Bab 8

1094 Words
Bintang berjalan di trotoar, lalu tak sengaja melihat mobil Raka berhenti tepat di depan pagar kampus. Kemudian seorang gadis keluar dari sana, melambaikan tangan pada Raka. Bintang ingat betul kalau itu adalah anaknya Raka. Tapi, ia tidak tahu siapa namanya. Gadis itu cantik sekali, memang takdirnya anak orang kaya, mau seperti apa pun bentuk mukanya, akan tetap terlihat cantik karena ia mampu mempercantik diri dengan perawatan salon dan dokter kecantikan. Sementara dirinya, jika tidak menjadi sugar baby, tidak akan pernah sanggup melanjutkan hidup. Bintang tersenyum miris, terkadang ia menyadari bahwa betapa murahan dirinya. Tapi, keadaan sungguh memaksa. Jika ada jalan lain yang lebih baik, sudah pasti akan ia lakukan. Bintang pun masuk ke dalam kampus dengan semangat baru. Ia memulai bimbingan skripsi, menyelesaikan beberapa urusan administrasi kampus yang masih belum ia lakukan menjelang seminar proposal. Ia sudah harus mencicilnya dari sekarang, mencari informasi sebanyak-banyaknya agar ia tidak tertinggal. Tidak terasa sudah sore. Bintang menyapu peluhnya, beberapa urusannya beres hari ini. Masih ada beberapa yang belum sempat karena kampus sudah akan tutup. Ia merapikan tasnya, lalu ponselnya bergetar. Satu pesan ia terima. Pesan dari Raka yang mengatakan kalau malam ini, ia akan berkunjung. Bintang tersenyum, ini adalah pesan pertama Raka setelah seminggu lamanya mereka tidak bertemu dan berkomunikasi. Bintang langsung membalasnya. Kemudian, ia segera naik angkutan umum untuk kembali ke apartemennya. Ia tidak ingin naik taksi, takut tiba-tiba ada temannya yang heran ia langsung naik derajat. Sesampai di apartemen, Bintang bersiap-siap, berpenampilan cantik dan menggoda. Ia tidak tahu akan disentuh atau tidak. Yang terpenting tugasnya adalah menyenangkan Raka. Bintang berdebar-debar, ada rasa rindu, cemas, dan takut di dalam hatinya. Ia masih belum bisa membayangkan lagi bagaimana rasanya bertemu lagi dengan pria itu. Untunglah ia sudah pakai alat kontrasepsi atas saran Bella. Ia tidak perlu lagi khawatir jika Raka tidak memakai pengaman. Bel berbunyi, Bintang memutar bola matanya. Kenapa pria itu tidak langsung masuk saja karena ia tahu password-nya. Kalau begini, Bintang jadi semakin deg-degan. Wanita itu membuka pintu dengan anggun, Raka tersenyum seperti biasa. "Hai!"sapa Bintang canggung. "Hai, Bee!" Raka melangkah masuk, ia melihat ke sekeliling apartemen Bintang yang rapi dan wangi, wanita itu pintar merawat dan menjaga kebersihannya. Bintang menatap penampilan Raka yang rapi, jelas terlihat kalau dia adalah orang kaya, bukan orang sembarangan, bukan karyawan biasa. Dia adalah seorang bos. "Ayo temani aku!"kata Raka tiba-tiba. "Kemana?" Bintang mengernyitkan keningnya. "Perjalanan bisnis, ke sebuah pulau pribadi milik teman,"jawab Raka. "Oh ya? Kapan?" Mendengar kata 'pulau' Bintang jadi bersemangat. Itu artinya akan ada pantai dan pasir, ia bisa bermain-main di sana ketika Raka bekerja. "Sekarang!" "Bagaimana dengan kuliahku? Aku baru aja skripsi." "Kita hanya sebentar, Bee, besok sore sudah kembali ke sini. Libur satu hari saja bisa kan?"balas Raka lembut. Bintang mengangguk,"aku siap-siap dulu!" "Nggak perlu, langsung pergi saja!" "Aku harus bawa pakaian, alat-alat make up!"kata Bintang tak rela pergi begitu saja tanpa membawa apa pun. Raka menggeleng,"itu tidak perlu,sayang. Ayo kita pergi."Raka menarik tangan Bintang dan melaju dengan mobil menuju Bandara. Mereka akan menggunakan Private jet untuk tiba di pulau pribadi itu. Bintang senang bukan main, baru kali ini ia naik transportasi udara, dan langsung private jet pula. "Kamu seneng ya?" Raka menggenggam tangan Bintang. Bintang mengangguk malu-malu."Apa nggak apa-apa kalau kamu bawa aku?" "Nggak apa-apalah, nanti juga bakalan banyak yang posisinya sama denganmu,"kata Raka lagi. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di kursi. "Sini...duduk di pangkuanku!” Bintang menuruti perintah Raka, duduk di pangkuan pria itu. Ia mendapat rengkuhan hangat dari Raka, tangannya bergerak mencari dua gundukan kenyal dan meremasnya pelan. Tubuh Bintang langsung berdesir,ia masih belum biasa dengan sentuhan laki-laki. "Kamu sudah pakai alat kontrasepsi?" "Sudah, kemarin Bella temani aku ke dokter," kata Bintang dengan wajah merona. "Baguslah." Raka menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Bintang, menggigitnya pelan hingga sedikit kemerahan. Ia membuka pakaian Bintang "Ka, ini di pesawat!" cegah Bintang, ia malu jika tiba-tiba ada yang datang dan melihat mereka sedang berhubungan intim. "Tidak ada siapa pun,Bee, tenang saja. Mereka tidak akan masuk." Yang dimaksud Raka adalah crew private jet tersebut. Bintang mengembuskan napas lega, sekarang ia bisa menyerahkan diri seutuhnya pada Raka dengan tenang. Bintang tidak menyangka akan terjadi percintaan panas seperti ini di udara. Kepala Bintang ambruk di pundak Raka. Keduanya terdiam untuk mengatur napas. Raka mengecup kening Bintang, kemudian beranjak membersihkan diri dan memakai pakaian mereka kembali. Bintang memekik senang ketika kilau lampu di pulau terlihat. Lampu-lampu di cottage sangat indah. Ia bisa membayangkan bagaimana rasanya bermain-main di sana, memakai bikini, duduk di pangkuan Raka, atau bercinta di atas pasir. Bintang jadi salah tingkah sendiri memikirkan itu semua. Turun dari jet, Raka dan Bintang disambut petugas cottage di sana. Mereka dibawa ke kamar mewah. Bintang menganga, ini sangat indah dengan jendela yang menghadap langsung ke laut. "Kamu istirahat ya, Bee, makan malam kamu diantar ke sini. Aku harus ketemu dengan beberapa teman,"kata Raka yang kemudian mandi dan mengganti pakaiannya. Bintang sempat melihat ada tas kecil yang ia bawa saat keluar dari private jet. Bintang mengangguk saja, ia duduk di sisi tempat tidur. Raka keluar dan tinggallah Bintang sendirian. Ia merasa ngantuk, kemudian ia memilih tidur.   **             Bintang merasakan udara dingin menyentuh pipi. Perlahan ia membuka mata, ia terkesima dengan apa yang ia lihat. Ini sudah pagi, jendela sudah terbuka dengan pemandangan indah. Bintang turun dari tempat tidur, melangkah ke tepi jendela. Pasir putih dan halus serta air laut yang biru membuatnya segera ingin ke sana dan bermain air.             “Pagi, sayang!” Raka muncul dengan handuknya. Pria itu baru saja keluar dari toilet. Bintang tersenyum, kemudian ia berlabuh dalam pelukan pria paruh bauya itu.”Boleh aku main di pantai?”             Raka melayangkan kecupan di bibir Bintang. “Boleh, jadwal pagi ini kita memang akan ke pantai. Aku sudah sediakan bikini di atas meja. Kamu siap-siap ya?” Bintang mengangguk dengan semangat, ia meraih paper bag di atas meja kamudian melangkah riang ke dalam toilet. Wanita itu terkejut dengan bikini two pieces yang diberikan Raka. Tapi, itu bukan masalah karena Raka juga sudah melihat seluruh tubuhnya. Bintang segera siap-siap. Tak lupa memakai sun block agar kulitnya tidak terbakar atau gosong. Bintang berlari-lari di tepi pantai sambil berteriak histeris. Dari kejauhan Raka hanya bisa memandang gadis itu sambil tersenyum. Ia duduk di kursi untuk menunggu beberapa temannya datang berkumpul. Sepertinya sebentar lagi seperti akan menjadi fashion show bikini, sebab teman-teman Raka pun membawa masing-masing simpanan mereka. Satu hari yang direncanakan Raka ternyata meleset. Mereka berada di pulau itu sampai tiga hari. Tentunya di sana Bintang hidup bergelimang harta. Tentunya ia digempur oleh Raka setiap malamnya. Hal itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Bintang karena ia mulai menikmati perannya sebagai Sugar baby.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD