-Rayi-
Melihat Kaira yang datang ke kantor memakai masker dan terlihat pucat, membuat Rayi merasa tidak enak sendiri. Dia kepikiran, karena dia merasa berdosa.
'Seharusnya kemarin gue tebengi sampai ke asrama.' Begitu batin Rayi. Hanya saja dia dengan bodohnya malah mencipratkan genangan air kotor hingga Kaira basah kuyup.
Dia begitu malu untuk keluar lalu meminta maaf sehingga membiarkan perempuan itu berjalan sendirian ke asrama. Akibat kejadian itu, Kaira sekarang sakit dan Rayi tahu pasti sakitnya itu adalah salah dia.
Rayi bukan orang jahat, seberapapun kesalnya dia dengan Kaira, tetap saja dia bukan manusia tak punya hati. Karena itu dia betul-betul kepikiran akan kondisi perempuan itu sampai jam makan siang.
“Makan di mana bro? Kantin?” tanya Askar ketika jam makan siang tiba. Baru saja kedua bos mereka keluar untuk makan siang di luar bersama. Meninggalkan Rayi dan Askar di kantor.
“Lo aja duluan, gue mau ke bawah dulu.”
“Ya ini kan kita sama-sama ke bawah? Emang lo enggak ke kantin?
“Nggak, gue mau ketemu seseorang.”
“Oh, oke deh.“
Rayi pun berjalan secepat yang dia mampu, sengaja meninggalkan Askar duluan. Dia menghampiri meja resepsionis dan benar saja, Kaira tidak ada. Padahal seharusnya jam makan siang selalu ada yang menjaga di bagian resepsionis tapi yang di sana sekarang hanya ada Tara.
“Kamu sendiri?” tanya Rayi pada rekan kerja Kaira itu.
"Iya Pak."
"Teman kamu yang baru masuk itu mana?"
“Ke klinik Pak, sakitnya tambah parah. Bapak mau tanya sesuatu?"
“Nggak.” Rayi melempar senyum tipis dan memutar badan.
Sesuai perkiraan dia, Kaira ke klinik kantor yang ada di lantai satu. Dia baru akan membuka pintu ruangan itu saat pintu terbuka duluan dan melihat Kaira di depannya, baru akan keluar dari sana.
Rayi menyapa Kaira yang tidak terlalu disambut dengan baik. Namun sepersekian detik setelahnya, Kaira malah oleng ke depan, tidak sadarkan diri sampai menumpu tubuh ke Rayi.
“Kaira? Kaira? Hey?” Rayi memanggil perempuan itu berulang kali, jelas khawatir. Dokter jaga menghampirinya.
“Wah, pingsan ya dia?” tanya dokter jaga yang diangguki Rayi.
“Iya Dokter, bagaimana ini?”
“Ini panas dia makin tinggi, jadi kita bawa ke rumah sakit saja. Pak Rayi bisa antar? Atau harus stand by menunggu Pak Adya?”
“Antar sebentar juga tidak apa-apa Pak.”
“Oke Pak, kita rujuk ke RS Bhayangkara aja, yang terdekat."
"Siap Pak. Pakai mobil saya saja."
Rayi baru akan mengalungkan lengan Kaira ke lehernya ketika sang dokter menahan.
"Biar saya saja Pak. Kita dudukkan di kursi roda."
Ah, Rayi jadi tersadar kondisi kaki sendiri, tak bisa mudah bergerak. Ia mengangguk, membiarkan Pak Dokter yang masih muda itu memindahkan Kaira ke kursi roda milik klinik, sebelum mendorong kursi itu ke luar.
Mereka pergi ke parkiran melewati Tara yang tampak bingung melihat Kaira tak sadar di kursi roda.
"Lho, Kai? Pak?"
"Pingsan dia, bawa ke rumah sakit dulu. Tolong handle sendiri ya Ra," pinta Rayi sembari berjalan tertatih.
"Baik, Pak."
Rayi mengambil mobilnya untuk diparkir ke depan lobi, sementara Dokter jaga menunggu di lobi bersama Kaira.
Kaira pun dipindahkan ke kursi belakang, dibaringkan. Sementara dokter bersama Rayi duduk di depan.
Begitu tiba di UGD RS Bhayangkara, keadaan sedang ramai karena baru ada ancaman pengeboman di Polda Kepri. Banyak sekali polisi berkumpul. Beruntung UGD tidak ramai, jadi Kaira bisa langsung ditangani.
Rayi dan dokter jaga bagi tugas, dengan Rayi mengurus administrasi Kaira sementara dokter jaga menginformasikan kondisi medis Kaira pada dokter di IGD.
Rayi si sekretaris CEO dengan mudah mendapatkan semua informasi Kaira dengan mengakses basis data perusahaan, dan saat itulah Rayi tahu kalau perempuan itu janda, dan yatim piatu.
'Jadi dia janda? Janda tanpa anak?' Rayi membatin, sama sekali tidak menyangka.
"Ini kan nomor panti Pak Muchtar?" Rayi mengernyit dahi melihat kontak darurat yang dicantumkan oleh Kaira. Dia kenal nomor itu, karena setiap bulan si Bos selalu memberi donasi ke panti tersebut.
"Dia mantan anak panti? Ya ampun."
Rayi jadi semakin iba, plus semakin merasa bersalah. Untungnya, kondisi Kaira tidak parah. Perempuan itu hanya kelelahan dan flu ringan, jadi diperbolehkan istirahat sebentar di UGD lalu pulang.
Kaira masih tertidur ketika Rayi kembali ke UGD. Sebetulnya dia ingin menunggui, tapi jam makan siang sudah hampir selesai dan bosnya akan kembali ke kantor. Dia harus stand by, tentu tidak bisa pergi keluar kantor sembarangan saat semua urusan CEO dia yang bertanggung jawab.
"Pak Rayi mau balik ke kantor?" tanya si dokter jaga yang diangguki Rayi.
"Saya baru panggil keluarganya, mungkin sebentar lagi datang. Pak Dokter?"
"Saya juga harus kembali. Jadwal praktek saya di PayDo hari ini sudah selesai, terus saya harus praktek di rumah sakit."
"Wah, jadi dia sendiri?" Rayi sedikit khawatir. Dia dan si Dokter Jaga sama-sama tidak bisa menunggui.
"Suster, ini tidak apa-apa kan kalau pasiennya sendiri? Kami harus kembali ke kantor, dan keluarganya datang sebentar lagi." Ia bertanya pada suster yang melewati mereka.
"Sebetulnya harus ada yang menemani, Pak. Namun karena Bapak bilang keluarganya akan datang, tidak apa-apa. Asal selesaikan urusan administrasi dulu ya Pak." Perempuan itu tersenyum pada mereka yang Rayi angguki.
"Iya, sudah selesai kok administrasinya Sus," sahut Rayi lagi.
Mereka pun akhirnya menitipkan Kaira pada suster jaga, dan Rayi menutup tirai yang melingkupi ranjang Kaira. Sekilas ia memperhatikan perempuan yang masih tertidur itu.
Cantik, namun ternyata sudah janda. Janda cerai pula, membuat Rayi yang penilaiannya terhadap Kaira sempat meninggi, jadi turun lagi.
'Bagus gue jaga jarak sama dia,' ucap Rayi dalam hati. 'Bersikap profesional selayaknya rekan kerja aja.'sebelum pergi meninggalkan perempuan itu sendirian di UGD.
***
-Kaira-
Saat matanya terbuka, ternyata ia sudah ada di rumah sakit. Tangan kiri diinfus, interior serba putih. Dia tahu ini rumah sakit, hanya tidak tahu dia di mana.
"Aku pingsan ya?" gumamnya pelan. Tidak ada yang menjawab. Hanya terdengar suara perbincangan orang di luar tirai, bukan tentangnya.
"Aku sendirian ...." Kaira berbisik lagi. Tiba-tiba air matanya mengalir. Kondisi tubuh yang sakit ditambah kondisi mental yang carut marut membuat Kaira menangis tanpa bisa dihentikan.
"Duh, kenapa ya ini nangis? Jangan nangis, Kai, jangan nangis." Dengan tangan kanan yang tidak diinfus, Kaira mengusap matanya. Berharap air matanya berhenti, namun ternyata susah.
Ia kesepian, sendiri, tidak punya siapapun dan sangat terasa saat sakit begini.
Setelah dua bulan lebih tidak menangis, air matanya luruh juga.
"Sepi ...."