Chapter 10: Sakit

1074 Words
-Kaira- Kaira yakin, Rayi si sekretaris CEO pasti membencinya. Karena lelaki itu seperti sengaja, mencipratkan genangan air pada pada Kaira menggunakan mobil Raize-nya ketika hujan deras. Akibat perbuatan Rayi itu, dia akhirnya pulang dengan berbasah-basahan. 'Ya ampun, hari pertama apaan ini?' begitu keluh Kaira. Baru hari pertama bekerja, dia sudah ketumpahan kopi, kemudian kecipratan air hujan. KaIra tiba di asrama lima belas menit setelahnya dengan kondisi tubuh yang masih basah. Ia melihat mobil yang tadi melewati dan menciprati air sudah tiba duluan. Kaira mendengus, tahu persis siapa pemilik mobil itu. "Dia tuh begitu banget ya? Udah marah-marah sama aku di depan umum, sekarang masih kurang dendam sampai sengaja ngebasahin aku pas lagi jalan pulang." Kaira misuh-misuh sendiri. "Malaikat apaan? Set*n kali ah setaan!" Kaira mendengus melihat mobil putih itu, kemudian langsung naik ke atas. Ia ingin mandi, sayang tidak ada air hangat di dalam asramanya. Biasanya Batam itu panas jadi dia tidak memerlukan air hangat untuk mandi. Cuma hari ini hujan, dan Kaira merasa air keran jadi lebih dingin dari biasa. Namun Ia tetap mandi demi membersihkan sisa genangan air di tubuh. Bermenit-menit berjalan dengan baju yang basah dan saat pulang langsung mandi air dingin, membuat ia bersin-bersin dan hidungnya meler. Malam menjelang, ia sakit kepala. Badang pun terasa meriang. "Udah lama nggak sakit begini. Lemes ya ampun." Kaira bergelung di balik selimut di atas ranjang. Tidak ada niat ingin makan keluar dan memilih menghabiskan waktu semalaman di tempat tidur, sampai ia tertidur dan bangun kepagian. "Haus ...." Kaira menggumam, meminum air yang ada di kamarnya. Dia jarang sakit dan saat sakit biasa mengerjakan pekerjaan rumah, makanya saat hari makin siang, Kaira memutuskan untuk berangkat saja bekerja. Kondisinya hanya sedikit lebih baik dari semalam. Walaupun masih agak pusing, setidaknya dia sudah bisa berjalan seperti biasa. Ia tidak ingin meninggalkan kesan buruk di hari kedua dengan tidak masuk kerja saat hari pertama sudah begitu kacau. "Pagi Kak Tara," sapa Kaira saat sudah tiba di kantor dengan menggunakan ojek online. "Pagi Kai. Kenapa pakai masker?" Perempuan itu mengernyit dahi melihat Kaira. "Saya flu, Kak. Kehujanan semalam." "Kok bisa? Kan gue udah kasih lo payung PayDo?" "Kecipratan air terus karena hujan gede Kak, jadi masih kebasahan. Sampai asrama saya mandi, langsung gak enak badan setelahnya." Kaira menjeda cerita dengan bersin-bersin. Tara terlihat iba. "Ke klinik gih, ada dokter jaga kok. Minta obat aja sana, kalau emang lo harus istirahat di rumah mending pulang." "Saya nggak apa-apa kok Kak. Masih bisa kerja," sanggah Kaira. "Nanti siang aja saya ke klinik minta obat. Sekarang nggak apa-apa kok, toh kerjaan kita ini banyak duduk dan nggak berat." "Iya juga sih bener. Ya sudah, tapi jangan diforsir ya." "Siap, Kak." Kaira duduk di depan meja resepsionis itu sambil mengecek daftar tamu bersama Tara. Sesekali mereka berdua akan mengucapkan selamat pagi pada petinggi perusahaan yang lewat. Salah satunya adalah orang yang mengesalkan untuk Kaira, Pak Rayi si Malaikat yang ternyata jahat. "Selamat pagi Pak Rayi," sapa Tara sopan. Kaira ikut mengucapkan salam namun kepalanya menunduk, tak ingin melihat ke arah pria itu. Ia kira Rayi akan langsung lewat, tapi ternyata lelaki pincang itu mendekati meja mereka. "Pagi Tara, Kaira," sapa Rayi balik. Kaira menunduk, tiba-tiba merasakan tatapan lelaki itu. Ia jadi khawatir, apa lagi pembalasan dendam yang ingin dilakukan pria itu. Apakah pria itu ingin marah-marah lagi? Apa tidak cukup yang kemarin? Kaira jadi gugup saat mendengar pertanyaan Rayi. "Kenapa pakai masker?" Saking gugupnya, ia sampai tidak berani menjawab. Untung ada Tara. "Dia lagi flu Pak, kemarin kehujanan." "Oh." Kaira masih menunduk, berharap Rayi akan segera pergi. Dia seperti bisa merasakan pandangan Rayi begitu mengkritik meski laki-laki itu tidak bicara lebih lanjut. "Nanti ambil jadwal ke atas." "Baik Pak." Saat mendengar langkah kaki menjauh, baru Kaira berani mengangkat kepala. Ia melihat Rayi berjalan terpincang ke arah lift naik ke lantai dua, menjauhi mereka. Baru dia bisa bernafas lega. "Hah, syukurlah." Kaira langsung memegang d**a sendiri. Tara terkekeh. "Gugup banget lo barusan, ditanyain sampai nggak bisa jawab gitu. Segitunya takut sama Pak Rayi?" "Iya Kak, takut banget." Tubuh Kaira menggigil jadinya. "Ngapain sih setakut itu? Percaya deh, Pak Rayi tuh baik lho. Dia sama kakaknya yang dulu kerja di sini sebelum dia, tuh sama-sama baik dan profesional. Dia marah sama lo kemarin kan ada alasannya, tapi yakin deh cuma pas itu aja. Sekarang juga udah baik, ya kan?" Kaira hanya diam, tidak yakin soal itu. Kalau Rayi tidak dendam, tidak mungkin kan kemarin pria itu sengaja sekali membuat dirinya basah dengan genangan air kotor sampai dia flu begini? Tapi cerita pada Tara pun Kaira yakin perempuan itu tak akan percaya. Bisa jadi dia juga akan disangka penyebar hoax dan tukang fitnah. Jadi Kaira mengangguk saja. "Iya Kak, mungkin karena masih kepikiran kemarin aja." "Iya, santai aja ya." *** Hari menjelang siang, dan Kaira merasa kepalanya makin pusing dan badannya makin lemas sehingga ia pun menyerah. "Kak, saya ke klinik kantor dulu," pamitnya pada Tara. “Iya, semoga enakan ya. Kalau nggak kuat, pulang aja nanti.” “Tapi baru dua hari kerja masa udah nggak masuk kak?” “Namanya juga sakit. Nggak masalah, kan ada surat sakit.” “Oh, iya Kak.” Kaira pun pergi ke ruangan klinik di lantai satu gedung kantornya itu. Ia bertemu sang dokter pemeriksa yang mengatakan hal yang sama. “Ibu demam dan batuk pilek. Saya kasih paracetamol dan obat lain, tapi sebaiknya Ibu pulang dan istirahat di rumah.” Kaira tak tahu harus senang atau sedih mendengar itu. “Saya kasih surat sakit, Ibu pulang aja habis ini ya.” "Iya, Pak Dokter." "Ibu bawa kendaraan?" "Nggak Pak. Saya naik ojek tadi." "Oke, baguslah. Bahaya soalnya bawa kendaraan dengan kondisi lemas begini." "Iya Pak Dokter." Kaira menerima resep dan obat-obatan dari sang dokter, kemudian keluar dari ruangan dengan jalan yang tertatih. Kepalanya benar-benar pusing, badannya hampir limbung, dan keringat dingin bercucuran. Ia berpegangan pada tembok untuk support badannya, berjalan membuka pintu dan baru akan keluar saat hampir menubruk seseorang. "Eh." Kaira mendongak, lagi-lagi bertemu pandang dengan Rayi. 'Astaga, apa nggak ada orang lain lagi di kantor ini?' Kaira membatin jengkel, langsung menggumamkan maaf karena khawatir kena semprot lagi. "Maaf, Pak." "Ng, nggak apa-apa." Ia mendengar balasan Rayi, tidak sejutek kemarin. "Permisi." Kaira baru akan melewati pria itu saat Rayi bertanya lagi. "Kamu nggak apa-apa?" "Nggak." Kepalanya menggeleng, sayang badannya yang bohong. Karena tubuh Kaira oleng ke depan dan pandangannya mengabur. Ia bisa merasakan Rayi menopang tubuhnya sekarang, memanggil nama Kaira sebelum semuanya gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD