Chapter 12: Berseteru

1113 Words
-Kaira- "Kok bisa ya kamu sakit begini, Kai?" tanya Bu Lies pada Kaira. Mereka masih di UGD, dengan Kaira sudah berhenti menangis karena Ibu Lies si ibu angkat sudah mendatanginya ke rumah sakit. "Gak tahu Bu, semalam aku memang kehujanan. Jadi nggak sangka aja bakal benar-benar sakit gara-gara itu." "Wah ini kayaknya udah baikan ya? Udah enggak panas lagi nih." Bu Lies memeriksa dahi Kaira. "Iya, udah nggak panas kok ini. Tadi Dokter bilang kamu sudah boleh pulang sebentar lagi, paling bilang dulu aja sama suster biar lepas infusnya kalau mau pulang. Itu kan vitamin C ya." "Iya Bu, infus biar lebih fit lagi katanya. Soalnya nggak fit makanya sakit." "Iya kamu tumben lho nggak fit, Kai. Mungkin karena kamu udah lama nggak kerja kantoran kali ya, makanya kamu terasa lebih gampang capek dari biasa." "Mungkin begitu ya Bu." Kaira mengiyakan saja ucapan sang Ibu. Selang tiga puluh menit setelahnya, baru Kaira benar-benar pulang. Mereka menunggu taksi di lobi RS, terheran-heran dengan suasana rumah sakit yang ramai polisi dan wartawan. "Kok rame banget ya? Apa lagi ada pejabat?" tanya Bu Lies. Kaira menggeleng. "Tadi saya denger bisik-bisik di UGD ya Bu, ada ancaman bom di Polda. Tapi nggak ada korban jiwa kok." "Wah, ngeri banget. Untung nggak sampai meledak ya." "Iya." Taksi online pesanan mereka datang tak lama kemudian. Dia bersama Bu Lies pun pulang ke asrama. "Makasih Ibu udah datang." Kaira berterimakasih sekali pada wanita itu, yang kedatangannya menghilangkan perasaan galaunya. "Maaf Kaira baru keluar dari panti udah bikin Ibu repot lagi." "Nggak lah, nggak repot. Kamu dulu besar di panti, Kai. Kamu salah satu anak pertama Ibu, jangan ragu hubungi kapan aja kalau kamu perlu." Dielusnya kepala Kaira yang membuat Kaira tersenyum. "Makasih, Ibu." Kaira bersama sang Ibu angkat tiba di asrama tidak lama setelahnya. Wanita itu terlihat kaget melihat tempat tinggal Kaira yang baru. "Wah, Ibu kesampaian juga akhirnya ke sini. Bener ini kamu tinggal di sini?" "Iya, Bu." "Bagus ya, kayak hotel." Kaira tersenyum menyetujui. Perempuan itu tak henti memuji, bahkan hingga kamar tempat Kaira tidur sekarang yang lengkap fasilitasnya. "Wah, lebih enak di sini ya Kai daripada di rumah kamu sama Ilman waktu itu. Lebih mewah dan nyaman." "Iya Bu." Kaira mengiyakan. "Ibu tadi tahu dari siapa soal saya?" tanya Kaira sembari duduk di atas ranjang. Mereka sudah di kamar sekarang. "Mbak Tara atau orang HRD?" "Tadi itu laki-laki. Yang nelepon Ibu, kalau nggak salah namanya itu Rayi," jawab Bu Lies, duduk di sebelah Kaira di ranjang single kamar itu. "Dia bilang dari kantornya Kaira, dan Kaira pingsan jadi lagi di IGD RS Bhayangkara. Ibu diminta datang segera." "Wah, beneran Pak Rayi?" Kaira sampai kaget. Sama sekali tidak menyangka yang menolongnya tadi adalah lelaki paling membingungkan di kantornya. Ia juga jadi malu sendiri, sudah menangis di ruang IGD merasa paling merana. Padahal dia mungkin tidak lama sendirian tadi. "Iya, dia. Tadi dia bilang kamu pingsan di kantor terus dia antar kamu ke rumah sakit. Dia minta Ibu datang cepat soalnya dia nggak bisa temani kamu, karena dia ada kerjaan di kantor." "Oh ya sih, Pak Rayi memang sibuk, dia kan sekertarisnya Pak Adya." "Ah bener. Pantas suaranya familiar dan Pak Rayi tadi bicara kayak udah kenal sama Ibu gitu. Dia yang biasa kasih sumbangan ke kantor kali ya, yang mewakili Pak Adya." "Iya Bu, bener." "Ya kayaknya memang dia Bu, soalnya dia kan udah sekitar empat tahunan ini kalo enggak salah jadi sekretarisnya Pak Adya." Kaira merespons pendek, dalam hati masih tak menyangka. Ternyata Rayi yang ia tahu jutek, galak dan penuh dendam bisa sebaik itu padanya. Ia jadi teringat tadi memang Rayi yang membuka pintu ketika dia pingsan di depan ruangan dokter. 'Mungkin Pak Rayi nggak enak kali ya, karena dia udah basahin aku semalam.' Kaira berkesimpulan. Mau tidak mau rasa kesalnya kepada lelaki itu menjadi berkurang. "Ya sudah kalau begitu, Ibu pulang dulu ya Kai?" "Iya Bu, hati-hati. Biar aku antar ke bawah, sekalian aku mau ke kantor lagi mumpung masih jam 3." "Lho, jangan. Tadi kata Pak Rayi, kamu pulang aja. Istirahat sampai benar-benar pulih baru kembali bekerja. Untuk dua hari ini kamu udah dapat surat sakit kan? Jangan paksa balik ke kantor." "Tapi saya kok nggak enak ya Bu kelamaan libur. Ini aja udah enakan banget kok Bu, dikasih infus vitamin sama obat tadi dari rumah sakit. Paling besok saya masuk Bu, nggak enak aja kalau baru kerja dua hari udah libur." "Iya, asal jangan diforsir ya Kai." "Siap, Bu." Sepulang sang Ibu angkat dari asramanya, Kaira memilih beristirahat lagi di kamarnya setelah mengirim pesan izin pada Tara yang tentu saja mengiyakan. Ia tertidur sampai malam menjelang, dan perutnya kelaparan. Untung di sebelah asrama ada warteg. Kaira turun ke bawah dan membeli nasi bungkus dengan lauk tumis sayur dan telur balado. Baru akan kembali ke atas saat dia berpapasan dengan Rayi di lantai satu asrama. "Eh." Pria itu terlihat kaget melihatnya, sementara Kaira tersenyum manis. "Pak Rayi. Terima kasih banyak hari ini." Kaira berkata sungguh-sungguh. Mereka berdua berdiri di depan lift, sama-sama mau naik ke atas. "Maaf, pasti saya merepotkan karena tiba-tiba pingsan." "Yah, memang benar saya jadi repot tadi mengurus kamu." Rayi mengangguk, wajahnya datar saja. "Tolong jaga kesehatan ya Kaira. Jangan sampai kamu sakit lagi, ingat kamu baru masuk kerja, jangan seenaknya libur." Ucapan menusuk itu dikatakan dengan ekspresi datar, membuat senyum Kaira lenyap. Dia baru ingat betapa jengkelnya dia dengan lelaki ini. Apakah sesusah itu lelaki ini berbicara manis? Mengingat pelaku yang membuat Kaira sakit juga dia. "Saya akan jaga kesehatan, Pak. Saya juga nggak mau sakit begini. Tapi Bapak lupa? Kemarin itu siapa yang bikin saya kebasahan sampai demam?" Kaira menyemprot, sebelum menutup mulutnya sendiri. Baru ingat sudah keceplosan memarahi bosnya sendiri. Rayi terkesiap, namun pria itu cepat membalas. "Yang kemarin itu saya nggak sengaja, ya. Lagipula kenapa kamu besar-besarkan? Kan kamu yang tumpahi kopi duluan sampai rusak semua kerjaan saya. Wajar saya marah besar sama kamu, untung nggak sampai dendam sampai saya biarkan kamu terkapar di kantor." Kaira melongo. Berarti benar perkiraannya, Rayi sengaja balas dendam kemarin itu? Malaikat apanya?? Pria itu bahkan mengungkit jasanya pada Kaira, membuat dia malas merespons. Jadi Kaira diam saja. "Sudahlah, pokoknya ingat yang saya bilang. Kamu jaga kesehatan dan kerja yang benar, jangan sampai menyusahkan saya lagi. Bisa?"
 "Bisa, Pak. Bapak jangan khawatir," balas Kaira dingin. "Bagus." Pintu lift terbuka, dan Kaira menyaksikan Rayi masuk duluan dengan satu kaki tertatih. "Kamu nggak masuk?" tanyanya. Kaira menggeleng. "Bapak duluan aja, saya tidak mau menyusahkan Bapak dengan kita satu lift bersama." Ia bicara sarkastis. Rayi mendengus. "Begitu aja kamu ngambek? Dasar cewek, bisanya cuma ngambek." Lift tertutup, dengan Kaira menepuk dadanya sendiri. "Ya ampun, sabar, sabar Kai. Sekantor sama orang nyebelin gitu, harus banyak-banyak sabar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD