Selamat siang, kembali lagi denganku, Dara Laksmi Sasmita dari lapangan tenis bersama 20 orang anggota Patriakara tahun 2019 di sela waktu istirahat latihan. Kembali lagi dengan rutinitas latihan jelang kejuaran tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kami sedang membicarakan waktu pelaksanaan dan sistem pelaksanaan lomba tahun ini, ada beberapa hal yang berubah.
“Kalian lomba tanggal 9-10 di Provinsi?” tanyaku cukup kaget dan kecewa. Lagi-lagi tidak dapat menyaksikan mereka.
“Iya, Mbak.” Serempak kecuali Apta.
“Kenapa, Mbak?” tanya Nisa.
Menggeleng. “Enggak, Mbak cuma nggak bisa nemenin kalian aja.”
“Lagi?” pekik 3 cewek itu serempak.
Mengangguk.
“Mas Akbar sama Apta lagi masalahnya, Mbak?” tanya Febri.
Menggeleng. “Mbak ada kepentingan lain. Nggak apa-apa, tampilkan yang terbaik saja, ya?”
“Yah, nggak lengkap tanpa Mbak Dara,” keluh mereka lesu.
Aku hanya tersenyum saja, tidak menjelaskan alasanku. Daripada mereka berisik sendiri mendengar kabarku mau tunangan, lebih baik diam jika tak ada yang mendesak jawaban.
“Yok, latihan lagi!” pekik Apta sambil berdiri membersihkan celananya.
Akbar di pojokan lapangan tenis memainkan ATM BRI di tangan kanannya. Iya, katanya dia mau mengajakku pergi membeli sesuatu. Mungkin juga perlengkapan 10 hari mendatang. “Mbak, ayo,” panggil Akbar melambaikan tangan padaku.
“Iya.” Melangkah menjauh dari barisan yang tengah bersiap untuk maju jalan.
“Eh, Mbak. Ini latihannya setengah hari aja, kan? Nanti ikut ya ke rumah Apta. Jangan lama-lama perginya, semua senior juga ikut kok.” Fikri berteriak dari dalam barisan.
Aku melihat ke arah Akbar.
“Iya, nanti nyusul kalau sudah pada berangkat ke sana, share-loc aja,” jawab Akbar.
Fikri hanya mengacungkan jempolnya.
Akbar mengajakku ke toko emas dan toko baju batik sarimbit, dia bilang disuruh Mas Gayuh. Mas Gayuh tidak sempat melakukan itu, dia terlalu sibuk dengan tugasnya. Bahkan lebih sering menghubungiku hanya beberapa kata, hanya mengungkapkan rindu. Lagi pula di usiaku saat ini rasanya pacaran dengan berkirim pesan setiap waktu justru terasa membosankan. Sebab, yang dicari bukan pengingat makan atau orang yang membangunkan tidur. Tetapi lebih pada seseorang yang berniat baik, menjaga, mendukung, dan seseorang yang entah sesibuk apapun, entah sesulit apapun dalam berkomunikasi ia tetap mengingatku.
“Mas Gayuh nggak bilang berapa budget-nya?” tanyaku pelan.
“Ya ada, masa bilang-bilang. Ke sini Mbak tuh cuma harus milih sama ukuran jarinya aja yang pas.”
“Ishhh, gini aja, kamu yang pilih, apapun bebas. Nanti baru dicoba, oke? Aku duduk di sana.”Menunjuk kursi kosong di atas trotoar yang cukup lebar.
“Eh.” Dia sedikit kikuk.
Aku tidak menggubris lagi, langsung pergi dan duduk di kursi kosong sembari menatap puluhan kendaraan bermotor lalu lalang. Dan itu terjadi sangat lama, Akbar pasti bingung, belum lagi dia sampai berulang kali telepon Mas Gayuh, tapi baru sebentar dimatikan lagi.
“Mbak, kaya gini ya?” Menunjukkan cincin kecil dari kejauhan.
Berjalan mendekat, cincin sederhana, tidak aneh-aneh. Aku mencobanya dan pas.
“Ini, Mbak?”
“Sudah ambil aja, keburu pada pulang dari rumah Apta kalau kesorean. Habis ini kan berangkat mereka?” kataku.
Akbar menatapku sinis. “Ngebet banget ya ke rumah Apta?”
Bergantian, aku yang menatapnya sinis saat ini. “Mbak sudah mau tunangan sama kakakmu, masih juga curiga?”
Dia diam dan langsung mengeluarkan ATM-nya lagi.
Melakukan perjalanan lagi di tengah terik matahari. Dari ambil baju sampai ke rumahnya Apta di Mojogedang, sisi utara sedikit ke timur dari pusat Kabupaten Karanganyar.
“Mbak Dara shopping apa nih?” tanya Fadhila sembari menjabat tanganku ketika sampai di rumah Apta.
“Baju,” jawabku menjabat tangan yang lainnya.
“Di-prank google maps lagi nggak, Mbak?” tanya Risa.
“Ha ha ha.”
“Loh ini ada yang datang lagi,” sapa seorang wanita paruh baya, bertubuh kurus dengan kerudung menutup d**a.
“Nggih, Bu. Maaf, ini adik-adik merepotkan,” kataku menjabat tangannya.
“Oh, ndak. Malah senang, semakin ramai rumah Ibu. Eh, ini Mbak siapa?”
“Dara, Bu.”
Dalam beberapa detik Ibunya Apta membulatkan mata, lantas menoleh pada Apta. “Ini to pelatih yang kamu bilang kaya ibunya Patriakara?”
Giliranku menoleh pada Apta, seolah bertanya, seriusan dia bilang begitu? Sekelebat aku juga melirik Akbar, bisa jadi dia berpikir aneh-aneh lagi.
“Nggih,” jawab Apta singkat.
“Apta sering cerita soal Mbak Dara,” kata beliau menepuk lembut punggung telapak tanganku di atas paha.
“Loh iya, Bu?” Ini sedikit takut Akbar akan marah-marah lagi.
“Aku juga sering cerita soal Mbak Dara ke ibu sama bapakku,” sambar Andika menyelamatkanku.
“Sama,” giliran Febri menyahut. “Emang Mbak Dara kaya ibu kita mau gimana lagi, kan?”
“Iya, mamahku aja bilang pengen ketemu Mbak Dara.” Risa juga angkat bicara.
“Oh berarti apa yang dibilang Apta benar adanya,” sahut Ibunya Apta membuat percakapan semakin riuh.
Mulai lagi kami bercengkrama satu sama lain, seperti biasa bercerita kenangan-kenangan indah selama latihan dan lomba. Mulai dari menangis waktu lomba sampai terkentut-kentut di dalam barisan waktu latihan. Semuanya kita bicarakan, tetapi bukan pergibahan.
“Eh, tapi sadar atau tidak, baru kemarin dan besok tanggal 10 kita nggak didampingi Mbak Dara. Rasanya beda, Mbak. Kemarin aja selebrasi nggak ada, sujud syukur doang, pulang. Habisnya semacam ada yang berbeda, Mbak,” celetuk Febri.
“Iya lho. Mas Akbar, izinkan Mbak Dara biar ikut ke Semarang aja to! Nanti Apta biar aku jagain,” katanya membuat Apta melempar biskuit kecil ke arah Risa.
“Kalau Mbak Dara bisa, pasti juga berangkat, Sa. Dia bener-bener nggak bisa, bukan aku ngelarang karena ada Apta!” tekan Akbar. “Aku sendiri juga nggak bisa berangkat.”
Risa langsung menatapku.
“Benar-benar nggak bisa, Risa. Tidak bisa diundur juga kepentingan Mbak yang satu ini.”
“Yahhhh.” Semua berseru serempak kecuali Apta. Apta sibuk dengan ponselnya, entah, mungkin gebetannya yang menghubungi.
“Emang kepentingan apa sih, Mbak? Kok waktunya nggak tepat banget!”
Tersenyum. Kata orang lamaran itu baiknya disembunyikan, sementara pernikahan itu baiknya diumumkan. Aku pun belum mau sesumbar sebab kami pun belum akan menikah dalam waktu yang dekat.
“Ya, memang waktunya tidak tepat, tapi insyaAllah keputusan yang terbaik.”
Semua menghela napas, lagi-lagi kecuali Apta. Dia benar-benar tak lagi mengajakku bicara, tak sehangat dulu lagi.
“Ke Jateng Gayeng harus tampil terbaik lho, ya? Ikhtiarnya dengan latihan yang lebih keras lagi,” titahku.
“Apalah arti tampil terbaik tanpa Mbak Dara. Biasanya di tepi lapangan ada yang bawa kamera sambil tersenyum. Kemarin, boro-boro, lihat muka tegang semua,” sambar Fikri.
“Ha ha ha, ya semua pasti tegang kalau kalian tampil. Nggak apa-apa, nanti habis dari provinsi main ke rumah Mbak Dara,” balasku.
“Seriusan?”
Aku mengangguk.
Hidup memang semacam itu, ada saatnya kita menentukan keputusan di waktu yang salah, tapi bisa jadi itu keputusan yang tidak salah.