tenang dan mengerjakan dengan serius. Semua terus berlanjut ke serangkaian ujian hari itu. Semua dilakukan dengan teliti namun cepat. Dan hasil ujian akan langsung diumumkan besok.             Rachel tampak melewati semua rangkaian ujian dengan baik. Dia tak tampak mengalami kesulitan yang berarti. Begitupu bagi Zachery yang punya persiapan matang untuk ujian ini. Lagipula, dia sudah pernah mempelajari semua itu dulu.             Tinggal besok. Penentuan siapa yang akan lolos menjadi penghuni asrama. Dan bagi Rachel dan Zachery, besok adalah penentuan kelanjutan pencarian mereka. Pencarian bukti dan fakta tentang hilangnya orang-orang terkasih mereka.                                                                             *******               “Bagaimana ujiannya tadi tuan muda?” Tanya Vincent begitu tuan mudanya sampai dirumah. Rumah besar itu hanya ditinggali tuan mudanya sendiri. Karena memang ini rumah pribadinya. Bukan rumah milik keluarga.             Tuan muda itu sudah dimanjakan sedari kecil. Dia adalah anak tunggal dari keluarga terpandang. Tentu saja semua hal yang dia inginkan akan dengan mudah didapatkannya. Termasuk rumah ini. Dia menginginkan rumah pribadi, dan dalam hitungan hari, rumah megah itu sudah dihadiahkan padanya. Padahal umurnya waktu itu baru 13 tahun. Terlalu berlebihan sebenarnya untuk tinggal di rumah sendiri terpisah dengan orang tuanya.             “Apanya yang bagaimana.” Tuan muda itu melepas seragamnya dengan segera dan melemparkannya ke sembarang arah. “Aku sudah dipaksa belajar selama setahun penuh. Tentu saja aku bisa mengerjakannya dengan mudah.”             Vincent mengangguk mengerti dan memunguti seragam yang berserak begitu saja di lantai. Dia sudah terbiasa dengan kelakuan tuan mudanya. “Air mandi sudah saya siapkan tuan muda. Untuk makan malam bagaimana? Menu apa yang tuan inginkan?”             Tuan muda itu menyambar handuk yang tertata rapi di rak di depan kamar mandinya, lalu melilitkannya ke tubuhnya. “Tidak perlu menyiapkan makan malam. Aku ada janji makan diluar. Siapkan saja mobilku.”             Sekali lagi Vincent mengangguk mengerti. “Baik tuan muda.”             Tuan muda itu berlalu masuk ke kamar mandi. Dia menenggelamkan dirinya ke dalam bath up. Menyisakan kepalanya saja yang bersandar di pinggir bath up. Matanya terpejam. Anak muda itu terlihat lelah. Kepayahan.             Potongan-potongan ingatan terlintas di benaknya. Ingatan yang mati-matian di lupakannya.             “Darah!!”             “Darah!!”             “Kamu membunuhnya!!”             “Pembunuh!!!!”             “PEMBUNUH!!!!”             Suara perempuan itu terus teriang di telinganya. Ingatan yang setahun ini ingin dia lupakan. Ingatan yang selalu mengejarnya kemanapun dia bersembunyi, kemanapun dia berlari.             “Sialan!!” Tuan muda itu berteriak frustasi. Dia segera menyelesaikan mandinya dan bergegas berpakaian. Dia tidak betah berada di tempat yang sunyi. Dia selalu bersembunyi di keramaian. Dimana dia tidak perlu mendengar suara-suara menyebalkan itu. Dimana dia bisa berfokus pada kesenangan.             Tuan muda itu menyambar kunci mobil yang sudah disiapkan pelayannya. Dia segera pergi keluar rumah. “Aku tidak akan pulang. Tak perlu menungguku.”             “Baik.” Jawab Vincent patuh. Ini sudah kesekian kalinya tuan mudanya menghabiskan malam di luar. Dia sangat menyayangkan hal itu. Vincent selalu mendapat laporan dari para bodyguard yang mengikuti tuan mudanya kemanapun, bahwa tuan mudanya selalu menghabiskan malam di bar lalu berpindah ke hotel bersama wanita.             Namun Vincent juga tak bisa melakukan apapun. Dia hanyalah pelayan. Tugasnya hanya melayani kebutuhan tuannya. Dia tidak punya hak untuk berbicara apalagi menasehati tuannya. Meski tuannya itu sudah mengambil jalan yang salah... Yang dia bisa hanya melayaninya dan menutupi semua perbuatannya.                                                                                         ******               Hari penentuan akhirnya tiba. Papan pengumuman besar di depan gedung sekolah penuh oleh kerumunan anak-anak yang ingin melihat hasil ujian kemarin. Ada 5 nama siswa yang dicetak dengan ukuran besar sebagai peserta yang lolos  ujian dan berhak memasuki Red Orchid Dormitory.             Tertera dengan huruf yang besar-besar nama-nama anak yang terpilih : 1.      Dylan – kelas 1A 2.      Juro Nicodeme – kelas 1D 3.      Zachery White – kelas 1A 4.      Rachel Nadean – kelas 1A 5.      Nina Arina – kelas 1A               Zachery tampak terkejut dengan hasilnya. Tidak hanya semua yang lolos berasal dari kelas 1. Tapi juga ada yang dari kelas 1D yang notabene kelas dengan grade terendah. Sungguh hasil yang diluar dugaan.             “Kok bisa semuanya dari kelas 1?” Rachel mempunyai pikiran yang sama dengan Zachery.             “Mana kutahu.” Jawab Zachery acuh. Dia lebih sibuk melihat-lihat sekelilingnya. Hanya ada 1 orang yang belum di kenalnya dari daftar itu. Juro. Seperti apa anaknya? Dan bagaimana bisa anak yang berasal dari kelas D bisa sampai lolos ujian? Apa dulu saat tes masuk sekolah dia tidak mengerjakannya dengan maksimal? Hemm, bisa saja kan.             “Berarti nanti sepulang sekolah kita berkumpul di aula untuk pembekalan lebih lanjut kan?” Tanya Rachel. Dia tidak terlihat senang. Karena dia sudah memprediksi dia pasti bisa lolos. Dan bisa masuk asrama itu bukan berita menggembirakan baginya. Karena artinya, sekarang saatnya bekerja keras mencari petunjuk tentang kakaknya.             “Ya.” Jawab Zach masih tak konsentrasi dengan obrolannya. Dan Rachel menyadari hal itu. Ditepuknya pundak Zachery dengan cukup keras.             “Dengerin dong kalo orang ngomong.” Rachel memasang wajah cemberut yang terlihat sangat menggemaskan bagi Zachery.             “Iya adik manis.” Zachery mencubit pipi Rachel dengan gemas.. “Ayo ke kelas dulu. Sebentar lagi pelajaran dimulai.”                                                                                                     ******             “Selamat kepada kalian berlima yang berhasil melewati ujian untuk menjadi siswa terpilih yang berhak menghuni asrama Red Orchid dan mendapatkan semua benefitnya.” Kata-kata pembuka itu diucapkan oleh kepala sekolah pada 5 anak yang sudah berkumpul di aula seusai jam pelajaran terakhir. Ada beberapa guru dan staf sekolah yang juga berada disana untuk menjelaskan semua teknis kepada 5 anak tersebut.             “Saya tidak akan panjang lebar. Saya ucapkan selamat datang di asrama. Pergunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Karena setiap tahun akan diadkan ujian ulang. Jika nilai kalian turun dari posisi 5 teratas. Otomatis kalian akan digantikan oleh orang lain. Jadi, selamat bekerja keras.”             Rachel memandang kepala sekolah dengan tatapan benci yang sangat kentara. Zachery yang menyadari itu langsung mencubit pinggang Rachel diam-diam. “Jangan seperti itu.” Bisik Zachery. Rachel akhirnya berhenti memandang penuh kebencian pada kepala sekolah dan memilih menatap lantai. Menekan perasaan marah yang meluap-luap di dadanya.             Rachel sangat yakin. Kepala sekolah pasti punya andil dalam penutupan kasus pencarian keempat korban hilang. Karenanya Rachel jadi sangat membencinya.             “Untuk selanjutkan akan disampaikan oleh pak abraham yang saya tunjuk sebagai penanggung jawab asrama. Silahkan pak Abraham. Dan sekalian, saya undur diri karena masih ada rapat yang harus saya hadiri.” Kepala sekolah itu mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan aula.             “Baiklah, saya akan mengambil alih dari sini.” Pak Abraham mulai berbicara. “Jadi kalian akan mulai masuk ke asrama dua hari dari sekarang. Yang perlu kalian siapkan dari rumah adalah baju, buku-buku, dan barang-barang pribadi milik kalian. Untuk keperluan yang lain sudah disiapkan oleh pihak yayasan.”             “Kalian akan mendapatkan makan 3 kali sehari, uang saku yang cukup besar setiap minggunya, dan fasilitas lengkap yang bebas kalian gunakan di asrama. Ah, dan yang paling penting. Setiap ruangan di asrama di lengkapi dengan cctv, kecuali kamar tidur dan kamar mandi. Jadi bijaklah dalam bersikap. Fungsi cctv itu adalah untuk memantau keseharian kalian. Sudah tahu kan? Perilaku kalian juga dinilai setiap hari.”             Kelima anak itu mengangguk mengerti mendengar penuturan pak Abraham. Semua tampak tenang. Menunggu pak Abraham melanjutkan penjelasannya.             “Dan kewajiban kalian sebagai penghuni asrama adalah... Belajar! Pelajaran sekolah dan ekstrakurikuler rata-rata akan selesai jam 5. Setelah itu, kalian diberi waktu beristirahat. Jam 7, kalian akan mulai mendapat pelajaran tambahan. Pelajaran tambahan akan disesuaikan dengan minat kalian, jadi malam ini pikirkanlah hal apa yang paling kalian ingin pelajari, karena besok kalian harus sudah punya jawaban.”             “Minatnya bebas, bisa bisnis, musik, hukum, atau hal apapun yang memang menarik minat kalian, kami akan mendapangkan ahlinya untuk mengajari kalian secara langsung. Jadi, masa depan kalian ditata dari sini.”             Nina terlihat antusias mendengar penjelasan pak Abraham. Dan Nina juga yang terlihat paling normal diantara 4 anak yang lain. 4 anak yang lain terlihat terlalu diam. Seakan pikiran mereka sedang tak berada disini.             “Baiklah. Selanjutnya dua staf yang ada disini akan bertanggung jawab pada persediaan dan fasilitas yang ada diasrama. Jika ada barang yang habis atau benda yang tidak berfungsi dengan baik. Laporkan pada mereka ya.”             “Baik pak.” Jawab anak-anak itu serempak.             “Dan dua guru ini akan bertugas sebagai pengajar kepribadian dan leadership. DUa keterampilan yang akan sangat kalian perlukan jika kalian terjun ke masyarakat nanti. Dan saya, yang memegang tanggung jawab penuh pada kalian selama kalian tinggal di asrama. Jangan jangan sungkan untuk berbincang dengan saya. Apapun itu.”             “Iya pak.”             “Satu hal lagi. Kalian tetap libur pada hari minggu seperti murid lain. Jadi selama hari minggu, dari pagi sampai senin pagi esoknya, kalian bebas. Kalian juga bisa pulang ke rumah. Dan menghabiskan akhir pekan dengan keluarga. Jika tidak ingin pulang dan ingin tetap tinggal di asrama pun tak masalah. Yang jelas kalian bebas di hari minggu. Sekian penjelasannya. Kalian boleh pulang.”             Semua orang langsung beranjak dari duduknya dan bergegas pulang. Karena hari sudah mulai gelap.             Rachel dan Zachery berjalan beriringan. Mereka tidak berbincang. Hanya mata mereka yang saling bicara. Babak baru dalam pencarian mereka segera dimulai....                                                                         ******* -to be continue-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD