Sembilan

981 Words
" Menikmati pestanya, istri?" tanya Abhi ketika ia tengah berdansa dengan Dian di pesta pernikahan mereka. " Lumayan , yah walaupun ini terlalu berlebihan. Padahal aku maunya kita ngadain pesta sederhana, ga perlu undang banyak orang." rutuk Dian. Abhi mengecup kening Dian. " Sekali seumur hidup jadi mari kita nikmati." Dari kejauhan, Rion menatap pasangan baru yang tengah berbahagia dengan hati sehancur-hancurnya. Seharusnya ia tak perlu datang kemari dan lebih baik menghabiskan waktu di rumah sakit.  Namun hati kecilnya ingin memastikan kebahagiaan Dian. Ataukah ia ingin memastikan hatinya jika ini adalah pilihan yang terbaik. Merelakan wanita itu bersama pria lain.  Sakit. Rion tak sanggup menampik jika hatinya hancur melihat Dian berada di pelukan suaminya. " Menyesal?" Rion menoleh dan menemukan Gian tersenyum sendu menatapnya.  " Kak." " Kamu kan sudah menolak Dian, kenapa kamu kelihatan yang frustasi?" Rion hanya diam. " Kamu mencintainya." ujar Gian memperhatikan Riom yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Dian.  " Aku selalu mencintainya." Rion membenarkan.  " Tapi kenapa? Padahal kalian bisa bersama." Rion hanya diam, ia merangkul pundak Gian erat seolah-olah meminta dukungan . " Giliranku." " Apa?" " Last dance." ucap Rion berjalan menghampiri Dian yang masih berdansa dengan suaminya. Dian sedikit menegang begitu melihat Rion kini berdiri dihadapannya. pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan dengan mata yang menatap Abhi. " can i dance with my little friend?" Abhi melirik Dian yang menundukkan kepala. " Tetapi.." " for the last time." sela Rion. Mendengar ucapan Rion, Dian segera menatap Rion tak mengerti. ia lalu melirik suaminya yang menunggu jawabannya hingga akhirnya Dian mengangguk. " Kalau gitu aku mau ajak kak Sarah dansa." pamit Abhi mencium tangan Dian dan memberikannya pada Rion yang segera disambut pria itu. Dian menahan rasa gugupnya begitu merasakan tangan Rion yang kini memeluk pinggangnya. ia memilih untuk tetap menundukkan kepala hingga tidak harus bertatapan mata dengan Rion. " You look very beautiful." puji Rion menatap Dian. Dian hanya diam. " Kamu bahagia, Dian?" Dian terdiam lama hingga akhirnya menjawab. " Aku bahagia." " Syukurlah. kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang." Dian mendongak menatap Rion. " Kamu mau kemana?" Rion menghela napas. " Aku ditugaskan ke batanghari, Jambi." " Kenapa?" " Mereka membutuhkan dokter bedah, mengingat fasilitas kesehatan di desa itu masih sangat terbatas sehingga beberapa dokter dimutasi kesana termasuk aku." Dian masih menatap Rion. ia merindukan pria dihadapannya ini. sudah lama mereka tidak berbicara santai mengingat dirinya yang sering melakukan aksi menghindar. beberapa minggu tidak bertemu membuat Dian baru menyadari jika Rion tampak kurus dan rambutnya sudah panjang bahkan hampir menutupi mata. " Kamu tahu aku sayang kamu kan?" tanya Rion. Dian mengangguk. " Just friend?" " Just friend." Rion membenarkan dengan berat hati. " i like your dress. you are like a goddess." puji Rion kembali. Dian terkekeh. " Abhi yang pilih." Rion sedikit melirik Abhi yang kini tengah berdiri di pinggir dance floor dengan mata yang mengawasi. " he loves you so much." Dian tersenyum. " I know." " I hope you will always be happy and have cute children." " Jadi.. kamu bakalan pergi kapan?" " Malam ini." " Secepat itu?" Rion hanya tersenyum. " Lalu pulangnya kapan?" " Secepatnya." Dian menghela napas. " Janji untuk selalu mengabari?" Rion menghentikan langkahnya dan menatap Dian serius. " Janji untuk bahagia?" " Rion!" hardik Dian. " Dian!" dian menggeram kesal. " Aku janji." " Kalau gitu aku bakalan pulang secepatnya dan lihat kamu bahagia." " Alma..juga ikut?" " Ya." Dian menggigit bibir bawahnya. " Tadinya aku mau acak rambut kamu tapi enggak jadi karena tatanan rambut kamu cantik sekali."  " Jangan macam-macam." Rion tertawa kecil. " Oke sekarang lebih baik segera kembali ke suami kamu sebelum dia kasih aku bogem di wajah." Dian segera menoleh ke arah Abhi dan Abhi segera menghampiri Dian. " Selamat untuk pernikahan kalian." ucap Rion tulus. " Semoga cepat menyusul." balas Abhi. Rion hanya tersenyum. " Kalau begitu aku pamit duluan untuk siap-siap. selamat berbahagia, teman kecil." ucap Rion dan berbalik keluar. sesampainya di koridor yang cukup sepi, Rion menyandarkan tubuhnya ke dinding. ia berjongkok dan memeluk erat dirinya. dirasakannya belaian lembut seseorang mengelus pelan rambutnya. Rion menoleh dan mendapati Ibunda Dian tersenyum lembut pada dirinya. " Ini yang terbaik, Rion."   .... " Aku mau tidur." rengek Dian begitu ia berbaring di tempat tidur. " Aku mau kamu." balas Abhi jenaka. Dian memerah, jujur ia merasa gugup karena ini pertama kalinya ia tidur dengan seorang pria. " Ih Abhi!" " Ih Dian!" kini Abhi dan Dian berada di hotel bintang 5 untuk menikmati bulan madu mereka karena besok pagi mereka akan pergi ke Bali untuk berlibur selama 3 hari. Setelah menikah, Dian tetap diijinkan untuk bekerja mendampingi Arin seperti biasanya. tidak ada perubahan hanya saja bosnya kini adalah kakak iparnya yang masih tidak dipercayai Dian jika kini ia menjadi keluarga Arin. Memang takdir Tuhan itu tidak pernah bisa ditebak. " Enggak mandi?" tanya Abhi memeluk tubuh Dian. " Malas sih tapi badan aku udah keringetan seharian ini berdiri terus." " Nanti habis mandi aku pijitin kaki kamu biar enggak pegal ya." Dian mencolek hidung mancung Abhi. " Makasih suami." " Ih makasihnya enggak romantis." Dian tersenyum dan mengecup pipi Abhi. " Makasih Abhi sayang." Abhi mengulum senyum. " Cuma disitu?" Dian menatap Abhi bingung. Abhi menunjuk bibirnya. " Yang ini nagih lho!" wajah Dian memerah membuat Abhi gemas. " Hahaha kamu.." Cup! Dian memberanikan diri mencium bibir Abhi. wajah gadis itu kini semerah kepiting rebus. " I-ini pertama kalinya aku cium bibir pria." Abhi menatap Dian haru. ia menggenggakm tangan Dian. " Aku juga." Dian melotot. " Serius?" Abhi mengangguk. wajahnya memerah karena malu. " Aku kebanyakan belajar jadi enggak sempat pacaran atau deket sama perempuan." Dian tersenyum, meraih kedua tengkuk Abhi dan mengecup bibir pria itu sedikit lama.  " I love you, Abhi." bisik gadis itu lembut. Abhi memberanikan diri mencium bibir Dian, melumatnya . " glad to hear. I love you too."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD