Part 3

1210 Words
“Gue.. Gue ga tahu, elo pada tahu kan gimana gue kacaunya pas Reno putusin gue gitu aja. Dia ngilang entah kemana. Semua sosmed gue dia blokir. Lo bayanginkan semuanya. Bahkan gue sampe nyusul ke New York. Dan apa? Alamat yang dia kasih palsu kan?” perih rasanya kalau Renatha ingat hal itu. “Ayu ting ting kali alamat palsu,” celetuk Inti seperti biasa tidak tepat pada waktunya. Respek Inka langsung mencubit kembarannya itu, “Auuuuu sakit. Ia deh maaf maaf,” “Lo tuh, kalo bercanda lihat tempat dong ini lagi genting tahu,” bisik Inka yang sebetulnya Renatha dan Silvi juga pasti masih mendengar perkataan mereka. “Apa engga ada ke sempatan buat Reno, Tha? Bukannya R hanya untuk R yah? Semua orang juga tahu kok, kalo double R itu pasangan yang serasi. Mungkin aja Reno punya alesan kenapa dia dulu mutusin lo. Ya memang sebetulnya dia juga salah. Tapi seengganya, apa engga ada kesempatan ke dua?” Silvi memang paling tegas diantara sahabat-sahabat Renatha yang lain. Sebetulnya Silvi masih berharap Renatha mau memberikan kesempatan kedua untuk Reno. “Bisa ga, kalo kita engga bahas soal itu dulu?” Renatha mulai tak nyaman dengan pembahasan topik sahabat-sahabatnya. Ia memang tidak terlalu suka urusan pribadi di jadikan topik pembicaraan. “Sorry ya Tha bukannya gue mau ikut campur. Tapi gue saranin lebih baik lo kasih kesempatan lagi buat Reno,” setelah berbicara Silvi langsung pergi meninggalkan mereka.   ********   “Heh jangan so cantik yah. Yang pasti gue lah nu paling cantik. Kenalin nama gue Lhela Permatasari anak dari juragan tanah di Bandung tea,” Lhela memang cukup percaya diri dengan membangga-banggakan gelar ayahnya. “Jadi lo ga usah macem-macem,” ancamnya pada Nana. “Hahhahaa.. OKB kaya lo udah berlaga kaya gini. Denger yah Tomat. Sekarang lo lagi gue ospek. Lo mau bilang ke bokap lo tentang gue. Itu ga akan bikin gue takut,” Nana makin menantang Lhela. “Ada apa sih?” tanya seorang cowok yang baru saja datang menghampiri mereka. Cowok itu sangat tinggi, badannya berisi, rambutnya tercukur rapih dan badannya yang sangat atletis. “Lo ga usah ikut campur. Ini urusan gue!” bukan Nana yang maju malah seorang cowok oriental bermata sipit yang menghadang Reno. “Ada apa Terong. Ga cukup kemaren gue cabein? Apa mau gue lo Tomatin sama siTomat?” ujar Nana ngaco. “What up bro! hahaha,” tiba-tiba cowok oriental itu memeluk Reno. Seperti sahabat lama yang baru berjumpa lagi. “Gila lo nyampe juga sini. Lo ngambil fakultas apa?” tanya cowok oriental itu pada Reno. “Kedokteran dong Kira. Kalo lo?” ternyata cowok itu bernama Kira. “Yupz. Sama kaya lo sensei. Hahaha,” pertemuan yang sangat mengejutkan sekali. Yamazaki Kira ini adalah teman Reno waktu di Amerika. Kira lah yang merekomendasikan Vegasus University pada Reno. Katanya fakultas kedokteran di Vegasus ini nomor satu di Indonesia. Materi dan mata kuliahnya tak beda jauh dengan Amerika. Makannya Reno sangat tertarik pada Vegasus. “Stop stop ini udah kaya reunian aja!” protes Nana. “Udah lo diem aja. Ga usah galak-galak sama junior. Tomat lo boleh pergi sekarang,” perintah Kira. Si Tomat alias Lhela malah asik melihat si Terong. Sepertinya dia terpesona dengan wajah tampannya Reno. Andai saja Nana melihat lekat Reno. Pasti dia juga sudah jatuh hati seperti cewek-cewek lainnya. Mungkin juga Nana gengsi mengakui hal itu, karena dia di kenal sebagai senior yang super galak di angkatannya. “Ikut gue bro!” ajak Kira sambil meninggalkan mereka. Nana bengong. Lhela masih saja memandangi punggung Reno. Lhela terpesona dengan kegantengan dalam diri Reno. ******** Hari ke tiga opsek. “Biar aku tebak kamu ngambil fakultas bisnis kan?” tebak Reno saat mereka berdua kembali mendapatakan tugas dari senior untuk latihan membuat tenda. “Iya kan? Dulu kamu penah bilang, kalo kamu mau nerusin perusahaan papah kamu,” Renatha masih saja pura-pura sibuk dengan tendanya. “Rere.. maafin aku..” sesal Reno. Renatha melirik Reno. Sejenak mata mereka saling beradu. Keduanya saling memandang penuh perasaan. Namun tak lama Renatha membuang wajahnya. “Kita ga perlu bahas ini lagi. Lebih baik kita fokus aja sama ospek. Besok kita bakalan persami. Lo harus inget. Kita harus bisa buat tenda, buat api unggun, tandu dan pastinya pertolongan pertama,” Renatha mengalihkan pembicaraan. Ospek di Vegasus memang sangat ketat. Bayangkan saja yang bukan masuk jurusan kesehatan saja harus bisa bikin tandu dan harus bisa pertolongan pertama. Katanya univesitas ini menuntut kedisiplinan dan keselamatan mahasiswa. Jadi meskipun bukan jurusan kesehatan. Mereka harus di ajarkan bisa dalam segala hal. “Kamu tenang aja, kalo masalah itu aku dah bisa kok Rere,” entah bagaimana caranya agar Renatha mau kembali, sebagai Rere nya Reno. Mungkin akan sedikit sulit. Tapi Reno tidak akan menyerah. “Pas persami lo jangan lupa bawa obat flu, vitamin imuns sama obat-obatan lainnya. Jangan sampe lo nanti ngerepotin gue, kalo lo kambuh,” ujar Renatha sedikit perhatian. “Sekarang gue tahu kok Autoimun itu apa,” “Kamu masih takut, kalo aku mati yah?” selidik Reno. “Apaan sih! Yang jelas gue ga mau sampe lo ngerepotin gue nantinya. Inget kita satu team. Kita harus kompak. Meskipun nantinya kita engga menang, seengganya kita harus bisa nunjukin, kalo kita bisa jadi yang terbaik,” tukasnya.             “Kalo kamu masih sayang sama aku, bilang aja kali ga usah gengsi,” Reno terus memacing-macing Renatha.             “Apaan sih! Cukup Ren, gue sama lo udah putus. Dan perasaan itu udah engga ada..”  sebelum Renatha menyelesaikan bicaranya, Reno langsung memeluk Renatha. Dalam sekejap Renatha langsung terdiam.             Detak itu, detak itu masih sama. Detak itu masih punya aku. Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Dia menyampakkan aku gitu aja. Terus apa aku harus maafin dia gitu aja. Engga! Dia ga tahu gimana sakitnya aku pas dia ninggalin aku dengan tanpa alasan. Enak aja dengan gampangnya aku maafin. Sampai saat ini rasa sakitnya belum hilang. Malah masih menyesakan d**a. Kenapa sih harus ketemu dia lagi disini?  Gerutu Renatha dalam hati.             Renatha melepaskan pelukan Reno.             PLAK! Renatha menampar Reno untuk yang kedua kalinya. “Gue udah ga cinta lagi sama lo!” Mata Renatha mulai berkaca-kaca. Reno melihat mata Renatha dengan lekat-lekat. “Engga mata itu masih punya aku. Dan hati kamu masih untuk aku. Karena R hanya untuk R,” Reno paling bisa melihat perasaan Renatha melalui matanya. Karena mata tak pernah berbohong.             “CUKUP!!!” Renatha menutup telinganya dengan kedua tangannya.             “Sayang ada apa?” tak lama ada suara seorang cowok dari belakang. Renatha menengok ke arah suara.             “Alzi? Ka.. kamu,” Renatha gelagapan.             “Kamu engga apa-apa kan Rena?” ucap cowok itu lembut yang ternyata bernama Alzi.             Renatha menggeleng. “Engga apa-apa Zi, oh iya kenalin itu temen aku Reno dan ini Alzi…” Renatha mengenalkan Reno pada Alzi. Dengan senang hati Alzi mengulurkan tangannya.             “Alzi pacarnya Renatha,” serobot Alzi.             DEG!             Ternyata Rere udah menemukan pengganti aku. Aku tahu, dulu aku sangat kejam pada Rere, mungkin ini pantas aku dapatkan. Rere berhak bahagia sama orang lain. Meskipun perih, aku harus menerimanya. Karena ini memang murni kesalahan aku.  Lirih Reno dalam hati. Apakah Renatha benar sudah tidak punya perasaan pada Reno? Lalu siapa Alzi? Bagaimana perasaan Reno saat tahu, kalau Renatha ternyata sekarang sudah milik Alzi?                  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD