Part 5

1803 Words
Brakkk Bunyi pintu yang ditutup secara kasar berhasil mengagetkan Arkan yang sedang bersantai di apartement Kim Bum. "Ada apa?...." Tanya Arkan berusaha untuk tidak memarahi Arbi ketika melihat wajah terluka Arbi. Ketika keluar dari restaurant tadi mungkin terlihat berbagai emosi seperti kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan. Namun saat ini yang terlihat hanya ekspresi dan tatapan penuh kesedihan dan luka yang dalam. "Dia memilih suami brengseknya itu...." Ucap Arbi lirih. Arkan ikut merasakan sakit yang Arbi rasakan ketika mendengar nada pilu dan terluka dari Arbi. Hal ini mengingatkan Arkan akan kejadian 5 tahun lalu. 5 tahun yang lalu Arkan menemukan Arbi berbaring di bawah guyuran hujan di halaman rumah atapnya. Pandangan Arbi saat itu penuh luka kemudian menangis histeris bahkan berteriak seolah ingin melampiaskan semua emosinya. Namun Arkan merasa kali ini luka Arbi lebih dalam dari 5 tahun yang lalu. Mungkin bagi orang yang tidak mengenal Arbi maka berfikir Arbi terlalu berlebihan. Mereka masih muda dan tidak sepatutnya terlalu mencintai sehingga ketika kehilangan akan begitu hancur. Namun Arbi yang hidup dipanti asuhan dengan banyak pandangan mencemooh pada dirinya membuatnya sangat menghargai orang-orang yang menerimanya apa-adanya seperti Arkan , Arya, dan Raisa. Walau sebelumnya Arbi dan Raisa tidak terlalu dekat namun Raisa tidak pernah menatapnya kasihan apalagi mencemooh. Tidak seperti wanita lain yang mulanya mengagumi sosok tampan dan keren Arbi namun ketika mengetahui kisah Arbi mereka merubah pandangan mereka menjadi kasihan bahkan terkadang tidak sudi lagi berdekatan dengan Arbi. 5 tahun yang lalu Arbi merasa hancur dan tidak kuat. Namun mengingat alasan Raisa meninggalkannya karena sang orang tua yang tidak merestuinya membuatnya bangkit. Ia mencoba kuat dan berjanji pada diri sendiri bahwa Ia akan menjadi orang yang berhasil agar orang tua Raisa, terutama Ibunya Raisa tidak lagi menolaknya. Karena tekad itulah kini Arbi menjadi pria yang sukses. Arbi yakin meski Raisa menikah dengan pria lain namun Raisa akan tetap mencintainya. Karena itu Ia bertekad menunggu Raisa untuk menjadi takdirnya. Namun keyakinan itu terkikis sejak mendengar kata cinta dan rindu Raisa untuk suaminya ketika di rumah sakit. Dan kini keyakinan itu hanya menyisakan 1% saat Raisa lebih memilih suaminya bahkan dengan mengatakan rasa cintanya yang besar untuk suaminya. Saat itu juga Arbi seolah benar-benar hancur dan serasa tidak bisa bernafas. Namun masih ada satu alasan lagi yang membuat Arbi merasa harus kuat sehingga saat itu Arbi nampak kuat dan bahkan bisa meninggalkan lebam pada tubuh Yoga. Begitu banyak bukti jika Raisa kini merupakan takdir Yoga tidak berarti bisa menghapus 100% keyakinan Arbi jika Raisa masih mencintainya dan akan menjadi takdirnya. Walau hanya 1% namun Arbi masih memiliki keyakinan jika Raisa masih memiliki cinta untuknya dan ada alasan lain sehingga Raisa memilih Yoga. Walau entah itu benar atau hanya alasan semata untuk Arbi mempertahankan egonya untuk memiliki Raisa. "Tenang.... Yakinlah jika nantinya Kau akan mendapat kebahagiaan.... Walau bukan dengan Raisa...." Arkan berucap saat memeluk Arbi untuk menguatkannya. "Tapi Aku mencintainya .... Sangat mencintainya....hikz...." "Kalau Kau mencintainya maka seharusnya Kau bisa melepasnya jika Dia bahagia dengan pilihannya...." Arbi terdiam sesaat namun kata-kata Arbi selanjutnya berhasil membuat Arkan merinding takut jika cinta Arbi kini sudah berubah menjadi obsesi. "Tapi tidak saat ini.... Saat ini belum saatnya Aku menjauh dari Raisa.... Aku belum selesai dengan apa yang ingin Aku capai.... Ini belum saatnya Aku menyerah.... " ucap Arbi penuh tekad. ~oO0Oo~ "Auch....." Yoga meringis saat Raisa menekan luka di wajahnya ketika memberikan salep obat. "Maaf Mas..." Ucap sesal Raisa. "Mas hanya bercanda.... Ini tidak sakit....." Yoga tersenyum lembut menatap Raisa yang kini menunduk berusaha terlihat sibuk dengan merapikan isi kotak P3K. Yoga tahu pikiran Raisa tadi pergi entah kemana ketika mengobatinya karena itu Ia mencoba menyadarkan Raisa dengan suara ringisan. "Kau tidak ingin tahu apa yang Arbi katakan saat memukuli Mas?..." Tanya Yoga masih dengan nada lembutnya. "Apa Mas diam saja saat Ka-...saat Dia memukul Mas?...." Yoga tersenyum kecil saat tahu Raisa berusaha mengalihkan pembicaraan. "Apa yang Kau harapkan?....Mas balas memukulnya?.... Tentu Mas bisa melakukannya.... " "Lalu kenapa tidak Mas lakukan?...." "Karena Mas tahu Kau tidak ingin Mas melakukannya.... Bukankah Kau tidak menyukai pria kasar?!.... " Raisa tersenyum tipis mengetahui jika Yoga sangat mengenalnya tanpa perlu Ia ucapkan. Suasana kembali hening. Dalam diamnya Raisa sedang mengingat Arbi. Raisa tidak menyangka jika Arbi akan memukuli Yoga karena selama mengenal Arbi, Raisa tidak pernah melihat Arbi akan memulai perkelahian walau dulu Ia sering dihina. " Sekali, Kakaak pernah sekali berkelahi....yaitu saat ada seseorang yang menghinaku bahkan cenderung melecehkanku..." Tanpa sadar Raisa mengucapkan apa yang ada difikirannya. "Mungkin saat ini Arbi berfikir jika Mas juga akan menyakitimu.... Karena itu Dia memukuli Mas...." Ucap Yoga. "Berarti Dia salah....karena Mas tidak akan pernah menyakitiku...." Gumam Raisa tersenyum membuat Yoga pun tersenyum. "Sebaiknya Mas beristirahat.... Aku akan ke kamar Nuri untuk melihatnya...." Ucap Raisa dan beranjak untuk pergi. "Raisa... kemarilah.... Mas ingin memelukmu...." Yoga berdiri mendekati Raisa. Raisa tersenyum dan berjalan mendekati Yoga kemudian memeluknya. "Mas mencintaimu.... menyayangimu... dan akan selalu bersamamu...." Gumam Yoga. "Aku tahu Mas... Aku juga mencintai dan menyayangi Mas...." Balas Raisa. ~oO0Oo~ Keesokan harinya Seperti janjinya, Arbi belum akan menyerah. Kini Ia sedang menunggu seseorang di restaurant tempat biasa Ia mengadakan janji pribadi. Restaurant ini juga yang menjadi saksi bagaimana sakitnya Arbi ketika wanita yang Ia cintai memilih pria lain. Cklekkk Pintu terbuka kemudian masuklah seorang wanita yang nampak anggun dengan gaya casual namun modis. "Akhirnya Kau datang juga.....Shinta Aryani...." Ucap Kim Bum tersenyum miring penuh arti. "Ya Tuan Arbi ... Sejujurnya Aku tidak menyangka.... " Shinta berucap Sopan walau tatapannya menyelidik. "Kau tidak perlu menatapku seperti itu.... Aku tidak akan menyembunyikan apapun....Aku akan berterus terang...tenang saja... Tapi sebelum itu duduklah dulu..." Dengan ragu Shinta pun duduk di sofa single yang berada tepat dihadapan Arbi. "Kau nampak cantik dan mempesona.... walau tentu bagiku Raisa yang nomor satu..." Arbi berucap disertai tatapan dan senyuman yang terkesan sinis. "Aku tau.... Kalau begitu katakan saja apa maumu?..." Shinta berucap mulai tidak sabar. "Menurutmu apa yang ingin Aku katakan?..." Tanya Arbi masih dengan senyuman sinisnya. "Apa ini berhubungan dengan Yoga dan Raisa?...." "Kau sahabat Raisa, tentu Kau sudah mengetahui semuanya...." "Lalu apa yang Kau inginkan?...." "Kau belum bertemu Raisa atau Yoga semalam?...." Lagi, Kim Bum menjawab pertanyaan Sinta dengan pertanyaan dan Shinta hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya. Dua hari kemarin kebetulan Ia sedang pergi menemui klien yang ingin membuat kantor dan ingin Shinta yang mengerjakannya sebagai desain interior. Hari ini dia baru pulang dan langsung menemui Arbi karena rasa penasarannya. "Bagaimana menurutmu Yoga Chandra...?" Sinta mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti. "Ku akui Dia saingan yang tangguh.... Tampan dan Mapan.... Menurutmu lebih baik Aku atau Dia?.... " Shinta semakin mengernyit heran. "Apa pertanyaanmu ini berhubungan dengan Raisa yang memilih Yoga?...." Arbi semakin tersenyum sinis bahkan tatapan matanya kini sudah penuh kemarahan seolah tidak suka membahas atau mengingat hal itu. "Kau belum bertemu mereka pasti Kau belum tahu apa yang terjadi... Jadi Aku akan mengatakannya sekarang...." "Apa Kau memintaku menemuimu karena ingin Aku membantumu memisahkan Yoga dan Raisa?...." Tanya Shinta terkejut. Senyum menyeringai Arbi semakin lebar. "Bukankah hal itu biasa terjadi?!.... Seorang sahabat merebut pasangan sahabatnya sendiri.... " Sinis Arbi. "Aku bukan wanita seperti itu?...." Bantah Shinta penuh emosi. "Kau yakin?.... Yoga mempunyai segalanya yang bisa memikat wanita.... Kau yakin tidak pernah berfikir untuk menjadikan Yoga milikmu seutuhnya?....Jangan munafik.... " Arbi kali ini mengucapkannya tanpa senyuman dan menatap tajam Shinta. Shinta terdiam karena ucapan Arbi ada benarnya. Siapa wanita yang bisa menolak Yoga, termasuk Shinta. "Jadi Kau ingin Aku...." Shinta bergumam lirih tidak yakin dengan apa yang akan Ia ucapkan. Arbi hanya tersenyum sinis. ~oO0Oo~ Shinta kini sudah berada di depan pintu apartement Raisa. Dalam perjalanannya Shinta masih memikirkan perkataan Arbi tadi. Ia tidak menyangka Arbi akan melakukan hal seperti itu. Cklekk Sebelum Shinta memencet bel, pintu sudah terbuka dan muncullah Yoga dengan tatapan intimidasinya. "Masuklah...." Ucap Yoga santai terkesan cuek. Shinta pun masuk dengan sedikit kernyitan di dahinya melihat sikap Yoga yang berbeda. "Kau kenapa?...." "Aku lapar... Tapi isteriku pergi tanpa menyiapkan makanan.... " Yoga berucap dengan nada menyindir. "Manja.... Kau bisa delivery...." Shinta mencibir namun tetap menuju dapur untuk memasak. Rumah ini sudah seperti rumahnya sendiri jadi Ia sudah hapal betul segala yang ada di apartement itu. "Di mana Raisa?...." Tanya Shinta sembari melanjutkan acara memasaknya. "Setelah menjemput Nuri, Raisa mengajak Nuri ke mall...." Jelas Yoga yang kini duduk di kursi yang menghadap pantri sembari melihat Shinta yang lihai memasak. "Kenapa Kau tidak ikut?.... Bukankah Kau tidak pernah melepaskan mereka jika mereka pergi berdua?..." "Kau tidak melihat keadaanku?...." Yoga berucap kesal dan kemudian beranjak ke sofa ruang keluarga. Kembali Shinta hanya mengernyit heran namun tidak menanggapi dan memilih untuk melanjutkan masaknya. "Makanan sudah siap.... " Ucap Shinta memanggil Yoga. Walau gengsi dan merasa karena Shinta tidak memperhatikan wajahnya yang sedikit lebam, Yoga tetap mendatangi Shinta untuk makan karena Ia yang benar-benar lapar. "Apa yang terjadi pada wajahmu?... " Tanya Shinta mengusap sedikit lebam di ujung bibir Yoga namun Yoga menghindar karena merasa tidak suka sekaligus kesal pada Shinta. Kini mereka kembali ke sofa keluarga setelah Yoga selesai makan. "Kemarin Arbi menghajarku..." Ketus Yoga. Mendengar nama Arbi membuat Shinta mengingat kembali perkataan Arbi padanya tadi. Shinta menatap intens wajah Yoga. Walau wajah Yoga lebam dan Yoga masih dengan rambut berantakan, namun wajah Yoga yang putih bersih dan rambut sedikit ikal tetap terlihat tampan. Shinta pun mendekati Yoga dan mengusap lebam itu lembut membuat Yoga menepisnya halus karena merasa aneh dengan sikap Shinta. Shinta biasanya bersikap cuek dan cenderung berkata tegas padanya. Shinta bukanlah orang yang suka bersikap lembut atau pun berbasa basi padanya. Namun berbeda jika bersama Raisa, Shinta menjadi lebih lembut dan penyabar layaknya seorang kakak. " Sudah Kau obati?...." Shinta kembali bertanya dan mencoba mengusap kembali lebam di wajah Yoga dan kini posisinya semakin dekat yaitu duduk disofa sebelah Yoga. "Sudah.....Ada apa denganmu?..." Akhirnya Yoga menanyakan tentang keanehan Shinta. "Sepertinya benar.... Kau merupakan pria mempesona...." Shinta berucap lembut sembari memegang dagu Yoga menghadapnya agar dia bisa menatapnya intens. "Ada apa denganmu Shinta Ariyani....Kau membuatku takut...." Yoga menatap ngeri kelakuan absurd Shinta. "Kau tampan, kulitmu putih, bibirmu seksi....cup...." Shinta mengakhiri ucapannya dengan kecupan kilat di bibir tebal Yoga. "Astaga Shinta...." Saking terkejutnya Yoga otomatis berdiri. Shinta tersenyum menggoda sekaligus geli merasa lucu dengan sikap Yoga yang nampak seperti perjaka yang digoda padahal Dia sendiri sudah memiliki seorang puteri. Shinta pun menarik tangan Yoga sehingga Yoga kembali duduk di sofa kemudian Ia pun berpindah menjadi duduk di pangkuan Yoga. "Kau benar-benar pria mempesona..... dan tidak mungkin....ada wanita yang bisa....menolak pesonamu....termasuk Aku...." Setelah mengucapkan kalimatnya, Shinta langsung memagut bibir Yoga lembut dan Yoga hanya bisa membulatkan mata terkejut tanpa membalasnya. "Raisa benar-benar pergi kan?..." Tanya Shinta memastikan. Setelah Yoga mengangguk kaku bagai robot, Shinta kembali memagut bibir Yoga kali ini lebih intens walau pun tetap terasa lembut. Tanpa bisa ditahan, secara perlahan Yoga pun mulai membalas ciuman Shinta. Bahkan ciuman Yoga nampak semakin menggebu seolah menyalurkan rasa frustasinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD