Delapan

774 Words
" Kenapa sih kamu, sayang?" Rion menatap Gina, teman kencannya selama dua hari ini . wanita itu menatapnya bingung dengan posisi tubuh wanita itu berada di pangkuannya.         Rion menggeser posisinya sehingga Gina turun dari pangkuannya. wanita itu duduk di sebelah Rion, memeluk pinggang pria itu. " Kamu ngelamun terus. ada apa sih?" " Aku cuma lelah." " Banyak pasien memangnya?" " Yah lumayan." Gina menatap wajah tampan yang kini tengah menutup mata disebelahnya. hatinya masih tidak percaya jika ia bisa sedekat ini dengan Rion. jujur, ia mengenal Rion ketika mereka masih kuliah dan pria itu ada kakak kelasnya. namun, Rion yang dulu begitu dingin terhadap siapapun bahkan dengan perempuan pun Rion begitu menjaga jarak membuat Gina mengurungkan niat mendekati Rion. Tapi sungguh tidak disangka, pertemuan dengan Rion ketika acara seminar di rumah sakit tempat kerja membuat ia bertemu kembali dengan pria ini. bahkan dengan tangan terbuka Rion menyambut dirinya. " Kamu mau nginep?" tanya Gina malu-malu. Rion membuka matanya dan menatap Gina. ia tahu apa arti ajakan Gina. wanita ini cukup menggoda, namun tetap saja Rion hanya ingin berhubungan seks dengan satu wanita. " Aku mau pulang aja, banyak laporan yang harus aku cek." Gina terlihat kecewa. " Tapi kita bisa ketemu besok kan?" Rion tersenyum dan mengambil jas yang ia simpan di lengan kursi. " Besok aku hubungi ya. aku pulang dulu, selamat istirahat." .... " Ini terlalu banyak Dian, aku enggak sanggup ngabisinnya." keluh Abhi melihat makanan yang begitu banyak tersaji di meja makan. Dian tertawa kecil. " Suruh siapa belanja banyak banget. habisin Ah." " Ini aku bawa aja ke kantor lumayan irit makan siang diluar." " Emang bisa irit?" Abhi mencubit pipi Dian. " Nyindir aku yang boros ya kamu?" Sudah hampir satu bulan ini Dian dan Abhimanyu semakin sering menghabiskan waktu bersama. bahkan kini Abhi hanya memanggil Dian nama saja tanpa embel-embel 'Ibu'. mereka selalu bersama, bahkan Abhi hampir setiap hari datang ke apartemen Dian hanya untuk sarapan, makan malam atau menemani Dian menonton TV. Abhi juga terkadang membantu Dian untuk membuat materi belajar khusus keponakannya membuat Abhi semakin paham dengan kekurangan Arin dan sering ia meluangkan waktu ikut menemani Arin belajar ketika senggakng. mereka belum meresmikan status. namun Dian tahu jika Abhi memiliki perasaan lebih terhadap dirinya. pria itu begitu perhatian, pendengar yang baik dan tanpa lelah selalu ada untuknya. Dian pun tidak menampik diri jika ia menyukai Abhi. Dian bahkan tidak keberatan jika Abhi selalu menggenggakm tangannya, memeluk dirinya bahkan mengecup keningnya. atau ia memang sudah mencintai Abhi? Lalu bagaimana dengan Rion? Setelah Rion menolaknya, Dian benar-benar menghindari Rion. Dian bahkan sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya dan pulang langsung masuk unit tanpa keluar lagi. benar-benar pengecut tapi hanya itu yang bisa Dian lakukan. Dian mencoba menutup rapat hatinya untuk Rion dan memulai cinta baru. dan sepertinya pria itu pun sama sepertinya, saling menghindar. mereka sudah tidak ada komunikasi lagi. lucu, padahal mereka bertetangga namun kini menjadi orang asing. " Enggak bosen nonton drama terus?" tanya Abhi sambil membelai rambut Dian. " Enggak." "Ini udah kesekian kalinya kamu tayangin cerita yang ini. hmmm.. kayaknya nanti malam aku harus download in film buat kamu." Dian tersenyum menatap Abhi. " Nitip beauty inside ya." " Apaan lagi tuh?" " Drakor baru." ucap Dian memamerkan giginya. " Dasar, tapi jangan begadang ya?" " Siap bos." Abhi mengacak rambut Dian gemas. lalu tak lama ia menghela napas berat dan kembali menatap TV dengan pikiran yang berkelana di otaknya. " Dian." " Hmm?" ucap Dian dengan pandangan masih pada TV. " Aku mau nawarin sesuatu." Dian menoleh dan menatap Abhi yang sedang memainkan tangannya. " Nawarin apa?" Abhi berdeham. " Nawarin diri." " Hah?" Abhi tertawa pelan, keringat mulai mengalir di pelipisnya. " Enggak jadi deh." " Eh, apaan? kok bikin penasaran sih!" " Nawarin." ucap Abhi lagi.    " Nawarin apa?" " Nawarin diri." " Apaan sih? enggak ngerti deh aku!" Abhi menghela napas, mengambil sesuatu di dalam saku celananya dan memasangkan pada jari manis Dian. ia lalu menatap Dian tepat di matanya. " Marry me, Dian." Dian terkejut, pandangannya menatap cincin yang kini melingkar manis di jari manisnya. ia masih sulit berkata-kata. " I know we only met for a while, but I feel comfortable with you. I love you. I like to see you cook, smile, talk or patience when you teach Arin. and I always miss Saturday when you spend time with me. i love you Dian, marry me, be my wife and my life mate." Dian tidak bisa menahan air mata haru yang mengalir dari kelopak matanya. ia tersenyum pada Abhi dan memeluk pria itu erat. " yes I want to marry you and make me your wife."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD