Sebelas

1093 Words
" Pak, ini strollernya bagus lho!" ujar Dian menunjuk stroller yang terpajang di etalase toko. " Kamu mau?" tanya Bagus. Dian menggeleng. " Enggak." " Lah terus ngapain kamu minta saya temenin kesini?"Jengkel Bagus. gara-gara Abhi tengah ikut pelatihan di luar kota membuat dirinya ditugaskan menemani Dian kemana-mana karena kini usia kandungan Dian sudah memasuki 3dua minggu. " Buat aku list pak. perlengkapan bayi itu dipakenya enggak akan lama, jadi aku mau sewa ke rental perlengkapan bayi." Bagus mendengus. " Suami kamu itu duitnya banyak, kali-kali jangan ngirit gini berasa orang susah." Dian menepuk lengan Bangun. " Haish ini namanya cerdik tahu! dari pada beli perlengkapan yang dipake bentar mending uangnya disisihin buat asuransi pendidikan anak." " Terserah deh terserah. masih lama enggak? saya udah lapar, pengen makan." " Ayo! makan di mana ya Pak?" " Saya pengennya yang pedas-pedas." " Aku tahu!" " Tapi jangan yang aneh-aneh , kapok saya diajak kamu makan. kemarin aja saya pengen ngopi malah kamu ajak kemana itu.. s**u kandang monyet. astaga kamu tahu enggak saya malu banget diusia gini minum s**u dari dot." kesal Bagus sambil memapah jalan Dian yang memah sudah agak kewalahan dengan perut yang sudah membesar. Dian tertawa keras. " Hahaha habis gara-gara nonton berita kuliner jadi kan mendadak kepengen. eh tapi sekarang kita makan nasi goreng gentayangan aja." " Apaan lagi itu?" " Cafe nasgor tapi disajiin pake peti mati gitu!" " Tuhanku!! apa lagi ini? mending saya beli lotek aja di dekat rumah. udah rasa kejamin, makan dengan tenang enggak perlu gentayangan." Dian tertawa keras. " Saya aduin ke suami kamu ya! istrinya usil." Dian terkikik. " Abhi mah pasti enggak bakalan protes." " Dia cinta mati sama kamu. kapan sih tuh anak pulang? perasaan lama banget pelatihannya." " Dua hari lagi. sabar ya Pak." " Nanti malam saya mau dibuatin roti bakar kayak kemarin." " Siap bos." " Dasar ibu hamil." ... Dear Rion. Apa kabar? Gue enggak tahu apa email ini sampai atau tidak dan jujur gue meragukan karena hampir 9 bulan gue sama sekali enggak dapat balasan email ini. I miss you so much I miss talking a lot with you You know now that my pregnancy is in the final trimester. and I really wish you were there when I gave birth Oh iya, kondisi Mama agak lebih baik meskipun kini hanya bisa beraktifitas dI ranjang. Mama rindu lo dan selalu menanyakan lo. Please, kalau email ini terkirim dan lo ngebaca. balas email gue, enggak apa-apa lo ketik seucret tapi seenggaknya gue bisa tahu lo masih hidup . Your little friend Dian helaan nafas terdengar dari Rion. Pria itu hanya mampu menatap email yang setiap malamnya datang tanpa mampu ia balas. Rion mematikan laptopnya dan berjalan keluar menuju ruangannya. Sudah hampir satu tahun ia tinggal di Jambi. mengasingkan diri dan menyibukkan diri dengan mengabdikan ilmunya untuk warga yang membutuhkan tenaganya. " Siang, Dok." sapa para perawat begitu menatapnya. Rion mengangguk dan terus berjalan menuju salah satu pasiennya. Namanya Raya, seorang anak berusia 6 tahun dan mengidap leukimia. Gadis cantik yang selalu ceria. meskipun Raya sudah mengalami kebotakan namun gadis itu masih tetap bersemangat dan tersenyum. " Selamat pagi." sapa Rion. Raya yang tengah sibuk menggakmbar langsung mendongakkan kepala menatap Rion. " Halo dokter." " Gimana keadaannya hari ini?" " Happy." jawab gadis itu ceria. Rion duduk di samping Raya dan melirik gambar buatan  Raya. " Lagi buat apa?" " Ini taman rumah sakit Dok." Raya menujukkan gambarnya yang rapi. gadis itu memiliki kemampuan gambar yang baik dan memiliki cita-cita menjadi komikus.    " Lalu yang duduk di bangku ini siapa?"             " Mama."    Rion mengelus pundak raya dengan lembut.             " Mama lebih banyak ngabisin waktu di taman ketimbang sama Raya." ucap Raya pelan.     " Mama lagi cari kupu-kupu soalnya."               " Kupu-kupu?"    " Raya suka kupu-kupu kan? Makanya itu Mama Raya banyak ngabisin waktu disana buat cari kupu-kupu."    Raya menatap bahagia. " Beneran Dok?"               Rion mengangguk. " Makanya jangan sedih."             Raya mengangguk dan kembali menggakmbar. Diam-diam Rion mengintip dan tersenyum melihat Raya kini menggakmbar kupu-kupu.             Selesai mengunjungi kamar Raya dan beberapa pasien anak lainnya, Rion berjalan dengan menuju kantin untuk makan siang.               " Rion."             Rion menoleh dan menatap Alma yang berada di belakangnya. Wajah wanita itu terlihat kusut.               " Kita bicara. "             Rion mengikuti Alma menuju ruangan miliknya. Wanita itu sedari tadi hanya diam dan berjalan didepannya.             " Aku hamil." ucap Alma begitu mereka sampai di ruangan Rion.             Rion sempat terkejut, namun sedetik kemudian ia bisa mengendalikannya. " Sudah periksa?"             Alma mengeluarkan testpack di dalam sakunya. Rion mengamati testpack dengam garis dua itu.               " Aku mengandung anak kamu." lirih Alma.     Rion menghela napas, dan duduk. Ia mengetukkan jarinya di meja dengan ekspresi datar.             " Yon..  Jadi gimana?" tuntut Alma.              Rion berdeham. " Jika memang ini anak aku, sejujurnya aku akan merasa senang dan tanpa banyak pikir untuk menikahi kamu secepatnya."             " Kamu ngeraguin aku?"               Rion menggeleng. " Bukan. Tapi aku tidak bisa memiliki anak."             Alma menganga. " Maksud kamu?"    " Aku mandul, Alma."    " A-apa? Mungkin kamu salah.. Ga mungkin.."               " Aku juga berharap begitu tetapi itu faktanya. Aku sudah beberapa kali melakukan pemeriksaan dan hasilnya sama." ucap Rion dengan nada getir.               " Sejak kapan?"             " Aku tahu hal ini ketika usia dua0 tahun. Tidak sengaja mengantar Ibunya Dian untuk pemeriksaan  dan iseng-iseng aku juga melakukan pemeriksaan secara menyeluruh." Rion berdiri. " Itu bukan anakku Alma, sebaiknya kamu temui pria itu." ucap Rion lalu keluar dari ruangan.             Alma terduduk lemas.  Ia tidak menyangka akan menemukan fakta ini.             Bagaimana bisa ia jujur tentang kehamilannya?              Jika ayah sebenarnya adalah Fikri, dokter koas yang ia bimbing.                Sial! Gara-gara mabuk ia harus menghadapi ini. ...             " Kangen!!" peluk Dian begitu ia membuka pintu dan menampakkan Abhi yang tersenyum lebar sambil merentangkan tangan menyambut istrinya.             " Sama kangen kamu!" ucap Abhi, melepaskan pelukannya dan mencium perut buncit Dian. " Anak Papa sehat? Papa udah pulang nih, nanti Papa ajak makan enak ya sama Mama."             " Ajakin tuh makan nasi goreng hantu." sela Bagus malas yang sedari tadi menjadi penonton kemesraan suami istri di belakang.             " Masih disini Kak?"             " Menurut kamu? Gila aja gue tinggal cewe hamil gede sendirian." Bagus menguap. " Gue pulang ya, mau tidur. Lelah diganggu 4 hari sama istri lo."               Abhi nyengir. " Thanks banget ya Kak."             Bagus mengangguk, menepuk pundak Abhi dan mengelus rambut Dian. " Daah."             Sekeluarnya Bagus, Abhi kembali menatap Dian dan mengecup pipi istrinya lama. " Kangen!!"               " Kurusan kamu, Bhi."    " Cape. Tapi mau tengok dede utun dulu ya?"    Dian tertawa dan mencium bibir Abhi penuh. " I love you Abhi."               " I love you Dianku."      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD