Part 6

1396 Words
Selagi Yoga bersama Shinta, Raisa dan Nuri kini sedang menikmati quality time antara Ibu dan anak di sebuah mall besar di Jakarta. Nuri nampak menarik Raisa menuju store sepatu setelah sebelumnya ke store pakaian dan toko perlengkapan sekolah. "Nuri, pelan-pelan..... Kau ingin ke mana lagi?...." Ujar Raisa mengejar Nuri saat Nuri berlari keluar toko sepatu ketika Raisa tengah membayar di kasir. Untungnya Nuri akan berhenti berlari jika Ia rasa Raisa tertinggal jauh. "Mama Icha....di sana ramai sekali.... Nuri ingin ke sana...." Ucap Nuri sembari menarik tangan Raisa ketika Raisa sudah berada di dekatnya. Tangan kanan Nuri menarik tangan kiri Raisa, dan tangan kanan Raisa menenteng beberapa paper bag hasil belanjaan puteri kecilnya yang lincah itu. Gerakan Nuri terhenti ketika sudah ikut berada di bagian belakang barisan orang atau tepatnya antrian. Nuri nampak memanjangkan lehernya berusaha melihat ke depan di antara banyaknya orang yang jelas jauh lebih tinggi dari dia. Raisa hanya bisa melihat dan menggelengkan kepalanya geli melihat sikap Nuri yang selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar. "Mama Icha.... Itu foto Om Arbi..." Ujar Nuri dengan binar bahagianya ketika melihat poster besar Arbi yang tergantung di lantai bagian atas mall. Raisa terkejut karena Ia baru menyadarinya. Seketika jantungnya berdegup cepat mengingat sang mantan. Raisa juga merasa gugup dan bingung harus bersikap bagaimana setelah kemarin baru saja Ia mematahkan hati pria itu. "Nuri sayang, sebaiknya kita pergi ya.....sepertinya Om Arbi sedang sibuk....." Bujuk Raisa merasa belum siap bertemu Arbi. Raisa berusaha menyembunyikan suara dan juga wajahnya diantara para penggemar Arbi yang sepertinya sedang mengantri untuk meminta tanda tangan Arbi di acara fansmeeting itu. Nuri yang semula bersemangat berjinjit untuk melihat ke depan seolah tidak sabar untuk segera bertemu Om Arbi-nya itu tiba-tiba memberengut sedih dan kecewa. "Tapi Nuri ingin bertemu Om Arbi Mah... Nuri merindukan Om Arbi Mah...." So Eun terdiam merasa heran karena baru sekali Nuri bertemu Arbi namun mereka nampaknya sudah begitu lengket. Raisa merasa bersalah dan sadar bahwa secara tidak sadar Ia lah yang membuat Nuri begitu menyukai Arbi. "Arini....." Walau sangat lirih diantara banyaknya suara teriakan namun Raisa dapat mendengar Arbi yang menyebut nama tengahnya, Arini, panggilan favoritnya. Tanpa sadar kini Nuri dan Raisa sudah berada di antrian ke lima sehingga Arbi kini sudah menatapnya. Karena Arbi yang sudah mengetahui keberadaannya membuat Raisa merasa tidak baik jika Ia menghindar. Akhirnya Raisa tetap membiarkan Nuri menemui Arbi. "Om Arbiiiiii.... ". So Ra bersorak senang saat Dia sudah tepat berada di hadapan Arbi. " Hai sayang..... Kemarilah...." Arbi pun meminta Nuri untuk mendekat padanya sehingga Nuri pun berjalan mengitari meja untuk bisa bersama Arbi. Setelah Nuri berada didekatnya, secara reflek Arbi pun mengangkat Nuri duduk dipangkuannya lalu menciumi pipinya. Raisa hanya bisa tersenyum simpul menatap kehangatan itu. "Arbi...masih ada yang mengantri...." Kesadaran Raisa kembali ketika mendengar Arkan berujar pada Arbi. "Nuri.....Kau mau menunggu Om?.....Kalau Iya, Nuri tunggu bersama Om Arkan dulu ya..... Om Arbi harus menyelesaikan ini dulu...." Nuri pun mengangguk semangat dan langsung mengikuti Arbi yang sudah mengulurkan tangannya mengajak Nuri. Raisa yang ingin menolak pun langsung terdiam saat Arbi menatapnya tajam walau sekilas setelah itu Arbi kembali tersenyum menghadap para penggemarnya. ~oO0Oo~ "Kau yakin dengan pilihanmu?...... Kau bahagia?....." Tanya Arbi memecah keheningan. Setelah acara fans meeting, Arbi mengajak Nuri makan dan kemudian langsung mengantarnya pulang. Kini mereka sedang berada di mobil yang terparkir di basemant apartement Raisa. Raisa dan Arbi duduk di kursi belakang dengan Nuri tertidur di pangkuan Raisa. Arkan hanya duduk diam di kursi kemudi setelah menutup pembatas antara kursi depan dan tengah untuk menjaga privasi Arbi. "Ya.....ini pilihanku...." Lirih Raisa tanpa menatap Arbi. "Aku juga melihatnya..... Kau bahagia dengan keluarga kecilmu.... Tapi rasanya masih sulit melepasmu....." Suara Arbi tidak kalah lirih dengan mata tajam walau sudah memerah dan berkaca-kaca. Raisa hanya diam memalingkan wajahnya merasa tidak tega melihat kesedihan di wajah Arbi. Arbi memegang dagu Raisa mengarahkan Raisa menghadapnya kemudian kembali bertanya dengan suara lirih dan tatapan sendu membuat Raisa meneteskan airmata tanpa bisa menahannya. Sungguh, wajah Arbi saat ini nampak penuh kesakitan dan kesedihan. "Apakah rasa cintamu padaku sudah tidak ada?...." "Kaak...... Kau sempurna.... Kau akan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku....." Suara Raisa bergetar merasa tidak tega. Arbi sesungguhnya pria yang baik dan Ia tidak ingin Arbi hancur hanya karena dirinya. Arbi tersenyum tipis kemudian menempelkan hidungnya pada leher Raisa, menghirup aroma yang selalu bisa membuatnya tenang. "Apa Aku boleh berfikir jika Kau memilihnya hanya karena Kau merasa tidak pantas bersamaku?....," Nada Arbi terdengar lebih bersemangat dari sebelumnya. "Tapi, bukan wanita terbaik atau sempurna yang Aku butuhkan.....Aku butuhkan wanita yang Aku cintai....dan itu Kau......hanya Kau, Raisa Arini....." Ucap Arbi tajam kemudian menarik tengkuk Raisa untuk bibirnya. Raisa terkesiap dan tidak bisa melawan karena tangannya sedang memegang Nuri agar tidak terjatuh. "Aku mencintaimu....tidak akan pernah ada yang lain...." Arbi berucap masih di depan bibir Raisa. Raisa mendorong Arbi setelah sadar akan keterkejutannya. "Aku tidak peduli.... Yang jelas Aku akan tetap bersama suamiku kelak...." Lirih Raisa namun mencoba menatap tajam Arbi. "Semoga Kau tidak menyesal...." Sinis Arbi. Raisa hanya berusaha menarik nafas untuk meredakan emosinya. "Terima kasih atas tumpangannya..." Ucap Raisa kemudian menggendong Nuri meninggalkan mobil beserta Arbi. Tepat setelah pintu tertutup, airmata Arbi pun langsung mengalir. "Aku tidak bisa..... Ini sungguh memyakitkan...." Lirih Arbi nampak sangat tersiksa. Bahkan Arkan pun ikut meneteskan airmata ketika melihat Arbi setelah membuka pembatas. "Apa Kau benar-benar orang yang kurang beruntung soal cinta...." Batin Arkan berucap kasihan mengingat Arbi yang dulu ditinggalkan orang tuanya dan kini Ia pun ditinggalkan wanita yang selalu Ia anggap takdirnya. ~oO0Oo~ Dua minggu berlalu dan selama dua minggu ini semuanya nampak berjalan seperti biasa. Arkan bersyukur Arbi dapat beraktivitas seperti biasa walau kembali dengan pandangan kosong tanpa binar bahagia atau semangat. Namun setidaknya Arbi tidak bunuh diri atau membunuh Yoga, pikir Arkan, mengingat bagaimana wajah penuh kesakitan dan tekad penuh emosi pernah terlihat ketika terakhir kali Arbi bertemu Raisa. Namun tanpa sepengetahuan Arkan, Arbi masih melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pasangan itu. Arbi meminta beberapa orang untuk mengawasi Raisa, Yoga dan Shinta. Dan selama ini belum ada laporan yang membuat Arbi harus bertindak. Nampaknya Arbi hanya menunggu hingga saatnya Ia harus bertindak. Di sebuah mall besar nampak sepasang manusia berjalan bersama di bagian swalayan untuk membeli keperluan rumah. "Yoga.....Kau ingin makan apa malam ini?..." Tanya wanita itu sembari melihat-lihat dibagian etalase daging. "Aku ingin memakanmu Sayang....cup" bisik Yoga lalu mengecup singkat pipi wanita itu membuat wanita itu terkejut. " Yogaaa..... Jangan sembarangan.... bagaimana jika ada yang melihat?!...." Ucap wanita berpostur tinggi itu setelah memukul ringan lengan Yoga dan melihat sekeliling bersyukur tidak ada yang melihat dan memperhatikan mereka. Yoga nampak menghela nafas kemudian menarik lembut tangan wanita itu mengajaknya kembali melihat-lihat daging. "Yoga....lepas....nanti ada yang melihat..." Ucap wanità itu berusaha melepaskan genggaman tangan Yoga yang menggenggam erat tangannya. "Shinya....diamlah..... Kalau tidak Aku akan menciummu.... " desis Yoga geram. Mengenal Yoga hampir 7 tahun membuat Shinta tahu jika Yoga selalu melakukan apa yang Ia ucapkan sehingga kini Shinta hanya bisa diam dan menerima. Shinta kini hanya berjalan sembari merunduk atau mengalihkan matanya pura-pura melihat barang-barang yang ada di etalase tanpa sekalipun melihat apalagi mengajak Yoga berbicara seperti sebelumnya. Yoga merasa bersalah kemudian menarik Shinta ke pojok lorong swalayan yang cukup sepi dan jarang didatangi pengunjung. "Maafkan Aku..... " lirih Yoga merasa bersalah sembari mengusap kepala Shinta yang masih tidak mau menatapnya. "Mereka mengetahuinya.... jika Aku bukan isterimu..." Gumam Shinta dengan airmata yang menetes sesekali. "Maafkan Aku.... " Sekali lagi Yoga meminta maaf dan kali ini sembari mengusap airmata Shinta yang menetes. "Tidak apa-apa... Tapi ku mohon... Jangan terlalu dekat lagi denganku..." Mereka berbicara dengan suara cukup lirih. "Tapi Aku ingin sekali bisa bersikap layaknya pasangan denganmu... " Yoga berusaha berbicara lirih walau saat ini Ia ingin berteriak kesal. "Statusmu saat ini adalah...... suami Raisa...." Shinta mengingatkan. "Hhhh.....maafkan Aku...." Entah kenapa hari ini Yoga seringkali mengucapkan kata maaf. Ia berharap dengan kata maaf dapat sedikit mengurangi sakit di hati Shinta. "Aku mencintaimu...." Bisik Yoga setelah menarik Shinta dalam pelukannya. Tanpa bisa mencegahnya lagi, airmata Shinta kini mengalir deras. "Aku juga mencintaimu Yoga..." Bisik Shinta membalas pelukan Yoga. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat kegiatan mereka. Mata itu nampak memancarkan kekecewaan dan kemarahan, tangannya pun mengepal mencoba meredam emosinya. Merasa tidak bisa menyelesaikan secara langsung karena tidak ingin mengundang perhatian, Ia pun segera pergi meninggalkan pasangan itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD