Jam 12.58 WIB, aku masih di rumah, jujur terkadang rasa malas itu datang. Mumpung kelas XII juga sedang tidak terlalu sibuk, jadilah aku lebih santai saja. Toh, jam kerjaku asal aku ke sana itu sudah lebih baik. Dosa banget pokoknya hari ini, tapi nikmat. Astaghfirullah.
Masih di dalam kamar, sudah rapi, gincu sudah on sekali, tapi masih chatting dengan Mas Gayuh. Sekadar bilang rindu, sekadar membicarakan trending topic Twitter yang isinya politik saja. Semakin banyak elit politik menggunakan Twitter semakin rusuh suasana Twitter, tidak semenarik dulu di mana baca twit Raditya Dika, Poconggg, dan lain sebagainya begitu menyenangkan. Sekarang iya, membaca twit Fiersa Besari, Jerome Polin, dan comeback-nya Poconggg ke Twitter cukup menyenangkan, tetapi isu-isu politik dan ujaran kebencian yang menjadi trending topic cukup menyebalkan.
Aku dan Mas Gayuh sejak tahun 2013 memang suka main Twitter. Walaupun sepanjang itu followers Twitter-ku itu-itu saja. Akan tetapi bagi kami berdua, Twitter adalah tempat terjujur kami. Setiap kali merasa saling rindu, setiap kali kami sangat menginginkan sebuah temu, setiap kali kami merasa hubungan ini ada di titik terendah, dan setiap kali kami berbahagia bersama, Twitter adalah tempat terbaik.
Baru mau membalas pesan dari Mas Gayuh, ponselku sudah berdering, panggilan w******p tapi tidak lama, hanya sekian detik langsung dimatikan. Dari Risa Annisa, tiba-tiba saja dia mengirim pesan beruntun tanpa jeda. Dahiku mengernyit membaca pesan pertama Risa perihal Apta dan Akbar yang kabarnya baku hantam. Memang mereka tidak latihan? Harusnya ini sudah mulai lagi setelah istirahat. Malah masih sempat mengirim pesan padaku pula.
Aku biarkan saja pesan itu dan 50 pesan lainnya yang terus menerus masuk hingga aku menghidupkan sepeda motorku. Ada-ada saja. Jangan-jangan itu hanya akal-akalan mereka agar aku segera ke sekolah. Ah, tapi ini pun sudah cukup siang untuk kata terlambat, tidak, sangat siang.
Masuk ke gerbang, sepi, kelas XII sudah pulang dan kelas XI PKL, kelas X libur. Jarak antara gerbang dan lapangan. “Mbaaakkk!” Baru melewati ruang guru saja sudah diteriaki Risa dan Fadhila anak kelas X.
Citttt... Suara rem mendadak. “Habis kampas remku,” gumamku kesal sendiri.
“Buruan ke basecamp deh, Mbak. Lagi ramai, kasian Apta tapi Mas Akbar bener juga sih,” kata Risa dengan nada panik.
“Iya, ih, Mbak. Mas Aptanya diem aja dimarahin Mas Akbar, kasian ganteng-ganteng kena marah.” Fadhila sambil tertawa. Risa panik, Fadhila justru masih sempat bercanda, memang anak Patriakara itu tidak ada yang benar.
“Ganteng ganteng, hati-hati penggemarnya banyak, bisa kena damprat kamu!” tegur Risa melotot pada Fadhila.
“Ih, cuma penggemar, Mbak Ris. Kalau sama emaknya nggak berani aku, ha ha ha.”
“Kaya emaknya Apta mau ketemu kamu aja!”
“Yeee, kan habis lomba karesidenan, kita ke rumahnya Mas Apta.”
“Emang diajak?”
Aku hanya memandang mereka yang tengah berdebat dengan wajah datar. Maunya mereka berdua itu apa? Tadi disuruh buru-buru sekarang malah berdebat sendiri.
“Eh, Mbak Dara! Masih di sini aja lagi! Itu kasian anak orang. Disuruh buru-buru juga!” tegur Risa.
Menatapnya datar sekali lantas melanjutkan perjalanan ke timur lapangan tenis, di mana besecmap kedua Patriakara berada. Telah terdengar ramai dari luar. Ada suara Akbar yang meninggi, suara Fikri yang seperti ingin menyela ucapan Akbar. Datang dengan langkah pelan, menyender di pintu, dengan kedua tangan terlipat di depan diafragma. Menyaksikan Apta duduk lesehan sambil menunduk, Akbar berdiri di hadapannya sambil menunjuk-nunjuk dan Fikri, dia di samping Akbar, membelakangiku sekarang.
Yang lainnya duduk melingkar, yang satunya sibuk pura-pura tidak mendengar, yang lainnya sibuk memainkan tali sepatu, yang lain lagi seperti nonton drama Korea. Aku tetap diam, tidak mengucapkan apapun, bahkan napas saja sebisa mungkin pelan. Semua ada di dalam kecuali, dua perempuan tadi, ditambah lagi dua senior, teman dekatnya Akbar di Patriakara.
“Kan, tadi aku sudah menjelaskan, Mas. Kemarin itu Mbak Dara ngantuk banget, sampai mau tidur di lapangan. Karena takut jatuh jadi Apta langsung ngasih bahu tepat sebelum Mbak Dara benar-benar jatuh karena tidur,” jelas Fikri dengan nada berusaha sabar.
“Aku nggak minta penjelasan kamu ya, Fik!” bentak Akbar dan Fikri kembali diam. “Kamu itu modus banget sih, Ta! Pakai dibikin story segala. Maunya apa? Biar Mas Gayuh dan Mbak Dara putus, terus kamu masuk ngajak jadian Mbak Dara? Mimpi kamu! Kamu itu cuma dianggap Adik sama Mbak Dara!”
Masih datar tapi aku tak suka cara Akbar. Seolah dia memojokkan Apta, padahal Apta juga tidak bagaimana-bagaimana denganku. Apta mulai mengangkat kepalanya, dia diam sejak tadi dan menunduk mungkin karena tidak mau mencari masalah besar dengan seniornya. Dia pasti sadar lomba tidak lama lagi, tidak baik membuat masalah di dalam pasukan. Dia menghela napas kecil, menoleh dan mendapati aku. Matanya membulat sekilas, lantas berdiri di hadapan Akbar.
“Aku cuma ngasih bahu karena Mbak Dara hampir terjatuh dalam keadaan tidur. Mbak Dara ngantuk kaya gitu juga karena nemenin Mas Gayuh jaga, kan? Semalaman loh, ini pacarnya malah dibiarkan nggak tidur. Cuma itu niatku, Mas! Emang salah ya, ADIKNYA ngasih perhatian sama Mbaknya?”
Aku tetap diam menyaksikan.
“Ya, tapi nggak usah pula dibikin story! Kaya sengaja banget biar Mbak Dara sama Mas Gayuh berantem.”
“Kalau aku emang cuma adiknya, kenapa takut banget aku bisa ngerusak hubungan mereka sih, Mas? Aku anak SMK, dia tentara. Dia sudah matang, aku baru menjelang. Kalau pikiran Mas Akbar aku bikin story bisa merusak hubungan mereka, berarti aku memang berpotensi sekali bikin Mbak Dara jatuh hati, Mas. Katanya aku cuma adiknya loh!” Sedikit bernada menantang.
“Songong kamu ya!” Akbar menampar pipi Apta keras. Tapi aku masih diam, mau melihat seberapa tangguh mereka bahu hantam. Pedomannya anak Patriakara saja agent of change tapi main tangan, mulut lemes, lalu apa yang bisa mereka ubah?
“Bukan songong, Mas. Mas Akbar sendiri yang memperjelas. Kenapa takut banget sih?”
“Hah, enggak, aku nggak mau kamu makin melunjak. Ingat aja, kamu cuma adiknya Mbak Da...”
“Kaya gini targetnya juara?” tanyaku datar, memotong ucapan Akbar.
Semua yang belum sadar langsung melihat ke arahku, sok-sokan kaget, ada pula yang diam datar.
“Latihan!” bentakku sangat keras dan mereka satu persatu keluar dari ruangan, didahului Apta.
Akbar hanya diam kaku di dalam ruangan, di depanku.
“Robi, Arman. Latih adik-adikmu!”
“Siap, Mbak. Mari,” jawab dua orang senior itu.
Memandang Akbar datar, sementara dia menatapku penuh amarah. Tepatnya mungkin dia kecewa denganku. “Apta bikin story itu untuk penggemarnya yang mengerikan itu. Dan iya, memang aku tidur di bahunya beberapa detik saja saat itu. Cuma sebatas itu, nggak ada maksud apapun.”
Akbar diam.
“Lagi pula, aku dulu sama Robi gombal-gombalan di i********: nggak kamu permasalahkan. Aku gombalin kamu juga nggak jadi masalah. Kenapa Apta jadi masalah?”
“Ya, Apta, karena Apta kelihatan banget modusnya, Mbak. Ngapain coba kaya gitu? Nganter pulang segala kan?!”
“Nganter pulang karena satu arah, kita satu arah. Lah, kenapa juga kamu nggak pilih nganterin Mbakmu ini daripada marah sama orang lain yang ikhlas nganterin Mbakmu pulang?”
Diam saja.
“Mbakmu ini menjelang 22 tahun bulan November nanti. Apta 17 tahun Agustus nanti. Mbakmu masih cukup waras untuk jatuh cinta.”
Tetap diam.
“Apta juga nggak mungkin jatuh cinta sama tante-tante!”
Lagi-lagi masih diam.
“Mikirlah! Jangan dipikir Mbakmu ini bodohya sudah pakai pipa, mengalir sampai jauh!” bentakku kehilangan kesabaran. Melangkah pergi meninggalkan Akbar, berjalan ke arah lapangan sepakbola mini, tempat di mana latihan tata upacara bendera dilaksanakan.
Sepanjang melatih aku hanya diam, mengoreksi sedikit saja tapi sama sekali tidak ingin mengoreksi Apta. Tidak tega mengingat caranya dia ditampar Akbar. Aku tahu Apta salah, dia salah membuat i********: stories itu, aku pun sempat marah padanya tapi bukan tangan yang menyelesaikan masalah, bukan mulut pula yang mengadu, tapi otak dan hati harus jalan.