Chapter 15: Kekesalan

1247 Words
-Rayi- Rayi pergi ke Grand Mall sesuai keinginannya setelah tak sengaja bertemu Kaira di depan asrama. Mall yang berada di daerah Baloi itu berjarak cukup jauh dari Nongsa, tempat Rayi tinggal dan bekerja. Tapi Rayi suka ke sana, tempatnya nyaman dan gerai makanannya enak-enak. Pekerjaan dan kesibukan sehari-hari membuatnya jarang memiliki waktu untuk menikmati momen santai seperti ini, tanpa perlu diganggu urusan pekerjaan. "Kayaknya bakal hujan," gumam Rayi. Suasana di luar mendung, sungguh kontras dengan Batam yang biasanya panas terik. "Untung nggak lagi nyuci gue, jadi nggak ada pakaian dijemur di balkon." Ia tiba di sana jam 11, mall baru buka. Rayi Bimala memarkir mobil di basement sebelum masuk melalui pintu lantai basement. Baru saja tiba di mall itu dan Rayi langsung melihat sosok yang dia kenal sedang mendorong troli belanjaan bersama seorang wanita yang menggendong bayi. 'Astaga, kenapa bisa gue liat dia lagi?' Rayi misuh-misuh. Dia sudah pergi belasan kilo dari Nongsa, masih saja Kaira si resepsionis baru yang tak sengaja ia temui. Apa ini artinya? Kalau dia cerita pada Raya si Kakak, pastilah wanita itu akan berkeras bilang kalau ini tandanya Rayi berjodoh dengan Kaira. Masalahnya, Kaira sudah pernah menikah dan pernikahan pertamanya gagal tanpa alasan yang dia ketahui. Siapapun pasti akan khawatir menjalani hubungan dengan wanita seperti itu, terutama Rayi yang masih bujang. 'Sempit banget Batam.' Rayi berdecak, menjaga jarak dari perempuan itu yang bersama temannya, masuk ke dalam supermarket Top 100. Dipastikannya wanita itu benar-benar masuk ke dalam, baru dia naik ke atas untuk makan sendiri di Sushi Tei. ‘Jadi tadi dia naik ojek itu mau ke sini? Tau gitu kan mending bareng.’ Rayi membatin lagi, meski langsung berubah pikiran. 'Ngapain juga gue ajak dia bareng ya? Ntar kegeeran malah gue yang repot,' tukas Rayi dalam hati sebelum meringis. 'Atau lebih parah, dia risih deket-deket sama gue yang kakinya begini, malah nanti gue yang sakit hati. Mending gue sendirian.' Dengan langkah tertatih, Rayi memasuki restoran yang hangat dengan cahaya lembut dan nuansa Jepang yang khas. Ia duduk di meja sudut yang memberinya pandangan penuh terhadap aksi koki yang terampil di dapur terbuka. Membuka menu, matanya berbinar-binar saat melihat berbagai pilihan sushi yang menggoda. "Silakan Pak, pesanannya?" Pramusaji itu bertanya padanya. "Aburi salmon roll sama miso ramen, Mas. Minumnya ocha dingin saja." "Baik." Rayi menunggu pesanannya tiba sembari mengedar pandangan ke seantero restoran. Matanya menangkap sepasang laki-laki dan perempuan muda yang usianya mungkin lebih muda darinya, duduk bersebelahan menikmati sushi bersama. Mesra sekali, Rayi jadi teringat saat dia dan Chacha dulu masih bersama. Pacaran empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Sudah banyak sekali tempat di Batam dan luar Batam yang mereka datangi bersama, termasuk restoran ini. Ini salah satu restoran favorit Rayi dan Chacha, terutama setiap Rayi habis gajian. Kenangan soal Chacha banyak tersisa, bahkan menu sushi yang barusan Rayi pesan adalah menu favorit mereka dulu. 'Sekarang nggak habis gajian, gue bisa makan di sini. Apa karena nggak punya pacar lagi, gue jadi punya duit lebih?' Rayi membatin lagi. Rasa-rasanya dia jadi bingung, harus sedih atau tertawa dengan fakta ini. Tapi mau sedih pun ia rasa percuma. Mengingat Chacha sudah memutuskannya. Meninggalkan Rayi rugi besar karena banyak uang DP vendor pernikahannya tidak bisa dikembalikan, termasuk vendor katering dan foto serta videografi. 'Ah jadi inget. Bulan lalu katanya orang katering mau transfer pengembalian dana paling lambat hari ini kan?' Lambat memang, batal menikah sudah tiga bulan yang lalu tapi uang yang masuk belum juga kembali ke tangannya. Dasar Rayi pun terlalu sibuk sampai tidak sempat meneror orang katering agar segera mengembalikan uangnya. Semua persiapan menikah memang dia yang menanggung, makanya saat pernikahan dia dan Chacha batal, Rayi pontang panting menghubungi vendor agar mayoritas uangnya bisa kembali. Rayi pun menelpon kontak vendor katering yang selama ini menjadi penghubungnya. "Selamat siang, Pak." Wanita itu menjawab. "Ada yang bisa saya bantu?" "Saya ingin tanya soal pengembalian dana saya karena pernikahannya dibatalkan," ucap Rayi dengan suara lirih. Agak malu juga ia bila terdengar orang lain. "Oh, ya. Atas nama siapa?" "Pesanan atas nama Rayi Bimala." "Mohon tunggu sebentar." Suara di telpon menghilang, bertepatan dengan pesanan Rayi tiba. Rayi menggumamkan terima kasih pada si pramusaji, sebelum pria itu pergi. Saat itulah suara di telpon kembali. “Dengan Pak Rayi?” “Ah, benar.” Rayi mengurungkan diri menyuap potongan sushi. “Maaf Pak, di sini keterangannya tidak jadi dilakukan pembatalan dan acara akan tetap berlangsung.” “Apa?” tanya Rayi kaget. “Nggak mungkin, ini pasti ada yang salah, Mbak. Coba tolong dicek lagi, acaranya saja harusnya bulan lalu.” “Benar Pak, tapi ini tidak jadi dibatalkan melainkan diundur. Permintaan dari Ibu Chasa sendiri, kami kira sudah diskusi dengan Pak Rayi sebelumnya? Karena Bu Chasa sudah melunasi pembayaran untuk acara bulan depan.” “Lho, 50% itu kan saya yang bayar! Nggak bisa begini dong!” Rayi jelas marah. Padahal pihak katering janji akan mengembalikan pada Rayi 40% dari 50% total pembayaran yang telah dia berikan. Tapi kenapa malah sudah dilunasi Chacha? Sampai dia tersadar bahwa Chacha akan menikah dengan orang lain bulan depan, hanya empat bulan setelah putus dengannya. ‘Chacha mau nikah? Sama Mada?’ Sesak hati Rayi mendengar itu. Tapi masalahnya sekarang lebih besar dari pernikahan keduanya. “Maaf Pak, tapi memang sudah fix seperti itu." Petugas katering menjelaskan sopan di telepon. "Acara tetap berlangsung jadi pengembalikan uang tidak bisa kami lakukan. Kalau ada ketidakcocokan, mungkin bisa diselesaikan internal Bapak dengan Ibu Chasa.” Sushi yang dia pesan jadi terasa pahit ketika Rayi selesai menelpon. Apalagi saat Chacha tidak bisa dihubungi, tidak juga membalas pesan yang Rayi kirim. Perempuan itu memang sudah lama memblokirnya, dan tidak hanya Chacha. Bahkan seluruh keluarganya di Tanjung Pinang yang pernah kenal dengan Rayi juga memblokir nomor Rayi. Seakan Rayi tak pernah jadi bagian dari hidup Chacha empat tahun ke belakang. "Coba gue cari ke kos Chacha dulu apa ya hari ini?" gumam Rayi, menghabiskan semua makanannya meski nafsu makannya lenyap. Uang katering yang jumlahnya lumayan, puluhan juta, ternyata dipakai Chacha untuk pernikahan perempuan itu dengan orang lain. Rayi jelas emosi. Dia bangkit dari duduknya setelah menenggak habis teh hijau dingin itu. Terpincang, Rayi jalan ke kasir demi membayar makanannya. Ia sedang berdiri di depan meja kasir restoran itu ketika mendengar seorang anak laki-laki bertanya. "Mama kenapa kaki dia aneh?" Rayi menoleh ke sumber suara, anak laki-laki kira-kira berusia 6 tahun di meja dekat situ menunjuk ke arahnya. Sang Ibu yang duduk di sebelah si Anak terlihat panik, langsung menegur anaknya. "Sst, Abang!" Wanita itu tersenyum canggung pada Rayi. "Maaf ya Mas." Rayi tersenyum setengah hati, memilih fokus pada si kasir di depannya. Ia sadar menjadi pusat perhatian pengunjung lain, menatapnya seperti iba juga aneh. Rayi sudah belasan tahun hidup seperti ini jadi tak terlalu memusingkan tatapan orang. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana ia bisa mendapat kembali uang yang sudah dia bayarkan untuk katering pernikahan mereka yang gagal? Apakah diam-diam Chacha selama ini berselingkuh? Dengan siapa dia akan menikah? "Terima kasih, Mbak." Rayi berkata pada sang kasir sebelum keluar dari restoran. Ia turun ke lantai dasar demi mengambil mobil, dan saat melewati toko baju, Rayi melihat Chacha bersama Mada sedang melihat-lihat pakaian untuk wanita itu. Pucuk dicinta ulam tiba. Ada untungnya juga hari ini Rayi ke Grand Mall yang memang juga mall favorit Chacha. Ia bisa langsung menemui wanita itu. Rayi langsung masuk ke toko, menghampiri keduanya. “Cha,” panggilnya dingin. Chacha juga Mada tersentak, menoleh pada Rayi. Keduanya begitu kaget, terutama Chacha si mantan pacar yang perutnya terlihat lebih buncit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD