" Ngapain kamu diluar, De? Cari tukang sayur?" tanya Gian pada adiknya yang sejak pagi buta berdiri di depan rumah.
Dian menghampiri Gian yang tengah menggendong Ail, putri kakaknya yang masih berusia 11 bulan. " Dede Ail udah bangun ya pagi-pagi? Rajin ponakan ateu."
" Kamu ngapain sih dari subuh diluar?" tanya Gian lagi.
" Cari Angin."
"Makan dulu gih, katanya mau ke RS lagi."
" Iya." namun Dian tetap diam dan menatap keluar.
" Ayo De."
Dian menghela napas lalu kembali menengok ke kiri-kanan berharap ada seseorang yang akan datang.
" DEDE!" teriak Gian dari dalam rumah.
Dian menghentakkan kakinya lalu masuk kedalam rumah.
...
" Kamu balik ke Bandung kapan De?" tanya Ibu.
" Besok Bu."
" Kata Kakak kamu ke sini sama teman. Mana temanmu?"
" Dia nginep di Hotel."
" Lho kenapa enggak di rumah kita aja?"
" Masa aku bawa cowo nginep di rumah Bu."
Ibu tersenyum mendengar jawaban Gian. " Pacar?"
" Teman Bu."
Ibu mengelus tangan Dian. " Sebelum pulang bawa kesini ya, Ibu mau ketemu."
Dian menatap mata Ibu lama. Lalu ia menghela napas. " Ibu.. "
" Iya Nak?"
" Apa yang bisa Dian lakuin biar Ibu bahagia?"
" Ibu ingin lihat kamu menikah sebelun Ibu enggak punya kesempatan. Enggak perlu pesta, cukup akad saja dan Ibu menyaksikannya."
" Kenapa Ibu mau lihat Ade nikah? 30 tahun bukan umur tua untuk menikah kan Bu?"
Ibu mendesah. " Jika Ibu punya tubuh yang bugar dan sehat, Ibu pasti punya kesempatan untuk mendampingi kamu."
" Ibu.."
" Rion apa kabarnya? Ibu rindu."
" Rion sibuk, Ibu."
Ibu terkekeh pelan. " Kamu masih mencintai dia?"
Dian terdiam.
" Mau sampai kapan kamu menunggu dia?"
" Sampai dia sadar akan perasaannya sendiri, kalau Rion cinta aku."
" Sadar untuk siapa? Untuk Rion apa.... Kamu?"
Dian kehilangan kata.
" Dalam hidup, tidak selamanya kita memilih pasangan atau kebahagiaan atas dasar cinta. Ada satu pilihan yang dinamakan komitmen. Seperti Ibu dan Ayah."
" Ibu enggak cinta Ayah?" tanya Dian kaget mengingat Ibu dan Ayahnya sejak dulu selalu harmonis.
" Ibu menyayangi Ayah." Ibu terdiam sebentar untuk membenarkan posisinya menjadi setengah duduk. " Ibu jatuh cinta dengan teman sekelas Ibu sewaktu SMA, namanya Frederick pindahan dari Belanda."
" Cakep?"
Ibu mengangguk. " Dia pria paling tampan yang pernah Ibu lihat. Kulitnya putih, rambut pirang, tubuh yang tegap dan tinggi lalu dia sangat pintar menggakmbar."
" Lalu Dia juga suka Ibu? Kenapa kalian enggak bersama?"
" Kami saling berhubungan hampir 3 tahun dan harus berpisah karena keyakinan kami yang berbeda. Ibu mencintai keluarga dan keyakinan yang Ibu anut, begitu pun dia mencintai Tuhan nya. Tidak ada jalan untuk kami bersama."
" Jadi.. Apa arti Ayah untuk Ibu?"
" Ayah adalah superhero pribadi Ibu. Ia yang membawa Ibu menuju cahaya, membuat Ibu tertawa dan setiap harinya memberikan cinta untuk Ibu. Ibu menyayangi dan rindu pada Ayahmu, sayang."
" Apa aku bisa seperti Ibu... Melupakan cinta?"
" Cinta tidak akan pernah bisa terlupakan atau kita hapus. Simpan cinta itu dihati kamu. Karena cinta tidak harus memiliki, dan karena cinta bukanlah paksaan. Kamu tidak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk mencintai kamu."
Dian menundukkan kepala, menggigit bibirnya untuk tidak menjerit karena tangis. Ibu memeluk Dian penuh sayang. Ia berbisik dengan lembut ditelinga putrinya. " Ada kalanya kita harus menutup rapat perasaan kita. Bukan karena ia akan merasa beban dengan perasaan kita, tetapi karena kita menyadari bahwa orang itu akan bahagia jika kita melepaskannya."
Dian menangis dipelukan Ibunya. Ada satu hal yang disyukuri Dian, lebih baik menangis di depan Ibunya daripada ia harus meratap di hadapan Rion.
" Ibu." panggil Dian setelah ia merasa tenang.
" Ya?"
" Kenapa Ibu bisa memilih Ayah?"
Ibu tertawa geli. " Itu gara-gara taruhan."
Dian melotot. " Taruhan sama siapa?"
" Sama diri sendiri. Pas Ibu lagi patah hati, Ibu pergi ke taman sendiri. Lalu tiba-tiba aja kepikiran. Jika ada pria dalam 10 detik yang datang menyapa menggunakan topi merah, maka Ibu akan menjadikannya suami. Dan beneran, Ayah kamu tiba-tiba nyapa Ibu."
" Haaaahhh??? Serius cuma gitu aja?"
" Beneran!"
" Kok lucu ya??" seru Dian.
....
Keluar dari ruangan Ibu, Dian menyandarkan dirinya di dinding. Hatinya cukup lega karena sudah mencurahkan apa yang ia rasakan selama ini.
Dian memegang dadanya. Ia akan menyimpan cintanya rapat-rapat , mencoba Untuk melangkah.
Tiba-tiba ia cekikik karena teringat perkataan Ibunya bagaimana akhirnya Ibu memilih Ayah.
" Kalau dalam sepuluh detik ada yang nepuk gue, berarti dia calon suami gue." gumam Dian geli. " Syukur-syukur yang nyapa dokter."
Dian mulai menutup mata dan berhitung dalam hati.
1..
dua..
3..
4..
5..
Menuju hitungan keenam mendadak ia merasa gugup.
6..
7..
8..
9..
10..
Dian tersentak begitu merasakan seseorang menepuk pundaknya. Perlahan, ia membuka matanya dan melotot.
" Mba, ketiduran ya? Bisa dudukan di sebelah, soalnya saya lagi nyapu. "
Dian tergopoh-gopoh pergi dari situ sambil berkomat-kamit semoga bukan mas-mas berambut keriting itu jodohnya.
Saking sibuk berdoa dalam hati, ia tidak menyadari jika ia menabrak seseorang didepannya.
" Aduh sakit!" rintih Dian.
" Sorry..sorry Bu. Sini saya bantu."
Dian menatap heran pada Abhi yang berada di depannya. " Lho mas Abhi, kok bisa ada disini??"
" Saya... Hmm.. Jalan-jalan disini."
" Hah? Jalan-jalannya dirumah sakit ya mas?"
Abhi hanya nyengir. " Sudah makan?"
" Ini baru mau cari makan."
" Yuk saya traktir, saya tadi cari-cari di internet tempat makan enak disini."
" Emang mau makan apa?"
" Sate padang."
Dian menganga. " Hah? Jauh-jauh ke jogja cuma buat makan sate? Lah napa enggak pesen tiket pesawat buat ke padang mas?"
"Kejauhan nanti kamu kabur. Ayo!" Abhi menarik tangan Dian.
Sambil berjalan dengan tangan yang ditarik Abhi. Diam-diam Dian kembali bertaruh. Jika ada yang menyebutnya cantik dalam 5 detik, maka dia adalah jodohnya.
1...
dua...
3...
4...
" Cantik."
Dian menoleh pada Abhi yang mendadak membuang muka
" A-apa mas?"
Muka Abhi memerah. " I-itu.. Rumah sakitnya cantik."
Dian terkekeh pelan.
Jadi, Ibu... Apakah pria disebelahku ini adalah jodohku??
...
Rion menghela napas kasar menatap pesan yang dari Dian. Ia ingin marah terhadap dirinya yang pengecut.
Ia ingin menyusul Dian ke jogja.
Namun, dengan menyatakan isi hatinya bukankah itu artinya ia membawa Dian ke sebuah kubangan luka??