Part 9

1819 Words
"Arbi Yudha Pratama Sang Idola Dengan Kesempurnaannya (Tampan, Mapan dan Terkenal) Menjalin Affair dan Berusaha Merebut Isteri Seorang Pengusaha..." Raisa semakin membulatkan matanya saat membuka lembaran tabloid itu dan menemukan beberapa foto Raisa bersama Arbi bahkan ketika Raisa berciuman dengan Arbi, dan foto itu bersebelahan dengan foto keluarga Raisa dan Yoga. "Sang Idola yang sempurna dengan wajahnya yang tampan, tubuh atletis, kekayaan yang tak diragukan, tentu dapat dengan mudah memilih wanita dari ribuan wanita yang mengidolakannya. Namun siapa sangka jika jika pria bernama lengkap Arbi Yudha Pratama itu nampak terobsesi dan lebih suka merebut wanita yang merupakan isteri dari pria lain. Bahkan Ia bisa menggunakan cara licik untuk mendapatkannya...." Tulisan itu berhasil membuat Raisa panik karena hal itu bisa merusak karier Arbi yang sudah susah payah Arbi bangun. "Kita bisa membantahnya Mas.... Kita harus melakukan sesuatu agar berita ini tidak membesar...." Panik Raisa. "Kita tidak bisa Sa.... Kau harus melihat ini...." Yoga segera menghidupkan televisi dan muncullah berita mengenai Arbi. "Aku merindukannya....." Suara Arbi yang terdengar lirih namun jelas di rekaman suara yang diperdengarkan di televisi. "Wanita yang Kau rindukan itu Isteri Pria lain Arbi..... Jangan mencari masalah Bi..... Atau Kamu akan kehilangan karier yang sudah susah payah Kamu dapat...." "Dan Dialah alasanku berjuang untuk mencapai semua ini...." "Hhh..... Tidak bisakah Kamu move on?... Kau bisa mendapatkan wanita lain...." "Aku tidak bisa....karena sejak bertemu dengannya, Aku sudah memantapkan dan meyakinkan hatiku bahwa Dia adalah takdirku...." "Dan itu tidak mungkin karena Ia sudah menjadi takdir Yoga Chandra, suaminya...." "Itu bukan takdirnya....itu baru pemberhentian sebelum Raisa mencapai takdirnya...yaitu bersamaku...." Kalimat keyakinan penuh kesinisan menjadi penutup di rekaman suara itu membuat berita Arbi yang terobsesi kepada isteri pria lain semakin kuat. Berita gosip itu tidak berhenti di situ, berita itu dilanjutkan dengan tayangan slide foto kebersamaan Arbi dan Raisa 2 bulan belakangan ini. Dan hal yang membuat Raisa langsung lemas merasa sulit untuk membantah berita itu adalah rekaman di mana Raisa dan Arbi berciuman mesra di balkon rumah atap. "Apa yang harus kita lakukan...... hikz.... Kariernya akan hancur....hikz.... " Raisa menangis lemah. "Kita harus membicarakannya dengan Arbi..... Kamu mau ikut menemuinya?....." Shinta bertanya sembari mengusap punggung Raisa. Raisa menggeleng sembari menahan isakan tangisnya. "Aku... Sudah terlalu membuatnya hancur.... Hikz.... Aku tidak sanggup bertemu dengannya....hikz...." "Kalau begitu.... Kita langsung saja melakukan konferensi pers dan mengkonfirmasi bahwa berita itu benar-...." "Tidak..... Mas Yoga, tidak bisakah kita melindungi Kak Arbi?...." Tanya Raisa lirih dan terdengar ragu. "Sulit Raisa.... Sudah terlalu banyak buktinya.... " Yoga berucap pelan, prihatin. "Sebenarnya itu mudah.... Namun banyak yang harus Kamu ungkap untuk melakukannya...." Shinta berucap lirih sedikit tidak yakin. Raisa hanya bisa terdiam. "Kita tunggu saja.... Aku yakin management Kak Arbi akan melakukan sesuatu untuk melindungi kariernya...." Suara Raisa bergetar berusaha meyakinkan dirinya agar berfikir positif. Shinta dan Yoga hanya bisa saling bertatapan prihatin akan keadaan Raisa. Mereka tau penyelesaiannya cukup mudah yaitu hanya mengungkapkan yang sebenarnya. Namun akan ada akibat dari keputusan itu yang membuat Raisa sulit memilih. Raisa merasa Ia bagai makan buah simalakama. ~oO0Oo~ Di tempat lain Arbi dan Arkan sedang berdiskusi untuk menyelesaikan skandal ini. "Apa yang harus kita lakukan?!.... Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi....." Arkan berucap frustasi. "Sudahlah.... Kamu urus saja rencana liburanku...... Atau lebih baik Aku menjadi relawan saja....Aku ingin membantu korban bencana alam.... Lagi pula Lambat laun mereka akan melupakannya... " Arbi berucap santai. Beruntung Arbi tidak terikat dengan management jadi jika Ia membuat skandal maka Ia tidak akan berurusan dengan banyak pihak. "Kamu akan pergi begitu saja?.... Bagaimana dengan Raisa?... Ini juga berhubungan dengannya...." Arkan berucap heran sekaligus frustasi akan sikap santai Arbi. "Aku yakin suaminya akan melakukan apapun untuk melindunginya..." Arbi berucap yakin namun tatapannya tampak sedih. Arbi akui jika Ia tidak menyukai Yoga yang b******k karena menduakan Raisa namun Entah kenapa Ia juga yakin Yoga akan selalu melindungi Raisa. "Lalu Aku tidak perlu melakukan apapun untuk skandal ini?..." Arkan bertanya meyakinkan. "Kau urus saja-...." "Tidak.... Aku tidak akan mengizinkan Kamu mendaki gunung ataupun menjadi relawan .... " "Ayolah Kan.... Aku butuh tempat yang jauh.... Aku ingin sendiri... Aku ingin mengalihkan pikiran.... Aku mohon...." Arkan menatap Arbi tidak tega melihat tatapan sakit sekaligus memohon padanya. "Baiklah.... Aku akan memenuhi keinginanmu...... " Arbi pun tersenyum tipis sebagai ucapan terima kasihnya. ~oO0Oo~ Dua hari berlalu dan selama itu juga Raisa semakin cemas karena berita skandal Arbi semakin besar namun pihak Arbi belum juga melakukan konfrensi pers. Orang tua Raisa, terutama sang Ibu, Prastiwi, juga seringkali menghubungi Raisa untuk bertanya mengenai skandal yang melibatkan Raisa itu. Untungnya Yoga berhasil membantu Raisa menghindari sang Ibu. "Mas Yoga..... Apakah tidak ada kabar dari pihak Kak Arbi?... Mengapa mereka tidak melakukan konfrensi pers untuk menyelesaikan skandalnya yang sekarang semakin membesar?...." Raisa bertanya panik. Yoga hanya menggeleng sebagai jawaban. "Kau ingin Mas menghubungi mereka?... Kita juga butuh konfrensi pers untukmu Raisa.... Dan sebaiknya kita menghubungi mereka agar jawaban pihak kita sama dengan pihak mereka.... " Yoga mengungkapkan pendapatnya. "Tapi.... " "Ini untukmu dan keluargamu Raisa... Walau sejujurnya Aku merasa tanpa menghubungi pihak Arbi pun Aku yakin Arbi akan setuju selama itu bisa melindungimu..." Kali ini Shinta berujar. "Aku tahu... Karena itu.... Mas, Kau boleh ya menghubunginya... Tapi Kau juga harus membuat kesepakatan konferensi yang bisa melindunginya juga...." Raisa meminta pada Yoga. "Akan Aku usahakan.... Walau Aku juga tidak yakin.... " Ucap Yoga dan Ia pun langsung menghubungi kontak Arkan yang sudah Ia dapat dari sekretarisnya setelah mencari dari berbagai sumber. "Halo...." Terdengar sahutan dari Arkan setelah Arkan menjawab panggilannya dipanggilan ketiga. "Halo.... Saya Yoga Chandra.... Bisakah kita bertemu?... Saya ingin membicarakan mengenai skandal Arbi dengan Raisa...." Ucap Yoga yang disambut dengan helaan nafas Arkan. Yoga mendengarkan dan melanjutkan percakapan dengan Arkan sembari berjalan menuju ruang kerjanya. Sedangkan Raisa dan Shinta tetap pada posisinya dah hanya menunggu berita dari Yoga. 30 menit kemudian Yoga pun kembali menemui Raisa dan Shinta. "Bagaimana Mas?...." Tanya Raisa langsung. "Arkan bilang, Kita bisa melakukan apapun untuk melindungimu.... Termasuk menjadikan Arbi sebagai pihak yang bersalah...." Jelas Yoga "Lalu bagaimana dengan karier Arbi?.... " Kali ini Shinta yang bertanya dengan keheranannya karena biasanya seorang manager akan melakukan apapun untuk melindungi artisnya. "Arkan bilang, Arbi akan melakukan mendaki gunung dan menghilang untuk sementara waktu.... Jadi mereka hanya berharap saat Arbi kembali skandal kalian sudah menghilang...." Jelas Yoga lagi menatap Raisa dengan tatapan intens membuat Shinta mengernyit heran karena tidak mengerti arti tatapan itu. Raisa terdiam karena keterkejutannya dan tiba-tiba jantungnya berdetak kencang karena khawatir. Raisa tahu sejak dulu Arbi suka mendaki gunung bersama Arkan dan Arya. Namun mendaki gunung disaat seperti ini terasa salah. "Mendaki gunung.... Disaat pikirannya kacau.... Bukankah itu berbahaya...." Lirih Shinta berfikir. "Mas Yoga.... Apa Mas bisa menghubungi Kak Arbi?.... Mungkin kita bisa mencari jalan lain...." Raisa berucap panik penuh harap. "Mas sudah menghubunginya... Tapi jawabannya cukup membuatku...." Shinta dan Raisa semakin khawatir saat Yoga tidak melanjutkan ucapannya dan justru kini wajahnya nampak cemas. "Apa yang Arbi katakan?...." Tanya Shinta. "Arbi bilang Aku harus melakukan apapun untuk melindungi Raisa... Kita tidak perlu memikirkannya karena Dia.... Juga memang ingin pergi dari dunia ini...." Ucapan Yoga semakin lirih di bagian akhir. "Ap.....pa....?... Mas Yoga pasti salah dengar... Kak Yudha bukan orang yang seperti itu....tidak mungkin...." Raisa merasa tidak percaya namun Ia juga khawatir. "Kau mau mendengarnya?... Kebetulan Mas merekam semua percakapan sebagai bukti jika nanti kita melakukan konferensi pers tanpa mereka...." Jelas Yoga. Tanpa menunggu jawaban Raisa, Yoga pun menghidupkan rekaman di ponselnya. "Lakukan dan katakan apapun di konferensi pers yang bisa melindungi Raisa... Walaupun Kamu sudah menduakan Raisa, tapi... Entahlah... Aku masih percaya dan yakin jika Kamu akan melakukan apapun untuk Raisa...." Selama beberapa detik tidak terdengar hingga kemudian terdengar suara Arbi dengan kalimat yang membuat d**a Raiaa sesak. "Kau tidak perlu memikirkanku.... Karena Aku memang sudah ingin pergi dari dunia ini...." Raisa menangis mendengar suara datar Arbi mengucapkan kalimat yang penuh kepasrahan. "Ini semua salahku....hikz.... Ini semua salahku....hikz...." Raisa terisak sembari terus menyalahkan dirinya. "Raisa.... Ini bukan saatnya Kau menyalahkan dirimu sendiri... " Shinta membujuk Raisa sembari memeluk Raisa yang masih terisak. "Sebaiknya kita menemui Arbi sekarang.... Sebelum terlambat.... " ujar Yoga. "Tapi.... Aku...." Raisa masih ragu sekaligus merasa bersalah. "Raisa.... Aku mohon.... Terkadang manusia perlu egois...." Ucap Shinta menatap Raisa intens dan sedikit memohon. Akhirnya Raisa pun mengangguk diikuti senyuman lega dari Yoga dan Shinta. ~oO0Oo~ Yoga membawa Raisa dan Shinta menuju apartement Arbi namun mereka tidak menemukan Arbi. Setelah menghubungi Arkan dan membujuk Arkan, akhirnya mereka mendapatkan alamat tempat Arbi berada yaitu di Bandung namun di daerah terpencilnya. Memakan waktu 3 jam hingga mereka tiba di rumah sederhana yang Arbi tempati. Arkan tidak mengizinkan Arbi mendaki gunung karena khawatir. Dan setelah berdiskusi dengan Arya akhirnya mereka memutuskan mengirim Arbi ke rumah Arya yang berada di Bandung yang tidak dihuni namun dirawat oleh orang yang ditugaskan Arya. Suasana desa yang sepi dan tenang diharap bisa membuat Arbi juga tenang. Arya juga meminta seseorang mengawasi Arbi tiap jam karena khawatir Arbi akan berbuat nekat. Ting....tong....ting....tong.... Butuh menunggu 5 menit sebelum akhirnya pintu terbuka dan muncullah wajah pucat Arbi dengan ekspresi datarnya yang menandakan Dia sudah mengetahui siapa yang datang. GREPP Tanpa diduga Raisa berhambur memeluk Arbi. Arbi membulatkan mata terkejut. Ekspresi datar yang Ia buat agar terlihat kuat di depan Raisa perlahan sirna tergantikan ekspresi sendu penuh cinta penuh kerinduan. Arbi hampir membalas pelukan Raisa saat Ia sadar ada Yoga dihadapannya. "Kakaak.... Kau baik-baik saja?...." Raisa melepas pelukannya berganti dengan memeriksa wajah dan tubuh Arbi untuk mencari tanda-tanda bekas percobaan bunuh diri. "Aku baik-baik saja...." (Setidaknya Aku masih bernafas walau tanpa merasa hidup) lanjut Arbi dalam hati dan berusaha kembali menunjukkan wajah datarnya. "Tapi Kau berkata ingin mengakhiri hidupmu di dunia ini...." Gumam Raisa lirih sementara Arbi mengernyitkan dahinya pertanda tidak mengerti. " Mungkin sempat terfikir olehku.... Namun Aku tau walau Kamu... Tidak mencintaiku lagi... Namun Kamu pasti akan merasa bersalah jika Aku melakukan itu.... " Ujar Arbi menatap Raisa lekat. "Bukan hanya merasa bersalah..... Tapi Aku juga pasti merasa ingin mati menyusulmu Kak.... " Batin Raisa berucap sembari menatap Arbi dengan mata berkaca-kaca. Cukup lama mereka bertatapan hingga Arbi mengalihkan tatapannya. Arbi tidak ingin terpengaruh tatapan Raisa yang seolah menunjukkan rasa cintanya yang mungkin saja akan membuat Arbi tidak pernah melepaskan Raisa. "Jika tujuan kalian ke sini hanya untuk memastikan Aku masih hidup, maka sekarang kalian boleh pergi...." Arbi pun langsung berbalik ingin beranjak meninggalkan ketiga orang itu. "Arbi... Mengenai konfrensi pers-...." "Aku sudah mengatakan semuanya di telpon tadi... Lakukan apa yang ingin kalian lakukan...." "Tapi Kakaak...." "Tidak akan ada yang berubah...." Tegas Arbi kemudian langsung menuju kamarnya. "Tidak akan ada yang berubah... Tidak mengenai konferensi pers... Tidak juga rasa cintaku...." Batin Arbi. Sementara Raisa semakin menangis terisak karena kembali melihat luka dan kehancuran Arbi. "Maafkan Aku Kakk... Hikz.... Aku mencintaimu Kakk...hikz.... Selalu mencintaimu.... Hikz.... Tidak pernah berubah.... Hikz...." Gumam Raisa namun tidak terdengar oleh Arbi yang mungkin juga sedang menangis di balik pintu kamarnya. Sementara itu Yoga dan Shinta nampak tersenyum menyaksikan apa yang terjadi. To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD