Part 8

1348 Words
"Kenapa Arbi tiba-tiba kemari?.... Padahal sudah beberapa minggu Dia tidak mencari kita?..." Tanya Shinta heran. Suasana sudah mulai tenang setelah Raisa berhenti terisak. "Sepertinya Dia melihat apa yang kita lalukan tadi.... Karena itu Dia marah, merasa kita tidak mendengar apa yang Ia ucapkan...." Jawab Yoga santai. Shinta terdiam sesaat sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Raisa. "Dan Kamu Sa, apa yang ingin Kamu bicarakan?...." Tanya Shinta lagi. "Aku ingin minta maaf......Tadi Ibuku kemari....Dia marah mengetahui hubungan kalian... Aku tidak tahu... Harus bagaimana.... Aku-." Jawab Raisa pelan dengan tatapan kosong namun airmatanya tetap sesekali menetes. "Aku bersungguh-sungguh ketika mengatakan Aku mencintaimu dan akan selalu mendukungmu.... Aku pun akan melakukan apa yang Kamu inginkan.... " Yoga berujar lembut. Raisa hanya tersenyum miris atas semua yang terjadi padanya. "Aku akan kembali ke apartementku...." Raisa langsung beranjak ke arah belakang tanpa mendengar jawaban mereka. "Ini salah.... Kita tidak harus selalu menurutinya.... Ahn" Gumaman Shinta terhenti saat secara tiba-tiba Yoga menyerang leher jenjangnya. "Apa yang Kau lakukan Gaah...." Shinta berusaha mendorong namun terkadang Ia juga mendesah. Yoga tidak menjawab, alih-alih mengangkat Shinta ke atas pangkuannya. "Hmmmppphh.....Ahn....." Shinta mulai terlena saat Yoga mulai melumat bibirnya. Beberapa saat Shinta membalas perbuatan Yoga namun terhenti ketika Ia mengingat Raisa. "Cukup..... Hentikan...." Shinta mendorong Yoga kemudian berdiri sedikit jauh dari Yoga. "Kenapa??.... " Yoga bertanya kecewa. "Bagaimana Kau bisa berfikir m***m disaat keadaan seperti ini.... " "Siapa yang membuatku m***m seperti ini.... Kamu yang biasanya tomboy dan sering menolakku tapi tiba-tiba agresif dan menggodaku.... Sejak itu Aku selalu ingin menciummu bodoh...." Yoga memang selalu berkata lembut pada Raisa namun tidak pada Shinta, itulah cara bicara mereka. Tiba-tiba wajah Shinta merona ketika mengingat dia yang menggoda Yoga setelah pertemuannya dengan Arbi. "Bagaimana Aku tidak berubah agresif karena Arbi mengatakan Kamu sangat mempesona dan tidak mungkin ada wanita yang akan menolakmu.... Saat itu Aku frustasi takut kehilanganmu bodoh...." Gerutu Shinta dalam hati. Shinta juga sadar saat itu Yoga sangat heran bahkan Yoga sampai frustasi sepertinya karena benar-benar tidak bisa menolak Shinta yang agresif saat itu. "Aku tidak peduli.... Pokoknya Aku akan memikirkan cara lain agar Raisa merubah keputusannya.... " "Kenapa??.....Itukan kemauan Raisa..." Heran Yoga. "Dasar pria tidak peka.....takk..." Shinta berucap kesal kemudian menendang tulang kering Yoga sembari berlalu ke kamarnya. Yoga hanya bisa meringis kemudian mengikuti Shinta sembari berjalan dengan tertatih. ~oO0Oo~ Cklekk "Arkan, Kau di sini?...." Arbi dengan gaya santainya bertanya ketika melihat Arkan duduk santai di ruang keluarga apartementnya. "Kau dari mana saja?...." Tanya Arkan sembari melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sesaat Arkan mengamati Arbi. "Hanya jalan-jalan saja....." Arbi pun duduk di sofa yang sama dengan Arkan walau jaraknya agak jauh. Arkan hanya mengangguk sesekali melihat Arbi yang nampak santai namun tatapannya seolah kosong. "Kan.... Aku tidak ada jadwal sampai kapan?..." Tanya Arbi tiba-tiba. "Kau yang memintaku untuk tidak menerima pekerjaan selain yang sudah disepakati, jadi Kau masih kosong.....kecuali Kau mau menerima tawaran film atau drama yang diajukan untukmu....." "Hmmm..... Aku ingin berlibur... mendaki gunung saja...." "Apa??....." "Aku ingin mendaki gunung....." "Kau ada masalah?....." "Tidak....lagipula ada masalah atau tidak, tidak akan berpengaruh padaku.... Kau tau Aku selalu fokus...." "Aku akan membicarakan nanti pada Arya...." "Kenapa?....Aku bukan anak kecil lagi.... " "Kalau Kau bukan anak kecil, Kau tidak akan mencoba membunuh dirimu sendiri dengan mendaki gunung saat Kau sedang kacau....." Arkan sudah mulai tidak sabar berucap. Mungkin jika orang lain akan tertipu melihat sikap Arbi yang biasa saja, namun Arkan dapat melihat jelas kerapuhan Arbi itu. "Aku baik-baik saja ...." Arbi kembali berucap santai tanpa menatap Arkan. "Kalau begitu kemarilah...." Arkan mengarahkan tangannya meminta Arbi mendekat padanya. Awalnya Arbi menatapnya kosong kemudian berkaca-kaca dan pada akhirnya Arbi pun menerjang Arkan dengan pelukannya. "Hikz...... Aku tidak sanggup .... hikz.... Aku merasa bodoh..... tapi juga hancur ....hikz.... Perjuanganku.... Hanya perbuatan bodoh hikz.... Cintanya sudah benar-benar hilang ...hikz.... Sehingga untuk menumbuhkannya kembali pun tidak bisa...hikz...... " Arbi tidak bisa menahannya lagi sehingga dia benar-benar meluapkannya pada Arkan. Arkan hanya diam mengusap punggung Arbi. Tanpa Arbi sadari Arkan sempat meneteskan airmata walau langsung Ia hapus. "Aku disini sangat mencintainya,... Sedangkan Dia bahkan rela berbagi suami karena sangat mencintai suami brengseknya itu ... Aku harus bagaimana?....Aku tidak ingin dia tersakiti ...." Arbi terus berucap mengenai semua isi hatinya. "Disaat Dia menyakitimu Kau pun masih memikirkan perasaannya...." Lirih Arkan prihatin pada Arbi yang nampak tidak akan pernah bisa move on dari Raisa. Lima tahun bersama dengan berbagai kisah manis, kemudian terpaksa terpisah karena restu orang tua. Terpisah selama lima tahun pun tidak membuat rasa cinta Arbi untuk Raisa pudar. Banyak yang Arbi lakukan untuk bersama Raisa, banyak juga yang Arbi lakukan untuk kebahagiaan Raisa. Bagaimana Arbi kini tidak merasa hancur disaat cintanya semakin tumbuh namun cinta Raisa justru sudah musnah tak berbekas tergantikan cintanya untuk suami yang bahkan menduakannya. "Itu adalah pilihannya..... Dan mungkin itu kebahagiaannya.... Kau harus menerimanya.... Bukankah sejak dulu bagimu yang terpenting adalah kegahagiaan Raisa?....." Arkan berucap mencoba menenangkan Arbi yang kini sudah terkulai dipelukan Arbi karena terlalu lelah menangis. "Ne.... Kau benar ... Dia sudah bahagia walau tidak bersamaku... Jadi apalagi tujuan hidupku?... " Arbi berucap miris kemudian memperbaiki posisinya menjadi duduk dan menyandarkan kepalanya di pundak Arkan. "Tetaplah jadi Arbi yang kuat... Jangan pernah berfikir bodoh... Dalam hidupmu bukan hanya ada Raisa, tapi ada Arya, ada Aku, dan Arsen (putera Arkan 3th).... Kau tahu kan kami menyayangimu... Pikirkan itu sebelum bertindak bodoh...." Tekan Arkan sebelum menjitak pelan kepala Arbi. Arbi hanya bisa tersenyum tipis sebelum akhirnya menghela nafas. "Thanks Kan...." Ucap Arbi sebelum beranjak kekamarnya. "Ku harap Kau benar-benar mendengarkan perkataanku..." Walau Arkan nampak tenang namun Ia sangat khawatir pada Arbi mengingat ini kali ketiga hatinya hancur karena orang yang sama, Raisa. ~oO0Oo~ Tiga hari berlalu dan selama tiga hari itu juga Raisa nampak terpuruk. Raisa hanya menghabiskan waktunya di kamarnya, beruntung Shinta dan Yoga mengurusnya dengan baik walau Shinta terkadang harus keras untuk memaksa Raisa makan. "Mama Icha, Kau sudah sembuh?... Arini merindukan Mama..." Nuri merengut manja memeluk Raisa yang duduk bersandar pada kepala ranjang. "Arini??....." Raisa bergumam lirih menatap Nuri penuh tanya. Seingatnya Nuri selalu menyebut dirinya Nuri, namun kali ini Nuri menyebut dirinya Arini. Panggilan kecil yang selalu Arbi gunakan untuk memanggilnya ketika Raisa merajuk, tentunya dengan tambahan dibelakangnyanya menjadi 'Arini Sayang' . "Paman Arbi pernah bercerita jika dulu Dia memanggil Mama Icha dengan panggilan 'Arini'.....Nuri suka jadi Nuri menyebut Nuri dengan nama Arinj....Paman Arbi juga menyukainya.... Bahkan Paman memanggil Arini berulang kali hingga hampir menangis...." Nuri dengan cerewetnya menceritakan kejadian ketika bertemu Arbi diacara fans meeting Arbi dan Raisa saat itu sedang ke toilet. Raisa berusaha agar tidak meneteskan airmatanya membayangkan cerita Nuri saat Arbi berulang kali menyebut 'Arini'. Arbi selalu menyebut namanya dengan lembut sembari terus menatapnya penuh cinta. Dan kini Raisa semakin menyesali yang terjadi, karena kini Ia sudah merubah tatapan cinta itu menjadi tatapan penuh kehancuran. "Mama Icha, kapan kita bertemu Paman Arbi lagi?....Arini merindukan Paman Arbi, Ma....." Raisa hanya bisa tersenyum sembari mengusap sayang kepala puteri kecilnya itu. "Jika sudah bertemu Paman Arbi, Mama Icha pasti sembuh...." Nuri berucap yakin sementara Raisa hanya mengernyitkan keningnya heran karena pemikiran Nuri. "Dulu saat Mama Icha lelah bekerja atau sakit, Mama Icha akan langsung tersenyum jika sudah melihat Paman Arbi di televisi.... Jadi sekarang Mama Icha pasti akan sembuh jika bertemu Paman Arbi.... Arini akan bilang pada Papa dan Mama Cinta...." Nuri berucap semangat dan langsung berlari keluar kamar sebelum Raisa sempat mencegahnya. Raisa kini sadar bagaimana Nuri yang masih kecil bisa mengidolakan Arbi. Ternyata karena Nuri yang sering kali melihatnya menonton Arbi di televisi. Tidak berapa lama Nuri pun masuk bersama Shinta dan Yoga. "Jangan dengarkan apa yang Nuri katakan... Itu tidak benar.... Aku-.... " Raisa berusaha menjelaskan sebelum Shinta memotong ucapannya. "Tapi Kamu memang harus menemuinya... Tidak... Bukan hanya Kamu... Tapi Kita....Kamu, Aku, dan Yoga...." Ucap Shinta serius. Raisa pun menatap shinta dan Yoga tidak mengerti hingga akhirnya Yoga menunjukkan sebuah tabloid berisi foto Arbi dengan tulisan yang cukup untuk membuat Raisa membulatkan mata terkejut. "Arbi Yudha Pratama Sang Idola Dengan Kesempurnaannya (Tampan, Mapan dan Terkenal) Menjalin Affair dan Berusaha Merebut Isteri Seorang Pengusaha..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD