Part 7

1608 Words
Cklekk Pintu apartement Shinta terbuka, dan Raisa yang sedang berada di ruang tamu pun segera berdiri untuk menyambut kedatangan sang pemilik apartement. "Raisa,....Kau di sini?..." Ujar Shinta terkejut, begitu juga Yoga. "Iya Mbak.... Aku ingin bicara dengan kalian...." Ucap Raisa serius. "Apa yang ingin Kau bicarakan?...." Tanya Yoga yang sudah duduk di sebelah Raisa. Raisa hanya menunduk sibuk dengan pikirannya sendiri. "Jadi..... Apa yang ingin kau katakan?...." Tanya Shinya setelah kembali dari dapur. Raisa menatap Yoga dan Shinta bergantian kemudian semakin lama matanya semakin memerah dan akhirnya air mata pun mulai menetes. "Mbak.....Mas....hubungan kalian....hikz....Aku...." Ting....Tong.....Ting....Tong....Ting....Tong Ucapan Raisa terhenti ketika terdengar suara bell yang nampak ditekan secara tidak sabar. Sembari mengernyit heran, Yoga pun mendekati pintu untuk membuka pintu sementara Shinta mengusap punggung Raisa mencoba menenangkan Raisa yang masih sedikit terisak. Bugh......Brakk Raisa dan Shinta mengalihkan pandangan ke arah pintu ketika melihat Yoga sudah tersungkur dengan lebam di wajahnya. "b******k Kau....." Terdengar suara kemarahan Arbi disusul Arbi yang menarik kerah kemeja Yoga agar Yoga berdiri. "Arbi...hentikan...." Tangan Arbi yang terayun siap menghantam kembali wajah Arbi pun terhenti ketika Shinta berteriak dan mendekati mereka. "Kalian berdua benar-benar brengsek...." Marah Arbi kemudian mendorong Yoga ke Shinta sehingga Yoga dan Shinta kini terjatuh bersamaan karena Shinta yang tidak siap menopang Yoga. "Aku akan membunuh kalian berdua...." Geram Arbi mencoba kembali mendekati dan menghajar Yoga saat melihat bagaimana Shinta mengusap wajah Yoga dan menunjukkan kemesraan mereka. "KAKAAAK..... APA YANG KAU LAKUKAN?....." Gerakan tangan Arbi kembali berhenti ketika mendengar suara yang sangat Ia kenal, suara wanita tercintanya Raisa Arini. "Arini?...." Gumam Arbi terkejut. Raisa menatap Arbi terkejut dan juga marah melihat kekasaran Arbi, karena sejak dulu Ia tidak suka sikap kasar. "Kenapa Kau memukuli Mas Yoga?..." Nada suara Raisa melemah namun penuh kekecewaan. "Arini ....Dia....." Yoga menahan suaranya geram karena tidak bisa menyampaikan alasannya. Raisa pun membantu Shinta memapah Yoga ke sofa sedangkan Arbi masih terdiam tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia merasa tidak mungkin mengatakan semuanya karena tidak ingin Raisa tersakiti. "Dia.....sudah mengetahuinya...." Gumam Yoga pelan namun berhasil terdengar Arbi. " Apa?...." Arbi menatap Yoga terkejut sekaligus memastikan apa maksud Yoga. "Raisa sudah mengetahui.... hubunganku dengan Shinta...." Ucap Yoga menatap Arbi. Raisa menatap Yoga dan Arbi terkejut. Bughh...Bughh.... Raisa sadar dari keterkejutannya saat terdengar suara pukulan bertubi-tubi sementara Shinta sudah menangis karena tidak bisa menghentikan kebrutalan Arbi. Yoga pun nampak hanya pasrah. "Kakaak....hentikan...." Raisa mencoba membantu Shinta namun kemarahan Arbi membuat mereka sulit melepaskan pegangan Arbi pada kerah Yoga. Plakk Kebrutalan Arbi terhenti ketika tamparan tangan Raisa mendarat di pipinya. Waktu terasa berhenti ketika semua tiba-tiba terdiam dari gerakannya. Shinta yang lebih dahulu tersadar mencoba melepaskan cengkraman tangan Arbi pada Yoga yang kali ini sangat mudah. Arbi menatap sakit Raisa sembari mengusap pipinya yang baru saja disentuh Raisa namun dengan tamparan. Sementara Raisa terdiam menatap tangannya yang terasa perih sehabis menampar kuat pipi Arbi. "Kau menamparku... karena suami yang berselingkuh darimu?....." Lirih Arbi tidak percaya kemudian tersenyum miris. Raisa hanya terdiam dengan tangan yang sudah saling meremas. "Kau....sudah mengetahuinya?....sejak kapan?..." Lirih Arbi berusaha menekan rasa sakit dihatinya. Sepertinya semakin hari hati Arbi semakin hancur. Arbi kini sudah terduduk di sofa single setelah merasa kakinya sulit menapak. Yoga, Shinta, dan Raisa hanya terdiam tidak tahu harus mengatakan apa. Yoga hanya menunggu Raisayang menjelaskan sementara Shinta merasa Ia tidak berhak mengatakan apapun sehingga Ia hanya bisa diam. "Kau sudah mengetahuinya....namun masih memilih bersamanya?!...." Lirih Arbi dengan senyuman sinis. Suara pesakitan Arbi masih tidak mendapat sahutan apapun dari siapapun. "Ternyata benar Kau sangat mencintainya...." Suara Arbi kali ini terdengar bergetar, bukan pertanyaan namun pernyataan yang Ia buat dan berhasil membuatnya semakin hancur. "Jadi....Apa yang Aku perjuangkan selama ini?!....hahaha....ternyata Aku benar-benar bodoh...." Arbi berucap seperti orang gila yang menangis namun juga tertawa. "Kaak....." Raisa menatap Arbi merasa bersalah dan kini airmatanya sudah mengalir deras melihat Arbi yang nampak benar-benar hancur. "Aku melihatnya (Yoga dan Shinta berselingkuh)....yang Aku rasakan pertama kali adalah marah karena Aku takut Kau tersakiti....hingga tanpa terasa kecelakaan itu terjadi....dan kita kembali dipertemukan...." Arbi mulai bergumam menceritakan segala yang menurutnya merupakan kebodohan. Arbi terdiam lalu tertawa miris memikirkan apa yang terjadi, dan apa yang Ia lakukan sehingga Ia justru nampak seperti antagonis yang ingin memisahkan sepasang suami isteri. Arbi kembali mendekati Raisa dan berharap Raisa masih mencintainya atau kembali mencintainya agar jika Raisa mengetahui perselingkuhan suaminya maka Raisa tidak akan terlalu terluka. Namun ternyata semua diluar dugaannya. "Kau sangat mencintai suamimu sehingga Kau bahkan rela diduakan.... Hahaha.... Jadi apa yang bisa kuperjuangkan lagi...." Arbi kembali tertawa miris. Ketiga orang yag berada di sana hanya bisa melihat dan ikut prihatin tanpa bisa melakukan apapun. Yoga dan Shinta berfikir ini semua tergantung Raisa. Hasil semua ini akan kah happy ending atau sad ending semua bergantung pada Raisa yang kini hanya bisa menunduk sembari terisak ikut merasakan sakitnya hati Arbi. "Mungkin.....ini saatnya Aku.... menyerah.... Mulai sekarang Aku akan pergi.... Dan sebisa mungkin tidak kembali ke dalam hidup kalian...." Arbi berdiri dan segera beranjak setelah mengucapkan kalimat kekalahannya. "Arbi...." Shinta dan Yoga berucap bersamaan mencoba mencegah kepergian Arbi karena merasa semua belum selesai. Namun Arbi tetap melangkah mengabaikan panggilan tersebut. Kini hanya tersisa tatapan prihatin Yoga dan Shinta yang tertuju pada Raisa yang semakin terisak. "Kakaak.... Hikz.... " Raisa hanya bisa terisak memanggil Arbi. "Raisa.....Kau tidak ingin mengejarnya?.... " Tanya Shinta mengusap punggung Raisa dan sontak Raisa langsung memeluknya. Raisa hanya bisa menangis bingung akan apa yang harus Ia ucapkan atau Ia lakukan. Semua terlalu membuatnya terkejut dan juga banyak yang harus Ia jelaskan membuat Ia bingung harus memulainya darimana atau haruskah semuanya Ia jelaskan sekarang sehingga Ia hanya bisa terdiam dengan banyaknya pikiran dikepalanya. "Dia... Arbi ... Memintaku meninggalkan Shinta.... " Kalimat yang Yoga ucapkan berhasil menarik perhatian Raisa dan Shinta. "Saat pertemuan dimana Raisa mengatakan jika Ia memilihku.... Dia sudah mengetahui hubunganku dengan Shinta... Namun Ia justru memintaku meninggalkan Shinta bukannya menjadikan itu alasan untuk membuatku berpisah dengan Raisa.... " Yoga pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada pertemuan itu yang menghasilkan luka lebam di wajah dan tubuhnya. Flashback Yoga menatap Arbi diam menunggu Arbi meredakan emosinya setelah Raisa dan Nuri keluar dari ruangan itu. "Ternyata Kau sangat mempesona sehingga berhasil membuat Raisa sangat mencintaimu.... " Arbi tersenyum sinis namun terdengar jelas nada luka di kalimatnya. Yoga hanya diam menunggu saat yang tepat untuk berbicara. "Kau mencintainya?..." Tanya Arbi. "Tentu saja...." Yakin Yoga. "Apakah lebih besar dari cintamu pada... Shinta ? ..." Yoga membulatkan mata terkejut dengan pertanyaan Arbi. "b******k Kau....Bugh....Bugh...." Kejadian begitu cepat sehingga Yoga tidak siap ketika tinjuan sudah melayang ke wajahnya. Arbi dan Yoga nampak sama-sama terengah. "Laluhh....apa maumu?... Kau akan mengatakan pada Raisa.... Agar Dia meninggalkanku....dan Kau bisa kembali padanya?..." Tanya Yoga menatap sinis Arbi. Arbi nampak mengepalkan tangannya sebelum menjawab pertanyaan Yoga. "Tinggalkan Shinta... " "Apa??...." Lagi-lagi terdengar nada terkejut dari suara Yoga. "Tinggalkan Shinta... Dan Aku tidak akan mengganggu Kau dan Raisa lagi... " Ujar Arbi berusaha datar walau terdengar jelas Arbi cukup berat mengucapkannya. "Kenapa?... Bukankah Kau bisa mengatakan perselingkuhanku pada Raisa sehingga Ia bisa membenciku dan Kau dengan mudah mendapatkannya..." Yoga menanyakan keheranannya. Yoga bertanya hanya untuk memancing Arbi karena sesungguhnya Raisa sudah mengetahui hubungannya dengan Shinta, bahkan sudah menyetujuinya. "Arini mencintaimu..... Aku tidak ingin Dia tersakiti....." Lirih Arbi sementara Yoga terus menatap Arbi merasa tidak percaya. "Jadi....tinggalkan Shinta dan jadilah suami yang hanya mencintai Arini...." Dingin Arbi menatap tajam Yoga. "Aku tidak bisa...." Ucap Yoga santai namun berhasil membuat emosi Arbi kembali tersulut. Bugh....bugh....bugh.... "b******k Kau....Arini sangat mencintaimu....dan Aku tidak akan mengizinkanmu menyakitinya...." Marah Arbi sembari meninju perut Yoga. Arbi tahu setelah ini mungkin Raisa akan membencinya, namun Ia tidak peduli asal Raisa tidak tersakiti. "Mau atau tidak mau.....Kau akan berpisah dengan Shinta... " Geram Arbi mencengkram kerah kemeja Yoga sementara Yoga hanya bisa pasrah karena sudah lemah. "Aku tidak akan berhenti sampai disini... Aku akan berjuang dan melakukan apapun untuk kebahagiaan Raisa...." Arbi berlalu pergi begitu saja karena merasa sebentar lagi emosinya tidak akan terbendung. Flashback End Raisa membulatkan mata terkejut, begitu pula Shinta. Namun keterkejutan Shinta tidak bertahan lama karena Shinta mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Arbi. "Arbi juga menemuiku.... Untuk memintaku menjauhi Yoga ..." Lirih Shinta. Flashback ................. "Apa Kau memintaku menemuimu karena ingin Aku membantumu memisahkan Yoa dan Raisa?...." Tanya Shinta terkejut. Senyum menyeringai Arbi semakin lebar. "Bukankah hal itu biasa terjadi?!.... Seorang sahabat merebut pasangan sahabatnya sendiri.... " Sinis Arbi. "Aku bukan wanita seperti itu?...." Bantah Shibta penuh emosi. "Kau yakin?.... Yoga mempunyai segalanya yang bisa memikat wanita.... Kau yakin tidak pernah berfikir untuk menjadikan Yoga milikmu seutuhnya?....Jangan munafik.... " Arbi kali ini mengucapkannya tanpa senyuman dan menatap tajam Shinta. Shinta terdiam karena ucapan Arbi ada benarnya. Siapa wanita yang bisa menolak Yoga, termasuk Shinta. "Jadi Kau ingin Aku...." Shinta bergumam lirih tidak yakin dengan apa yang akan Ia ucapkan. Arbi hanya tersenyum sinis. "Jauhi Yoga...." Tegas Arbi menatap tajam Shinta. "Apa???....." Lirih Shinta terkejut. "Jauhi Yoga.... Dan Aku akan memberikan apa yang Yoga berikan padamu.... Bahkan mungkin lebih...." Arbi berusaha bersikap santai agar tidak membuat Shinta takut. Shinta terkesiap sesaat namun Ia berusaha mengontrol emosinya. "Apa Kau bisa memberikan.... Cintamu untukku ?...." Shinta bertanya dengan nada mencibir. Arbi yang semula santai langsung membulatkan matanya dan mengepalkan tangannya penuh emosi. "Karena itu Aku tidak akan menerima tawaranmu....." Shinta berucap santai dan langsung meninggalkan Arbi yang sedang menahan emosinya. Flashback end "Dia sangat mencintaimu Raisa...." Gumam Shinta lagi. Raisa tahu itu bahkan Ia bisa merasakan seberapa besar rasa cinta Arbi untuknya sehingga kini Ia semakin terisak merasa bersalah. "Maaf ... Aku sungguh-sungguh minta maaf Kaak ... hikzz....." Tangisan Raisa tidak bisa terbendung lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD