Untuk kedua kalinya Rion menghadiri pernikahan Dian. Bibirnya tiada henti menyunggingkan senyuman, namun siapa yang tahu jika dibalik itu kesedihan melandanya. Ketidaksanggupan dirinya untuk mengambil kesempatan kembali membuatnya kehilangan wanita itu. Anggaplah dirinya pengecut, anggaplah dirinya pesimis. Namun.. Jika kemarin Rion mengiyakan permintaan Dian maka sama saja ia menghancurkan hidup Dian. Akan ada perang dingin antara Dian dan keluarga suaminya, bahkan mungkin Gian pun akan kecewa padanya. Rion tidak mau itu terjadi. Dian adalah wanita terbaik yang ia kenal dan wanita itu tidak boleh hidup dalam lingkaran kebencian. Mata Rion kini menatap putra Dian, Adam. Bocah itu terlihat bahagia dan beberapa kal

