" Padahal saya bisa lho beliin tiket bisnis atau eksekutif." ujar Abhi ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang ke bandung menggunakan kereta ekonomi.
" Nanti hutang saya makin gede dong!"
" Saya terima pembayaran pake cicilan kok."
"Lah saya yang repot dong!"
abhi tertawa. ia mengambil snack di tasnya dan memberikan pada Dian. " Belum sarapan kan?"
Dian membuka snack yang diberikan Abhi dan memakannya. " Kok tahu?"
" Soalnya kedengeran suara perut Ibu."
Dian menepuk lengan Abhi. " Ya ampun Mas, fitnah banget ih."
Abhi tertawa lepas.
" Oh iya , sebentar lagi Ibu Sarah pulang. nanti mas kemana?"
" Saya masih tinggal sama kakak saya kok soalnya kantor saya juga dekat situ."
" Oh ya? di mana?"
" Gedung yang depan halte."
" Bank? Oooh.. mas Abhi kerja disana. sejak kapan?"
" Baru. saya kan baru pulang ke Indonesia."
" Emang lama di mana mas?"
Abhi menatap Dian jenaka. " Ibu kayaknya tertarik ya sama saya? kok penasaran banget!"
Muka Dian memerah. ia membuang mukanya ke arah jendela, membuat Abhi tersenyum semakin lebar.
" Nama saya Abhimanyu dan usia saya dua7 tahun. saya bekerja di salah satu perusahaan bank swasta. Asli saya di Bandung tapi sejak lulus SMA saya meneruskan pendidikan di Jerman. saya suka bermain game ketika libur dan.... "
" Dan?"
Abhi menatap Dian lekat. " Saya sedang mencari istri."
Dian mendadak tertawa.
" Kenapa?"
" Kok saya ngerasa kayak dilamar ya?"
Abhi ikut tertawa atau lebih tepatnya menahan rasa malu? " Kalau saya memang ngelamar Ibu, saya enggak akan ditolak kan?"
" Apaan sih." gumam Dian salah tingkah.
" Kok malu-malu gitu?"
" Enggak."
" Lucu banget sih Ibu."
" Apaan sih mas Abhi. aku mau tidur aja."
" Senangnya udah nyebut ' aku' , tinggal nunggu panggilan sayang nih."
Dian terkekeh. " Mas Abhi geje deh!"
Abhi memberanikan diri menggenggakm tangan Dian, membuat gadis itu melotot melihat tangannya yang digenggakm lelaki tampan disebelahnya.
" Bukannya mau tidur. tidur aja, nanti aku jagain kamu." ucap Abhi tanpa menatap Dian.
" Ta-tapi..." Dian terdiam sebentar. " Kalau gitu aku tidur duluan."
Abhi menatap lembut Dian. ia semakin mempererat genggakmannya di tangan Dian.
...
Rion menatap tajam ke arah pintu lobby di mana ia melihat Dian yang baru datang bersama pemuda bernama Abhi.
Rion merasa bingung, ingin menghampiri Dian dan memeluk gadis itu namun ia tahu jika ia melakukan hal tersebut hanya akan membuat perasaan Dian terluka. maka Rion berbalik arah menuju kolam renang.
setelah merasa aman, Rion berjalan masuk ke dalam lift menuju unitnya.
Oh apakah memang Tuhan sedang mempermainkannya hari ini?
niat hati ingin menghindar, ia malah bertemu Dian yang sedang berdiri di depan unitnya.
" Kenapa?" tanya Rion begitu berdiri disebelah Dian.
Dian menundukkan kepala. gadis itu sepertinya tidak mau menatapnya dan itu membuat hati Rion semakin merasa bersalah.
" Aku pulang." lirih Dian.
Rion tak sanggup , ia merentangkan tangannya memeluk tubuh kecil gadis yang ia kenal sejak kecil. " Selamat datang."
Dian mulai menangis di pelukan Rion. " Kenapa enggak datang?"
" Maaf... ini yang terbaik buat kita." bisik Rion.
Dian melepas pelukan Rion dan menatap pria itu. " Kamu... enggak cinta aku?"
" Kamu tahu aku sayang kamu."
" Sebagai?"
Rion mengeraskan rahangnya. " Kamu sahabatku, Dian."
Dian menundukkan kepala. " Aku enggak bisa jadi istri kamu?"
" Maaf."
Dian mengangguk. ia berusaha melapangkan hatinya. " Aku ngerti."
Rion mengecup puncak kepala Dian. " Kamu tahu kan kalau aku selalu ada buat kamu."
Dian mengangguk. Ia mengambil bingkisan dan memberikannya pada Rion. " Ini gudeg yang aku bawa di juogja, aku beli ditempat kesukaan kamu. aku juga bawain bakpia kacang hijau sama keju."
" Makasih."
" Aku mau istirahat."
Rion mengangguk dan menatap punggumg Dian yang kini sudah masuk ke dalam unitnya.
Pria itu menghela napas dan menyandarkan diri di tembok. " Aku enggak mungkin menikah, Dian." gumam Rion sendu.
...
Satu malam ia menangisi cinta yang tak tergapainya membuat Dian baru bisa tidur pukul dua dini hari.
paginya, ia merutuki aksi melownya yang membuat matanya bengkak.
Apa yang harus ia jawab jika Rion melihat kondisinya? kan gengsi kalau jawab jika ia menangisi kepatahatiannya.
mengompres mata pun percuma, karena matanya sangat sembab sehingga sulit ditutupi pakai make up dan Dian memutuskan memakai kacamata sampai melewati unit Rion. yang penting Rion tidak tahu.
Menggunakan kacamata dan masker, ia berjalan mengendap-endap bak pencuri. dalam hati berkomat-kamit agar Rion tidak muncul mendadak.
" Ibu , ngapain pakai kacamata hitam pagi-pagi di apartemen?" tanya Arin begitu membuka pintu unit.
" Oh ini, lagi coba kacamata baru."
Arin mengernyit bingung.
" Ayo berangkat."
" Sebentar ambil tas dulu di kamar."
" Ibu tunggu di sini aja."
" Iya , sebentar ya Bu."
Tidak lama Arin keluar dengan tas nya. Dian sedikit melongok ke arah dalam pintu ketika Arin menutup pintunya.
" Kenapa Bu?"
" Oh.. kok sepi?"
Arin menahan senyum. " Bilang aja Ibu mau tanyain Om ya?"
" Enggak kok."
" Om udah berangkat kerja pagi-pagi banget. katanya ada meeting. Oh iya Om juga nitip salam ke Ibu."
" Salam apaan?"
" Salam rindu katanya."
Dian tergelak. " Rindu apanya."
" Bu, buka dong kacamatanya."
Dian membuka kacamatanya.
" Lho? mata Ibu kenapa?" seru Arin.
" Infeksi."
" Gede banget bengkaknya lho Bu. nanti pulang sekolah periksa ke dokter ya Bu, takut kenapa-napa." ucap Arin khawatir lalu matanya menatap seseorang yang ia kenal baru keluar dari lift. " Om Rion!" panggil Arin.
Dian panik dan buru-buru memakai kembali kacamata.
" Om enggak kerja?" tanya Arin menghampiri Rion.
" Nanti siang." jawab Rion menatap aneh ke arah Dian.
" Mata Ibu Dian bengkak. gede banget lho Om!"
Diam-diam Dian mencaci maki sifat Arin yang super ember di dalam hati.
Rion masih menatap Dian. ia sebenarnya tahu apa penyebab mata bengkak Dian. " Udah dikompres?" tanya Rion lembut.
" Udah."
Rion melepaskan kacamata Dian dan menatap wajah gadis itu seksama. " Nanti siang juga sembuh."
Dian menundukkan kepala lalu menarik tangan Arin. " Kita berangkat dulu."
" Ibu kenapa sih?" tanya Arin begitu mereka keluar dari gedung apartemen.
" Apanya?"
" Kok beda sama Om Rion? biasanya paling semangat kalau ketemu Om Rion."
" Biasa aja perasaan."
Arin menyipitkan mata menatap Dian. " Aneh ah."
Dian tertawa. " Mau jadi detective ya kamu? kepo deh! ayo cepetan jalannya keburu bel lho."
" Ibu aneh." ulang Arin.
" Tahu Ah. ayo cepetan!" Dian menarik tangan Arin untuk berjalan cepat.