Chapter 8: Hari Pertama Kerja

1392 Words
-Kaira- Setelah briefing pagi ini dengan Tara, Kaira diminta pergi ke atas menemui Rayi seperti yang diminta lelaki itu. Sebenarnya lelaki itu meminta Tara, tapi Tara menyuruh Kaira agar dia terbiasa. "Tanyakan sama Pak Rayi, apa jadwalnya Pak Adya hari ini. Jadi kalo ada tamunya Pak Adya yang datang, bilang mereka ada janji jadi kita bisa langsung antar ke atas." "Oke Mbak." "Oh ya, bicara juga sama sekertarisnya Pak Feri juga ya, namanya Pak Askar." "Siap. Jadi saya minta jadwal Pak Adya sama Pak Feri dari Pak Rayi dan Pak Askar?" "Benar." "Oke." Kaira kemudian berjalan ke atas, menaiki tangga dengan membawa tablet dan buku catatan kecil yang dibawakan Tara. Lantai dua gedung Paydo adalah ruangan terbuka besar dengan meja-meja karyawan tersebar di semua area. Ada juga ruangan kecil-kecil di sisi untuk rapat. Interiornya bernuansa oranye, minimalis dan begitu muda. Suasana kantor ini amat sangat nyaman, persis seperti kantor start up yang selalu Kaira lihat di youtube. Saat dia tiba di meja Rayi, yang tepat berada di depan ruangan CEO, tidak ada pria itu di sana. Kaira melihat ke dalam ruangan CEO yang dikelilingi kaca bening. Rayi sedang bicara dengan si bos besar di dalam sana, maka itu Kaira jadi menunggu dulu dengan berdiri di depan dinding. "Mau ketemu siapa, Mbak?" tanya seorang laki-laki padanya. "Ah ini, mau ketemu Pak Rayi sama Pak Askar. Soalnya saya mau minta jadwal Pak Adya dan Pak Feri." "Oh, biasanya Tara yang naik. Mbak-nya?" "Saya Kaira Pak, resepsionis baru." Kaira mengulurkan tangan saat lelaki itu melakukan hal yang sama. "Kenalin, saya Rahmat, staf akunting." "Oh, halo Pak Rahmat." Merekapun Berjabat tangan. Rahmat tersenyum padanya dan Kaira balas senyum itu, canggung. Dia lebih banyak menundukkan kepala saat Rahmat terus-terusan mengajaknya mengobrol . "Saya baru lihat Mbak Kaira." "Iya, saya baru masuk hari ini." "Oh, pantes. Selamat deh berhasil masuk PayDo. Kerja di sini enak, teman-temannya juga baik. Mbak pasti betah." Kaira mengangguk saja, mengharapkan hal yang sama. "Ngomong-ngomong sambil menunggu Rayi, Mbak bisa tolong buatkan saya kopi nggak?" “Oh bisa. Kopi apa Pak?"
 "Kopi hitam aja untuk saya. Nanti tolong bawakan ke meja saya di situ ya." Rahmat menunjuk salah satu meja tidak jauh dari mereka. "Siap Pak. Tunggu sebentar ya." "Oke, makasih Mbak Kaira." Sesuai dengan permintaan Rahmat, Kaira pun pergi ke dapur kering alias pantry yang ada di lantai tersebut. Pantry itu tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi depan ruangan CEO. Di sana ada berbagai macam snack,bahkan kulkas dengan cemilan dan minuman kemasan yang disetok lengkap. Kaira sampai terkagum, sebelum teringat tujuannya ke sini. "Buat kopi ... pakai mesin ini?" Ada mesin kopi ternyata, bertuliskan Dolce Gusto. Kaira hampir panik melihat mesin yang aneh itu, namun tidak jadi karena ada cara penggunaan mesin tertempel di dinding. "Oh, begitu aja cara buatnya?" gumam Kaira. Mudah sekali, hanya memasukkan kapsul ke dalam mesin dan menekan tombol maka kopi jadi. Dengan inisiatifnya, Kaira membuat tiga cangkir kopi hitam selain untuk Rahmat juga untuk Rayi dan Askar. "Tadi kayaknya nggak ada kopi di meja Pak Rayi sama Pak Askar. Buatin ah." Kaira hanya perlu menunggu sebentar dan tiga cangkir kopi hitam siap dihidangkan. Ia meletakkan semua cangkir di atas tatakan masing-masing, lalu meletakkan gula sachet di tatakan itu dan sendok kecil. Setelahnya Kaira pun memindahkan semua cangkir di atas baki, baru membuka sachet gula dan menuangkannya ke dalam masing-masing cangkir berisi kopi. 'Udah lama nggak buat kopi begini,' batin Kaira sambil tangannya bekerja. Ia jadi teringat saat masih nikah dulu membuat kopi untuk Ilman. Ah, Ilman. Terkadang Kaira masih suka bisa mengingat mantan suaminya itu. Lelaki yang enam tahun menjadi raja di hatinya, namun ternyata menjadi lelaki yang sama yang membuangnya seperti Kaira ini adalah sampah yang ia temukan di jalan. 'Mas Ilman apa kabar ya?' batin Kaira bertanya. 'Apa istri barunya sudah hamil? Mereka kan udah nikah dua bulan lalu ya?' Kaira menghela nafas. Kemudian menepuk sendiri pipinya. 'Kaira, jangan pikirkan dia lagi. Dia cuma bikin kamu sakit hati. Fokus aja sama kerjaan kamu.' Tanpa terasa tiga gelas kopi hitam itu pun selesai. 'Walah, ribet juga bawa baki sama tablet,' batin Kaira lagi, namun tidak kehilangan akal. Dia mengepit tablet serta buku catatannya di bawah ketiak kiri, kemudian membawa tiga cangkir kopi itu kembali ke ruangan kerja, ke luar dari pantry. Saat kembali ke ruangan besar yang berisi meja-meja karyawan tersebut, Kaira bisa melihat Rayi dan Askar sudah kembali dari meeting pagi mereka. Kedua lelaki itu sedang berdiri di depan meja Rayi. Rahmat yang sudah duduk di kursinya, melambai tangan padanya. "Mbak Kaira." Kaira langsung mengantar kopi milik Rahmat dulu, karena jarak Rahmat lebih dekat dari pantry. Rahmat pun tersenyum lebar saat Kaira datang membawa baki kopi. "Terima kasih ya Mbak." Pria itu menurunkan gelas kopi dia pada sendiri ke mejanya. "Sama-sama Pak." Setelah itu, Kaira membawa baki itu ke meja Rayi. Namun kedua pria itu masih sibuk berbicara sambil melihat tablet. Jadi tidak ada yang membantu Kaira menurunkan gelas. Susah payah Kaira meletakkan baki itu di atas meja, namun karena dia canggung membawa baki sembari mengepit tablet dan buku catatan, salah satu cangkir oleng dan kopi itu akhirnya tumpah di atas meja Rayi. Cairan hitam pun membasahi meja lelaki itu yang membuat Kaira panik. “Ah,” pekik Kaira. Rayi dan Askar yang sedang mengobrol langsung berhenti. Rayi terutama, pria yang Kaira juluki Mas Malaikat itu langsung mengamuk. “Apa-apaan kamu?? Kenapa malah numpahin kopi di meja saya??“ “Maaf Pak, maaf.” Kaira hanya bisa menunduk. baru akan membersikan bekas kopi yang tumpah itu, namun saat tangannya menyentuh cairan di meja, ia terkaget karena panasnya suhu. “Ah!” Lagi ia memekik, dan Rayi menarik tangan Kaira. “Ini kopinya panas, kenapa kamu pegang pakai tangan kosong??” Lelaki itu melotot padanya masih sambil memegang tangan Kaira. Kaira meringis. “Maaf, Pak.” “Panggil Ob cepat!” Tangan Kaira dihempaskan. Kaira pun terbirit, ini memanggil office boy yang ia lihat sedang membersikan tangga. “Pak, maaf ada yang tumpah,” pintanya pada si OB yang mengangguk. “Oh ya Bu, biar saya bersihkan sekarang.” Sang Office Boy memang langsung sigap bersihkan meja Rayi yang terkena tumpahan kopi itu. Namun bukan berarti Kaira langsung aman, karena si sekertaris bos tak berhenti mengomelinya. Terutama ketika handphone Rayi pun habis terendam oleh kopi. “Astaga handphone saya! Kamu bisa nggak sih kalau kerja jangan ceroboh??” Rayi mulai marah-marah. “Ini kenapa lagi buatin saya kopi? Emang siapa yang suruh kamu buat kopi??” “Maaf, Pak.” Untuk kesekian kalinya Kaira meminta maaf. “Saya cuma lihat tadi nggak ada kopi di meja Bapak, jadi saya buatin.” “Itu karena saya lagi kurangi kopi. Kalau mau buat saya bisa buat sendiri. Inisiatif kamu ini nggak penting, tahu??" Pria itu mengomelinya di lantai itu, di depan para karyawan yang mendengar atau pura-pura tak mendengar. Kaira menundukkan kepala. Baru hari pertama dan kesalahannya begitu fatal. Ia jadi takut dipecat dan menyalahkan kebodohannya sendiri. "Lihat, sekarang gara-gara kamu semua kerjaan saya hari ini jadinya basah!" Kaira masih menunduk. Dia sendiri panik melihat berbagai banyak dokumen di atas meja Rayi basah karena ulahnya. "Siapa kamu namanya? Resepsionis yang baru masuk hari ini itu kan. Siapa?"
 "Kaira, Pak." "Nah, Kaira. Bilang sama Tara kalau saya melarang kamu ke atas lagi. Biar Tara saja yang ke atas, jangan kamu. Kamu tuh nggak bisa kerja." Pedas sekali ucapan itu, Kaira hanya bisa menunduk dan menerima semua. "Maaf, Pak." "Maaf saja nggak bisa balikin semua dokumen saya yang basah kena kopi ya! Kamu tahu nggak betapa ribetnya kerjaan saya?? Terpaksa ini semua saya kumpulkan lagi dari awal, dari semua divisi dan Pak Adya pun terpaksa saya minta tanda tangan lagi." Rayi kemudian mengangkat ponselnya. "Ini lagi, handphone saya jadi mati gara-gara kamu. Harusnya kamu ganti. Bisa nggak kamu ganti ini?" Kaira melirik ponsel Rayi yang bermerk Apple, harganya pasti belasan juta. Ia menelan ludah. "Saya belum gajian Pak. Boleh tidak nanti saya ganti pas gajian? Nanti saya cicil Pak."
 "Ah!" Rayi menggeram. "Kamu menyusahkan aja. Mending kamu turun sekarang, minta Tara gantikan kamu ke sini. Saya malas lihat muka kamu." Kaira mengangguk, menggumamkan maaf sekali lagi sebelum sedikit berjongkok demi mengambil tablet dan notebook yang terjatuh ke lantai. Secepat kilat ia lalu pergi dari sana, berusaha menahan tangis. 'Ya Tuhan, kerja ternyata seperti ini. Baru hari pertama aku udah bikin masalah. Semoga nggak ada masalah lagi,' harapnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD