-Kaira-
Kaira turun ke lantai satu dengan menahan tangis.
Ia sedih sekali karena baru habis dimarahi di depan umum oleh Rayi yang dulunya ia anggap malaikat.
'Bukan malaikat,' batin Kaira. 'Mas-mas itu bukan malaikat. Mungkin waktu itu dia kesambet, makanya lagi baik aja. Aslinya dia pasti menjengkelkan makanya bisa marah-marahin aku kayak barusan.'
Tara menyapanya heran ketika melihat Kaira kembali.
"Udah ambil jadwalnya?"
"Belum, Kak Tara." Kaira menggeleng. "Kak Tara yang disuruh naik sama Pak Rayi, jangan aku lagi," lanjutnya dengan muka sendu.
"Lah, kok jadi gue? Kenapa bukan lo aja barusan?"
"Soalnya aku nggak sengaja tumpahin kopi di meja Pak Rayi, jadi Pak Rayi marah besar sama aku."
"Astaga, emang siapa yang suruh buat kopi? Kan gue cuma suruh lo ambil jadwal ke atas."
"Soalnya ada staf akunting minta tolong aku buatin kopi, jadi aku buatin sekalian punya Pak Rayi sama Pak Askar. Tapi ternyata kopinya tumpah di meja, kena dokumen dan HP Pak Rayi. Habis aku dimarahin Kak, aku malu dan sedih banget."
Sejujurnya Kaira ingin menangis tapi dia tahan karena malu. Tara menggelengkan kepalanya.
"Lagian lo ngapain sih Kaira. Lo kan enggak disuruh begituan, itu kan bukan kerjaan lo. Lain kali kalau bukan kerjaan lo, lo harus berani tolak."
"Iya sih tapi aku mau tadi, sekalian nunggu Pak Rayi beres rapat. Nggak enak juga menolak."
"Iya juga, gue ngerti lo pegawai baru pasti mau nolak nggak enak. Terus receptionis memang kan posisinya enggak terlalu tinggi ya? Di kantor. Gue paham kok, yang gua nggak paham kenapa kopinya kok bisa tumpah?"
"Soalnya tadi aku bawa baki sambil bawa tablet dan buku catatan ini, makanya tanganku oleng terus kopinya tumpah. Memang aku ceroboh banget Kak. Sampai dimarah-marahin dan dilihatin karyawan lain, Mbak. Aku jadi nggak enak katanya aku nggak boleh ke atas lagi."
Tara menepuk pundak Kaira.
"Sabar ya. Pak Rayi akhir-akhir ini memang galak. Dia lagi bete soalnya beberapa bulan lalu kalau nggak salah dia tuh putus sama tunangannya," tutur Tara membuat Kaira terpana.
"Putus sama tunangannya?"
"Iya. Diputusin kalo nggak salah cuma nggak tahu sih kenapa. Mereka tuh mau nikah, harusnya bulan-bulan ini. Tapi batal, dan sejak itu, Pak Rayi jadi lebih gampang marah dan jutek aja. Meskipun asalnya dia tuh sebenarnya baik."
"Oh gitu ya." Mau tidak mau Kaira jadi iba mendengar itu. Dia yang tadinya menghakimi Rayi menjengkelkan jadi lebih bersabar.
"Ya udah, gue ke atas dulu ya." Tara pamit padanya yang Kaira angguki.
"Maaf ya Kak, harusnya kerjaan aku malah jadi Kakak yang kerja."
"Santai. Lo jaga meja aja, siap ladeni siapapun tamu yang datang dan antar ke ruang meeting."
"Baik."
Sepeninggal Tara dan seusai bicara panjang lebar dengannya, Kaira tidak lagi merasa sedih. Ia memutuskan untuk tetap bersemangat.
'Jangan patah semangat, Kaira. Ini baru hari pertama, kesalahan itu wajar. Yang penting jangan diulangi dan jangan sedih-sedih lagi.'
Kaira mengusap sedikit titik air mata di pelupuk dan memasang senyum terlebarnya saat ada tamu yang menghampiri meja resepsionis.
'Aku baik-baik aja.' Ia membatin, sebelum berdiri lalu menyapa santun si tamu.
"Selamat pagi, selamat datang di PayDo. Sudah ada janji sebelumnya?"
***
-Rayi-
"Galak banget Bro barusan." Begitu komentar Askar pada Rayi saat resepsionis baru bernama Kaira itu sudah pergi dari depan meja mereka.
"Ya gimana? Lo liat sendiri ini kondisi meja gue jadi kacau. Dokumen semua basah, handphone gue juga. Masih untung nggak gue amuk lebih lagi dari tadi." Rayi membenarkan perbuatannya sembari mengangkat ponsel dia.
"Awas aja kalau sampai rusak ini hape gue. Mahal-mahal gua baru beli."
"Halah, kena kopi begitu doang sih amanlah Bro. Yang penting nggak sampai kecemplung air."
"Tetap aja, basah ini coy!" Rayi menggumamkan terima kasih pada sang OB yang sudah membersihkan mejanya, menyelipkan uang sepuluh ribu di tangan lelaki itu.
"Makasih banyak, Pak Rayi!"
"Sorry ngerepotin ya Bang."
"Santai."
Sang OB berlalu, Rayi kembali menoleh pada Askar yang masih berceloteh.
"Ya udah sabar aja, namanya juga masih karyawan baru."
"Nggak semua karyawan baru sikapnya nggak becus kayak gitu ya," cela Rayi.
"Siapa sih yang terima dia kerja sini? Pasti karena orang dalam nih."
"Elah, lo lupaya lupa ya kalau bukan karena direkomendasi sama Kakak lo sendiri, mana bisa masuk sini." Askar balik mencela.
Rayi meringis. Lupa dia bahwa empat tahun lalu, Rayi masuk ke sini menggantikan kakaknya yang mantan sekretaris CEO.
"Iya juga ya."
"Ya udah sih, lagian lo galak banget sama anak orang. Padahal orangnya cantik gitu, heran gue."
"Cantik apaan? Biasa aja menurut gue." Rayi mendengus.
"Hah, lo sih seleranya emang lain. Segitu cewek cantik dan manis dicuekin. Paling yang bagi lo cantik itu cuma si mantan lo itu aja kan? Si Catur?"
"Chacha, Askar," koreksi Rayi yang dibalas Askar dengan kekehan.
Walau Rayi memang diam-diam menyetujui.
Empat tahun tidak sebentar, dan Chacha adalah cinta pertama Rayi. Wajar sekali dia masih susah move on karena tiba-tiba diputuskan perempuan yang baginya begitu cantik jelita.
Setiap hari kenangan soal Chacha masih membayangi Rayi, menciptakan perasaan dan mood buruk sepanjang hari. Ia yang biasanya doyan senyum dan ceria sekarang jadi lebih banyak menekuk wajah.
Semua karena ia diputuskan sepihak oleh si tunangan. Kenangan manis yang ada pun hanya tinggal kenangan, karena Chacha sudah berpacaran lagi dengan Mada.
Rayi tahu dari mana? Dari akun media sosial Mada dan Chacha yang komplak memblokir Rayi.
Pantas aja Mada tidak pernah lagi menghubunginya. Biasanya lelaki itu rajin mengajak bertemu seminggu sekali, tapi sejak Rayi putus dengan Chacha, tidak pernah lagi.
Rayi dikhianati teman dan tunangannya sendiri, meski keduanya tidak pernah mengatakan itu terang-terangan.
"Mode senggol bacok banget lo ah. Segitunya sama Chacha sampe ada cewek cantik lewat malah lo amuk." Komentar Askar lagi.
"Bodo amat, tampang dia jadi minus di mata gue gara-gara kelakuan dia barusan." Rayi mengomel lagi sembari mencetak dokumen baru. Kerjaannya yang harus diulang membuat kepala pening.
"Lagian inisiatifnya nggak penting, nggak ada yang suruh dia buat kopi malah dia buatin kopi gue sampai akhirnya tumpah semua gini."
"Gue yang suruh, Yi," timpal seseorang, membuat Rayi menoleh ke arah sumber suara.
Rahmat si staf akunting mendekati mejanya.
"Sorry ya, tadi itu resepsionis gue yang mintain tolong bikinin kopi buat gue. Eh malah dia ngide buatin buat lo sama Askar juga."
"Ya, bukan salah lo juga sih Mat," celetuk Rayi, sebelum dahinya mengernyit.
"Tapi itu bukan kerjaan dia juga. Lo mestinya buat sendirilah kopi kalau emang mau, atau minimal minta tolong OB atau OG. Jangan asal aja nyuruh anak baru."
"Sorry Bro." Rahmat meringis sebelum berlalu. Rayi mendengus.
Ternyata perempuan itu memang berinisiatif baik. Tapi Rayi jadi curiga, apakah dia bodoh atau memang benar baik.
"Tega banget lagi lo ah Yi, marah-marahin dia di depan umum kayak tadi."
"Biar kerja yang bener dia! Nggak berulah lagi." Rayi masih ngedumel. Walau tanpa sadar, dia jadi melihat sekeliling ruangan di lantai itu.
Ruangan itu besar dan tidak tertutup sama sekali. Hampir semua karyawan duduk di depan berbagai meja.
Pastilah tadi banyak yang mendengar dia marah-marahi si resepsionis baru. Rayi jadi tidak enak sendiri pada perempuan itu, sudah mempermalukan. Dia juga sebenarnya bukan sosok yang mudah dibenci. Hanya saja perasaannya memang kacau balau sehingga kesabarannya jadi tipis sekali.
Tapi mau bagaimana lagi? Rayi merasa dia berhak marah-marah karena sekarang pekerjaan dia jadi bertambah dan semua akibat perempuan itu.
"Ah elah, bisa takut itu anak orang baru masuk udah kena omel begitu sama Elo," timpal Askar, sembari menyeruput kopi. "Enak banget lagi ini kopinya."
"Kopi siapa itu?"
"Yang tadi dibuatin si Cantik. Kan satu cangkir doang yang tumpah, cangkir satunya gue ambil."
Rayi mendelik. "Kaga ada empatinya lo sih."
"Biar." Askar meminum lagi. "Hm, gue jadi penasaran. Dah punya cowok belum ya dia?"
"Bodo amat!" Rayi mendengus kesal.
***
Rayi bekerja sehari ini dengan giat, dan sesekali ia akan turun ke lantai dasar. Mau tak mau Ia melewati meja resepsionis tempat wanita itu duduk, dan hanya Tara yang akan menyapanya.
Sementara Kaira si resepsionis baru selalu menundukkan kepala.
Sebenarnya Rayi tak enak jika ada masalah begini di kantor. Tapi ia mau menyapa duluan pun kesal, jadi lebih baik dia diam untuk mendinginkan kekesalan.
Sore menjelang, bosnya Rayi akhirnya keluar dari kantor jam 6 sore.
"Rayi, saya duluan ya," ucap sang CEO, Pak Adya. Rayi berdiri dan menundukkan kepala.
"Baik, Pak. Sampai ketemu besok, hati-hati."
"Ya, kamu juga."
Ketika bosnya pulang, maka dia pun sudah bisa pulang. Rayi berjalan tertatih dengan kaki kanannya yang pincang ke lantai bawah.
Ternyata di luar hujan, untungnya dia pakai mobil. Dipayungi satpam, Rayi diantar ke mobilnya.
Setelah itu ia menjalankan mobilnya kembali ke asrama. Jalan yang harus dilewati dari kantor ke asrama cukup sepi di sisi hutan. Saat hujan begini, Rayi melihat sesosok wanita muda dengan pakaian familiar berjalan di trotoar menggunakan payung PayDo.
'Itu kan si resepsionis,' batin Rayi, mengenali celana bahan abu dan atasan merah muda yang perempuan itu tadi kenakan dari belakang.
'Ke mana dia? Apa ke asrama juga? Kalau ke Batam Center pasti nggak lewat sini.' Rayi menyimpulkan.
Saat itu pikirannya bercabang. Antara mau berhenti memberi tumpangan, atau tetap lanjut.
Tapi kekesalannya membuat Rayi akhirnya lanjut terus.
'Ah pulang masing-masing aja.' Rayi mengemudi mobil melewati Kaira.
Walau tidak lama, karena baru beberapa meter dia berubah pikiran.
'Ah, kasihan ah. Ajak bareng aja.'
Rayi pun memundurkan mobil. Maksud hati mau menumpangi Kaira, tapi malah tanpa sengaja ban mobilnya menginjak bagian jalan yang rusak dan tergenang.
Sraat
Rayi membeku, melihat ke belakang dan hanya bisa melongo saat sadar baju dan badan Kaira jadi basah sekarang kena cipratan air dari mobilnya. Perempuan itu sedang mengelap mukanya sendiri, tampak sama kagetnya dengan Rayi.
'Sial, gue nggak sengaja!'
Rayi mau turun lalu minta maaf, tapi ia benar-benar tengsin. Terutama saat melihat Kaira melanjutkan berjalan dan lalu berhenti tepat di samping mobil Rayi. Perempuan itu melihat ke dalam mobilnya beberapa saat.
Pandangan mereka bertemu, walau Rayi tak yakin Kaira tahu ada dia di dalamnya karena jendela mobil Rayi ditutupi kaca hitam.
Tatapan Kaira lurus tanpa emosi, beberapa saat Rayi seperti terhipnotis. Kaira pun melengos, lanjut jalan dengan payung meski masih berbasah-basahan. Tanpa mengajak bicara Rayi di dalam mobil, dan Rayi pun belum sempat meminta maaf.
Sementara Rayi merasa gugup tiba-tiba.
'Sh*t, apaan ini?' Ia memegang dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa.