Sepuluh

1471 Words
" Itu fotonya miring, Bhi! Geser coba ke kanan." ujar Dian memperhatikan foto pernikahannya yang tergantung di dinding.    Abhi yang berdiri di samping Dian, mengernyitkan muka. " Miring apaan? Perasaan udah pas. Ini aku baru turun, masa naik lagi sih!" protes Abhi.    " Miring ih ini mah!" Dian tetap ngotot. " Sayang , kamu lihatnya ya miring-miring begitu pasti miringlah. kamu ngerjain aku ya?" gemas Abhi mencubit pipi Dian membuat istrinya tertawa lepas. ... sudah hampir satu bulan Dian dan Abhi menjalani rumah tangga. selepas berbulan madu, Abhi membawa Dian untuk tinggal di rumah miliknya. Dian sendiri setelah menikah tidak lagi bekerja dikarenakan Arin menolak digurui oleh tante barunya itu sehingga Dian akhirnya bekerja menjadi staff admin sekolah yang tidak begitu jauh dengan rumah barunya. Abhi awalnya menolak keinginan Dian yang tetap ingin bekerja dan meminta Dian untuk menjadi ibu rumah tangga saja yang langsung di tolak Dian mentah-mentah. bukan masalah uang, namun Dian suka bekerja setidaknya sampai ia memiliki anak.  Lalu bagaimana dengan Rion?  Setelah hari pernikahan Dian, Rion sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. bahkan menjawab chat Dian pun tidak.  Dalam hatinya Dian merindukan teman kecilnya... cinta pertamanya. " Hati-hati!" ujar seorang pria yang langsung sigap menahan tangan Dian yang hampir menabrak tiang bendera. Dian terkejut dan menghela napas menatap Bagus, rekan kerjanya yang merangkap wakil kepala sekolah menahan tangannya. Dian menggerutu karena kebodohannya yang tidak menyadari arah ia berjalan. " Makasih pak Bagus." " Kamu ini kebiasaan ngelamun. kalau enggak ada saya gimana? bisa benjol dahi kamu!" Dian nyengir " Ngelamunin apaan? perasaan baru kemarin gajian." Dian mencibir. " Si Bapak, emang orang ngelamun mikirnya duit ya?" Bagus tertawa kecil. " Mau kemana sih?" " Ini mau kasih buku paket kelas 4 yang baru datang."  " Sini biar saya bawakan." ucap Bagus mengambil buku yang ada ditangan Dian. " Makasih Pak Bagus." " Kamu itu lagi hamil, masa bawa barang banyak begini. nanti suami kamu datangin saya lalu protes! malas saya harus berurusan sama Abhi." keluh Bagus yang memang masih sepupu Abhi. Dian mengelus perutnya yang masih agak datar. ia memang tengah hamil dua minggu. sungguh karunia Tuhan jika ia dan Abhi bisa dipercaya secepat ini. Dian jadi ingin tertawa mengingat ketika ia memberikan hasil testpack pada Abhi di restoran ketika mereka sedang makan malam. suaminya itu begitu girang, mengecup seluruh wajahnya dan mentraktir pengunjung yang ada di restoran. benar-benar pemborosan. " Nanti mau mampir ke rumah? Abhi ajak main catur." Bagus memasang wajah jengkel. "Dia cuma senang lihat saya kalah." " Banyak belajar dong Pak, masa enggak pernah menang sama Abhi." " Kalau saya mainnya sama kamu, baru entar malam saya kesana." " Yah enggak adil dong! baru main saya langsung dilibas sama Bapak." Bagus tertawa. " Eh, masih mual enggak?" " Masih kalau bangun tidur, cuma kalau udah disini mendadak enggak." " Bau calon anak rajin nih." " Kayaknya. jadi nanti Bapak mampir enggak?" "  Ini kok maksa sih." " Abis Abhi maksa nyuruh saya bujuk Bapak." " Ah dia mah emang ngotot kalau ada maunya. yaudah entar saya kerumah." " Bawa calonnya enggak?"  " Calon apa? pembokat?" " Calon istri lah." " Kagak, nantilah kalau nemu dijalan yang cocok saya bawa." " Dasar!" ... " Hey sayang!" sapa Abhi begitu sampai rumah dan mencium bibir Dian yang tengah duduk bersantai di sofa ruang tamu. Abhi lalu mengecup perut Dian. " Anak Papa gimana kabarnya? enggak mual kan?" " Utun baru aja minum s**u, Papa." jawab Dian. " Enggak dikeluarin lagi kan?" " Enggak kok. lapar enggak? aku tadi beli soto ayam di depan." " Baru makan sih, nanti paling aku makan agak malaman. Aku mandi dulu ya." " Oke." Selama Abhi mandi, Dian menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. ia juga membuatkan jus untuk Abhi. salah satu kebiasaan Abhi yang baru diketahui Dian, suaminya itu senang minum jus sepulang kerja.  " Nanti kak Bagus jadi kan kesini?" tanya Abhi selesai mandi. " Jadi. dia protes tuh kamu ajak main catur lagi." " Malu dia karna kalah terus, lagipula aku enggak ajak dia main catur kok malam ini." " Terus ngapain? kalau kamu ajak makan malam aku belum masak apa-apa lho." " Enggak kok sayang. aku malah mau ngenalin dia sama teman kantorku." " Siapa?" " Kamu ingat enggak temanku Nia yang teller itu? dia single dan aku rasa dia cocok sama kak Bagus yang cuekan. apalagi Nia ini keibuan banget." " Memangnya kak Bagus mau?" " Dicoba dulu. lagipula ini permintaan tante yang memang minta aku cariin istri buat Kak Bagus. tante Maya udah was-was kak Bagus usia 34 tahun tapi belum ada pasangan. dikira gay nantinya." Dian tertawa. " Terus Nia nya entar kesini?" Abhi mengangguk. " Aku udah suruh Nia kesini." " Dia mau?" " Ya, aku bilangnya suruh antarin flashdisk yang ketinggalan diruangan aku." " Dasar." " Aku cuma ingin Kak Bagus ngerasain kayak aku kalau nikah itu menyenangkan." " Kamu senang nikah sama aku?" tanya Dian balik. " Ya, aku bahagia sama kamu. kamu enggak lihat aku agak gemukan habis nikah." Dian tertawa. " Ya habis kamu jadi malas olahraga. habis makan langsung tidur." Abhi memeluk Dian. " Enggak apa-apalah aku gemuk, itu tandanya istri aku kasih nutrisi bergizi." TING TONG!! " Aku buka dulu ya." Abhi mencium pipi Dian sekilas dan berjalan ke arah pintu. " Sudah datang, Mba?" tanya Abhi. " Ayo masuk dulu." Dian tersenyum dan menghampiri Nia, gadis ayu asli sunda. " Eh Mba Nia. masuk dulu yuk mba." Nia tersenyum malu-malu. " Saya buru-buru, cuma mau kasihin flashfdisk punya bapak aja." " Loh kok buru-buru?" " Damri ke daerah rumah saya sebentar lagi berangkat. nanti kalau saya ketinggalan harus nunggu 1 jam lagi. keburu hujan Pak." Dian dan Abhi saling melirik. " Yasudah nanti saya dan istri saya antar ke rumah kamu. kebetulan istri saya lagi pengen ngobrol sesama perempuan nih." Dian diam-diam mendengus, kenapa ia dijadikan alasan? dasar suaminya itu. " Ayo Mba, kebetulan saya lagi mau belajar bikin ... hmm... kue..." Dian kebingungan mencari alasan. " Kue salju, iya kan sayang?" Dian cepat mengangguk dan menarik tangan Nia untuk masuk ke dalam rumah yang diikuti Abhi dari belakang. suaminya itu tertawa melihat wajah Dian yang menahan kesal.  " Memangnya sudah ada bahannya Mba?" " Hah? oh belum, makanya itu saya mau minta resepnya. kata Abhi mba Nia suka jualan kue lebaran gitu kan. eh bentar ya Mba saya ambil alat tulis dulu." " Biar aku aja." sela Abhi. " Jangan kecapean sayang." Setengah jam kemudian Dian dan Nia akhirnya larut dengan percakapan mereka. dari awalnya membicarakan resep akhirnya ngalor-ngidul membicaran akun gosip yang sedang trending. Abhi yang sejak tadi mendengarkan hanya tersenyum dengan tangan yang memainkan rambut Dian. TING TONG! " Kayaknya kak Bagus." gumam Abhi langsung melesat menuju pintu rumah dan membukanya. " Ngapain sih nyuruh datang?" tanya Bagus dan langsung masuk ke dalam rumah. langkahnya terhenti begitu melihat wajah asing didalam rumah. " Ini Nia, Kak." ucap Abhi merangkul pundak Bagus yang kini mendelik kesal karena terjawab alasan mengapa dirinya disuruh datang. Bagus mengulurkan tangan dan dibalas malu-malu oleh Nia. " Tante Maya yang suruh, maaf kak." bisik Abhi. Nia berdeham. " kayaknya saya harus pulang karena sudah malam juga." " Pak Bagus antar gih." pinta Dian menahan senyum. " Enggak usah Mba, saya bisa sendiri." " Pak Bagus antarin ih, masa cewe pulang malam sendirian." desak Dian yang diberi kode oleh Abhi disebelah Bagus. " Rumah kamu di mana?" tanya Bagus pada Nia. " Antapani, tapi saya enggak apa-apa pulang sendiri kok." " Jangan begitu dong Mba, saya kan tadinya yang mau antar Mba pulang hanya istri saya kelihatan lelah dan ibu hamil enggak boleh kecapean. jadi sebagai gantinya biar sepupu saya yang antar." Dian memutar bola matanya. tuh kan... dia lagi yang dijadikan alasan. " Kebetulan ada yang mau saya beli di daerah antapani, yuk sekalian aja." ucap Bagus ramah. " Beneran enggak apa-apa, mas?" " Iya enggak apa-apa. yuk." " Good luck kak." bisik Abhi. Bagus menunjukkan tinjunya pada Abhi yang dibalas cengiran oleh suaminya itu. " Ayo tidur." ajak Abhi begitu Bagus dan Nia sudah pergi. " Senang banget sih jadiin aku alasan." jewer Dian. " Aduduh, maaf sayang. habis yang kepikiran cuma itu." " Awas ya kalau keulang!" " Iya sayang." Abhi terdiam sebentar. " Semoga kali ini berhasil." " Pengen banget ya liat pak Bagus nikah?" Abhi mengangguk. " Kak Bagus itu panutanku, aku ingin ngelihat kak Bagus punya keluarga sendiri. lagipula, kak Bagus kelihatan cuek itu cuma luarnya aja aslinya dia itu perhatian." Dian menyetujui. meskipun Bagus terlihat cuek, tidak peduli ketika disekolah namun Dian tahu jika Bagus orang yang perhatian. ia sering mentraktir guru-guru makan, ia juga memberikan fasilitas rumah layak untuk penjaga  sekolah dan untuk murid d*********s, Bagus juga yang menjadi pencetus untuk membuat toilet khusus anak yang memiliki keterbatasan ruang gerak. Terkadang melihat Bagus, membuatnya mengingat Rion. ada kesamaan dari kedua pria itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD