Part 2

1530 Words
“Kamu..”             “Kamuu..” ucap mereka saling tunjuk.             “Re…”             “Reno…” mereka saling terdiam. Sesaat pikiran mereka terbang kemasa lalu. Dimana pertama mereka bertemu. Seakan De javu.               Flash Back             “Kamu terlambat juga? Ya udah sini aku bantuin,” saat itu Renatha memang datang terlambat. Bukannya tidak mau datang on time. Tapi memang Renatha saat itu di sibukan oleh Rinni. Rinni meminta Renatha untuk mencatok rambutnya untuk audisi pemilihan model. Dengan terpaksa Renatha harus membantu Rinni. Sehingga Renatha harus terlambat di hari pertama mos SMA saat itu.             “Gue Reno, dan lo?” Reno memperkenalkan diri sambil tersenyum manis. Hal itu membuat Renatha sedikit salting. Jangan salah Reno juga merasakan hal yang sama.             “Re.. Renatha,” ucap Renatha gugup sambil mengulurkan tangan pada Reno. Saat itu jantung Renatha berdegup kencang. Apakah serangan jantung? Tentu bukan. Senyuman Reno membuatnya meleleh tak berkutik. Ini anugrah bagi Renatha. Apa ini yang di namakan cinta pada pandangan pertama? Ah engga mungkin. Ini terlalu cepat Re, batin Renatha.             “Hellllowwww Re!” Reno melambaikan tangannya di depan wajah Renatha.             “Ka.. kamu kenapa di sini?” Renatha tersadar dalam lamunnya di masa lalu. Ia masih sangat canggung melihat Reno kembali. Rasanya lukanya saja belum kering. Kenapa harus luka itu kembali di buka? Kenpa kejadiaan saat SMA dulu harus terulang lagi saat kuliah?             “Aku emang kuliah di sini kali. Kok bisa yah kita ketemu di sini? Padahal asalnya aku mau daftar di UGM aja. Tapi aku batalin. Ternyata ketemu kamu Rere,” Reno tersenyum.             “Berhenti panggil gue Rere, Ren! Gue bukan Rere lo lagi. Gue Renatha. Dan lo ga perlu bilang ini takdir yang di tuliskan Tuhan, supaya kita ketemu lagi. Engga Ren. BASI! Mungkin saat itu memang takdir, ya takdir terburuk yang pernah gue punya karena bisa ketemu lo di gudang itu. Jadi jangan lo pikir, pertemuan sekarang kita di sini juga takdir!” Renatha benar-benar tak bisa menahan emosinya. Sebetulny Renatha sangat marah sekali. Ingin rasanya menapar atau memukul Reno, karena rasa kesalnya. Tapi, rasanya tidak mungkin. Bisa jadi masalah kalau sampai hal itu terjadi.             Reno hanya bisa diam. Reno sangat mengerti perasaan Renatha. Memang salah Reno. Ia pantas mendapatkan ini. Tanpa salah Renatha di putuskan begitu saja lewat telepon. “Re, kita harus putus,” setelah itu Reno menutup teleponnya. Sakit kan? Tanpa penjelasan dan langsung menghilang selama dua tahun.             Renatha membalikan badannya dan akan segera pergi dari tempat itu. Namun Reno berhasil meraihnya. PLAK! Renatha menampar Reno. “Mau apa lagi HAH! CUKUP Ren. Cukup! Gue udah ga mau denger apa-apa lagi dari lo. Semua udah terlambat!” bentak Renatha penuh emosi dan kemudian pergi. Reno hanya bisa memegangi pipinya yang di tampar Renatha tadi. Ia  menatap punggung Renatha yang semakin lama semakin menjauh. Ada rasa bersalah membuncah dalam hati Reno. Andai saja waktu bisa di ulang. Sudah pasti Reno tidak mau membuat Renatha semarah ini. Rasa sakit hati yang berubah menjadi amarah. Itu wajar saja. Bukan ini yang Reno mau. Tapi, apa boleh buat. Semua sudah terjadi. Pastinya akan sulit sekali untuk memperbaikinya. ******** “Please kak aku jangan satu team sama Reno please,” rengek Renatha pada senior yang tadi mengantarnya pada si Terong yang ternyata Reno. “Engga bisa! Itu udah keputusan senior. Kamu harus tetap satu team sama Reno,” senior itu kukeh. “Bener, keputusannya ga bisa di ganggu gugat. Nana ini ketua panitia di sini,” jelas teman senior itu yang ternyata namanya Nana.             “Apa ga bisa di ganti pasangannya? Please kak please,” Renatha terus membujuk Nana.             “Engga bisa! Emang kalian berdua ada masalah apa sih sampe ga mau satu team?” selidik Nana.             “Engga ada kok kak. Oke kalo gitu aku satu team aja sama Reno,” akhirnya Renatha menyerah. Renatha paling tidak mau orang lain mencampuri urusan dia. Apa lagi masa lalunya yang teramat pahit baginya. Setelah keperluannya pada senior selesai Renatha kembali ke gudang dengan gontai. Dulu yang terlambat Renatha, sekarang Reno. Apa benar itu takdir? Kalu benar itu takdir. Renatha sangat membencinya.             “Balik lagi?” tanya Reno.             “Jangan geer yah gue kesini karena di suruh kak Nana!” ketusnya.             “Rere Rere.. Idung kamu masih sama yah, kalo marah pasti kembang kempis hhehe,” Reno malah cengengesan tanpa rasa bersalah. “Panggil gue Rena! Gue bukan Rere lagi. Faham?” tegas Renatha.             Reno malah asik membereskan berkas di gudang tanpa menggubris perkataan Renatha. “Haa.. Hachiiiihh.. Ukhuukk Ukuhuk…” debu di berkas itu sangat tebal hingga membuat Reno bersin sampai terbatuk-batuk.             “Bodoh banget sih, udah tahu banyak debunya. Malah lo bersihin tanpa masker!” Renatha merebut berkas yang tadinya akan di bersihkan Reno. “Lo inget lo alergi debu kan? Bisa-bisa flu berat lo, kumat lagi Ren!” terlihat sekali Renatha sangat panik. Ia tahu betul semua tentang Reno. Begitupun sebaliknya. Reno tahu betul kebiasaan Rentha. Bagaimana tidak. Hati mereka dulu saling menyatu. Kebiasaan kecil semacam itu. Pasti tidak mudah untuk di lupakan.             Reno tersenyum, “Ternyata kamu masih inget? aku ga apa-apa kok, ga usah khawatir,”             “E.. engga kok,” kilah Renatha.             “Gimana bisa lupa yah dulu juga gue sempet flu berat pas waktu pertama kita ketemu. Dulu gudang SMA, sekarang gudang Vegasus. Memang benar-benar takdir,” lagi-lagi Reno berbicara soal takdir.             Mata Renatha membulat tajam, “Cukup yah lo bilang takdir. Takdir lo sama gue itu udah berakhir. Inget, sebenernya gue engga mau satu team sama lo. Gue udah bujuk kaka senior. Tapi engga berhasil. Gue males di tanya-tanya, kenapa gue engga mau satu team sama lo. Jadi, dengan terpaksa gue mau jadi team lo!”             “Haaa.. Hacciihhhh” lagi-lagi Reno bersin. Sejak dulu Reno memang alergi pada debu selain itu dia juga autoimun. “Udah udah lo keluar aja cari masker, biar tar kita beresin bareng-bareng. Tuh lihat ingus loh! Ih jijik sanah!” Renatha mendorong Reno keluar gudang.             Di luar gudang Reno tersenyum. Ternyata Rere masih inget aku alergi debu. Pastinya dia inget juga kalo aku autoimun. Sayang banget aku dulu sia-siain dia, andai saja semua itu engga terjadi. Mungkin sekarang aku sama Rere udah bahagia,  batin Reno menyesal. ********             “Ab to meri raatein kat ti taare gin gin (Aku menghabiskan malam tanpa tidur menghitung bintang di langit)..” Inka bersenandung di tengah istirahat ospek. Dan seperti biasa Renatha dan Silvi hanya bisa tertawa melihat Inti dan Inka menyanyi India.             “Bole chudiyan, bole kangna (Gelang berbicara gelang berdenting),” Inti meneruskan lagu sang kakaknya.             “Hahhaa cukup cukup. Gue ga tahan lagi lihat kalian hahaaaha,” ucap Silvi sambil memegangi perutnya, karena keasikan menertawai sahabatnya itu. “Bye the way, emmmh tadi gue liat lo sama Rheno, lo ga apa-apa Tha?” dengan hati-hati Sivi menanyakan tentang Reno.             “Ga apa-apa Vi, cuma yang gue ga abis pikir. Kenapa sih gue harus ketemu dia di sini dan satu team pula,” keluh Renatha.             “Dia nguntit lo kali Tha,” ceplos Inti.             Renatha mengangkat bahunya. “Atau jangan-jangan dia sengaja lagi ke Indo buat CLBK sama lo Tha,” tambah Inka. Du duh adik kakak kembar ini kompakan banget pikirannya. Engga membantu sama sekali. Malah membuat Renatha sebal. Mungkin kebanyakan nonton film India kali. Jadi drama mulu yang ada di pikiran mereka.             “Dia masih autoimun Tha?” tanya Silvi engga nyambung.             “Emang autoimun apa sih Vi?” sekarang malah Inka yang bingung.             “Autoimun itu, system imunsnya sangat lemah. Jadi dia gampang sakit, keujanan sedikit flu berat. Kena debu, flu berat ya pokoknya kaya gitu deh gue ga tahu lebih detailnya,” jelas Silvi. Sahabat-sahabatnya asik bahas Reno. Tetapi Renatha sendiri malah diam membisu. Pikirannya masih kembali ke masa lalu.   Flash Back             “Autoimun? Emangnya berbahaya Ren? Kamu ga bakalan mati cepet kaya di sinetron-sinetron kan? Ren kamu bisa sembuh kan?” seragah Renatha dengan ribuan pertanyaan saat itu. Ia sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu.             “Engga sayang, jangan lebay ah. Aku engga apa-apa kok. Cuma aja imuns aku yang lemah. Bukan penyakit serius ko. Guillain Barre Syndrome atau Autoimune Disease itu penyakit langka. Dan ini ga sebahaya yang kamu pikirin Rere sayang,” jelas Reno sambil mengenggam lembut tangan Renatha. Mungkin saja genggaman itu kan sedikit lebih menenangkan kekasih hatinya ini.             “Syukurlah aku takut banget. Aku kira sejenis kanker atau apa, tapi benerkan ga apa-apa?” Renatha masih tak percaya.             “Engga kok. Liat aku? Baik-baik aja kan? Paling cuma flu berat aja sayang. I am ok Rere sayang,” Rentaha langsung memeluk erat kekasih hatinya. Ia tak mau sesuatu terjadi pada belahan jiwanya ini.             Guillain Barre Syndrome atau Autoimune Disease memang penyakit langka. Dalam khasus ini si pasien akan mengalami penurunan imuns. Di tandai dengan flu berat sampai yang terparah. Sehingga pasien harus mengkonsumsi vitamin penguat imun setiap harinya.   “Tha.. Tha..” Sivi mengoyang-goyangkan lengan Renatha. “Eh iya apa?” lagi-lagi Renatha flash back ke masa lalunya. “Lo masih mikirin Reno yah Tha. Lo masih cinta sama Reno?” pertanyaan Inti sangat menjebak. Renatha sendiri masih bingung dengan perasaannya. Apa iya masih ada cinta dalam hatinya setelah dua tahun lamanya mereka putus? Kalau ya, apa Reno juga masih punya perasaan yang sama? “Gue……”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD