Hari Senin, dan selalu menjadi momok menakutkan untuk membuat orang menjadi malas. Tidak denganku, mengapa? Sebab semakin malas, semakin pula aku mengingat Mas Gayuh yang istrinya baru saja melahirkan anak kedua. Aku tahu dari temanku SMK. Sudah semakin tua tapi masih saja menjadi stalker handal.
Ini tahun 2027 dan aku tengah berjalan di sekitar jalan Asia Afrika, baru bertemu dengan seorang penulis, anak remaja yang jika ingin membahas tulisan harus di luar kantor. Senang-senang saja, aku memang mudah bosan di kantor akhir-akhir ini.
Kota Bandung seperti Yogyakarta, memaksa pengunjungnya untuk berjalan kaki. Bukan karena kendaraan umum tak banyak, tapi sayang, suasana Bandung dan Yogyakarta akan terlewat jika dinikmati dengan kendaraan terlalu lama. Apalagi hanya untuk jarak dekat. Tapi sayangnya, Yogyakarta menyimpan luka.
Kling... Saling mengucap salam.
“Teh Dara, meetingnya sudah selesai belum? Ada tamu, tentara, ganteng,” kata rekan kerjaku, namanya Hasna.
Menghela napas panjang.
“Kenapa, Teh? Waktu istirahatnya keganggu?”
Semua tim editor memang paham betul bahwa kerjaanku hanya membaca, koreksi dan meeting. Mana ada waktu istirahat? Ya, ada sebenarnya, tapi lebih sering kugunakan untuk menulis atau membaca ceritaku sendiri.
“Iya, sedikit. Tapi siapa? Penulis baru?” tanyaku.
“Emang tentara ada waktu nulis ya, Teh?”
“Ya, siapa tahu sambil jaga perbatasan,” candaku berlari mengejar kendaraan umum.
“Yaelah, baru bikin prolog udah ketembak musuh. Aya-aya wae Teteh mah.”
Aku tertawa. “Bilang tunggu sebentar, lagi otw. Kalau nggak sanggup nunggu, kasih saja nomor saya. Eh, tapi tanya dulu siapa namanya terus kasih tahu saya, ya?”
“Siap, Teh. Assalamualaikum.” Telepon tertutup.
Perjalanan memakan waktu 30 menit, masa bodoh jika tamuku akhirnya tidak mau menunggu. Memang keadaan Bandung semacam ini, apa mau dikata. Lagi pula ada urusan apa tentara ingin menemuiku? Kalau polisi mungkin teman kosku.
Sampai di depan kantor, aku mendapati seorang tentara yang tak asing lagi bagiku. Kulit yang masih sama hitamnya, potongan rambut cepak tak ada beda, badan yang sepertinya semakin kekar, dan baret hijau di tangan kirinya. Ya Tuhan, lama sekali tidak bertemu dengannya, terakhir tahun 2019. Itu artinya, 8 tahun yang lalu dan dia sudah segagah ini.
“Fikri,” panggilku mendekat perlahan.
“Eh, Mbak.” Memasukan lagi ponsel ke dalam saku seragamnya.
“Ya Allah, Mbak nggak nyangka kamu jadi tentara sekeren ini sekarang.” Memutar badannya, bak model.
Fikri tersenyum. “Bisa punya mimpi sehebat ini karena tulisan-tulisan Mbak Dara.”
“Ah, kamu.”
“Masih cantik aja, Mbak.”
“Ah, Mbakmu ini sudah tua. Dua bulan lagi 30 tahun.”
“Nggak kelihatan kok, Mbak. Masih kaya 19 tahun,” pujinya.
“Eh, eh, ini keriput nih muncul di bawah mata.”
“Itu mah kantung mata!”
“He he he. Eh, Mbak masuk dulu, ya? Naruh barang, habis ini Mbak ajak keluar deh.”
“Siap!” Dia masih setegas dulu.
Masuk ke dalam dan langsung disambut beberapa rekan editor. Jangan kira mereka saja yang kepo, satpam saja ikut kepo.
“Pacar, Teh? Akrab banget,” tanya Hasna.
Aku menoleh ke pintu keluar. “Adik.”
“Yah, kirain pacar. Kalau pacar, kita semua mau syukuran gitu lho!” ujar Wawan, editor paling junior.
“Sudah bukan waktunya pacaran. Eh, itu tadi berkas dari penulisnya, biodata sudah diperbaiki, coba nanti diskusikan lagi sama tim multimedia soal cover, ya?” pesanku.
“Siap, Teh. Pacaran lah, Teh. Sudah menjelang 30 tahun nih, mau kaya artis Korea nikahnya 30-40 tahun?” kata Hasna.
“Iya, Teh. Teh Hasna aja anaknya sudah nambah,” celetuk Wawan.
“Kalau jodoh itu mau ke mana aja juga ngikut. Tenang lah, Allah Swt. sudah atur semunya.”
Jika kalian ingin tahu, aku tak sungguh-sungguh sudah move on dari Mas Gayuh. Setiap hariku di Bandung adalah penyesalan. Bahkan meski dia sekarang sudah melupakanku, sudah bahagia dengan istri dan anak-anaknya.
Kafe depan kantor menjadi tempatku dan Fikri berbagi cerita. Dia terdengar sangat bahagia dengan pangkat, seragam, dan tugasnya. Bangga sekali, terlebih dia tak melupakanku.
“Iya, Mbak. Sebenarnya sejak lulus infanteri langsung ditugaskan di Bandung, Mbak. Pengen banget langsung nemuin Mbak Dara juga setelah pelantikan. Tapi aku nggak tahu gimana caranya menghubungi Mbak Dara. Pernah DM di i********: tapi sepertinya tidak ke baca. Akhirnya aku ketemu sama Mas Ari, nggak sengaja di Senayan.”
“Oh, Ari. Eh, tapi kok langsung tahu Ari? Dia kan sejak lulus SMK sudah merantau.”
“Nggak sengaja, Mbak. Jadi pas ramai-ramainya grup Patriakara Lintas Generasi. Aku lagi makan di warung kecil banget gitu di daerah Senayan, habis acara apel di GBK. Ada orang di sebelahku, ponselnya bunyi barengan terus. Eh, tiba-tiba dia merebut ponselku, terus dia antusias banget bilang kalau dia juga alumni Patriakara. Konyol, ya? Berhubungan terus di grup tapi nggak tahu dia siapa dan yang mana. Ha ha ha. Mbak Dara juga nggak masuk grup.”
“Ha ha ha. Oh iya, ponselku sempat hilang, nggak dimasukan lagi ke grup.”
Fikri mengangguk-angguk.
Akhirnya aku memang jauh dari semua anak Patriakara. Selain karena ponselku hilang di Yogyakarta waktu itu, juga karena aku terlalu sibuk untuk urusan duniaku.
“Mbak Dara, em, maaf, belum menikah ternyata?” tanyanya menghentikan tawaku.
Hanya senyum segaris.
“Aku bodoh banget, pas apel di GBK itu ketemu sama Mas Gayuh. Aku sapa, aku tanya, ‘Mbak Dara apa kabar, Mas?’ dan dia cuma kaya senyum aja. Eh, pas aku ketemu Mas Ari habis itu. Mas Ari bilang Mbak Dara belum nikah sampai sekarang.”
Sekali lagi hanya senyum segaris. Apa aku sangat menyedihkan sekarang?
“Ya, ndak ada yang salah dari perjalanan hidup, Mbak. Semua pasti sudah diatur sama Allah Swt. Mungkin ada doa seseorang yang Allah Swt. kabulkan, jadi Mbak Dara nggak nikah-nikah. He he he.”
Senyumku jadi melebar. “Kurang ajar banget ya, doain aku nggak nikah-nikah.”
“Ha ha ha, namanya cari kesempatan. Terus ada pacar, Mbak?”
Menggeleng. “Udah tua, mana sempat pacaran, Fik?”
“Kalau ada yang lamar mau?”
“Selama dia bisa membimbing, bisa jadi.”
Fikri tersenyum. “Ternyata Allah Swt. masih memberikan satu kesempatan lagi,” gumamnya. “Pokoknya nggak apa-apa, Mbak. Namanya juga hidup, pasti kaya ada patahnya dulu biar bisa bahagia.”
Mengangguk-angguk. “Di saat orang lain selalu memojokanku, kamu datang memberikan semangat, seperti Fikri yang Mbak kenal dulu.”
“Ya gimana, Mbak? Allah Swt. yang berkuasa, bukan mulutku.”
Tersenyum lagi.
Fikri akhirnya menceritakan bahwa dia ingin sekali aku menemui calon istrinya. Dia sudah berpangkat Sertu dan akhir tahun berencana untuk melamar kekasihnya. Sebelum meminta restu pada orang tuanya, dia ingin restu dulu dariku. Sebagai Ibu keduanya dia bilang. Aku senang, masih ada yang mengingatku meski lama tidak bertemu. Tetapi aku merasa semakin menyedihkan karena adik kelas yang umurnya 5 tahun di bawahku sudah berencana menikah sementara aku masih sendiri. Benar, aku egois kala itu.
Allah Swt. ternyata mengujiku dari semua nikmat indah yang Dia berikan. Dia kosongkan hatiku dan begitu pilu. Teguran yang sangat keras padaku sebab selama ini terlalu sibuk dengan impian duniawi.
“Kalau ada waktu aku bawa dia buat nemuin Mbak Dara.”
Aku mengangguk, tapi tiba-tiba teringat Apta.
“Eh, Apta apa kabar, Fik? Masih berhubungan? Ingat betul aku diblokir. Apa pula salahku?”
“Ha ha ha. Udah mati kali, Mbak.”
“Heh! Kamu nih!”
Fikri justru menatapku dengan tatapan aneh. “Allah Swt. pasti siapkan rencana indah, Mbak.”
“Rencana apa coba? Orang nanyain Apta kok sampai ke rencana indah.”
“He he he. Tidak usah memikirkan Apta deh, Mbak. Dia bahagia dan akan sangat bahagia.”
“Sudah menikah pasti ya, semanis apa anaknya nanti.” Membayangkan senyum Apta yang biasanya meneduhkan terik matahari, senyum dengan barisan gigi rapi dengan mata yang sesekali menyipit.
Fikri hanya mengangkat alisnya.