-Rayi-
Menjengkelkan sekali. Rayi masih bersungut-sungut meski perempuan bernama Kaira itu sudah pergi jauh meninggalkannya sendiri di depan meja. Ia bahkan tidak tahu kenapa dia sensitif sekali dengan perempuan itu.
“Kenapa lo barusan teriak-teriak?” tanya Askar yang baru kembali dari kamar kecil.
Rayi hanya cemberut.
“Barusan sebel banget gue sama si Kaira.”
“Resepsionis baru?”
“Ya iya siapa lagi.”
“Emang dia kenapa?” tanya Askar padanya.
“Dia bilang gue menyebalkan. Makanya gue diputusin sama cewek gue.”
Askar malah tertawa.
“Si anjir malah ngetawain gue.” Rayi masih misuh-misuh.
“Ya habis yang dia bilang bener. Lo memang nyebelin banget akhir-akhir ini Bro, marah-marah melulu.”
“Apaan sih lo, gue biasa aja padahal.”
“Ya orang yang ngerasain. Lo sendiri mungkin nggak ngerasa, dari yang bersayap sekarang jadi bertanduk.” Askar menaruh masing-masing telunjuk di sisi kepalanya, kemudian tergelak lagi.
“Lagian bagus dong lo dibilang putus karena nyebelin, bukan karena hal sebenarnya.” Sang teman menatap kaki Rayi, membuat Rayi terdiam. Ia masih cemberut meski dalam hati mengaku juga.
Benar juga, Kaira tidak menghina fisiknya yang selama ini membuat Rayi diam-diam merasa tidak apa percaya diri.
Kaira barusan hanya menyinggung soal sikapnya yang Rayi akui memang menjengkelkan.
“Emang kenapa tiba-tiba jadi berantem gitu sih? Perasaan orangnya lebih banyak diam kalau ketemu gue.” Askar bertanya penasaran.
“Karena gue tadi bilang, dia nggak usah dekat-dekat sama Pak Ibra juga sama elo.”
“Lah emang kenapa? Gue jomblo ya.”
“Ya karena dia kan janda. Nggak boleh asal dekati sembarang orang gitulah demi dapat suami.”
“Ya elah Yi,” sela Askar. “Ya Pantaslah dia mengamuk, jelas saja dia kesal sama lo. Cuma karena dia janda lo langsung nge-judge dia mau deketin cowok demi suami baru. Dia aja orangnya canggungan gitu, mana bisa begitu dia?"
"Tahulah, gue suka mikir buruk aja emang sama janda cerai." Rayi mendengus, teringat sang Ibu yang sudah dua kali cerai dan menikah lagi. Wanita itu seperti tidak tahan sendiri, membuat persepsi Rayi terhadap janda menjadi buruk.
"Dia janda kan bukan berarti niatnya jelek. Hati-hati kalau bicara makanya. Jangan hanya karena lo lebih tinggi dari dia jabatannya dan lebih senior jadi sembarangan."
"Heh, Lo sok amat ajarin gue? Lo juga lebih menyebalkan." Rayi balas menyemprot.
"Tadi siapa yang pegang tangan dia, bikin dia diem karena manfaatkan jabatan yang lebih tinggi? Lo kan?" Ia membahas soal kelakuan Askar tadi siang, mengelus tangan Kaira di kantor.
Askar meringis.
"Galak amat Bro, wajarlah kan gue lagi modus."
"Nggak wajar kalo di kantor, modus lo bikin dia nggak nyaman. Awas aja kalau begitu lagi, bener gue note ke HRD kelakuan lo, Kar."
"Buset Rayi, Rayi. Iye iye!"
Siang berubah petang, Rayi bekerja di kantor seperti biasa. Ia tak sengaja bertemu dengan Kaira lagi saat akan pulang.
Perempuan itu menunduk, masih tidak mau menatapnya. Sebenarnya Rayi tidak enak teringat kata-katanya tadi dan ingin meminta maaf, tapi dia tetap gengsi.
'Ah terserahlah, gue nggak mau mikir apapun,' batinnya.
***
Beberapa malam berselang, hingga hari berganti menjadi akhir minggu. Maksud Rayi tidak mau memikirkan apa yang sudah lewat, namun dia malah kepikiran.
"Menurut Kakak sifatku gimana?" tanyanya via telpon pada Raya sang Kakak.
"Random banget. Pagi-pagi hari Sabtu tanya begitu?"
"Ya nggak apa, kepikiran aja. Apa aku nyebelin orangnya, makanya Chacha dulu putusin aku?"
"Bukannya kamu bilang Chacha putusin kamu karena nggak terima kondisi kakimu?" balas Raya yang diiyakan Rayi.
"Iya sih, karena itu. Cuma aku mungkin ada salah lain juga?"
"Kalo Kakak liat sebagai kakakmu sih, kamu sama Chacha malah baik banget. Justru kamu nyebelin pas diputusin Chacha. Jadi sering cemberut dan bad mood."
Rayi meringis.
"Apa iya? Jadi nggak enak aku."
"Makanya nggak usah dipikirin lagi itu Chacha. Namanya nggak jodoh, mau gimanapun kamu usaha ya nggak akan jadi. Beda sama jodoh." Mulai si Kakak berpetuah.
"Pasti ada alasan kenapa kalian nggak bersatu. Dan kamu nggak usah salahkan diri sama kondisi kamu. Kakak yakin ke depannya akan ada perempuan yang mau terima kamu apa adanya. Kalopun belum ketemu, hidup sendiri juga nggak buruk kok, bisa bebas jalan-jalan kemanapun."
"Iya sih Kak, bener." Rayi jadi lebih tenang mendengar itu, meski perasaan bersalah masih sedikit tertinggal karena dia sudah kelewatan menghina status Kaira.
“Memang siapa yang bilang kamu nyebelin? Cewek ya?” selidik Raya tiba-tiba.
“Bukan!” Rayi refleks menyanggah. Sementara Raya tergelak.
“Buru-buru banget ngebantahnya, bener ya jangan-jangan cewek? Apa orang kantor yang kamu semprot terus dia balik ngamuk?”
Rayi mingkem. Kenapa si Kakak bisa begitu pandai menebak yang terjadi? Rayi jadi curiga dia dimata-matai di kantor.
“Nggaklah Kak, main nebak aja.”
"Hoo, ya udah kalau nggak mau cerita.” Si Kakak terdengar masih geli, namun tidak memperpanjang.
“Dek, kamu nggak akan ke rumah hari ini?"
"Sore kali Kak, masih beberes kamar dulu biar lebih enak terus pengen ke Gramedia Grand Mall, baru ke rumah Kakak," ucap Rayi tangan sibuk mem-vacum kamarnya.
"Lho, maksudku justru jangan. Aku mau nyebrang hari ini sama Mas Fajar dan Ayyara, baru pulang Senin malam. Ini udah di Batam Center, lagi nunggu boarding kapal.”
"Ke Singapur? Serius?"
"Iya. Mas Fajar ada ketemu customer hari Senin, jadi dia ngajak aku liburan tipis-tipis. Ayyara mau dibawa ke kebun binatang."
"Masih bayi gitu, mana dia ngerti Kak?" Rayi menahan geli.
"Yee, justru masih bayi gini waktunya bikin kenangan banyak-banyak sama dia, dia lihat banyak hal dan pergi ke sana - sini. Biar lebih kuat juga badannya."
"Ya, ya. Hati-hati aja deh kalau gitu Kak."
"Yaa, kamu juga. Mau dibawain apa Yi? Kamu suka cemilan yang keripik kentang telur asin? Atau Kakak belikan sepatu lagi aja kayak waktu itu?"
"Nggak usah repot-repot Kak, aku masih ada semua. Paling kalau kakak mau beli oleh-oleh, buat Ibu sama Rina Roni."
"Ah nggak usahlah, Ibu ribet pasti, minta barang mahal. Padahal udah suka dapat dari endorse-nya si Rina, masih aja minta aku." Raya menggerutu.
Rina dan Roni adalah adik-adik tiri mereka dari suami sang Ibu yang ketiga. Raya dan Rayi berbeda bapak, dan Rayi dibesarkan sang Kakak saat Ibu mereka memutuskan menikah lagi, pindah ke Jawa dan tidak membawanya.
Karena itulah Rayi lebih menyayangi kakaknya dibanding Ibunya sendiri.
"Nanti aku beli buat kamu aja. Kayaknya tas kerjamu udah butut, nanti kakak carikan yang bagus di Singapur."
"Makasih, Kak." Rayi tersenyum, lalu menutup telpon itu. Ia melanjutkan bebersih dengan mood sedikit lebih riang, kemudian bersiap pergi ke mall setelahnya.
Celana jeans panjang dan kaus polos warna putih serta kemeja lengan panjang kotak-kotak hitam abu menjadi andalan dia saat keluar.
Dengan kaki kanan yang sedikit tertatih, Rayi masuk ke lift dari lantai 4 asrama. Ia bersiul sembari mengecek jam tangan saat di lantai 3, pintu lift terbuka.
Wanita itu lagi, Kaira si resepsionis, terlihat akan pergi juga dan baru mau naik ke lift, namun mengurungkan diri saat mata mereka bertemu.
"Eh." Kaira terlihat kikuk. "Maaf, Pak."
"Naik aja," usul Rayi datar. "Nggak usah ragu gitu, saya nggak makan orang."
"Eh, iya." Perempuan itu menunduk, melangkah masuk dan berdiri di depan, sisi berlawanan dari Rayi yang bersender di sisi belakang.
Dari gerak-geriknya yang Rayi amati selama ini mereka bekerja, Rayi semakin sadar bahwa meskipun janda, Kaira bukan perempuan penggoda seperti yang ia curigai sebelumnya.
Jadi akhirnya ia memberanikan diri bersuara.
"Maaf."
Kaira diam saja, jadi Rayi bersuara lebih keras.
"Maaf, Kaira."
"Eh?" Perempuan itu menoleh ke belakang, sampai mengabaikan pintu lift yang terbuka.
"Bapak bicara sama saya?"
"Iya." Rayi tersenyum tipis. "Kita bicara sebentar di luar aja."
"Eh, iya."
Rayi menyusul Kaira keluar dari lift, dan mereka sekarang berdiri berhadapan di sisi lorong. Kaira masih menunduk, terlihat sekali tidak nyaman yang membuat Rayi juga tak enak.
Padahal Kaira lebih tua setahun dibanding dia, tapi wanita itu begitu sopan dan menjaga jarak membuat Rayi merasa mereka benar-benar jauh bentang umurnya.
‘Gimana gue ngomongnya ya?’ Rayi jadi canggung sendiri, menggaruk kepala yang tak gatal.
“Maaf.” Akhirnya dia memulai lagi. “Maaf karena sudah bicara kasar sama kamu beberapa hari lalu.”
Kaira mengangkat kepala, dan mereka bertemu pandang. Rayi terpaku beberapa saat, semakin disadarkan fakta bahwa Kaira itu memang cantik. Wajahnya membentuk keseimbangan sempurna antara kelembutan dan kekuatan. Bibir merah muda yang lembut itu seolah menciptakan senyum alami, menambah pesona pada setiap ekspresi wajahnya.
Perempuan berkulit putih itu kini menatapnya penasaran.
“Maksud Bapak …. Yang soal apa ya?”
‘Fokus, Yi!’ Rayi mengerjap mata saat tersadar.
“Yang waktu kamu mengantar Pak Ibra ke kantor Pak Adya. Soal …” Rayi berdehem. “Status kamu. Maaf saya bilang kamu janda yang doyan cari suami. Saya nggak pantas berkata begitu.”
“Oh.” Kaira mengangguk.
“Oke Pak,” sahut perempuan itu. “Saya juga minta maaf sudah menyinggung pertunangan Bapak. Itu urusan pribadi Bapak.”
“Tidak apa-apa, saya memang menjengkelkan waktu itu,” balas Rayi, kini terasa lebih plong.
“Kamu … mau keluar?” tanyanya penuh basa-basi. Kaira mengangguk.
“Saya boleh pergi duluan Pak?”
“Mau ke mana? Siapa tahu mau bareng, saya mau ke Grand Mall.” Ia menawarkan.
“Saya sudah panggil ojek, Pak. Sudah menunggu di depan ojeknya.” Perempuan itu meringis.
“Ah ya, silakan.”
“Iya, mari Pak.” Kaira menundukkan kepala sopan lalu pergi meninggalkan Rayi. Rayi memandang perempuan itu menjauh, merasa suasana canggung itu mulai menghilang meski seperti ada yang mengganjal.
“Yah, yang penting gue udah minta maaf, semoga dia terima.” Rayi mengangkat bahu, tak ingin terlalu memikirkan.